“Benar Bilal, kamu sudah tidak ada hubungan apa pun dengan Meisy?” Tatapan Ratna tampak menyelidik.
Putra tunggalnya memang bukan seorang petualang cinta meskipun beberapa kali Ratna tahu Bilal bergonta-ganti pacar dengan alasan sudah tidak ada kecocokan di antara mereka.
Awalnya Ratna memaklumi, lagian dia juga pernah muda. Tidak salah selagi belum ada ijab kabul yang menghalalkan hubungan Bilal dan pacarnya, Bilal masih bisa memilih gadis mana yang dirasa terbaik menurut versinya. Namun, kalau sampai Bilal menyalahgunakan kepercayaannya, mungkin Ratna tidak akan selentur sekarang lagi.
“Kami sudah putus tiga bulan yang lalu seperti apa yang aku sampaikan sama tante Gina tadi.” Wajah Bilal tampak tegas ingin meyakinkan sang mama kalau tidak ada kebohongan sedikit pun yang dia sampaikan.
“Putus lagi, cari lagi, putus lagi, terus kapan kamu mau bawa calon istri buat kami.” Guntoro mulai ikut bicaranya. Rasanya usia Bilal sudah cukup untuk menikah dan mereka berdua yang hanya memiliki satu anak, tentu saja mengharapkan kehadiran cucu yang banyak dari Bilal.
“Secepatnya papa, aku sedang usaha untuk itu.”
“Yakin?” Guntoro tampak tidak percaya karena jawaban seperti ini bukan kali pertama yang dia dengar.
“Insyaallah, aku sudah lelah pacaran putus, pacaran putus lagi. Kali ini on the way cari pasangan sebenarnya. Doakan saja jalan aku mulus semulus pipi mama yang kinclong efek begitu rajinnya perawatan plus ke salon.” Bilal melirik Ratna saat mengatakannya, sebuah sindiran yang membuat Guntoro tersenyum simpul sementara bibir istrinya langsung manyun.
“Usaha terus, hasilnya mana? Dari sebelum sama Meisy kamu ngomong begitu,” tanggap Ratna.
“Kali ini serius mama, hanya sayang ceweknya memang belum respect sama aku. Makanya lagi usaha dulu buat dapatkan hatinya dan langsung bawa ke sini buat kenalan sama kalian.” Senyum Bilal melebar mengingat sikap dan kepolosan Agatha yang kata Yongki manja, tapi menurutnya justru hal yang istimewa.
“Tumben mesti usaha dulu, biasanya kamu hanya perlu menyeleksi dan memilih mereka buat disematkan status pacar,” sindir Ratna dengan memberi penekanan aksen tebal saat menyebutkan pacar.
“Ini beda mama, dia istimewa, seistimewa Yogyakarta.”
“Dia dari Jogja,” tebak Ratna dengan memicingkan mata. “Teman kuliah kamu,” sambungnya karena kalau bukan satu kampus dari mana juga Bilal mengenal gadis asal Jogja.
“Bukan Mama, itu hanya perumpamaan saking istimewanya itu cewek. Dia dari Indramayu.”
Ratna dan Guntoro saling melempar pandangan saat mendengar Bilal menyebut nama kota kecil, kabupaten yang beriringan dengan Subang.
“Kok Indramayu sih, Lal. Papa malah ragu dengan kredibilitas cewek sana. Memangnya tidak ada calon lain sampai kamu pilih cewek dari sana.”
“Heh, papa lupa kalau aku asli sana,” hardik Ratna dengan wajah dibuat sok bengis.
“Ya ampun, ini pengecualian ya mama sayang.”
Sejenak mereka tertawa sebelum Bilal kembali memulai pembicaraan lagi.
“Sementara ini aku rasa tidak ada calon yang lebih pas selain dia, Pa. Pokoknya dia ini luar biasa. Aku yakin papa dan mama suka sama dia kalau ketemu nanti. Sayangnya ....” Bilal meringis memandang Guntoro dan Ratna bergantian.
“Kenapa?” tanya Ratna tidak sabar mendengar kelanjutan kalimat Bilal.
“Sayangnya, kucinta dia, kusayang dia, rindu dia, inginkan dia, dianya enggak,” ujar Bilal sembari memberi lirik pada kalimatnya.
“Ya Allah Bilal, kalau dia tidak cinta terus ngapain juga kamu buang waktu ngejar dia. Cewek sini banyak yang suka sama kamu, mama yakin mereka akan dengan senang hati menerima kamu untuk jadi pasangan, calon suami, sampai menikah. Buat apa juga kamu buang waktu dengan mengharapkan cewek yang tidak punya perasaan apa pun sama kamu.”
“Tapi dia istimewa, Ma.”
“Terserahlah, mama tidak mau kamu terlalu lama buang waktu buat hal yang tidak terlalu penting.” Usai mengakhiri kalimatnya Ratna berdiri dan melenggang meninggalkan Bilal berdua dengan Guntoro.
Hari terus berganti, sayangnya hingga akhir pekan menyapa Bilal belum juga punya waktu untuk kembali menyambangi Agatha di kotanya. Sementara Agatha sendiri pagi ini sudah bersiap untuk mengikuti family gathering tahunan yang rutin diadakan mak-mak Ladies lima sekawan untuk merekatkan silaturahmi dan rasa kekeluargaan yang sudah terjalin sejak lama.
Tiga tahun absen hadir dan mengikuti acara family gathering ini membuat Agatha lebih antusias dalam mempersiapkan segala sesuatunya. Sudah sejak kemarin koper bawaannya siap, kini Agatha hanya tinggal memastikan tidak ada yang tertinggal sebelum menyeret koper kecilnya keluar dari kamar.
“Ciye, yang baru ikut lagi. Mukanya semringah banget. Sudah tidak sabar bermalam satu atap dengan –”
“Tidak lucu Andra, bisa berhenti meledek kakakmu ini.” Mata Agatha melebar menghardik sang adik yang postur badannya sudah mulai melampaui dirinya.
Badannya yang tetap mungil, sedangkan Andra tinggi menjulang kerap membuat orang yang tidak mengenal keduanya menganggap Andra dan Agatha bukanlah kakak beradik, melainkan pasangan kekasih. Padahal jarak usia keduanya lebih dari lima tahun.
“Bawa ini, sekalian.” Melihat Andra tidak membawa apa pun, Agatha menapaki anak tangga tanpa membawa serta koper bajunya.
“Enak saja, main atur,” cebik Andra bernada protes, tapi tetap juga menuruti perintah sang kakak.
“Yuk, kalau sudah siap kita berangkat.” Sinta berdiri melihat kedua anaknya turun bersamaan.
“Naik mobil Mom?” tanya Agatha heran karena biasanya mereka naik bus dengan interior layaknya di rumah. Ada sofa yang dipasang berhadapan, bed seat, dapur dan televisi.
Mulai di perjalanan saja mereka sudah bisa menikmati kebersamaan tanpa duduk sendiri-sendiri. Bapak-bapak duduk bersama balanya, tidak lupa ada bidak catur yang selalu dibawa.
Mak-mak akan berkumpul cekikikan membahas berbadai hal. Anak-anak pun tidak mau kalah dengan keseruan mereka, begitu pula para remaja yang mulai beranjak dewasa yang memiliki topik menarik yang dibahas sesuai dengan masa mereka.
“Naik bus, tapi kita naik dari Larangan saja, bus jemput bunda Lelis dulu, terus kita sama Amih Di,” jawab Sinta sembari melenggang keluar rumah. Hanya tinggal koper milik Agatha yang belum dimasukkan.
“Okay, let’s go,” seru Agatha penuh semangat.
Seperti apa yang dikatakan Sinta di halaman masjid Larangan sudah ada mobil keluarga Diana yang juga sedang menunggu bus datang. Belum apa-apa mereka sudah heboh, apalagi meledek Giian si gembul bulat yang pipinya mengembang bak adonan donat.
“Duh, Gii, mommy mau gigit pipi kamu ini. Lucu banget.” Sinta mencubit gemas kedua pipi Giian bersamaan.
“Aku bukan anak kecil lagi, Mom. Aku tidak suka dicubit begitu,”
protes Giian merajuk dengan menggelembungkan pipinya yang sekarang malah mirip ikan buntal.
“Gii, kalau kamu begitu mommy malah mau.”
“Tidak mau,” cegah Giian saat tangan Sinta terulur hendak menyentuh pipinya lagi. Giian berlari hingga pipinya bergoyang lucu dan bersembunyi di balik badan Diana.
“Sini, Gii, sama kakak saja.” Ajakan Agatha langsung diterima Giian.
Hanya saja teriakan Ghita sembari menunjuk bus yang berhenti tepat di depan pagar masjid membuat Giian langsung bersorak dan berlari menuju bus diikuti Gilang. Saat mereka masuk di dalamnya sudah ada Lelis dan suaminya Wahyu beserta Sherlin dan Maura.
Bergantian mereka saling menyapa dan bertanya kabar. Andra memilih duduk bersama Gilang dan Giian juga ikut dengan mereka. Sementara Agatha dan Sherlin sudah heboh cekikikan menertawakan tingkah lucu Maura di video t****k yang ditunjukan Sherlin.
Tidak lama bus kembali berhenti lagi di samping pagar masjid Muntur di kawasan Losarang. Mega, Haris bersama dua anak mereka Eza dan Salsa menyusul naik. Semakin ramailah di dalam bus. Kini tinggal keluarga April saja yang belum bergabung karena rumah mereka memang berada hampir di ujung wilayah Indramayu barat.
“Permisi ya anak-anak, diam dulu.” Suara Mega mampu menyita perhatian semua penumpang bus.
“Hari ini mama April ulang tahun loh, jadi nanti pas dia masuk jangan lupa kita nyanyikan lagu happy birthday ya,” sambung Mega memberi perintah yang langsung membuat anak-anak yang dimaksud berteriak tidak sambil menggoyangkan tangan mereka.
“Loh, kenapa tidak mau?” Diana ikut bersuara melihat kekompakan jawaban dari Agatha, Sherlin dan lainnya.
“Lagian bunda kudet, masa iya hari gini kasih kejutan nyanyinya lagu happy birthday.”
“Terus nyanyi lagi apa, Ta?” tanya Mega yang masih berdiri dengan menyandarkan badannya pada pembatas antara deretan sofa dan bed seat.
“Sebentar.” Agatha berjalan mendekati sopir dan kernet bus.
“Pak, nanti begitu penumpang terakhir masuk tolong putar lagu Zamrud selamat ulang tahun ya,” pinta Agatha. “Pas bagian selamat reff saja jangan terlalu lama ya Pak.”
“Siap, Neng.”
“Diputarnya pas yang naik itu mama April, Pak. Jadi pas Mama masuk bus langsung deh lagu diputar, tolong siapkan ya Pak.”
“Oke.” Kedua jempol kernet bus yang mengiyakan permintaan Agatha langsung membuatnya berbalik lagi ke tempat duduk semula.
“Jadi nanti pas mama April masuk lagunya kan diputar, kita tinggal ikut nyanyi sambil tepuk tangan. Terus pas lagu berhenti langsung deh kita sambung dengan nyanyi tiup lilin. Oke kan?”
“Siap, kakak.” Serempak anak-anak menjawab. Mak-mak dan bapak-bapak hanya mengangguk setuju. Mereka ikut saja aturan main anak muda yang lebih up to date sesuai perkembangan zaman.
“Itu Mama April di sana,” tunjuk Ghita mengarah pada April dan Sigit yang berdiri di samping mobil mereka yang berhenti. Di sana juga terlihat Yongki dan Yoga yang ikut stand by menunggu bus datang.
Sebelum naik ke dalam bus mereka memasukan dulu barang-barang ke bagasi dan hanya membawa tas kecil saja yang masuk ke dalam bus. Yoga masuk terlebih dulu disusul Yongki. Saat April mulai masuk ke dalam bus, lagu selamat ulang tahun langsung menggema disertai dengan riuh nyanyian dan tepuk tangan yang menyertainya.
Bus kembali bergerak, lagu masih bergema dengan Lelis yang tampak membawa kue tart bertuliskan happy birthday Mama cantik tanpa ada lilin angka di atasnya. Hanya sebuah lilin kecil yang tertancap di atas kue.
Hal pantang bagi ladies lima sekawan menyertakan lilin angka saat salah satu di antara mereka berulang tahun seperti sekarang. Musik dimatikan, mereka pun menyanyikan lagu tiup lilin. April tampak menutup mata sembari membuka telapak tangannya menengadah dan melangitkan doa dan harapannya di hari pertambahan angka usianya, pengurangan jatah umurnya di dunia. Sekaligus penanda kalau masa mudanya sudah terlewati lama meskipun tetap saja kalau sedang berkumpul dengan keempat kawannya, April selalu lupa bilangan usianya.
“Selamat ulang tahun, Bet. Semoga tidak lagi jembet karena sebentar lagi mau punya mantu dan cucu,” ujar Mega mengawali ucapan selamat pada April.
“Belum dapat calon mantu, mentang-mentang mau memantu pamer ya,” sambut April menimpali ucapan Mega dengan membuka tangannya dan berpelukan untuk sejenak.
Satu persatu semuanya maju untuk mengucapkan selamat ulang tahun beserta dengan doa dan harapan untuk April. Yongki yang terakhir mendekat, semalam mereka sudah membuat kejutan ulang tahun juga buat sang Mama-wanita yang paling cantik di keluarga mereka karena kedua anak April cowok semua.
“Happy birthday mama, semoga semua harapan mama terkabul,” ujarnya sebelum melabuhkan dua kecupan di pipi kanan dan kiri April.
“Amin, terima kasih sayang. Semoga mama cepat memantu dan harapan mama kamu segera dapat calon istri supaya mama bisa bersaing sama Mega buat cepat-cepatan dapat cucu.”
“Mama.” Yongki hanya bisa protes dengan memperlihatkan raut tidak sukanya setiap kali April membahas calon mantu, calon istri dan semacamnya.
“Iya, iya, sudah sana duduk. Mama mau ngerumpi manja sama mereka.” April mengusap pipi kanan putranya.
Terlebih dulu Yongki menyalami para mak dan bapak teman kedua orang tuanya. Baru setelahnya dia ikut mencari tempat duduk yang nyaman dan tentunya sudah ada satu tempat kosong yang selalu disediakan untuk Yongki agar bisa duduk bersama Eza.
“What’s up calon manten,” sapa Yongki melayangkan tos dengan mengadu tinju mereka sebelum duduk.
“Sangat baik, meskipun sedikit gugup,” aku Eza mengingat pernikahannya akan diselenggarakan dua puluh hari lagi dan ini adalah liburan terakhir dia dengan status lajang.
“Ciye gugup, katanya mau spill malam pertama,” bisik Yongki membuat senyum Eza terkembang.
“Permisi lagi anak-anak.” Baru juga semua duduk dengan kawanannya dan mulai asyik mengobrol. Suara Mega kembali terdengar meminta atensi mereka.
“Maaf ya Bunda Mega ganggu lagi, tapi bunda mau kasih kabar bagus dong buat mengawali liburan kita.”
“Apa, Bun? Mau bagi undangan ya,” tebak Ghita yang kemarin di akhir pertemuan mereka di rumah mertua resto, Eza memberi tahu rencana pernikahannya meskipun belum ada undangan yang dibawa saat itu.
“Kok Ghita tahu sih?”
“Kan Bang Eza sudah kasih tahu kita kemarin,” sambar Maura ikut menjawab.
“Wah, bukan kejutan lagi dong. Iya ini, undangannya bunda titip sama Amih, Mama April, Mommy sama bunda Lelis ya. Jangan lupa nanti datang pakai seragam ya.”
“Siap, Bunda,” koor mereka kompak menjawab.
“Habis Bang Eza nikahan nanti Kak Agatha sama Masa Yongki ya, Bun,” celetuk Giian dengan mulutnya yang sedikit belepotan karena krim kue tart April.
“Giian! Jangan mulai atau kakak tidak kasih jatah es krim,” ancam Agatha karena dia tahu Yongki memang tidak bersuara. Namun, raut wajahnya sangat kentara langsung berubah drastis pertanda kalau pembahasan ini masih jadi sesuatu yang dibenci Yongki.