Sandiwara

2160 Kata
Siang ini kali pertama Agatha berkunjung ke butik sang Mommy sejak kembalinya dia ke Indramayu. Butik milik Sinta sudah dua kali lebih besar dari semula dengan mempekerjakan enam orang sebagai admin online mau pun pekerja offline.. Dua orang sebagai admin toko online di beberapa aplikasi belanja. Tiga orang pelayan beserta kasir dan seorang lagi juru ukur karena kadang kala banyak yang datang ke butik untuk memesan baju buat seragaman. Meskipun sebagian customer yang sudah tahu, untuk seragam keluarga mereka memilih langsung ke rumah batik sekalian mencari bahan yang sesuai. “Selamat siang Mbak Tata,” sapa Azizah yang sudah hampir lima tahun bekerja di sana. Dari dia masih lajang hingga kini sudah menikah dan punya anak dengan Aan yang juga bekerja pada keluarga Ardinata. Hanya Aan membantu Arga di rumah batik sementara Azizah membantu Sinta di butiknya. “Pagi Kak Azizah, bisa tidak panggilannya diubah jadi Agatha, bukan Tata. Ah, nama Tata itu terdengar terlalu unyu, Ka. Kesannya masih bocah, kan aku sekarang sudah dua puluh satu tahun. Sudah lulus kuliah mode juga,” papar Agatha membanggakan dirinya dengan gaya ceriwis yang masih tampak sama di mata Azizah. “Oke, siap Mbak Agatha.” Azizah mengangkat tangan bersikap hormat. “Ih, kak Azizah lebay. Mommy mana?” tanya Agatha melongok ke ruangan Sinta yang tidak akan terlihat dari luar meski dindingnya terbuat dari kaca. Sinta bisa mengawasi semua pekerja dan pembeli yang datang dari dalam dengan leluasa. Namun, orang yang berada di luar ruangannya tidak akan bisa tahu apa yang sedang dia lakukan di dalam sana. “Di ruangan, lagi beres-beres. Mommy mau pindah kantor ke rumah batik. Katanya butik ini khusus buat Mbak Ta, eh salah. Butiknya mau dialih tangankan ke mbak Agatha. Mommy tadi pagi bilang begitu sama aku dan yang lain.” “Serius?” “Sepuluh rius,” kekeh Azizah menunjukkan kesepuluh jari tangannya. “Ih, aku padahal belum setuju. Aku masih mau main, Ka. Eh, rencananya aku malah mau kuliah lagi di Unwir masuk fakultas ekonomi ambil starata satu bisnis manajemen.” “Ya Allah, Mbak. Tidak capek apa kuliah terus. Kak Azizah kek yang kuliah, masa baru kemarin wisuda sudah mau kuliah lagi.” Azizah memasang wajah cemberut. Cepat Agata mendekat dan mencubit gemas pipi Azizah. “Sudah punya suami pipinya lucu, kayak bakpao. Ini juga lucu makin gede.” Azizah menunjuk d**a Azizah. Cepat Azizah menutupi dadanya dengan menyilang kedua tangan. “Makanya jangan kuliah mulu, pikirin nikah saja, punya laku enak. Setiap malam bisa dipompa jadi membesar seperti ini.” “Ish, Mommy, itu kak Azizah ngajarin aku yang porno,” teriak Agatha mengadu pada Sinta dan langsung meninggalkan Azizah dengan tawanya yang belum puas meledek Agatha. “Mommy.” Pintu ruangan Sinta terbuka. “Apa, Sayang, kamu jangan teriak-teriak mulu dong. sudah besar, katanya sudah dewasa, tapi masih mirip bocah yang suka jejeritan,” sindir Sinta. Tangannya masih sibuk mengemasi barang dan memasukannya ke dalam dus. “Mommy benar mau pindah kantor?” Agatha melongok isi kardus besar di bawah meja Sinta. “Iya, mommy mau pindah ke kantor daddy biar bisa duaan sama Daddy setiap waktu.” “Ya elah, lebay banget. Apa enggak bosan nantinya. Dua puluh empat jam sama daddy terus. Mual, empet Mom.” “Empet dan mual buat kamu. Kalau kami sudah berdua itu kagak ada mual-mualan yang ada bahagia bisa nempel terus tidak ada acara diganggu kamu sama Andra.” “OMG, ini kenapa dua orang di butik malah semangat sekali buat mengompori aku biar cepat nikah.” Sinta memasukkan pigura foto keluarga, benda yang terakhir akan dia bawa pindah ke kantor Arga. Dia menggeser kursi mendekat ke meja di mana Agatha duduk di depannya. “Memangnya kapan Mommy mengompori kamu buat nikah?” “Tadi,” sahut Agatha cepat. “Mommy bilang enak berduaan bisa nempel terus. Ditambah lagi kak Azizah bilang aku suruh cepat nikah biar badannya di pompa terus pipi dan dadaku jadi menggelembung kayak dia.” Sinta terkekeh geli mendengar aduan putrinya. “Itu mah saking Azizah saja makannya banyak, ditambah lagi suka minum dan makanan manis. Menggelembung pipi dia, kalau mommy mana ada, itu lihat.” Sinta berdiri memamerkan badannya yang singset, langsing dan kencang. Tidak ada lemak bergelambir baik di perut maupun lengan, pipinya tirus, dadanya kencang, dengan pinggang yang ramping dan bagian pinggul yang membesar. “Iya, iya, Mommy yang paling cantik. Aku saja kalah cantik sama mommy,” desah pasrah Agatha. “Terima kasih sayangnya mommy. Jadi kapan kamu mau menikah sama Bilal?” Pertanyaan Sinta membuat bola mata Agatha membulat sempurna. Telunjuknya bergerak memijat kedua pelipis dengan mata yang dibuat merem melek. “Kenapa? Sok pusing, pura-pura tidak dengar?” “Mom,” rajuk Agatha memasang wajah memelas. “Iya, apa? Besok mau nikah sama Bilal?” “Kenapa Bilal lagi Bilal lagi sih Mom. Aku maunya sama mas Yongki, Mom. Aku mau mas Yongki saja, kenapa mesti Bilal sih,” keluh Agatha menyembunyikan wajahnya di meja dengan kedua lengan yang jadi sandarannya. “Kenapa Yongki lagi Yongki lagi, Mommy bosan dengar kamu sebut nama Yongki dari taman kanak-kanak, sekolah dasar, terus kamu masuk SMP, SMA masih saja Yongki jadi topik utama yang suka kamu bicarakan. Sekarang tiga tahun kamu bersembunyi di Jakarta pulang ke Indramayu kamu sebut Yongki lagi. Mommy bosan, Ta. Bosan,” tegas Sinta dengan raut wajah tegas. Agatha mengangkat wajahnya yang kini memasang ekspresi wajah kusut dan sayu. “Mas Yongki itu anaknya mama April loh, sahabat Mommy. Masa mama bosan sama dia,” cicitnya pelan, takut kekesalan Sinta pada Yongki semakin meluap. “Tidak perlu kamu ingatkan mommy juga tahu siapa anak April, Diana, Mega, dan Lelis. Hanya ini beda cerita ya, Ta. Persahabatan kami itu tidak ada urusan dengan kamu dan Yongki. Kalian mau berjodoh atau tidak, April tetap sahabat mommy, titik. Kamu paham?” Netra Sinta tampak menajam, tidak ingin dibantah dan menerima protes apa pun yang mungkin akan dilayangkan Agatha. “Aku, paham,” putus Agatha dengan desah pasrah. “Hanya aku masih mau berjuang, Mom. Aku masih mau mas Yongki bukan yang lain,” sambungnya dengan nada memelas dan ekspresi wajah yang merayu Sinta agar tidak terus menyuruh dia menikah dengan Bilal atau pria lainnya selain Yongki. “Terserah, mood mommy rusak kalau dengar nama Yongki kamu sebut. Mulai saat ini sampai seterusnya, mau kamu mengejar Yongki atau tidak. Mommy tidak peduli, tapi ingat!” telunjuk Agatha lurus simetris dengan hidung Agatha. “Jangan bahas dia di depan Mommy atau mommy langsung paksa kamu untuk menikah dengan pria pilihan mommy and daddy.” Sinta berdiri setelah mengucapkannya. Dia keluar ruangan untuk mencari atmosfer segar setelah bersitegang dengan putrinya. Ini bukan yang pertama, dari dulu juga Sinta tidak suka kalau Agatha terus mengejar Yongki. Bukan karena dia membenci Yongki. Namun, sikap dingin dan angkuh Yongki selalu membuat Agatha tampak seperti pengemis cinta yang terus saja tanpa lelah mengejar Yongki meski diacuhkan, dibentak, kadang malah Yongki kabur dari acara family gathering mereka saat menganggap keberadaan Agatha di sampingnya seperti benalu yang terus mengganggu. “Mommy kejam sekali sih,” keluh Agatha. Wajahnya kembali menunduk di atas meja. Entah bagaimana caranya dia merayu hati Sinta agar lunak dan tidak terus menyalahkan Yongki yang belum bisa membuka hati untuknya. Sementara di ruang kerja Bilal, siang ini dia malah disibukkan dengan membuka dua laman media sosial milik Agatha. Satu persatu foto dan status yang dibagikan Agatha dibukanya. Dia sudah tidak ragu untuk mengakui kalau dirinya kini sudah jatuh cinta pada putri sulung keluarga Ardinata. “Selamat siang pak, Bilal. Maaf, Pak. Di luar ada Mbak Meisy,” ujar sekretaris Bilal dari ambang pintu. “Ngapain lagi sih dia ke mari,” keluhnya malas menemui Meisy yang sudah berulang kali dia tolak. Tampak baik di depan belum tentu aslinya memiliki sikap santun dan baik. Ah, kalau urusan Meisy, dia sudah menyerah dan angkat tangan. Muka tembok, lebih dari beberapa kali dia memergoki Meisy jalan dengan pria lain. Namun, tetap saja di depan Bilal dia sok polos seolah tidak pernah menjalin hubungan dengan siapa pun. Padahal dalam satu waktu Bilal malah pernah mendapati dia jalan dengan Agung-teman mainnya. Saat dia bertanya pada Agung apa status mereka, tentu saja kemesraan yang ditunjukkan kedua di tempat umum membuat Agung mengakui Meisy sebagai kekasihnya. Namun, beda halnya dengan Meisy yang malah berpura-pura mengenal Agung saat Bilal menanyakan hubungan mereka. “Suruh dia –” “Selamat siang, A. Boleh masuk?” Perintah Bilal yang meminta Meisy untuk tidak mengganggu jam kerjanya terpotong saat Meisy merangsek masuk ke ruangannya. “Aku sedang kerja, apa ada hal yang penting?” tanya Bilal yang selalu merasa tidak enak hati untuk terus terang mengusir Meisy. “Ada, sangat penting.” Jawaban Meisy membuat Bilal mempersilakannya duduk dan menyuruh sekretarisnya untuk meninggalkan mereka berdua. “Apa yang penting Mei. Rasanya aku sudah berulang kali bilang kalau aku tidak bisa melanjutkan hubungan apa pun dengan kamu. Apa itu kurang jelas?” tanya Bilal dengan Anda yang selalu ramah. Itu yang membuat Meisy terus memiliki harapan bisa memperbaiki hubungan mereka. Bilal menolaknya, tapi tidak pernah tega membuatnya menangis dan kecewa. “Aku tahu, A. Sekarang aku tidak memaksa A Bilal untuk menerimaku lagi. Seiring berjalan waktu aku yakin hati Aa bakal balik lagi buat aku.” Bilal menatap nanar ke arah Meisy, keras kepala. Seandainya keras kepala Meisy diiringi dengan perubahan sikapnya, tentu Bilal tidak akan mengeraskan hatinya. Namun, sayang seribu sayang, kesempatan yang dia berikan selalu saja disia-siakan Meisy. “Itu tidak akan terjadi Mei, sudah cukup kesempatan yang aku beri selama ini sama kamu. Aku tidak suka diduakan. Sayangnya berulang kali kamu menduakan aku. Aku tidak bisa dibohongi, hanya sayang kamu terus saja membohongiku.” “Itu dulu A,” potong Meisy cepat. “Sekarang aku tidak begitu lagi,” sambungnya berusaha meyakinkan Bilal. “Sayangnya sudah tidak ada perasaan yang tersisa buat kamu. Kalau hanya itu yang ingin kamu sampaikan, aku pikir sudah tidak penting lagi. Kamu bisa pulang sekarang.” Bilal menunjuk ke arah pintu, tapi Meisy malah merogoh tasnya dan mengeluarkan sepucuk undangan untuk diberikan pada Bilal. “Undangan apa? Kamu mau nikah? Alhamdulillah, selamat ya,” ujar Bilal sungguh-sungguh padahal dia sama sekali belum membuka undangan yang diberikan Meisy. “Aku menikah dengan siapa A? Di hatiku hanya ada A Bilal, masa iya aku menikah dengan pria lain,” cebik Meisy membuat Bilal langsung membolak-balik undangan di tangannya. “Terus ini undangan dari siapa?” tanyanya saat membaca nama yang tertera di sana sama sekali tidak dia kenal. “Saudara Mama, Mama dan Papa minta aku bawa A Bilal ke sana. Sekalian dikenalkan dengan keluarga besar Mama.” Santai sekali Meisy berujar seolah di antara mereka masih ada hubungan yang sama setelah hubungan mereka putus sambung tiga kali berturut-turut. “Maaf aku tidak bisa.” Bilal mendorong undangan ke arah Meisy tanpa membukanya. “Kenapa?” tanya Meisy memasang raut wajah murung dan bersiap mengeluarkan jurus andalannya. Tetes dan bulir air mata yang keluar dari kedua sudut matanya selama ini selalu berhasil membuat Bilal menyerah dan menuruti apa yang dia mau. “Pertama aku jelas sibuk, kedua aku tidak mau membuat kedua orang tuamu berpikir kalau di antara kita masih ada hubungan. Kita sudah putus Mei, rasanya tidak perlu aku menegaskan itu berulang kali.” “Tapi, mama tahunya Aa masih pacar aku.” Suara Meisy sudah terdengar bergetar, matanya pun mulai berembun dan Bilal memutuskan untuk berdiri dari kursi kerjanya. “Berarti itu tugas kamu untuk memberi tahu mereka kalau aku dan kamu sudah putus dari tiga bulan yang lalu.” “Tidak bisa begitu A, mana bisa tiba-tiba aku bilang kita putus tanpa sebab.” Meisy menahan lengan Bilal yang sudah hendak keluar meninggalkan Meisy. “Aku tidak mungkin membuat mereka malu. Mama sudah janji mau bawa calon suamiku ke acara itu. Masa tiba-tiba aku bilang kita putus A.” “Mei.” Bilal menepis tangan Meisy yang mencekal lengannya. “Bukannya dari kemarin aku sudah bilang itu. Kenapa kamu belum juga memberi tahu mereka kalau kamu sekarang bukan siapa-siapa aku. Kamu bisa ajak Agung atau pria lain yang sering kamu ajak jalan, tapi bukan aku.” “A, aku tidak mau. Aku maunya Aa. Aku tidak ada hubungan dengan Agung, A. Aku tidak punya hubungan dengan pria mana pun selain Aa.” Meisy terus mengejar Bilal. Tidak peduli berpasang mata kini memperhatikan mereka. Bilal yang jengah dengan teriakan histeris disertai derai air mata di wajah Meisy akhirnya terpaksa berhenti di ambang pintu lift. “Dengar Mei, aku tidak bisa bantu kamu. Kamu mau pergi dari kantorku atau aku yang pergi dari sini.” Bilal menunjuk pintu lift yang terbuka dengan arah pandang matanya. “Aku mau Aa, aku tidak mau ini di akhiri.” “Tapi aku mau kamu tidak menggangguku lagi, paham,” tegas Bilal. Jemari Meisy seketika memijat pelipisnya. Tidal lama kemudian badan Meisy terjatuh ke lantai. “Pura-pura, sandiwara yang bagus,” desis Bilal yang malah meninggalkannya begitu saja karena sudah bosan dengan semua sandiwara yang Meisy lakukan di depannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN