Aku mengunci pintu kamar ku, tangan kiri. karena tangan kananku membawa bekal berupa roti isi yang sudah ku persiapkan dan juga s**u kotak di dalamnya. Saat berbalik aku melihat perempuan berseragam sama denganku baru keluar dari kamarnya. Kamarnya tepat di depanku. Dia berbalik menatapku kaget, aku tersenyum, ia nampak membalas senyumku meski ragu.
"Hay, aku Sera anak baru disini," ucapku mencoba mengenalkan diri.
"Hay juga, gue Fiza kamar gue disini," balas perempuan itu. Aku mengangguk mengerti.
"Lo mau ke sekolah bareng gue aja sama yang lain juga," ucapnya kepada ku aku mengangguk tak berapa lama. Tetangga kamar keluar, ada sekitar 4 orang perempuan di depan ku termasuk Fiza tadi.
"Fiz, gue nanti nyontek PR Kimia,ya. Gue belum ngerjain, njir!" seru seorang perempuan di samping Fiza.
"Ck, kenapa lo gak ngerjain PR? takut ada Hantu Tiara ya!" sahut perempuan di sampingnya, aku mengerutkan kening ku bingung.
Hantu Tiara?, apakah Tiara menjadi hantu seperti dalam mimpi ku. Batin ku bingung.
"Eh udah deh kalian pagi-pagi ngomongin Hantu. Hantu itu gak ada," ucap Fiza melerai keduanya.
"Btw guys. Kenalin ini Sera teman baru kita," ucap Fiza tersenyum aku mendongakkan kepala ku lalu tersenyum.
"Hay Sera gue Diona, dan ini kembaran gue Viona," ucap perempuan di samping Fiza ternyata keduanya kembar, aku membalas uluran tangan mereka.
"Sera," ucapku singkat.
"Oh iya Ra, ini Aurel. Loh Aurel kok lo jalan dulu sih...." teriak Viona kepada perempuan yang hanya ku lihat dari belakang. Perempuan itu nampak acuh dan terus berjalan. Aku masih diam di tempat.
"Aduh sorry ya Ra, Aurel orangnya gak gitu kok. Mungkin karena di baru aja di tinggal sama Tiara sahabatnya jadi gitu deh," ucap Viona membuat Fiza mencubit lengan Viona.
"Aww, gila lo Za. Main cubit-cubit aja!" seru Viona mengusap lengannya yang di cubit Fiza. Aku diam, masih menelisik semuanya. Perempuan bernama Aurel tadi sahabat baik dari Tiara. Apa dia tau penyebab kematian Tiara? Aku harus mendekati Aurel.
"Oh iya kalian dari tadi nyebut-nyebut nama Tiara? Tiara itu siapa?" tanyaku pura-pura tidak tau. Ketiganya nampak tegang, aku mengkerut kan keningku bingung.
"Oh....... Bukan siapa siapa kok. Ayo kita berangkat sebelum bel masuk berbunyi," ucap Fiza gugup lalu mengandeng lengan ku untuk ikut bersama mereka menuju sekolah.
***
Sampai di sekolah bel masuk sudah berbunyi. Aku masuk kedalam kelas 12 IPA 2 ternyata ini adalah kelas Tiara dulu. aku masuk dengan wali kelas ku Pak Dodi, kami masuk kedalam kelas. Suasana kelas yang begitu ramai pun seketika hening.
"Baik anak-anak kita kedatangan murid baru. Ayo nak perkenalkan namamu," ucap Pak Dodi. Aku tersenyum,
"Perkenalkan nama ku Serania Agesha. Kalian boleh memanggil ku Sera. Aku pindahan dari Inggris," ucapku memperkenal kan diri.
"Baiklah Sera kamu duduk dengan Aurel. Aurel angkat tangan mu...." ucap pak Dodi, Aku melihat Aurel mengangkat tangannya.
Aku berjalan menuju Aurel setelah itu duduk di kursi sebelah Aurel. Aurel masih diam perempuan itu sibuk mengeluarkan bukunya. "Hay Aurel, aku Sera," ucapku mengulurkan tanganku kepada Aurel. Namun Aurel hanya menatapku sekilas,
"Udah tau nama gue 'kan?" ucap Aurel santai tanpa membalas uluran tangan ku. Aku menarik tanganku kikuk, lalu mengeluarkan buku paket yang sudah ku dapatkan.
Jam pelajaran di mulai semua murid nampak memperhatikan guru yang sedang menjelaskan. Aku pun sama memperhatikan guru yang menjelaskan materi. Saat sedang memperhatikan guru, aku merasakan bulu kuduk ku merinding diterpa angin, ku usap sedikit lalu tak ku hiraukan lagi.
Setelah 4 jam belajar, bel istirahat pun berbunyi nyaring. Aku melihat Aurel buru-buru memasukan bukunya kedalam tas miliknya. Aku harus berbicara kepada Aurel. Tidak lama Aurel pergi meninggal kan Kelas. Aku pun dengan buru-buru mengejarnya. Saat di ujung koridor, aku di tabrak seseorang laki-laki. Laki-laki itu hanya menatap ku sekilas lalu berjalan tanpa minta maaf.
Aku masih duduk di lantai menikmati rasa sakit di bagian pantatku. Rasanya enggan mau bangkit, hingga aku melihat seseorang mengulurkan tangannya di depan ku. Ku sambut uluran tangannya tanpa menatap dia yang sudah membantu ku.
"Aurel," ucapku karena yang menolongku adalah Aurel.
Aurel menatap mata ku," Sera Agesha, lahir di Bandung 24 April 2001. Kembaran Tiara Asyla, warna kesukaan hitam dan biru, makanan kesukaan kentang goreng, ayam madu panggang, sekolah di sini hanya untuk mencari tahu kematian saudara kembarnya Tiara Asyla."
Aku terdiam melongo, bagaimana mungkin Aurel bisa mengetahui semua tentang diriku?
"Karena gue indigo, jadi gue tau semua tentang lo," ucap Aurel seakan bisa membaca pikiranku.
"Kamu juga bisa baca pikiran ku?" tanyaku Aurel tak menjawab perempuan itu menarik tanganku, ia membawa ku pergi dari koridor sekolah.
***
Aku dan Aurel duduk di kursi taman, Aurel masih diam. Aku pun tidak tahu mengapa ia membawa ku ke sini.
"Aurel kamu bisa jelasin semuanya?" ucapku membuka suara. Aurel melirik ku sekilas.
"Sore itu, gue sama Tiara baru aja pulang dari cafe depan...."
Flash back on
Author pov.
Terlihat dua gadis berjalan menuju cafe di sebrang jalan. Keduanya sampai di cafe, memesan makana lalu lanjut bercerita.
"Rel lo masih ingat? sama orang yang ngirim pesan sama gue waktu itu?" ucap seorang perempuan bersurai hitam, nan lembut itu.
Gadis di depannya sedikit mengerutkan keningnya.
"Yang waktu itu buat lo sama Haris berantem?" ucap gadis tersebut.
"Iya. Masa dia bilang gue harus jauhin Haris sih. Dan dia juga bakal bocorin semuanya ke satu sekolah kalau nanti malam gue nggak datang," ujar perempuan bernama Tiara.
"Ra, lo nggak usah nekat deh! Lo tau sendiri kan kalau nanti malam itu malam jum'at kliwon. Dan lo tau peraturan asrama bagaimana," ujar Aurel mengingatkan.
"Iya sih, tapi Rel gue nggak mau kalau satu sekolah pada tahu gue sama Haris ada hubungan. Terlebih Deby dan teman temannya. Biasa-bisa habis di bully gue," ucap Tiara.
"Ra gue mohon sama lo jangan keluar nanti malam. Kalau masalah ngebully Haris nggak bakal tinggal diam liat lo di bully. Lo jangan khawatir," ujar Aurel kekeh dengan pendapatnya
"Lo kan tau Rel, gue nggak mau ngerepotin Haris. Gue malu," ujar Tiara
"Ra gue minta sama lo! Sekali kali lo pending dulu sifat keras kepala lo. Ini demi keselamatan lo Ra," ujar Aurel kembali membujuk Tiara.
"Oke. Gue nggak akan pergi nanti malam," Ujar Tiara membuat Aurel lega.
Flash back of.
Sera Pov.
"Gue nggak tau, kenapa malam itu Tiara ingkar janji sama gue. Dia janji buat nggak pergi, tapi nyatanya. Jum'at pagi mayat Tiara di temukan di lorong asrama Lantai 3," ujar Aurel mengakhiri ceritanya.
"Apa mungkin yang membunuh Tiara itu wanita yang mau di temuin sama Tiara?" ucapku kepada Aurel.
"Gue juga nggak tau, gue udah coba buat nerawang dengan memegang gelang ini. Tapi semua yang gue lihat cuma gelap," ujar Aurel menunjukan gelang tangan Tiara. Tiara pernah menunjukan gelang itu kepadaku. Tiara bilang gelang itu pemberian dari pacarnya.
"Terus pacarnya Tiara tau nggak soal pesan ancaman itu?" tanya ku Aurel diam.
"Haris nggak tau, bahkan semenjak Tiara meninggal Haris jadi orang pendiam," ujar Aurel.
Kami saling diam, menyelam dalam alam pikiran. Aku berpikir, apa mungkin wanita itu yang telah membunuh Tiara? kalau ada pesan teror yang di ceritakan oleh Aurel, berarti pesan itu masih ada di ponsel Tiara.
Yah ponsel Tiara!
"Apa kamu sepemikiran sama aku?" tanyaku kepada Aurel. Aurel mengangguk dan tersenyum.
***
Aku menyusuri koridor sekolah. Tadi ada sebuah pesan masuk dari ponselku dan itu pesan dari Langit orang suruhan Papa untuk mendampingiku, atau lebih tepatnya orang yang akan menjagaku selama misi ini berjalan. Dan bodohnya, aku sama sekali belum bertemu dengan Langit. Lalu bagaimana aku menemuinya?
Aku masih berjalan hingga tanpa sengaja aku menabrak d**a bidang seseorang. Pandangan mata kami bertemu, wajahnya sangat manis, dengan iriz mata berwarna coklat, alis tebal, hidung mancung, dan bibirnya yang tipis berwarna pink alami. Aku aku segera bangkit, dan menatapnya sekali lagi.
"Non Sera ini saya Langit," ujar lelaki tersebut dengan suara sangat pelan.
Oh jadi ini yang namanya Langit.
"Non, ini barang yang Non, butuhkan," ucap Langit memberikan sebuah paper bag berisi ponsel Tiara. Tadi aku menelpon Papa dan meminta ponsel Tiara.
"Non...," panggilnya melambaikan tangan di depan ku. Aku tersadar dari lamunan ku. Tangan ku terulur untuk mengambil paper bag itu.
"Jangan panggil aku, Non. Panggil aja Sera, dan jangan pakai bahasa formal," ucapku.
"Tapi Non, sendiri pakai bahasa formal," balasnya. Aku menatapnya lagi.
"Ini beda," ucapku.
"Tapi Non..."
"Kita sedang menyamar jadi biarkan semuanya terlihat natural," ujar ku memotong ucapannya. "Oh iya, terimakasih ya, " sambung ku.
Langit menganggu, lelaki manis itu tersenyum.
"Sera mau gue antar ke kelas, gak?"ucap Langit terlihat sangat kaku. Membuatku tertawa, terpingkal-pingkal.
"Kok ketawa?" ujarnya bingung.
"Kamu lucu," cetus ku tanpa sadari Langit memandang wajahku begitu lekat.
"Ya sudah aku kelas dulu ya. Bay, Langit. Jangan sampai ada orang yang mengetahui penyamaran kita," ucapku.
Langit tersadar dari lamunannya. Lalu ia mengangguk, mengiyakan ucapan ku. Aku pun pergi meninggalkan Langit yang masih berdiri di koridor ini.