Senja di The Castello

2085 Kata
“Mas Yongki mau nyanyi?” tanya Gilang saat petikan gitarnya terhenti dan riuh tepuk tangan terdengar. “Mas Yongki mau ngapain ya, tumben kak Agatha nyanyi dia mendekat.” “Itu, Bet, anakmu mau apa coba?” “Ini bakal seru nih, kapan lagi lihat mereka duet.” Bisik-bisik mulai tidak bisa dihentikan. Apalagi saat Yongki menerima gitar dari tangan Gilang. “Oke penonton, sepertinya kalian mesti kecewa karena gitaris kesayangan kalian ini akan digantikan oleh Mas Yongki.” “Huuu,” koor anak-anak meneriaki Gilang yang sedang melambai-lambaikan tangan ala gitaris profesional setelah tampil di atas panggung konser. “Cepat turun, biar Mas Yongki sama Kak Agatha yang duet,” teriak Maura tidak sabar menyaksikan penampilan keduanya. Agatha yang sejak tadi terpukau melihat Yongki berdiri di hadapannya pun tersadar saat mendengar suara Maura. Well, dia gugup pasti, grogi iya, tapi kapan lagi bisa berduet dengan Yongki. Seingat Agatha sudah lama Yongki tidak pernah ikut serta acara hiburan seperti ini sejak dia masuk SMA. Entah saat Agatha tidak ikut acara Famgat, apa tiga tahun kemarin dia sudah tertarik untuk ikut serta memeriahkan sesi hiburan untuk keluarga ladies lima sekawan atau .... “Ta, mau nyanyi apa?” Agatha mengerjap, pertanyaan tadi membuat dia berasa sedang di alam mimpi. Agatha menepuk pipinya. “Nyata, bukan mimpi deh,” gumamnya lirih sebelum mendongak membalas tatapan Yongki yang berdiri di depannya. “Jadi mau nyanyi apa.” Yongki duduk di kursi yang tadi diduduki Gilang saat bermain gitar mengiringi lagu yang dinyanyikan Agatha. “Kupilih hatimu.” Refleks Agatha menyebut satu judul lagi sambil tersenyum, tidak ada balasan lain kecuali suara petikan-petikan gitar yang mulai terdengar. “Ta, biasa saja. tidak usah grogi,” seru Yoga meledek Agatha yang dari tempatnya duduk tampak mulai kikuk. Senar gitar mulai dipetik sesuai nada lagu yang ingin dinyanyikan Agatha. “Siap ya Ta?” Agatha mengangguk, tangannya mendekatkan microphone. Suara merdu Yongki mulai terdengar mengawali lagu di bait pertama dan itu sukses membuat Agatha melongo. Terpukau iya, tersanjung pun pastinya, tapi masalahnya hingga giliran dia menyanyi matanya masih tidak berkedip menatap Yongki. “Ta,” desis Yongki menyadarkan Agatha kalau kini giliran dia yang menyanyi. Agatha gelagapan, tapi untungnya cepat dia menguasai lagu. Kini arah pandang matanya tidak bisa lepas dari Yongki saat menyanyikan bait demi bait lagu yang sangat sesuai dengan isi hatinya. Sungguh demi apa pun juga, jantungnya kini sedang berlompatan. Aneka kupu-kupu dengan sayap berwarna-warni keluar bersamaan dari dalam dadanya disertai semerbak wangi bunga kebahagiaan. Bukan lebay, bagi seseorang yang selama ini cintanya diacuhkan, rasanya disepelekan dan keberadaannya hanya dianggap angin lalu. Sumpah, ini sangat membahagiakan buat Agatha. Nyatanya kebahagiaan ini bukan hanya dia yang merasakan karena semua keluarga mereka yang menonton seolah tersihir dengan chemistry keduanya menyanyikan lagu kupilih hatimu. Apa yang sebenarnya Yongki inginkan? Tanya itu yang kini mengganggu pikiran Sinta. Bukan dia tidak merestui kalau seandainya mereka berjodoh. Dulu dia masih menganggap scene Agatha mengejar Yongki adalah suatu candaan yang mengundang tawa. Namun, seiring keduanya beranjak dewasa. Yongki masih tetap angkuh dan Agatha masih tidak juga lelah berusaha mendapatkan hati Yongki. Yongki yang selalu mengacuhkan Agatha. Yongki yang selalu membuat putrinya terlihat tidak berharga membuat Sinta sebagai orang tua dari Agatha tidak rela putrinya yang berharga dipandang bak benalu oleh Yongki. Tepuk tangan sudah bergema meskipun petikan gitar masih terdengar walau samar-samar. “Karena sungguh cinta ini cinta sampai mati.” Agatha menatap dalam mata Yongki berharap dia mengerti kalau lirik ini bukan hanya sekedar lirik lagu untuk dinyanyikan. Namun, juga sesuai dengan apa yang dia rasakan. “Cinta sampai mati,” ulang Yongki mengakhiri lagu dan melempar senyum pada semua keluarga mereka yang kini berdiri sembari memberikan standing applouse yang teramat meriah. “Terima kasih Agatha Vernezza.” Yongki membungkuk mendekatkan mulutnya ke microphone dan meninggalkan Agatha yang masih duduk di tempatnya dengan debar jantung yang tidak biasa. Sungguh dia tidak sadar kalau Yongki sudah menjauh, masuk ke dalam villa tanpa meladeni satu pun pujian dan kalimat godaan yang terlontar dari para orang tua maupun adik-adiknya. “Woi, sadar, Ta, sadar. Sudah jauh itu,” teriak Yoga membuat Agatha terkesiap dan melempar senyum lebar pada keluarganya. “Bet, tumben banget anakmu ikut nyanyi. Sama Agatha lagi, dia tidak sedang kesurupan kan?” tanya Mega pada April. April menggeleng, dia malah melempar pandangan pada Haris. “Laki kamu kali, dia habis ceramah apa coba sama anakku.” “Mas Haris habis ngomong apa sama Yongki?” Mega berganti melempar tanya pada suaminya. Namun, Haris pun menggeleng dengan mengangkat kedua bahu. Acara masih berlanjut meninggalkan momen langka yang barusan terjadi. Tidak mau kalah mak-mak dan bapak-bapak pun ikut tampil untuk saling menghibur. Suara tawa, hiruk pikuk komentar, tepuk tangan seolah tidak terdengar di telinga Agatha karena kini fokusnya entah ke mana. Raganya memang di sana, duduk di samping Sheril dengan mata yang tertuju ke arah panggung ala kadarnya. Namun, otak dan pikirannya sudah tidak senada dengan apa yang dilakukan mata dan raganya. Lantunan azan asar menjadi alarm berakhirnya sesi hiburan di sore ini. Semua bersiap-siap untuk salat berjamaah sebelum mengunjungi flora wisata yang tidak jauh dari vila yang mereka sewa. Senja sore, dengan terpaan semilir angin yang menyejukkan ditambah dengan warna-warni aneka flora yang memanjakan mata. Semua sibuk berselfie dan wefie ria. Mak-mak tidak mau kalah hebohnya dengan kaum muda, sedang para bapak-bapak memilih duduk santai sembari menyesap kopi saat menunggu anak dan istri mereka berkeliling. Agatha, Sherlin, Salsa, Maura dan Ghita memisahkan diri dari para laki-laki. Namun, di sela keasyikan canda dan tawa saat berpindah-pindah foto dari satu tempat ke tempat lainnya. Masih saja Agatha sempat menangkap Yongki yang malah duduk sendiri di bangku melingkar dengan pandangan mata yang dilempar ke arah pepohonan nan jauh di depannya. “Sa, Lin, jaga yang lain ya. Aku ....” Agatha bingung hendak pamit ke mana. “Aku tahu,” potong Sherlin mendorong Agatha ke arah di mana Yongki duduk kemudian mengajak para adik-adiknya menjauh. Kesempatan yang sudah ribuan kali diberikan meski tetap tidak ada hasil yang signifikan. Seperti sekarang, suara deheman Agatha hanya membuat Yongki sekilas saja meliriknya. “Boleh duduk, Mas?” Agatha tampak ragu-ragu, entah kenapa Yongki selalu acuh dan kaku seperti ini kalau sedang bersamanya. Namun, duet mereka siang tadi sedikit memberikan angin segar dan kembali membuat harapan Agatha membumbung kembali. “Mas, aku boleh duduk di sini,” ulang Agatha saat Yongki tidak juga menjawab tanyanya. “Apa perlu izin dariku untuk duduk di tempat umum seperti ini?” Yongki menurunkan kakinya yang tadi diangkat ke atas untuk duduk berselonjor. Dia sudah bersiap meninggalkan Agatha, tapi sayangnya Agatha terlebih dulu menahan langkahnya dengan mencekal lengan Yongki. “Aku mau bicara Mas,” desisnya amat lirih. Sungguh diacuhkan kali ini berlipat sakitnya karena baru saja dia terasa terbang saat Yongki mengajaknya berduet. Agatha memang tidak pernah mau sadar kalau Yongki tidak pernah memiliki perasaan apa pun padanya. “Apa?” Tajam sorot mata Yongki menghunus tatapan Agatha, menguncinya hingga cekalan tangan Agatha melemah. Haruskah seperti ini? Hanya ingin meminta waktu untuk bicara saja dia harus mengemisnya. “Aku –” “Ta, sini foto sama Mommy.” Teriakan Sinta membuat Agatha menoleh ke arah sang mommy. Cepat dia berlalu dari hadapan Yongki, harus Agatha sadari kalau akan semakin berat jika dia masih ingin tetap berjuang untuk cintanya. Kini halang rintangnya bukan hanya ada pada Yongki yang tidak pernah menyadari ketulusan cinta yang ada di hatinya. Namun, restu Sinta sepertinya akan susah didapat mengingat dia tidak suka melihat keangkuhan sikap Yongki yang kukuh menolak Agatha. “Harga diri, Ta,” bisik Sinta menarik Agatha menjauh. Sebelumnya sorot tajam penuh rasa tidak suka dia layangkan pada Yongki. Ingin rasanya dia membentak putra sahabatnya untuk meluapkan kesal yang selama ini Sinta simpan. Agatha terlalu berharga untuk mengemis hati seorang Yongki. Sebagai ibu, Sinta jelas tidak akan pernah rela melihat harga diri dan perasaan putrinya terus saja diinjak-injak keangkuhan sikap Yongki. “Sudah berapa kali mommy bilang kalau kamu tidak perlu lagi dekat-dekat dengan Yongki. Apa lagi yang masih kamu harapkan dari dia,” geram Sinta meluapkan amarahnya dengan suara ditahan agar tidak menjadi sebuah teriakan. Tangannya masih menyeret Agatha menjauh, mencari tempat agar bisa mengingatkan sang putri akan keinginannya agar Agatha menghapus Yongki dari otak dan hatinya. Beruntung meski weekend pengunjung sudah terlihat sepi karena memang sudah menjelang waktu tutup wahana flora wisata the castello yang biasanya akan ditutup pukul lima sore. “Duduk,” perintah tegas Sinta terdengar tidak ingin dibantah sedikit pun. “Aku minta maaf, Mom. Melupakan mas Yongki itu tidak mudah,” aku Agatha dengan tertunduk lesu. “Kamu lihat dirimu, angkat wajah kamu.” Telunjuk Sinta mengangkat dagu Agatha. “Kamu cantik, pintar, penuh bakat dan yang lebih penting kamu itu putri sulung keluarga Ardinata, Ta. Masa iya kamu masih belum lelah juga mengemis hati Yongki. Apa istimewanya dia? Apa lebihnya dia? Apa yang ada di diri Yongki, Bilal juga punya, Ta. Apa yang kamu harapkan dari cowok angkuh dan dingin seperti dia? Apa Ta?” Napas Sinta tersengal, rasanya amat muak saat dia melihat ekspresi wajah Yongki yang sok cool, sok jual mahal dan sok kecakepan. “Malu, Ta. Mommy malu kalau kamu terus saja mengiba seperti itu pada Yongki. Bangun, Ta, bangun. Buktikan kalau kamu bisa dapat pria yang lebih segalanya dari Yongki. Kamu cantik, Ta. Jangan seperti ini.” Sinta melemah saat melihat bulir bening jatuh di paha Agatha. Dia duduk di samping sang putri, memijat pelan pundak Agatha yang mulai tersedu. Ah, selain manja, jangan lupa kalau Agatha ini sangat cengeng. Air mata begitu mudah terlihat menggenang di pelupuk matanya dan berubah jadi aliran deras bak anak sungai yang mencari hulu. “Maafkan, Mommy,” desah Sinta sadar kalau mungkin dia sudah sedikit keterlaluan. “Mommy tidak salah, aku yang salah sudah buat mommy malu.” Terbata-bata Agatha mengucapkannya, tenggorokannya tercekat, suaranya sangat susah dikeluarkan saat merasa gondok dan ingin menangis kencang seperti saat dia berada di kamarnya. “Jangan karena duet kalian tadi kamu berpikir Yongki sudah berubah, Ta. Mommy tidak melarang kalian punya hubungan kalau cinta itu bukan hanya kamu yang merasakan. Nyatanya kamu, mommy dan semua keluarga ladies lima sekawan itu tahu kalau cinta itu hanya sepihak. Kamu saja yang cinta, dia tidak. Bertepuk sebelah tangan itu tidak enak, Ta. Hanya entah setan apa yang merasuki kamu sampai bertahun-tahun kamu rela diperlakukan seperti ini sama Yongki.” “Sinta,” panggil Lelis. Namun, melihat Sinta mengangkat tangan dan memintanya menjauh, Lelis urung mendekat. Meski penasaran, dia tetap meninggalkan kedua ibu dan anak itu berdua. Sepertinya ada pembahasan serius antara keduanya hingga Sinta terlihat tidak ingin diganggu siapa pun. “Demi Mommy, Ta. Usahalah untuk melupakan Yongki. Mommy tidak kuat melihat kamu seperti ini terus-terusan. Bukan hanya kamu yang merasakan sesak dan sakitnya. Mommy juga, Ta.” “Aku minta maaf, Mom,” gagap Agatha. Berlembar tisu kini sudah dia tarik untuk membersihkan lelehan air mata dan ingus yang ikut keluar setiap kali dia menangis seperti ini. “Mommy juga minta maaf, Ta. Percayalah, apa yang mommy lakukan ini demi kebaikan kamu, Ta. Mommy sayang kamu, mommy tidak ingin kamu terus seperti ini, Ta.” Tangan kanan Sinta merengkuh pundak Agatha, membawa kepala sang putri bersandar di pundaknya. “Tolong, Ta. Demi Mommy, lupakan Yongki. Mommy tidak suka kamu terus seperti ini,” ujar Sinta yang sudah lebih dari puluhan kali meminta hal ini pada Agatha. Namun, baru kali ini permintaannya turut didengar April. “Kenapa, Sin? Kenapa Agatha harus melupakan Yongki?” tanya April menatap heran ke arah Sinta yang sedang memeluk Agatha. “Kamu nangis, Ta? Kenapa sayang?” April mendekat, dia berniat turut menenangkan Agatha. Hanya tidak disangka niatnya dicegah Sinta. “Tidak perlu, Pril. Bisa tinggalkan kami berdua?” Sinta berkata dengan tatapan penuh harapan. Namun, April justru menggeleng. “Kenapa, Sin? Kenapa Agatha menangis seperti ini?” tanya April yang tidak pernah rela melihat Agatha yang sudah seperti putri kesayangannya sendiri menangis dan terisak seperti ini. “Kamu tanya kenapa, Pril? Kenapa kamu tidak tanya saja sama putramu. Kenapa dia terus membuat putriku menangis seperti ini?” Sinta yang masih emosi, dia yang masih kesal akan keangkuhan yang selalu Yongki tunjukan pada Agatha tidak sadar kalau tadi volume suaranya meninggi beberapa oktaf. “Yongki yang buat kamu nangis seperti ini, Ta?” tanya April kembali mendekat berniat untuk menggapai pundak Agatha. Namun, untuk kedua kalinya gerak April dicegah Sinta. Tanpa sadar Sinta justru menepis kasar tangan April, bahkan April hampir terjatuh seandainya dia tidak bisa menyeimbangkan badannya. “Kamu marah Sin?” tanya April yang mulai tersulut emosinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN