April dan Sinta saling adu pandang tanpa ada yang bersuara. Cukup tatapan tajam keduanya disertai deru napas dan kembang kempis d**a mereka yang menggambarkan baik Sinta maupun April sama-sama sedang berusaha menekan emosi. Agatha sendiri masih terisak dan sesenggukan karena tangisnya.
April tidak habis pikir kenapa Sinta jadi selebay itu padahal sudah sejak dulu Yongki seperti itu dan dia sendiri tidak kurang-kurangnya selalu menasihati Yongki. Sementara Sinta yang masih emosi pun tidak mau melunak, pikirnya kenapa pula April sok polos dan pura-pura tidak tahu kalau penyebab tangis Agatha selalu saja Yongki.
“Kalian kenapa sih? Masa anak sudah sama-sama dewasa masih bersitegang seperti ini. Bawa April, Di,” suruh Mega menuntun April mendekati Diana.
“Bukan aku yang mulai, si Nyonya saja yang lebay. Masa Yongki yang salah aku kena dampaknya juga,” sungut April menahan emosi. Namun, Sinta yang emosinya sedang tersulut malah tidak terima dengan perkataan April.
“Kamu bilang aku lebay, Pril! Kamu ngaca dong, kita sama-sama ibu. Ibu mana yang tega melihat putrinya menangis seperti ini.” Sinta berteriak menantang April, beberapa pengunjung yang melihat mereka mulai dilanda penasaran dan tersita perhatiannya.
“Sudah, Nya. Sudah, Bet. Malu ah,” ujar Diana berusaha menenangkan.
Diana menuntun April menjauh, tidak lupa tangannya cepat membungkam mulut April saat April bersiap membalas ujaran marah Sinta tadi.
“Bet, sudah sih. Nyonya lagi marah, jangan diladeni dulu,” bisiknya sembari terus menuntun April menjauh dari Sinta yang kini bersama Mega dan Lelis juga ada di sana memeluk Agatha yang masih menangis.
Tidak ada yang tahu kalau dari tempatnya berdiri Yongki menatap bingung keributan yang sekilas terjadi dan menyeret namanya. Badan Agatha bergetar, Yongki bisa menebak kalau cewek manja nan cengeng itu sedang menangis meskipun dia tidak tahu alasan tangisnya apa. Hanya saja Sinta yang tadi menyeret Agatha menjauh dari hadapan Yongki sedikit punya bayangan kalau mungkin tangis Agatha bisa jadi karena terkena omelan Sinta. Tanpa dia tahu kalau omelan panjang yang Sinta layangkan tentu saja karena tidak suka putrinya terus mengemis perhatian Yongki.
Pelan, tapi pasti Yongki mendekat. Tentu bukan ingin memperkeruh keadaan. Dia sebatas ingin menenangkan gejolak emosi yang menurut Yongki itu tertuju pada April sang Mommy.
“Mom.” Suara pelan Yongki cukup jelas terdengar hingga keempat wanita yang ada di sana serempak menoleh padanya.
“Apa?” tanya Sinta berusaha tidak terus mengikuti amarahnya.
Ditanya seperti itu Yongki bingung. Jelas dia bukan Yoga atau Andra yang suka berbasa-basi. Yongki adalah Yongki yang tidak pandai merangkai kata menjadi kalimat yang mungkin bisa menenangkan kaum hawa.
“Tidak ada apa-apa kok Sayang, kamu bisa tinggalkan kami dulu ya. Semua baik-baik saja,” sela Lelis dengan mengedipkan mata meminta pengertian Yongki agar kembali meninggalkan mereka berempat.
“Oke,” pasrah Yongki berjalan menjauhi tempat mereka.
“Aku tidak habis pikir ya, Lis. Cowok macam dia apanya sih yang istimewa sampai bikin Agatha itu kayak cinta mati sama Yongki. Seolah tanpa cinta Yongki dia susah bernapas, susah menjalani hari-harinya.”
“Sinta.” Pelan panggilan Mega disertai senyum yang berusaha meredam amarah sahabatnya.
“Kita semua pernah muda, kamu juga tahu seperti apa aku sama mas Haris dulu. Berasa cinta mati, diselingkuhi, diduakan, ditigakan aku terima saja. terus aku mengejarnya dengan berbagai cara, ribuan doa, jutaan salawat, semua harap aku langitkan dan semuanya sama. Aku berharap mas Harislah jodohku.”
“Ini kasusnya beda, Ga. Haris setidaknya ada respect sama kamu. Dia ada perhatian, tidak kaku dan sok kegantengan macam Yongki. Pokoknya, Ta, kamu harus dengar. Mulai sekarang dan selanjutnya, tolong lupakan Yongki.
Cukup sampai di sini saja. Cukup ini terakhir kalinya kita berdebat hanya karena masalah Yongki. Mommy harap kamu mengerti kalau ini semua demi kebaikan kamu. Lupakan Yongki,” tegas Sinta mengakhiri kalimatnya dan melangkah cepat meninggalkan Agatha yang dibiarkan bersama Mega.
Senja di the Castello yang diharapkan bisa jadi momen indah kebersamaan mereka nyatanya gagal karena pertikaian hanya karena masalah yang sebenarnya tidak terlalu penting. April terus mengomel dan Diana setia mendengar semua luapan kekecewaan April akan sikap Sinta.
Sama halnya dengan Lelis yang kini mewadahi ocehan Sinta yang terus menyayangkan sikap Yongki dan kekukuhan Agatha yang masih saja menerima diacuhkan Yongki. Masih di tempat semula, Mega malah duduk di bangku yang berseberangan dengan Agatha. Mega biarkan air mata Agatha terus menetes tanpa meminta dia menghentikan tangisnya.
Menangis memang dibutuhkan apalagi oleh seseorang yang dekat dengan tangis seperti Agatha. Bahagia, dia menangis karena haru. Apalagi saat merasa tertekan seperti ini, mungkin tangis bisa memperbaiki sedikit perasaan Agatha hingga Mega memilih membiarkannya.
Cukup lama Mega duduk menunggui Agatha hingga tangisnya reda. Saat itu dia mendekat dan mengulurkan air mineral dalam botol.
“Thank you, Bun.”
“No problem sayang. Sudah puas nangisnya?”
Agatha mengangguk dalam diam.
“Kita lanjut maju ke depan atau mundur balik untuk pulang?”
Ah, kenapa pertanyaan itu malah menyentil kembali perasaan Agatha. Dia merasa tersindir lontaran pertanyaan Mega, baginya pertanyaan itu terdengar seperti memberi pilihan pada Agatha untuk tetap maju berusaha memenangkan hati Yongki atau menyerah dan membiarkan angannya menguap dan hilang seiring putaran waktu yang terus berjalan.
“Aku baru ke sini, Bun,” aku Agatha karena meski sudah hampir satu tahun tempat ini dibuka, ini memang kunjungan pertamanya di florawisata yang sempat viral dan foto-fotonya amat sering berseliweran di lini masa media sosial miliknya.
“Oke, kita lanjut. Semua akan baik-baik saja, percayalah.” Mega mengulurkan tangannya. Dengan mantap Agatha membalas uluran tangan Mega, mereka berjalan bergandeng tangan menikmati indahnya sunset di Castello. Bangunan megah nan cantik perpaduan antara arsitektur Turki dan Kramlin, Rusia.
“Bunda, Kak Agatha. Sini foto,” teriak Maura melambaikan tangan.
“Aku pikir mereka sudah jauh, ternyata masih di sana saja,” gumam Mega seraya menarik Agatha setengah berlari menuruni anak tangga untuk bergabung dengan rombongan lainnya.
Sinta dan April juga ada di sana meski keduanya memilih berjarak, satu berdiri di ujung kanan dan satu lagi berdiri di ujung kiri. Perdebatan semacam ini bukan hanya satu dua kali terjadi. Bukan terjadi antara April dan Sinta saja. Lima kepala, dengan keegoisan masing-masing serta perasaan berbeda yang sedang menyapa membuat kelimanya terkadang mudah tersulut emosi dan terpancing untuk marah dan berdebat.
Hanya semuanya tidak akan berlangsung lama, tidak terus disimpan di hati menjadikan benci yang merongrong dan merusak persahabatan mereka. Anggap saja pertikaian dan perdebatan macam tadi bumbu penyedap yang akan selalu merekatkan persahabatan mereka.
Jam lima sore terdengar pengumuman agar pengunjung segera menuju pintu keluar. Kawasan wisata ini memang dijadwalkan tutup jam lima sore meskipun pada kenyataannya jam tutup yang sebenar-benarnya tutup tentu saat semua pengunjung sudah keluar dan pulang.
Famgat hari pertama ditutup dengan salat berjamaah di masjid yang berada di pintu keluar, Florawisata yang mereka kunjungi. Mereka pulang untuk istirahat sejenak di Villa hingga isya dan akan menikmati api unggun dibarengi dengan acara barbeque yang sudah menjadi agenda wajib setiap mengadakan family gathering.
Sudah tidak lagi terlihat ketegangan antara Sinta dan April. Duka di wajah Agatha juga sudah membias hilang entah ke mana karena berganti tawa dan senyum yang terus menghiasi wajahnya selama acara barbeque berlangsung.
“Ta, Sa, Lin, sini gabung,” teriak Eza memanggil ketiga cewek yang sedang asyik cekikikan bertiga.
Di sana sudah duduk, Eza, Yongki, Andra, dan Yoga. Kini bertambah tiga gadis hingga mereka bertujuh sudah duduk melingkar dan di tengah mereka juga ada beberapa camilan dan aneka minuman
“Nah, berhubung ini famgat terakhir abang dengan status bujang.”
“Ciye, bujang, menegaskan sekali kalau mau nikah ya, Bang,” seru Andra sengaja meledek Eza.
“Bukan begitu, Ndra. Setidaknya tahun depan abang itu gabung bawa kakak baru buat kalian. Pasti ada yang beda dong.”
“Siplah, Bang. Lanjutkan.”
Eza memamerkan ibu jari kanannya menanggapi omongan Andra.
“Nah, jadi malam ini Abang mau ajak kalian main truth or dare. Mau terima tantangan atau mau jawab jujur pertanyaan yang dilontarkan salah satu dari kita. Mau ikut?”
“Yee, ikut,” seru riang Sherlin dan Salsa terdengar.
“Tapi tantangannya yang logis ya, dilarang mempermalukan keluarga di sini, oke,” pesan Yongki yang lebih ditujukan pada Yoga dan Andra, manusia paling jahil yang ikut bergabung dengan mereka.
“Siap, Mas,” seru yang lain menjawabnya.
“Ini botol akan aku putar pertama ya, kalau ujungnya berhenti di Salsa, nanti Salsa yang harus pilih truth atau dare, paham tidak?”
“Paham Abang,” koor semuanya kompak menjawab pertanyaan Eza.
“Ingat, ini hanya buat hiburan. Tidak pakai niat menjahili, merundung, apalagi kalau nanti ada acara ngambek segala,” sambung Eza memberi perhatian akan aturan khusus pada permainan yang akan mereka lakukan bersama.
“Oke, Bang. Cepat mulai, aku tidak sabar itu botol berhenti sama Mas Yoga atau bang Andra,” seru Sherlin diakhiri dengan kekehan tawa yang membuat Yoga dan Andra serempak menyorot Sherlin dengan tatapan jahil mereka.
Eza memutar botol cukup kencang, perlahan putaran mulai pelan, mereka mulai menebak-nebak botol akan berhenti di mana.
“Mas Yongki,” seru heboh Yoga dan Salsa bersorak menunjuk Yongki yang langsung menepuk keningnya.
“Dua puluh lima tahun masih main begini kayak bocah,” keluh Yongki melirik tajam pada Eza seolah meminta pertanggung jawaban karena sudah memaksa Yongki ikut serta permainan konyol ini.
“Ayo, Mas, pilih truth atau dare.” Salsa yang mengajukan pertanyaan pada Yongki.
“Dare,” putus Yongki. Dia tidak mau memilih truth kalau nantinya kesempatan itu disalah gunakan para adiknya yang mungkin malah akan mengajukan pertanyaan konyol.
“Oke, Bang, suruh cium Agatha dong,” teriak Yoga yang langsung dihadiahi sorot tajam dari keenam pasang mata yang ada di sana.
“Ampun, bercanda kali.” Nyali yoga menciut, sepertinya hanya dia yang isi kepalanya ingin menjahili Yongki dan Agatha.
“Karena aku yang tadi putar botol, aku yang kasih tantangan ya Ki. Ayo dong, nyanyi lagi dangdut beberapa bait saja. secara suara bagus kamu biasanya hanya nyanyi lagu pop doang.”
“Setuju,” sorak kompak Andra, Salsa dan Sherlin terdengar.
“Sumpah, kagak lucu, Bro.”
“Terserah, harus konsekuen dong,” ujar Eza sok tidak simpatik pada Yongki
Yongki berdehem beberapa kali sebelum suaranya terdengar merdu, tapi aneh saat menyanyikan lagu begadang dari haji Rhoma irama tanpa ada cengkok dangdut sama sekali. Namun, tetap saja tepuk tangan terdengar di akhir lagu yang hanya dinyanyikan tiga bait saja.
“Aneh, pales, Mas,” seru Yoga mencibir sang kakak saat yang lainnya hanya bisa menahan senyum menghargai usaha Yongki.
“Lanjut, ah. aku yang putar.” Segera Yongki mengambil cepat botol untuk diputar. Targetnya adalah Eza agar bisa kena tantangan atau harus mengakui kejujuran yang selama ini disimpan.
Seperti yang pertama putaran botol hanya kencang di awal saja karena semakin lama semakin pelan dan berhenti tepat di depan Sherlin.
“Ya, Mas Yongki kagak seru. Masa aku yang kena,” protes Sherlin meskipun tetap saja dia harus siap dengan tantangan atau pertanyaan yang ditujukan padanya.
“Apa Lin?” Yongki bertanya dengan satu sudut alis terangkat.
“Truth saja ah, nanti aku diminta goyang lagi sama mas Yongki,” tuduh Sherlin mengundang tawa terdengar dari yang lain menanggapi ucapannya.
“Asyik, kesempatan dong. Sherlin kan katanya mau jadi istri Bang Eza, patah hati tidak sih dengar kabar Bang Eza mau nikah?”
“Wah, gila, Bro. Kamu pertanyaannya mengundang ini,” protes Eza, sedangkan Sherlin terlihat senyum malu-malu. Wajahnya pun mulai menghangat teringat masa kanak-kanak mereka.
Agatha yang selalu mengklaim Yongki adalah pangerannya, senada dengan Sherlin yang juga sering mengakui sepihak kalau Eza adalah calon suaminya. Meskipun seiring waktu beranjak dan kedewasaan menempa Sherlin.
Tidak ada jejak-jejak rasa yang tertinggal, semuanya murni, hanya sebuah guyonan anak-anak. Hanya sebatas cinta monyet yang hilang kala usianya bertambah. Sangat berbeda dengan Agatha.
“Aku cinta sama Bang Eza dulu, Mas. Pan cinta monyet, aku cintanya mas Eza ....”
“Monyetnya,” seru kelima orang lainnya menunjuk Eza bersamaan. Tawa lepas kembali terdengar.
Permainan terus berlanjut, hampir semua sudah kena giliran, bahkan sudah dua kali botol berhenti di depan Yongki dan dia terpaksa menjalani tantangan kedua dengan menirukan suara monyet seperti yang diminta Salsa.
Kini giliran Yongki lagi yang memutar botol, naas untuk Agatha yang sejak tadi selalu selamat. Putaran Yongki kali ini tepat berhenti di depan Agatha. Ah, tentu ini jadi hal yang menarik melihat keduanya yang selalu tampak berjarak meskipun semua tahu perasaan Agatha untuk Yongki masih sama seperti dulu, menganggap Yongki pangeran berkuda putih yang akan mempersuntingnya.
Yongki diam, begitu pun Agatha yang kini tampak kikuk hingga Eza mengambil alih tugas bertanya yang harusnya dilakukan Yongki sebagai pemutar botol.
“Jadi apa nih, Ta. Truth atau dare?”
Semuanya tegang melihat ke arah Agatha dan Yongki secara bergantian. Truth atau dare yang dipilih Agatha jelas tetap Yongki yang akan memberikan pertanyaan dan tantangan. Bulan di langit pun tahu ketegangan seperti apa yang kini menyelimuti wajah mereka.
Apa pilihan Agatha?
Apa tantangan atau pertanyaan yang akan diberikan Yongki?
Itu pasti tampak menarik meski kini semua memilih diam menunggu jawaban Agatha.