Sahabat Rasa Saudara

2196 Kata
Rasa penasaran membuat Yongki siang ini memilih bersantai di ruang tamu rumahnya. Menurut dari keterangan Rani, dua kali orang yang datang mengantar makanan itu selalu habis zuhur. Maka kalau hari ini si pengirim kembali datang, mungkin sebentar lagi ada yang mengetuk pintu rumahnya. “Apa ini ulah Agatha ya,” tebak Yongki mengingat hal ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Yongki mengetik nama Agatha di ponselnya. Dia sudah siap menekan tombol dial untuk menelepon Agatha. Namun, urung dilakukan. Ponsel dia letakan kembali di atas meja. “Bisa gede kepala kalau aku meneleponnya terlebih dulu,” gumam Yongki memilih membaringkan badan ke sofa panjang. Datang atau tidak si pengirim makanan misterius itu, hari ini dia memang sedang tidak banyak pekerjaan. “Permisi, assalamualaikum.” Bel rumah berbunyi setelah suara salam terdengar. Terdengar derap langkah Rani menuju pintu depan. “Biar aku saja,” cegah Yongki yang lebih dulu meraih gagang pintu. Namun, Rani yang kadung ikut penasaran tidak beranjak menjauh. “Siapa ya mas?” tanya Yongki melihat mahasiswa seumuran Yoga menenteng plastik berisi makanan. “Fendi, Pak. Aku antar ini buat pak Granfinki Yongki Nugroho,” jawab Fendi dengan membaca kertas kecil di tangannya. “Ini dari siapa?” tanya Yongki tidak menerima plastik yang diulurkan Fendi. “Aku tidak tahu, Pak. Aku hanya diminta antar makanan ini buat bapak.” Fendi kembali mendekatkan plastik yang dia bawa pada Yongki. Hanya saja Yongki kukuh tidak menerima. “Kamu bawa balik saja. Aku tidak bersedia menerima apa pun kalau pengirimnya tidak jelas,” tolak Yongki mendorong kembali plastik yang tadi diulurkan Fendi padanya. “Tapi, Pak. Aku sudah dibayar buat antar ini. Aku letakan saja di sini ya.” Fendi hendak menaruh plastik yang disinyalir berisi kotak makanan kursi yang berada di teras rumah Yongki. “Tidak perlu. Kamu bawa pulang saja, bila perlu kamu bilang sama yang ngirim buat datang langsung ke sini,” tegas Yongki menahan gerak Fendi. “Ya sudah, maaf, Pak.” Fendi menyerah dia membawa kembali makanan buat Yongki. “Nanti kalau ada yang ngirim lagi tolak saja seperti tadi ya, Mbak,” pesan Yongki pada Rani yang sejak tadi berdiri di balik pintu. “Iya Mas.” Yongki meraih ponsel sebelum masuk ke kamarnya. Rani baru menutup pintu depan saat bel rumah kembali berbunyi. “Biar aku saja, Kamu bisa ke belakang,” suruh Yongki. Dia menebak Fendi yang kembali datang atau mungkin sang pengirimlah yang datang langsung ke rumahnya. Begitu pintu terbuka senyum lebar Agatha tampak di depannya dengan membawa plastik yang sama dengan yang dibawa Fendi barusan. Itu berarti tebakan Yongki benar kalau Agatha yang mengirim rempeyek dan lunch boks kemarin. “Buat apa sih, Ta?” tanya Yongki tanpa mempersilakan Agatha masuk sama sekali. “Buat mas Yongki. Aku tahu mas Yongki di sini tinggal sendiri, pasti jarang makan enak kan. Makanya aku kirim makan siang kesukaan mas Yongki.” Agatha menjawab dengan ceria tanpa peduli tampang acuh Yongki yang tampak tidak menerima kehadirannya. “Kamu tidak ada kerjaan lain?” “Ada. Banyak malah, kan aku sekarang ganti mommy di butik. Sejak hari ini sih.” Agatha masih menutup mata, tidak mau sadar kalau Yongki benar-benar tidak suka dengan apa yang dia lakukan ini. “Mas Yongki belum makan siang kan? Aku bawa special lunch box, ini makanan kesukaan mas Yongki lagi.” Agatha mengangkat plastik yang dia bawa sejajar dengan wajahnya. Tinggi Yongki membuat dia harus mendongak kala berbicara sambil berdiri seperti sekarang. “Kamu bawa pulang lagi, tolong tidak perlu lakukan ini.” Tajam Yongki menatap Agatha. “Kenapa?” tanya Agatha memasang tampang polos. Dia memilih amnesia sesaat dan lupa berapa ratus kali Yongki menolaknya. “Karena aku tidak mau menerimanya dan aku tidak suka kamu melakukan ini. Aku bisa beli makanan apa pun yang aku mau, Ta. Tidak perlu kamu repot-repot kirim makan siang, nyuruh orang,” geram Yongki menahan kesal agar ucapannya tidak berubah jadi teriakan. Ah, entah kenapa berhadapan dengan Agatha otaknya selalu panas seperti ini, tidak bisa dia bersabar saat mereka masih kanak-kanak dulu. “Aku tidak repot.” Agatha masih berusaha tabah dan senyum lebar masih dia tunjukan di hadapan Yongki. Yongki mendengkus dengan menghembuskan napas kasarnya. “Agatha Vernezza, bisa kamu berhenti mengganggu hidupku. Aku pikir tiga tahun kamu menghilang, setelah kembali kamu jadi Agatha yang baru dan tidak ada lagi hal gila macam ini.” “Hal gila apa Mas? Apa aku salah mengirim makanan ini? Kalau memang mas Yongki tidak bisa menerima perasaanku, setidaknya kita masih bisa berteman. Anggap saja aku ini adik mas Yongki yang datang untuk mengantar makan buat kakaknya. Simple kan mas?” Rasa di d**a berusaha dia tekan, menyakitkan memang. Ditolak, tapi masih harus berusaha tegar, hanya saja dia yang memilih berjuang seperti ini. Dia yang menginginkannya, maka sakit seperti apa pun harus dia terima karena entah mengapa keyakinan Agatha tidak pernah berganti. Dia yakin kalau Yongki adalah jodoh Tuhan kirim untuknya. Terlepas dari semua sikap angkuh dan acuh Yongki ini, keyakinan itu masih saja tertanam dan tidak pernah surut dan menghilang. “Simple buat kamu, tapi tidak buat aku, Ta. Mending kamu balik, tidak usah buang waktu seperti ini lagi. Oke?” “Aku tidak buang waktu, Mas. Aku sudah menyiapkan waktu ini untuk mas Yongki.” Kabut di mata Agatha mulai muncul, dia menarik tangan Yongki dan memaksanya untuk menerima plastik yang dia bawa. Plastik berisi lunch boks yang sudah dia siapkan meskipun itu memang bukan hasil masakannya. Namun, Agatha harus merayu Bi Iti agar menyiapkan menu makan buat ke butik sesuai dengan apa yang Yongki suka. “Selamat makan siang, Mas. Aku harap mas Yongki suka.” Agatha berbalik meninggalkan Yongki. Langkahnya dibuat tegar seolah tidak ada sakit yang menyertai kepergiannya ini. Hanya saja begitu masuk ke dalam mobil, air mata yang turun bak hujan deras yang tidak kunjung berhenti. Terus saja mengalir dan menetes hingga mobilnya tidak kunjung bergerak. Dering dan getar ponselnya membuat Agatha menyusut hidung dan membersihkan lelehan air mata. Nama Azizah tertera di layar, dua kali Agatha menarik napas dan membuangnya sebelum benar-benar siap mengangkat telepon dari Azizah. “Kak Azizah,” sapa Agatha dengan suara yang dibuat senormal mungkin. Saat sesenggukan, dia menjauhkan ponsel agar suaranya tidak terdengar Azizah. “Mbak, ada tamu ini. Hanya aku tidak kenal, dia juga tidak mau sebut namanya. Sekarang ada di ruang tamu butik maksa mau tunggu Mbak Agatha sampai kembali.” “Cewek apa cowok?” tanya Agatha yang merasa tidak mempunyai janji dengan siapa pun. “Cowok, Mbak.” “Ah, paling juga Bilal, malas sekali. Ngapain sih dia pakai acara ke butik segala. Aku ke sana sekarang ya, Kak.” Agatha menutup telepon setelah berbalas salam dengan Azizah. Dia meraih botol air mineral dan meneguknya beberapa tetes sebelum membawa mobilnya menjauh. Agatha selalu bisa mengobati rasa kecewa, semua perlakuan Yongki begitu mudah dia maklumi. Telinganya seperti tuli dengan berbagai nasihat dan omelan dari Sinta dan orang terdekatnya. Baginya Yongki adalah cinta pertama yang melekat erat dengan dirinya, sulit diusir, dihapus atau digantikan dengan orang baru. Begitu sampai di parkiran butik, tidak ada mobil berplat T di sana. Padahal dia masih ingat kalau mobil yang dipakai Bilal diawali huruf T. Berarti bukan Bilal yang menunggunya di sana. “Mbak, ada –” “Di mana?” potong Agatha bertanya pada Selomita yang siang ini duduk di meja resepsionis. “Di ruangan Mbak Agatha, kak Azizah membawa tamunya masuk ke sana.” “Ya elah, kenapa mesti dibawa ke sana sih, Mit. Bukannya tadi dia bilang di ruang tamu, kenapa malah disuruh masuk ke ruanganku,” oceh Agatha sambil terus melangkah lebar menuju ruangannya. “Kejutan.” Agatha terjingkat dengan kedua matanya yang melebar melihat sahabat-sahabat yang sudah seperti saudaranya sendiri memenuhi ruangannya. Matanya berkaca-kaca merasa terharu sekaligus bahagia mendengar alat tiup, tepuk tangan serta seruan yang terdengar. “Welcome back, kak Agatha.” Serlin membawa kue bertuliskan welcome back di tangannya. “Ini aku tiup?” tanya Agatha menunjuk lilin dengan arah pandang matanya. “Iya dong ditiup,” seru Ghita dengan riang. “Astaga, berasa ulang tahun.” Agatha meniup lilin yang melingkar di kue, tepuk tangan kembali terdengar memenuhi ruangannya. “Kangen kak Agatha.” Serlin memberikan kue ke tangan Ghita sebelum memeluk Agatha. “Kangen kamu juga sayang.” Bergantian Ghita dan Maura juga mendekat untuk berpelukan dengan Agatha, “Aku dipeluk tidak, Ta,” ujar Yoga saat pelukan terakhir Agatha dan Salsa terurai. “Ini pasti ide kamu, Ga,” tebak Agatha melayangkan tos dan mereka berhigh five dengan Yoga yang cekikan tertawa. “Eh, mereka kangen sama kamu jadilah aku boyong semua ke sini. Ini libur semester, Ta. Mumpung kumpul,” sambung Yoga. “Padahal akhir pekan ini Famgat, Ta. Hanya si Salsa terus saja merengek minta ke sini,” imbuh Eza mendekat untuk mengusap lengan Agatha yang tertutup baju yang dia pakai. “Bang, aku tidak dipeluk,” rengek Agatha sengaja menggoda Eza karena dia tahu sudah sejak empat tahun lalu Eza menjaga wudu dan sangat jarang bersentuhan dengan wanita selain muhrim. “Takutnya aku dihajar Yongki lagi. Eh, iya, Yongki tidak diajak, Ga.” Eza baru sadar kalau di sana kurang Yongki satu. “Bang, minggir dong, aku mau salaman sama kakak cantik.” Badan Giian maju ke depan. Agatha langsung memeluknya dan saat pelukan terurai dia tidak tahan dan mencium gemas kedua pipi montok Giian. “Ya Allah, masa aku dicium, Ka. Aku sudah besar, tidak boleh dicium cewek.” Giian mengusap pipinya. “Tidak apa-apa kalau yang cium kak Agatha,” bisik Gilang sang kakak yang maju ke depan untuk menjabat tangan Agatha. “Tambah cantik, Ka,” ujar Gilang malu-malu. “Ish, ish, masih kicik kau sudah pandai merayu, Lang,” seru Andra mengundang tawa. Eza mundur ke belakang mencari space kosong dan mencoba menghubungi Yongki. Di antara mereka semua, dia dan Yongki yang seumuran sehingga rasanya Eza merasa ada yang kurang kalau tidak ada Yongki. “Bro, di mana?” tanya Eza begitu Yongki menjawab panggilannya. “Di rumah, Tad. Tumben telepon, ada arah ke sini?” “Aku dan yang lain malah lagi kumpul di butik Mommy, Salsa merengek terus ngajak ke tempat Agatha. Jadilah aku ajak semuanya ke sini. hanya kurang seru, kurang kamu bos,” kekeh tawa Eza disambut decak suara Yongki. “Dia tadi dari sini.” “Agatha maksudnya,” tebak Eza. “Iya, bawa makan siang. Entahlah, harus bagaimana aku buat dia menjauh, risi aku. Sumpah, rasanya tiga tahun kemarin itu lebih baik saat dia tidak ada.” “Hust, tidak boleh ngomong begitu. Lagian aku pikir kita sudah sama-sama tahu Agatha itu seperti apa. Dia begitu hanya sama kamu, sama yang lain tidak. Itu hanya untuk mengungkapkan perasaannya.” “Tidak perlu ceramah panjang, aku bosan,” potong Yongki. “Jadi kamu telepon aku buat minta aku gabung ke sana,” sambungnya menebak tujuan Eza menghubungi dirinya. “Itu kalau kamu ada waktu.” “Waktu banyak, hanya mood yang hancur kalau mesti bertemu Agatha lagi, Agatha lagi. Rasanya seperti sebuah kutukan yang tidak kunjung hilang.” “Astagfirullah al adzim, aku tidak berniat mewadahi keluhan kamu tentang Agatha. Assalamualaikum.” Eza memutus sambungan telepon sebelum jawaban salam Yongki terdengar. Di kamarnya Yongki menutup mata, teringat saat usianya sembilan tahun dan saat itu Agatha baru berusia lima tahun. “Mas Yongki, aku mau jadi istri mas Yongki,” rengek Agatha. Yongki yakin kala itu Agatha belumlah mengerti apa itu arti istri dan pasangan. Entah kosa kata itu dia tangkap dari mana karena daya tangkap dan daya ingat Agatha memang di atas rata-rata. “Agatha itu adik mas Yongki, bukan istri.” “Tapi aku tidak suka kalau Serlin sama Salsa dekat-dekat mas Yongki. Aku mau mas Yongki dekat sama aku saja.” Lengan mungil Agatha melingkar memeluk pinggangnya dengan kepala Agatha yang disandarkan di perut Yongki. Ah, dia kira itu hanya berjalan sesaat dan akan terlupakan seiring waktu berjalan dan umur bertambah menjadikan mereka sama-sama dewasa. Namun, semua salah, semakin hari Agatha semakin posesif. Semakin lama Agatha tidak malu-malu menyatakan cintanya terang-terangan dan itu sangat tidak nyaman untuk Yongki. ‘Aku tunggu, serius.’ Sebuah pesan membuat Yongki terkesiap dari lamunannya. Matanya mengerjap, ke butik menemui Agatha adalah hal yang paling tidak ingin dia lakukan. Hanya saja di sana bukan hanya ada Agatha, tapi seluruh sahabat rasa saudara yang dia kenal dari masih sama-sama bocah hingga beranjak dewasa bersama sedang berkumpul semua. Terpaksa Yongki membuang egonya, dia keluar kamar menyambar kunci mobil. ‘Otw.’ Satu pesan dia kirim pada Eza untuk membalas pesan yang beberapa saat lalu diterimanya. Di ruangan Agatha suara riuh ramai terus santer terdengar. Lemparan canda, ledekan dan tawa terus bergantian dilayangkan satu dan lainnya. Tiga tahun mereka baru berkumpul lagi, rindu membuat semuanya berbaur jadi satu dan lupa dengan perbedaan usia di antara mereka. “Eh, Kak Agatha tahu tidak, Bang Eza mau nikah loh,” seru Salsa membuat semua atensi mereka tertuju pada Eza. “Why? Apa yang salah dengan nikah?” Eza membalas satu persatu tatapan mereka. “Kenapa tidak tunggu aku dulu, Bang. Aku juga mau nikah sama mas Yongki,” rengek Agatha membuat suara ‘hu’ santer terdengar bersamaan dengan pintu ruangannya yang terbuka. “Nah loh, kena deh.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN