You're Not My Puppy Love

2089 Kata
Eza berdehem saat Agatha tidak juga memilih antara truth dan dare, begitu juga Yongki yang diam saja menunggu Agatha bersuara. “Ta, jawab dong. kamu pilih truth atau dare?” Salsa berbisik sembari menyenggol lengan Agatha. Agatha mengangkat wajah, menatap Yongki yang ternyata sudah sejak tadi matanya terarah pada Agatha. “Truth,” jawab Agatha membalas tatapan Yongki dengan secarik senyum. Apa yang akan ditanyakan Yongki akan dia jawab sejujur-jujurnya. “Oke, silakan Ki. Kasih pertanyaan buat Agatha,” suruh Eza. Yongki membuang pandangannya yang sedari tadi beradu dengan mata Agatha. “Simple, Ta. Sore tadi, apa yang menyebabkan kamu menangis di Castello?” Yongki pikir jawaban dari pertanyaan itu tidak berkaitan dengan dirinya. Mengambil pertanyaan yang paling aman dan tidak menimbulkan ketegangan yang Yongki inginkan. “Lah, kamu ke sana cuma numpang nangis, Ta?” tanya Yoga membuat Andra segera menyikutnya. Sejahil apa pun Andra, dia tetap tidak suka kalau ada yang meledek atau merundung sang kakak. “Sorry, Dra. Hanya sebatas penasaran.” Semuanya diam, Agatha menarik napas dalam sebelum menjawab pertanyaan Yongki. Mungkin bagi yang lain ini pertanyaan sepele, tapi tidak bagi Agatha karena menurutnya ini kesempatan dia untuk mengungkapkan sesuatu sebelum mengakhiri rasa yang selalu membuatnya terpojokkan dan dianggap bersalah. “Mommy minta aku melupakan mas Yongki,” aku Agatha dengan suara berat. “Hanya saja melupakan perasaan yang tumbuh dan terus berkembang dari aku balita hingga dua puluh satu tahun usiaku, rasanya susah. Seandainya bisa, sudah sejak dulu aku melupakan mas Yongki. Sama halnya dengan Sherlin yang seiring berjalannya waktu, cinta yang dulu dia bilang untuk bang Eza pupus dan hilang. Aku tidak bisa, Mas. Tiga tahun aku sudah mencoba dan itu susah. Sia-sia aku menghindar tiga tahun dan tidak menampakkan diri di depan mas Yongki karena nyatanya apa yang aku rasa ini bukan hanya sekedar cinta monyet. Sayangnya cinta ini hanya sepihak aku rasakan sehingga mommy bilang aku ini pengemis cinta mas Yongki dan dia tidak suka aku terus merendahkan diri mengharap belas kasih mas Yongki untuk membalas cinta ini.” Tenggorokan Agatha mulai tercekat, kata yang akan dia keluarkan semakin membuat dadanya sesak. “Mungkin malam ini, aku hanya bisa minta maaf sama mas Yongki karena sekian tahun sudah seperti benalu yang selalu mengganggu hidup mas Yongki. Mommy dan Daddy sudah memilihkan pria yang katanya lebih baik dari mas Yongki untuk jadi calon suamiku. Baik, aku akan menerimanya sebagai wujud baktiku pada mereka. Hanya malam ini aku ingin mas Yongki tahu kalau melupakan mas Yongki itu sama seperti kehilangan separuh napasku. Hanya sayangnya separuh napas lain menginginkan aku bahagia dengan cara mereka. The last I say mas, Really I love you so much, You’re not my puppy love karena dari dulu hingga sekarang aku selalu berharap kalau mas Yongki adalah pangeran berkuda putih yang dikirim Tuhan sebagai penyempurna agamaku. Namun, kalau cintaku membebani mas Yongki. Aku siap pergi, aku minta maaf, itu alasan aku menangis sore tadi,” pungkas Agatha mengakhiri pengakuannya. Semuanya diam, Yongki pun hanya diam dengan gejolak rasa yang mulai tidak dia mengerti. “Agatha, Eza. Makan dulu, sudah siap ini,” teriak Mega memanggil mereka untuk menikmati hidangan barbeque yang Famgat kali ini disiapkan para mak-mak dan bapak-bapak. “Let’s Go. Permainan berakhir,” kekeh Agatha yang berdiri terlebih dulu. “Yuk, Lin, Sa, makan. Aku lapar.” Agatha mengelus perutnya, Baru tadi kalimatnya mendatangkan simpati dalam dan membuat semuanya terharu, tapi kini dia sudah kembali ceria dan berlari menuju tempat barbeque dengan tertawa riang. Agatha selalu bisa menutupi kesedihannya meskipun saat sendiri nanti air matanya akan berlinang lagi dan lagi. Kini hanya tinggal Yongki dan Eza yang tersisa. Yang lain sudah bergabung untuk makan malam di samping api unggun. Yongki tertunduk, ada yang menancap di dadanya, tapi dia tidak mengerti perasaan apa itu. Harusnya dia merasa lega saat Agatha bilang mulai malam ini dan seterusnya dia akan berhenti mengganggu hidup Yongki. Harusnya Yongki tidak perlu lagi dipusingkan dengan permintaan sang mama untuk menerima Agatha seandainya Bilal dan Agatha memang benar-benar akan dijodohkan. Hanya kenapa rasa lega tidak didapatnya. Yongki malah merasa dadanya sesak, bingung untuk menggambarkannya. Tidak, dia yakin tidak akan menyesal, dia harus berbahagia akan hal ini. “Ki, are you okay?” Tepukan Eza di punggungnya membuat Yongki langsung mengangguk meski rasanya sekarang dia harusnya mengakui tidak sedang baik-baik saja. Namun, untuk bilang not okay pun Yongki tidak ada alasan. “Mau gabung ke sana?” Pandangan Eza dilempar ke arah semua keluarga mereka yang sedang heboh mencicipi aneka menu barbeque yang sudah siap santap. “Kamu duluan saja, aku butuh waktu sendiri.” “Belum terlambat untuk mengakui sesuatu,” ujar Eza seolah bisa menebak apa yang hati Yongki rasakan padahal dia sendiri saja tidak bisa meraba rasa apa yang sebenarnya membuat dia tidak berminat melanjutkan agenda malam ini. “Apa yang harus aku akui?” Yongki balas menatap Eza yang kini sudah bergeser duduk di sampingnya. “Apa yang ada di dalam hati kamu. Aku pikir Agatha cukup istimewa, apa kamu tidak ingin mempertimbangkannya?” “Tidak. Aku masih sama, aku tidak tertarik pada Agatha,” elak Yongki cepat. Eza menghempaskan napas kasar di tengah cuaca yang sudah terasa lebih dingin. “Jangan egois, gengsi itu hanya akan membuatmu menyesal.” “Aku tidak akan menyesal, aku juga bukan sedang menjaga gengsi karena nyatanya tidak ada perasaan apa pun untuk Agatha,” tegas Yongki meyakinkan. Padahal dirinya sendiri tidak yakin dengan apa yang dia rasa. “Baiklah, terserah kamu. Aku tidak bisa mempengaruhi pilihan kamu.” “Lebih baik seperti itu,” balas Yongki. Terlebih dulu dia beranjak dari tempatnya duduk untuk bergabung dengan yang lainnya. Tidak lama Eza menyusul. Usai barbeque semuanya masuk ke dalam kamar untuk beristirahat. Kamar para orang tua terpisah sementara kamar anak-anak hanya di bagi dua dengan bed seat tambahan. Laki-laki berada di satu kamar dan perempuan pun berada di satu kamar lainnya. “Kangen rasanya sama hape,” ujar Sherlin yang mulai mengotak-atik ponsel saat melihat Ghita dan Maura sudah tidur. “Aku juga lupa kapan terakhir pegang hape ini.” Agatha ikut mengeluarkan ponsel dari dalam tas slempangnya. “Wiw, banyak banget pesan,” ujarnya mendapati banyak notifikasi panggilan tidak terjawab dan pesan. Beberapa malah dari nomor baru yang belum dia simpan. ‘Hai, Ta. Ini Bilal, besok Minggu boleh aku berkunjung?’ Kedua alis Agatha beradu dengan mata yang memicing. Dari mana Bilal dapat nomornya? Pesannya masuk sejak siang dan Agatha baru membukanya. Di bawah pesan ada notifikasi lima panggilan tidak terjawab dari nomor Bilal. ‘Ta, aku tidak diizinkan main ya?’ Pesan kedua baru masuk jam sembilan tadi, saat Agatha sedang asyik bercengkerama dengan yang lainnya. Dia melewatkan pesan Bilal, hanya sekedar dibaca dan belum ada keinginan untuk membalasnya. Dia malah bertukar pesan dengan Angie dan Wini di grup chat yang hanya berisi tiga orang saja, tapi keseruannya bisa mengalihkan dunia Agatha. Ponsel yang Agatha pegang bergetar saat dia sedang asyik berbalas gurauan dengan Angie dan Wini. Nomor tanpa nama, mungkin nomor Bilal yang tadi memang belum sempat disimpan Agatha. “Angkat, tidak, angkat, tidak, angkat.” “Lagi apa sih Ta?” tanya Salsa yang kini duduk memperhatikan Agatha yang sedang memegangi ponsel sambil berkata angkat tidak padahal deringnya yang tidak seberapa keras tetap bisa terdengar di kamar yang hanya tinggal mereka berdua saja yang masih terjaga. “Eh, kamu belum tidur? Maaf ya,” ujar Agatha segera menggerakkan telunjuknya ke atas layar ponsel untuk mengangkat panggilan Bilal dan keluar dari kamar karena takut suaranya mengganggu Ghita, Sherlin dan Maura yang sudah tidur. “Halo, Ta. Aku mengganggu ya telepon malam-malam.” Agatha melirik jam dinding, jam sebelas malam. Sudah sepi dan sepertinya hanya dia yang masih berada di luar. “Ta, sudah tidur ya.” Suara Bilal terdengar lagi saat Agatha tidak juga menjawab tanyanya. “Tidak kok Bang. Malam ini memang belum mengantuk,” aku Agatha. Dia malah keluar ke teras samping kamarnya dan duduk di kursi yang ada di sana. Malam ini sepertinya suasana hati Agatha tidak baik-baik saja. Mungkin tidak ada salahnya kalau dia berbincang santai dengan Bilal. Bukankah tadi dia sudah membuat keputusan akan menerima perjodohan yang diajukan Sinta. Malah Agatha mengatakannya tepat di depan Yongki. ‘Cukup ya, Ta. Esok pagi mulailah untuk berjuang mengusir mas Yongki dalam hatimu,’ tekadnya tidak terucap. Namun, dicetak jelas dalam otaknya. “Jadi besok aku boleh main, Ta?” tanya Bilal mengulang pertanyaan yang dia kirim lewat pesan dan belum dijawab Agatha. “Aku tidak di rumah, Bang. Ada acara Famgat sama sahabat mommy. Kalau abang mau main ke rumah ketemu Bi Iti atau Mbok Jum sih tidak masalah mereka ada di rumah. Hanya kalau mau ketemu aku, lah, akunya tidak di rumah.” Sungguh Bilal tidak bisa menahan tawanya. Dia terkekeh pelan menanggapi celoteh Agatha. “Kok ketawa? Aku jawab benar loh Bang.” “Iya, iya, kamu jawab benar. Hanya lucu saja, masa iya aku ke sana buat ketemu asisten rumah tangga di rumahmu.” “Aish, habisnya kalau aku bilang tidak boleh nanti abang malah ngadu sama mommy. Terus aku disalahkan karena menolak bakal calon jodohku main. Ingat ya bang, posisinya masih bakal calon, belum resmi jadi calon karena aku butuh waktu buat mengenal Abang,” oceh Agatha. Di kamarnya Bilal hanya senyum-senyum saja. Tidak lupa dia juga membenarkan Yongki yang bilang kalau Agatha itu cerewet, ribut, suka ngomong, tapi itu tidak masalah buat Bilal karena dia menyukai Agatha yang ceplas-ceplos seperti sekarang. “Oke, bakal calon ya, Ta? Nanti bisa berubah jadi calon kan?” “Tergantung, kalau abang lolos seleksi ya bisa aku pertimbangkan. Hanya kalau tidak lolos, bagaimana lagi. Aku minta maaf.” “Tidak masalah, Ta. Lagian awal jumpa mana bisa kamu tertarik sama aku. Beda dengan aku yang langsung terpesona dengan perjumpaan awal kita.” “Beuh, gombal. Padahal aku tidak suka cowok gombal dan suka ngerayu macam abang.” “Kenapa?” tanya Bilal cepat. “Cowok kayak begitu kesannya player, suka rayu-rayu cewek beda sama ... eh, tidak jadi,” ralat Agatha cepat saat ingin membandingkan sikap Bilal dan Yongki. Mana bisa dia move on dan menghapus jejak Yongki dalam hati dan pikirannya kalau dia terus membandingkan pria lain dengan Yongki. Hanya saja entah kenapa Agatha malah suka cowok cuek seperti Yongki yang kesannya tidak akan mengumbar perasaan dengan mudah pada wanita lainnya. “Tidak jadi kenapa? Kamu sudah punya pacar,” tebak Bilal. “Aku belum pernah pacaran. Aku ini sudah dua puluh satu tahun dan masih betah menjomblo, mengenaskan sekali.” Agatha berpura terisak dan kembali hal itu mengundang tawa Bilal di seberang. Dari dalam Villa Yongki menyibak tirai jendela untuk tahu siapa yang masih terjaga hampir tengah malam seperti ini. “Bang sudah malam, lanjut nanti ya. Kalau mau main Senin saja, aku sudah sampai rumah. Terus aku minta maaf kalau belum bisa buka hati buat abang. Maklum, aku punya pangeran idaman, tapi sayang dia selalu menolakku sampai detik ini.” Tidak sengaja Yongki mendengarnya, hingga dia memilih bertahan di sana. “Siapa?” Jelas saja pengakuan Agatha tadi membuat Bilal tercengang. Bagaimana mungkin Agatha menerima perjodohan mereka kalau memang di hati dia ada pria idaman lain. “Tidak perlu tahu Bang, lagian aku sedang belajar move on. Tolong sabar hadapi aku kalau memang abang bersedia menerima aku sebagai bakal calon jodohnya abang. Hanya saja kalau abang keberatan, langsung bilang saja sama Mommy dan daddy untuk membatalkan rencana perjodohan kita.” Enteng sekali Agatha mengatakannya tanpa beban sementara Yongki yang tidak sengaja menguping, kini perasaannya semakin abu-abu. Begitu juga Bilal, jujur dia sedikit kecewa dengan apa yang dikatakan Agatha meskipun harus Bilal akui kalau sangat jarang ada cewek yang blak-blakan seperti dia. “Tidak masalah, aku sudah terlanjut terpesona sama kamu. Kalau kata orang love at first sight. So, aku siap buat bantu kamu move on biar cintamu beralih padaku.” “Oek, belum apa-apa aku muak, Bang. Tidak usah semanis itu. Aku bukan cewek yang doyan rayuan. Sudah ya Bang, dingin ini aku mau masuk kamar. Bye.” Tanpa menunggu balasan dari Bilal dia memutuskan panggilan suara sepihak. Segera Agatha masuk ke dalam villa dan Yongki terlambat menyadari pergerakan Agatha hingga kini mereka beradu tatap. Agatha berdiri di ambang pintu, sedang Yongki tepat berada di jendela sisi pintu. “Mas Yongki ngapain?” tanya Agatha melihat keberadaan Yongki di sana. “Anu, aku.” Yongki gelagapan, mana bisa dia bilang kalau tadi dia menguping pembicaraan Agatha. “Anu apa?” kedua netra Agatha meneliksik wajah Yongki, mencoba menebak apa yang sedang Yongki lakukan malam-malam seperti ini di balik jendela.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN