Sawang Sinawang

2185 Kata
Ah, selalu saja mood Yongki rusak selama Famgat berlangsung. Nyatanya bukan hanya Giian yang terus mengaitkan dia dan Agatha. Hampir semua yang di sana memojokkannya untuk meresmikan hubungan dengan Agatha. Hubungan yang sama sekali tidak diharapkan ada dan dia malah berharap semuanya segera berakhir kalau benar kehadiran Bilal nanti bisa mengalihkan dunia Agatha agar berhenti mengganggunya. Saat semua asyik berkumpul, tentulah Yongki lebih memilih space tersembunyi yang tampak lengang dan tidak berniat berbaur dengan yang lainnya. Alasannya sepele, menghindari pertanyaan dan sindiran yang selalu membawa nama Agatha. Entah kenapa keluarga besar Ladies lima sekawan ini sangat kompak sampai-sampai semua berpikir senada kalau dirinya dan Agatha adalah pasangan yang cocok. Padahal bagi Yongki mereka berdua layaknya bumi dan bulan, air dan minyak yang tidak akan pernah menyatu. Terlalu banyak perbedaan yang membuat Yongki benar-benar tidak berharap Agatha adalah jodohnya. “Halah, mana asyik Bray, duduk mulu di sini. Gabung kek sama yang lain.” Haris menepuk pundak Yongki yang memilih duduk bersandar di ayunan sembari memperhatikan riuh canda tawa semua yang sedang berkumpul di teras belakang Villa yang menghadap kolam renang. Di sana sekarang terlihat Giian menari india ditemani Maura dan dihadiahi sorak serta tepuk tangan dari semua yang menonton aksi menggemaskan mereka. Tentu saja pipi bakpao Giian yang bergoyang mbul-mbul saat dia bergerak memicu tawa tidak juga berhenti. “Duduk, Yah.” Yongki menurunkan kakinya dan mempersilakan Haris duduk di ayunan berhadapan dengannya. “Ini aman nih? Jangan-jangan nanti malah ambruk.” Haris tampak menggoyang besi Ayunan yang cukup kokoh dan besar. “Amanlah, lagian berat kita berdua tidak seberapa.” Haris naik dan duduk berhadapan dengan Yongki, ponsel yang tadinya dipakai untuk bermain game kini layarnya mati dan dibiarkan tergeletak di samping ayunan. “Toko lancar Ki? Ayah dengar dari Eza sekarang sudah ramai pengunjung. Lantai atas diisi apa jadinya?” “Perabotan dapur dan alat rumah tangga lainnya yang bisa dijual tiga limaan, Ya.” “Terus lantai bawah diisi bahan sandang, pakaian, sepatu dan semacamnya,” tebak Haris. “Iya, seperti rancangan semula.” “Alhamdulillah, lancar terus ya, Ki. Tinggal cari Nyonya buat menghabiskan uang,” kekeh Haris mulai memicu pembicaraan ke ranah yang tidak disukai Yongki. “Aku belum berpikir ke arah sana, Yah. Melajang masih menyenangkan, bebas tanpa aturan.” Haris tersenyum menanggapi pernyataan Yongki. “Mana ada senang, Ki. Malam tidur yang dipeluk guling, tidak ada teman bercanda di atas kasur. Tidak ada yang digodain, flat lah hidup macam itu.” Haris menghadiahi senyuman yang sengaja dilayangkan untuk menggoda Yongki. “Tapi aku suka, Yah,” balas Yongki dengan tegas meyakinkan kalau buat dia single is happy. Terasa bebas tanpa dikurung dengan aneka aturan yang seenaknya dibuat wanita. Rasanya, rumah tangga kedua orang tuanya selalu menjadi acuan cara berpikir Yongki. Padahal Sigit-sang papa yang menjalani semua itu tampak have fun. Tidak pernah menggerutu akan sikap posesif dan manja dari April. Namun, entah dari segi mana Yongki malah menganggap papanya seperti dikekang dengan aneka peraturan. Padahal itu hanya bentuk perhatian dan cinta dari seorang istri pada suaminya. “Kamu belum tahu saja manisnya biduk pernikahan, kalau sudah tahu. Pasti nyesel kenapa lama-lama menjomblo seperti ini.” “Memang ada yang seperti itu?” “Seperti apa?” tanya Haris yang tidak begitu paham ke mana arah pertanyaan Yongki. “Seperti kata Ayah barusan, nyesel lama-lama jomblo. Soalnya aku malah lebih sering dengar kalau temanku nyesel nikah muda.” “Astagfirullah Yongki.” Haris terkekeh sembari kepalanya menggeleng pelan. “Pendapat semacam itu tidak bisa jadi acuan. Menikah itu sunah, bahkan hukumnya bisa berubah jadi wajib dalam kondisi kamu seperti ini. Sudah mapan, siap membina rumah tangga, atau jangan-jangan selama ini kamu belum pernah mimpi basah, mimpi kikuk-kikuk sama wanita.” Haris sedikit berbisik saat mengucapkan kalimat yang terakhir. Yongki tersenyum, sedikit jengah, tapi memang dari kelima bapak-bapak yang ikut famgat ini, Haris selalu berhasil mengajaknya berbicara lama tanpa menyerempet dan mengaitkan dengan Agatha. “Itu, senyum kamu itu, Ki. Di mimpi saja kikuk-kikuk itu enak, mantap, bangun-bangun bisa bikin badan segar. Bagaimana kalau nyata, beuh, ayah yakin kamu bakal ketagihan.” Yongki tertawa pelan dengan menutup matanya. “Hadew, berat sudah. Kalau ngomong sama ustaz kadang selalu menyerempet ke sana.” “Loh, jangan bawa-bawa nama ustaz dong, Ki. Ini ayah lagi ngomong sama kamu. Bukan lagi ceramah depan mimbar Jumat.” “Sama saja ayah, otakku terkontaminasi kalau terus bahas beginian.” “Bagus dong, biar setelah akad nikah dan resepsi si Eza, kamu cepat menyusul. Sekarang kamu ngomong saja mau cewek macam apa. Nanti biar bunda Mega yang suruh seleksi santrinya di Al-Hikmah itu.” “Aduh, masih bocah semua itu, Yah. Santri bunda kan rata-rata usia SMA yang paling gede. Aku tidak mau sama yang bocah,” tolak Yongki menggoyang telapak tangannya. “Eh, sembarangan. Biar bocah, mereka sudah dewasa. Bab-bab membina rumah tangga beserta dengan anu juga dipelajari loh.” “Anu apa ayah? Beneran aku kalau ngomong sama ayah ini otak travelling ke mana-mana.” “Baguslah, dari pada kamu ngurus kerjaan mulu. Lagian duit banyak, usaha ada, tabungan bertumpuk. Mau cari apalagi coba, Ki. Come on, sudah saatnya kamu buktikan keganasan sang torpedo, cess pleng tidak buat bikin cucu biar si April dan Sigit yang kelimpungan.” “Astaga ayah.” Yongki sampai tidak sadar tertawa lepas karena omongan Haris barusan. Dari tempatnya duduk, mata Agatha tidak bisa beralih darinya. Ah, kenapa jatuh cinta pada orang yang menganggap dia tidak pernah ada itu sesusah ini. Apa kurangnya dia? Agatha sering berpikir hal itu, masa iya dia harus mengubah diri, bersandiwara jadi lemah lembut. Hanya buat Agatha jelas tidak mudah mengubah jati diri yang sudah melekat. Masa iya demi cinta dia mengubah segalanya. Apa tidak bisa Yongki menerima dia yang seperti ini? Menerima dia yang ceriwis, manja dan banyak omong. Sesuatu yang sangat berbanding balik dengan Yongki si irit kata dan jutek. “Ta, samperin saja, dari pada penasaran,” bisik Salsa yang menyadari sedari tadi hanya raga Agatha yang duduk di sampingnya. Sementara otak Agatha tentulah berisi fantasi dan kehaluannya yang isinya pasti tidak jauh dari Yongki. “Nanti, biar saja diceramahi dulu sama ayah,” tepis Agatha. Fokusnya beralih sejenak ke arah Yoga yang sedang membuat tebak-tebakan kocak meski itu hanya sesaat saja. Sementara di atas ayunan, Yongki masih tampak berbincang santai dengan Haris. “Eza nikah sama santri Al Hikmah?” tanya Yongki, meski mereka dekat, keduanya memang sangat jarang membahas hal pribadi kecuali ajakan gila Eza yang selalu mengompori Yongki untuk menerima Agatha. “Anak Kiyai di tempat Eza mondok. Biar jadi Kiyai juga lah.” “Keren dog, Yah, punya besan kiyai. Mantunya pasti alim, tidak cengengesan dan keganjenan.” “Kayak Agatha,” terka Haris menyambar kalimat Yongki. “Jangan salah, Ki. Pada dasarnya setiap wanita itu sama, manja, maunya dituruti, diistimewakan, disayang dan tidak mau diduakan termasuk dengan pekerjaan atau teman nongkrong kamu.” “Masa sih, aku lihat bunda Mega tidak seperti itu.” “Nah, ini yang tidak kamu tahu. Kata orang rumput tetangga lebih menggoda karena yang melihat tidak tahu pasti lahan rumputnya seperti apa, penjagaan dan perawatannya juga macam apa. Intinya orang hidup itu sawang sinawang Ki. Tampak bagus di mata orang lain. Tampak pendiam, sempurna dan lainnya. Padahal aslinya belum tentu begitu. Ada tipe orang yang blak-blakan seperti Agatha atau mamamu. Ada juga yang diam-diam menghanyutkan.” “Seperti bunda Mega,” tebak Yongki dengan satu sudut bibir yang terangkat membuat senyumnya terlihat seperti ledekan yang ditunjukkan buat Haris. “Anggaplah seperti itu. Hanya buat ayah, kemanjaan bunda atau Salsa itu sesuatu yang wajar. Mereka begitu hanya pada ayah, sama Eza, sama orang yang membuat mereka nyaman. Ayah pikir Agatha juga macam itu, dia manja dan ganjen kalau sama kita atau teman-teman dekatnya saja. selebihnya ayah yakin kalau dia bisa jaga sikap.” “Aku tidak yakin,” elak Yongki. “Why? Bukannya mama kamu tampak elegan dan berkelas kalau sedang menemani Sigit Kondangan?” “Iya, tapi tetap saja selebihnya kembali seperti semula.” “Iya wajar dong, Ki. Sigit suaminya, kamu anaknya. So, wajar kalau April bersikap seperti itu. Ada waktu, momen dan orang yang tepat yang membuat dia nyaman jadi diri sendiri.” “Oke, jadi ini kampanye terselubung?” Satu alis Yongki terangkat dengan mata panjang dan sipitnya yang menyorot Haris, seperti sedang mencari sesuatu yang tersembunyi di balik obrolan mereka sekarang. “Kamu pikir ayah politis, mentang-mentang sebentar lagi pemilihan wakil rakyat. Kamu pikir ayah mau nyalon sampai pakai acara kampanye terselubung segala.” “Kampanye itu bukan hanya berkaitan dengan politik loh Yah.” “Oh, oke, ayah paham. Maksudnya kamu pikir ini ayah lagi kampanye biar kamu menerima Agatha?” “Mungkin.” Yongki mengangguk, raut wajahnya selalu berubah setiap kali nama Agatha disebut. “Sayangnya kamu salah. Mau dengan Agatha atau cewek mana pun, Ayah hanya harap kamu cepat bertemu jodoh yang tepat. Jodoh yang bisa membuat rasa lelahmu hilang, stress kamu berkurang dan mengalihkan kesibukan kamu hanya demi membahagiakan dia.” “Bagus dong. Rasanya hanya ayah yang tidak memaksa aku untuk menerima Agatha.” “Kamu salah,” potong Haris cepat. “Salah di mananya?” Yongki tidak paham, satu kerutan di kening cukup menandakan kalau dia sedang mencoba menebak letak salahnya di mana. “Mereka bukan memaksa kamu berjodoh dengan Agatha. Hanya memang di mata ayah dan semua keluarga di sini. kalian itu cocok untuk saling mengisi.” “Cocok apanya Yah? Aku tidak suka cewek berisik, dia berisik. Aku suka cewek kalem, dia ganjen. Aku mau cewek dewasa, tapi dia manja dan kekanakan. Aku tidak suka Agatha.” “Yakin tidak suka? Ayah malah berpikir kalau kamu pasti menyesal saat suatu hari nanti Agatha menyerah untuk memperjuangkan cintanya. Kamu tidak sadar sudah terbiasa dengan cintanya saat dia masih dekat Ki, kalau jauh?” “Bukannya tiga tahun dia menjauh dan aku malah berpikir sangat menyenangkan dia tidak menggangguku. Kenapa ayah berpikir seperti itu? Aku pikir terkaan ayah kali ini salah.” Yongki membalas tatapan Haris, tapi Haris tidak pernah kehilangan kata untuk menimpalinya. “Oke, mungkin ayah salah. Hanya kamu juga perlu tahu kalau hidup flat itu tidak menarik, Ki. Kalau merah dicampur merah tidak indah. Putih bertemu putih ya sayu. Kebayang kamu yang pendiam punya istri pendiam. Apa asyiknya coba? Masa iya nanti pas malam pertama kalian diem-dieman tanpa ada yang memulai menyerangh terlebih dulu.” “Astaga ayah, gila aku. Sumpah, ini kenapa larinya ke sana lagi?” Yongki menepuk pelan keningnya sembari berdecak heran. “Lah memang pasangan halal itu harus menikah dan pernikahan itu tidak hanya melulu tentang sayang dan cinta. Ada rutinitas ranjang yang tidak bisa dipisahkan.” “Aduh.” Yongki berganti memijat pelipisnya, kepalanya seketika terasa berat seiring topik pembicaraan mereka yang mulai ke arah memberatkan di sisi Yongki. “Coba resapi hati kamu. Tiga tahun Agatha tidak ada di samping kita. Sekarang lihat dia.” Haris menunjuk Agatha yang sedang menunjukkan suara emasnya diiringi petikan gitar Gilang. “Kita itu lebih ceria kalau ada dia, kamu tidak mau mengakui itu?” Yongki diam, Haris selalu mampu membuatnya tidak lagi bisa mengelak. Terbiasa ada Agatha, terbiasa diganggu dia dengan berbagai tingkah konyolnya. Tiba-tiba menghilang selama tiga tahun. Ah, kenapa pula dia harus jujur pada orang lain untuk mengakui kalau saat itu ada sedikit rasa kehilangan yang hinggap. “Well, sudah cukup sesi obrolan dengan ayah Haris. Maaf kalau ini membuat kamu tidak nyaman, Ki. Come on, pelajari dan raba hati kamu. Jangan sampai ada penyesalan, kami berkata A bukan berarti memaksa. Hanya saja kami sebagai orang tua tentu tahu mana yang baik dan mana yang tidak buat kamu. Seperti halnya kedekatan Eza dan Sherlin yang tidak bisa dipersatukan. Kami sudah merabanya sejak awal. Kami membebaskan kalian memilih pasangan. Hanya sebagai orang tua, ada semacam kelebihan tersendiri yang bisa menilai mana pasangan yang baik buat kalian.” Haris menepuk lengan kanan Yongki usai kalimat pamungkas yang diucapkannya sebelum turun dari ayunan. “Thanks ya, Yah.” “Feel free saja, Ki. Kamu dan Eza itu anak ayah yang paling dewasa di antara adik-adikmu yang lain. Seorang ayah tentu berharap kalian berdua mendapatkan kebahagiaan yang sama. April dan Sigit mungkin diam, hanya ayah yakin kalau dalam benak mereka. Keduanya menginginkan kamu cepat mengakhiri masa lajang. Dengan Agatha atau bukan, itu rahasia Allah.” “Oke.” Yongki melepas kepergian Haris. Kini dia kembali sendiri di atas ayunan yang mulai dia gerakan lagi. Satu lagu yang dibawakan Agatha dia resapi dengan hati. Apa Agatha memilih lagu pupus yang dibawakan grup band legendaris Dewa untuk mewakili perasaan hatinya? “Cinta bertepuk sebelah tangan, Ta. Kamu sudah sadar dari dulu, tapi kenapa kamu malah tidak pernah mau sadar,” gumam Yongki. Yongki turun dari ayunan, seperti ada sesuatu yang mendorongnya untuk ikut bergabung ke sana mendengar lantunan lagu yang dinyanyikan Agatha dengan penghayatan yang luar biasa memukau. Untuk urusan suara dan penghayatan setiap lagu yang dinyanyikan, Agatha memang tidak perlu diragukan lagi. Namun, entah kenapa lagu ini serasa menarik langkah kaki Yongki hingga semakin dekat, dekat, bahkan dia sudah tidak sadar kalau kini sudah berdiri di depan Agatha. Apa yang hendak dia lakukan sekarang?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN