Masih Sama

2138 Kata
“Selamat siang Mas Yongki.” Serentak semua kompak menyapa Yongki meski tanpa komando. Satu persatu mendekat meski hanya sekedar untuk berjabat tangan dan menanyakan kabar. Tiba giliran Agatha yang mendekat, ragu-ragu tangannya terulur meraih punggung tangan Yongki untuk dicium. Cekrek. Eza yang paling berani meladeni si Yongki mengabadikan momen tersebut. “Cocok ini Ki, sudah pas kalau habis nikahan aku kalian menyusul juga.” Senyum Eza sengaja dilemparkan untuk menggoda Yongki dengan memperlihatkan hasil fotonya. “Ih, so sweet banget tahu Bang. Mas Yongki sama kak Agatha itu chemistry-nya dapat tahu,” sambar Salsa merebut ponsel sang kakak. “Coba lihat.” Langsung lah semua berebut ponsel milik Eza untuk melihat foto Agatha dan Yongki barusan. Ah, terkadang kalau saat kumpul seperti ini, mau yang sudah lulus s2, yang masih program s1, anak SMA, anak SMP pun berbaur seperti seumuran dan mereka akan lupa dengan jati diri masing-masing. Persahabatan ladies lima sekawan yang benar-benar diwariskan pada anak-anak mereka. Semuanya tampak tidak canggung dan menganggap yang ada di sana sudah layaknya keluarga saja. Hanya Yongki yang selalu memasang wajah datar apalagi kalau Eza sudah mulai berulah. Di antara yang ada di sana mereka berdualah yang paling mapan dari segi pekerjaan, usia dan pemikiran. Keduanya dijadikan panutan oleh adik-adik mereka, selain itu tentu saja mereka harus rela merogoh kocek yang tidak sedikit kalau ada yang mulai merengek minta jatah traktiran. Indahnya kebersamaan yang selalu Agatha dan Yongki rindukan meski tetap saja jarak di antara keduanya masih terlihat jelas. “Kamu benar mau nikah, Tad?” tanya Yongki yang memilih duduk di sofa bareng Eza sementara yang lainnya heboh melantai membahas berbagai hal yang jelas tidak penting. Hanya sebatas canda gurau yang mengundang tawa. “Sudah dua puluh lima, Ki. Mau tunggu apalagi?” tanya Eza setengah menyindir. “Tunggu jodohlah, mana ada aku sebar undangan tanpa ada calon mempelai wanita.” Mata Eza tertuju pada Agatha dengan seringai jahil dan Yongki segera menepisnya dengan sebuah gelengan. “Please, aku sedang tidak mood bahas itu.” “Okay, paling tidak nanti biar aku kasih spill bagaimana istimewanya malam pertama biar kamu ngiri.” “Apaan sih, kagak lucu.” “Abang, kita lapar ini. Memangnya Abang Eza sama mas Yongki tidak ada yang punya inisiatif buat traktir kami?” Ghita bertanya dengan rajukan manja dengan binar mata penuh permohonan merayu keduanya. “Satu bos kerupuk dan keripik, satu lagi bos grosir tiga limaan, masa iya mau traktir kita saja mesti dirayu dulu,” sambung Serlin mengukuhkan rayuan Ghita. “Mau ke mana?” tanya Eza pada keduanya. “Hore kita ke Rumah Mertua,” teriak Yoga mengompori dengan menyebut nama salah satu rumah makan hingga semua serentak berdiri. “Ini diberesin dulu?” tanya Sherlin melihat ruangan Agatha yang sangat berantakan oleh ulah mereka. “Biar kak Azizah saja yang bereskan, yuk cabut. Lapar.” Agatha mengusap perutnya, semua keluar berbarengan. Awalnya Agatha berniat membawa mobil sendiri, kebetulan dia yang paling akhir keluar butik karena menemui Azizah dulu untuk memberikan uang luar sebagai upah membersihkan ruangannya yang kini tampak seperti bangunan yang habis terkena gempa. “Kak, bareng Mas Yongki saja, mobilnya aku bawa. Penuh itu.” Seruan Andra dibarengi lambaian tangan Giian, Yoga dan Gilang yang sudah duduk manis di Brio merah milik Agatha. Di mobil lainnya, Eza, Salsa, Maura, Sherlin dan Ghita pun melambaikan tangan dengan senyuman. Ah, sudah biasanya seperti ini. Mereka selalu mengatur agar Agatha punya kesempatan bisa bersama Yongki. Namun, sebanyak apa pun kesempatan itu tidak pernah bisa membuat hati Yongki luluh dan membalas perasaan Agatha. “Mas, aku boleh naik?” tanya Agatha hanya sekedar basa-basi sebelum membuka pintu mobil Yongki. Yongki hanya membalas dengan sebuah anggukan. Bukankah dia tidak punya kesempatan untuk menolak. Agatha duduk di sampingnya, Mobil Eza pertama bergerak keluar dari parkiran butik diikuti mobil yang dibawa Andra dan Agatha hanya berdua saja dengan Yongki. “Mas Yongki tahu kalau Bang Eza mau nikah?” tanya Agatha memecah kesunyian di antara mereka. “Iya.” “Mas Yongki belum mau nikah?” Pertanyaan kedua Agatha membuat Yongki diam sesaat. “Mas Yongki sama Bang Eza kan seumuran. Sudah sama-sama mapan juga,” sambung Agatha saat Yongki hanya diam saja. Tatapan Yongki masih lurus ke depan, fokus ke jalanan tanpa ada niat membalas tanya yang dilayangkan Agatha. Sekedar melirik pun dia malas. “Kok diam? Mas Yongki marah sama aku?” Agatha terus menatap Yongki, meski tidak ada tanda-tanda Yongki ingin membuka mulutnya. “Aku minta maaf kalau mas Yongki beneran marah. Aku juga minta maaf kalau makanan yang aku kirim ke mas Yongki bikin mas Yongki tidak nyaman. Aku –” “Kamu bisa diam?” tajam Yongki melirik Agatha. Tiga kata yang mampu membuat Agatha langsung diam dan tidak ada sepatah kata apa pun yang dia keluarkan hingga mobil mereka berhenti di rumah mertua, tempat makan yang dipilih Yoga siang ini. “Terima kasih tumpangannya.” Agatha turun dari mobil tanpa menunggu jawaban Yongki. Tidak perlu ditunggu juga karena dia sudah hafal kalau Yongki sedang memasang wajah kesal seperti itu tidak akan ditimpali satu pun kalimatnya. “Ta, kok murung. Tadi sudah satu mobil kan sama mas Kiki?” Eza menyamai langkah Agatha. “Tidak perlu dijawab kan Bang? Semuanya masih sama, tidak ada yang berubah,” jawab Agatha mempercepat langkahnya menyusul si gembul Giian yang selalu membuat suasana hatinya membaik setelah ribuan kali Yongki menghempaskan perasaannya. “Kenapa, Bang?” Berganti Yoga yang menyejajarkan langkahnya dengan Eza. “Tidak masalah, silakan pesan makanan. Biar aku yang bayar. Jangan lupa pesan buat kami berdua.” Eza menepuk pundak Yoga sembari menyuruhnya menjauh dengan kedipan mata. Kami yang dimaksud tentulah dia dan Yongki. Kenapa situasi kaku ini masih terus tampak di depan mata Eza meski tahun berganti, masa berganti. Namun, semua tetap sama kalau menyangkut Yongki dan Agatha. Eza mundur beberapa langkah menghampiri Yongki yang berjalan pelan sendirian. “Duduk di mari dulu, biar mereka puas pilih menu makanan.” Eza setengah menyeret lengan Yongki untuk duduk menjauh dari para adik mereka. “Aku tidak mood bahas Agatha,” ujar Yongki padahal belum satu kata pun yang dikeluarkan Eza. “It’s okay. Aku pikir berpisah tiga tahun itu bisa menghadirkan setitik rindu.” “Aku masih sama, sampai kapan pun tetap sama. Aku tidak suka kalian jodoh-jodohkan dengan Agatha.” Sorot tajam mata Yongki malah membuat senyum Eza mengembang. “Baiklah, jodoh memang tidak bisa dipaksakan, tapi kamu juga harus ingat kalau jodoh tidak bisa ditolak.” “Agatha bukan jodohku. Aku yakin itu,” tegas Yongki dengan tatapan matanya yang berharap Eza bisa menerima keputusannya. “Oke, tidak masalah. Semua hak kamu, tidak ada yang memaksa. Aku harap ini pilihan terbaik buat kamu dan Agatha. Toh, aku dengar dari bunda kalau Mommy juga berencana menjodohkan Agatha dengan rekan bisnis Daddy.” “Bilal, mereka sudah bertemu dan Bilal sepertinya menyukai Agatha.” “Wouw, amazing. Kenal juga dengan calon Agatha?” “Dia temanku, kami cukup dekat karena dari awal ke Bandung sampai selesai s2 aku satu kamar dengannya,” tutur Yongki. Sebuah pengakuan yang membuat Eza menggeleng beberapa kali karena tidak menyangka kalau semua yang berkaitan dengan Agatha selalu bersangkutan juga dengan Yongki. “Ikhlas ini kalau Bilal dan Agatha berjodoh?” “Come on, pertanyaan macam apa itu?” Yongki mengangkat satu alisnya, untuk apa juga dia tidak ikhlas kalau selama ini yang dia harapkan itu bisa terlepas dan jauh dari Agatha. “Kamu tahu, Ki? Penyesalan itu ada di belakang karena yang ada di depan selalu bagian pendaftaran,” gurau Eza yang tidak ingin membuat kedua tanduk Yongki keluar. “Aku tidak akan pernah mendaftar dan tidak juga menyesal. Lagian kalau kamu memang suka dengan Agatha, kenapa tidak kamu saja yang menikah dengannya.” Eza terkekeh mendengar kalimat yang dilontarkan Yongki. “Andai aku tidak tahu kalau dari orok dia suka sama kamu, aku bakal nikahi dia. Come on Bray, setiap masa ada waktunya kita berkumpul seperti ini. Aku tidak bisa bayangkan kalau dia jadi istriku, tapi saat bertemu denganmu matanya masih penuh akan sorot cinta. Itu malah akan merenggangkan hubungan kita. Aku bukan tipe pria macam itu, cukup aku melihat Agatha bahagia bersanding dengan kamu. Cukup aku menyayanginya sebagai adik tanpa perlu mengalihkan dunianya dari kamu.” “Bijak sekali, dasar anak ustaz, turunan ustaz, jadi ustaz juga.” Eza hanya bisa tertawa lirih menanggapi gumaman Yongki dengan harapan tidak ada sesal di kemudian hari. Semua tahu seperti apa istimewanya Agatha Vernezza yang selalu berbagi keceriaan dan mengalirkan energi positif saat satu di antara mereka ada yang sedang dirundung duka. “Wong sengit ora kurang penganggit. Wong seneng ora kurang pengalem.” Sebuah nasihat dari sang bunda yang selalu terngiang di kepala Eza. Memang benar, tidak butuh alasan kala rasa suka, rasa kagum dan sayang sudah melekat pada diri seseorang. Sama halnya ketika benci dan marah sudah tertanam, sebaik apa pun orang di hadapan kita, tetap akan selalu tampak salah. Sama halnya dengan Yongki yang tidak pernah mau membuka pikiran dan logikanya yang sudah kadung menganggap keberadaan Agatha di sampingnya bak benalu yang mengganggu dan harus disingkirkan. “Bang, Mas, sini.” Gilang melambaikan tangan meminta kedua kakak mereka untuk ikut bergabung. Makanan sudah terhidang, makan bersama yang selalu mengakhiri pertemuan mereka dalam setiap kesempatan yang ada. Sementara Bilal kini sedang duduk di ruang tamu rumahnya. Di depannya ada kedua orang tua Meisy dan kedua orang tuanya. Sepertinya pingsannya Meisy di depan pintu lift kantornya tempo hari berbuntut panjang. Bilal yang saat itu menyangka Meisy hanya bersandiwara benar-benar tidak peduli dan tidak mencari tahu kabarnya hingga sore ini kedatangan kedua orang tua Meisy dengan tampang berang membuat kedua orang tua Bilal memaksa putra mereka untuk segera pulang dan menjelaskan duduk persoalan yang sebenarnya. “Bilal, tante Gina dan Om Prakas datang ke sini karena mereka bilang kemarin Meisy pingsan di kantor kamu dan mengantarkannya ke klinik hanya seorang OB. Apa benar seperti itu?” tanya Ratna pada putra tunggalnya. “Papa tidak habis pikir Bilal, kenapa kamu bisa seteledor ini. Meisy pingsan dan kamu malah tinggal pulang tanpa peduli sama sekali,” sambung Guntoro menimpali pertanyaan sang istri pada putra mereka. Wajah Gina tampak merah padam, tapi di sampingnya Prakas tidak henti mengusap lengan sang istri agar sedikit bersabar dan mau menahan luapan marahnya sembari menunggu penjelasan Bilal. “Aku minta maaf.” “Kamu kira hanya dengan minta maaf rasa sakit hati kami terobati,” sahut Gina dengan telunjuk lurus mengarah ke wajah Bilal. “Ma, sabar dulu. Kita dengar dulu penjelasan Bilal.” “Penjelasan apa Pa? Semua sudah jelas, pacar macam apa yang membiarkan pacarnya pingsan di depan lift kantor dan malah menyuruh office boy untuk mengantarkan putri kita ke klinik.” Napas Gina tampak ngos-ngosan. Amarahnya sudah memuncak dan sulit untuk diredam. “Maaf, tante. Ada yang perlu aku ralat. Sepertinya tante belum tahu kalau aku dan Meisy sudah tidak ada hubungan apa pun. Sejak tiga bulan lalu kami sudah putus, tante, aku merasa sudah tidak ada kecocokan lagi antara kami.” “Apa kamu bilang? Putus? Bukannya setiap malam Minggu kalian masih sering jalan berdua. Aku sendiri yang mengizinkan Meisy pergi dengan kamu saat dia berpamitan.” Ratna dan Guntoro menatap tajam ke arah Bilal. Sontak Bilal mengangkat kedua tangannya tanda kalau dia benar-benar tidak tahu hal itu. “Kalian tahu kalau setiap malam minggu aku selalu di rumah,” ujar Bilal merasa dirinya sedang disorot tajam kedua orang tuanya. Seketika Ratna tampak mengingat-ingat, begitu pula dengan Guntoro. “Benar, malam Minggu ini kamu main catur sama papa.” “Jangan mendukung sandiwara putramu, Gun. Aku jelas masih sangat ingat kalau Meisy bilang malam Minggu kemarin kalian berdua ke Saung Sarasa.” “Sumpah tante.” Bilal mengankat kedua jarinya membentuk huruf V. “Aku juga masih ingat kalau malam Minggu kemarin aku mengalahkan papa catur dua kali berturut-turut. Apa perlu tante melihat CCTV di teras samping supaya percaya kalau aku tidak berbohong. “Jadi maksud kamu Meisy selama ini bohong sama aku dan papanya,” terka Gina masih dengan ekspresi marah yang belum mereda. “Aku tidak bilang seperti itu Tante. Hanya tante bisa tanyakan langsung hal itu pada Meisy, tapi aku juga minta maaf kalau kemarin meninggalkan Meisy pulang begitu saja. Itu bukan sekali dia berpura-pura pingsan di kantorku, jadi aku berpikir kalau yang kemarin juga –” “Cukup Bilal,” potong Prakas cepat. “Sudah cukup kamu menjelekkan putri kami di depan kedua orang tuamu. Tidak mungkin Meisy seperti itu. Lancang kamu menuduh dia membohongi kami.” “Prakas, aku yakin kalau maksud Bilal tidak seperti itu.” “Sayangnya itu yang kami tangkap dari penjelasan putramu, Gun. Ayo, Ma, percuma kita ke sini.” Prakas menarik kasar lengan sang istri keluar dari rumah keluarga Bilal. Sudah dipastikan setelah kepergian mereka Bilal harus siap menjawab berbagai pertanyaan dari kedua orang tuanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN