BERDISKUSI

1339 Kata
Aku menyimpan, paper bag yang di berikan oleh Langit kedalam tas ku. Lalu aku melihat Fiza dan Viona serta Diona berjalan menghampiriku. "Sera kita mau ke kantin, ikut yuk," ajak Vio. Aku pun mengiyakan perkataan Viona, kita berempat berjalan menuju kantin. Sampai di kantin. "Kalian mau pesan apa?" tanya Diona. "Gue mau bakso setannya satu, jus jeruk tanpa gula 1," ujar Fiza, memberikan uang kepada Diona. "Lo apa V?" tanya Diona kepada adik kembarnya. "Gue sama kayak Fiza. Cuma jus jeruk pake gula ya," ucap Vio. "Eh Di, satu lagi, pake duit lo dulu, ya," ucap Vio dengan senyuman manisnya. "Idih, bayar sendiri kenapa!" ucap Diona sewot. "Ah elah, nanti deh, Mama transfer gue ganti!" balas Vio. "Lo mau apa Ra?" tanya Diona kepada ku. Setelah ia belum debat dengan kembarannya. "Aku mau jus Alpukat aja," ucapku, memberikan uang kepada Diona. "Lo gak makan?" tanya Diona. Aku menggelengkan kepalaku. Diona itu mengangguk. Lalu ia pergi dari hadapan kami. Memesan makanan. "Duh.... Haris tuh ganteng banget ya," cetus Vio setelah Diona pergi. Aku mengerutkan keningku bingung. Haris sepertinya nama itu tak asing di telinga ku. "Iya. Udah ganteng jomblo lagi," sambung Fiza. Aku menatap Fiza dan Vio kompak menopang dagunya, seraya menatap ke lelaki bernama haris itu. "Eh tapi gue denger-denger dulu Haris itu pacaran deh sama Tiara, " ucap Fiza. aku diam, masih menyimak obrolan mereka. "Ihh serius Za, kalau gitu gak jadi suka deh gue. Takut nanti kalau gue deketin Haris, gue di samperin Tiara lagi," ucap Vio bergedik ngeri. Sepertinya memang benar dugaan ku, bahwa hantu Tiara 'gentayangan' di sini. "Cemen lo gitu aja takut. Hantu itu gak ada, percaya takhayul aja lo," ucap Fiza kepada Vio. Vio hanya memutar bola matanya kesal. Tak lama kemudian Diona datang membawa pesanan kami. "Kalian lagi ngomongin siapa sih, kok aku gak di ajak ngobrol," ucapku pura-pura merajuk. "Hehehe sorry Ra, kita itu lagi ngomongin Haris," ucap Vio dengan kekehan kecil. "Haris?" Aku mengerutkan keningku. "Iya cowok yang duduk di pojok kantin itu," ucap Vio kembali sembari menunjuk Haris dengan dagunya. "Kalian ngomongin Haris kok gak ajak-ajak sih," ucap Diona kesal. Aku mengangguk pertanda paham dengan apa yang Vio ucapkan. "Terus Tiara siapa sih? Dari tadi kalian nyebut namanya terus," tanyaku lagi. Viona sedikit menundukkan wajahnya, perempuan itu memegang bahuku untuk ikut menunduk bersamanya. "Jadi kemarin hari jum'at, Tiara di temukan tewas di lorong asrama di lantai 3. Dan kabarnya, Tiara itu pacar dari Haris, cowok terganteng di sekolah ini," ucap Vio. Dengan suaranya lirih, takut di dengar oleh murid lain, mungkin. "Tiara meninggal karena apa?" bisik ku. "Katanya dia, itu melanggar peraturan sekolah ini. Dan yang lagi heboh itu, hantu Tiara gentayangan ada beberapa murid yang melihat hantu Tiara, "  jelas Vio. Aku mengangguk paham. Lalu tatapan mataku tertuju pada cowok bernama Haris itu. Sepertinya cowok itu yang tadi menabrak ku di ujung koridor. Aku masih mengamati Haris. Seketika aku diam, ketika Haris balas menatapku. Aku jadi salah tingkah, lalu aku mengalihkan  pandanganku ke arah  lain. "Lo kenapa sih Ra?" tanya Diona menyadari raut wajah ku. "Eum, gak pa-pa," ucapku. Tak berapa lama Bel masuk pun berbunyi membuat Aku dan yang lainnya berjalan menuju kelas.  Jam pelajaran pun dimulai, aku masih berusaha untuk fokus pada pelajaran. Namun, aku merasakan merinding di bagian leher belakang ku. **** Aku berjalan di koridor sekolah. Hari sudah sore, koridor sekolah ini tampak sepi. Hanya beberapa murid yang sedang melaksanakan eskul. Tepat di ujung koridor, aku melihat Haris berjalan berlawanan denganku. Cowok itu menggunakan hoodie berwarna hitam dengan tangan yang di masukan kedalam saku celana. Dia terlihat begitu misterius. Aku menunduk, saat jaraknya hanya berkisar 3 meter dari ku. Aku berhenti, ketika dia mencekal pergelangan tangan ku. "Lepas!" ucapku, menghempaskan tangannya. "Lo Sera, kan? Kambarannya Tiara, " ucapnya. Aku terdiam kaget. "Kamu tau?" tanyaku bingung. Haris melepaskan cekalannya di pergelangan tangan ku. "Tiara pernah cerita sama gue," ucapnya Haris. "Kamu gak tau penyebab kematian Tiara?" tanyaku mengalihkan pembicaraan. Haris tampak membuang nafasnya, lalu menggelengkan kepalanya. "Gue gak tau, gue tau ketika Tiara di temukan di Lorong asrama." "Kenapa lo pindah ke sini?" tanyanya. Menatapku, sekilas. "Aku mau cari tau penyebab kematian Tiara," ucapku mengutarakan keinginan ku. "Apa yang lo udah dapat?" tanya Haris. Aku pun menjelaskan obrolanku dengan Aurel tadi pagi. Haris tampak menyimak. "Terus ponsel Tiara mana?" tanya Haris. "Gue boleh ikut cek ponsel Tiara gak," sambung Haris, lalu aku menarik tangannya, mengajaknya ke sebuah tempat. *** Aku dan Haris berjalan menuju cafe di depan sekolah. Sampai di sana, aku melihat Aurel yang duduk menikmati kopinya. Aurel tampak kaget ketika tau aku datang dengan Haris. Aku pun duduk di sebelah Aurel, sementara Haris duduk di depan kami. "Tunggu sebentar  ya, kita menunggu satu orang lagi," ucapku, mereka hanya mengangguk. Tak berapa lama seseorang itu datang. "Maaf gue telat," ucapnya lalu duduk di sebelah Haris. "Gak pa-pa kita baru sampai kok," sahutku, Langit tersenyum. Aku pun mulai mengeluarkan ponsel milik Tiara. Dan mencoba membukanya. Setelah berhasil membuka Ponsel tersebut. Ku pilih salah satu icon chat yang biasa di gunakan Tiaraa. Semuanya nampak Biasa, ada pesan dari Haris, Aku, Mama, Papa, bahkan Aurel. Aku mengerutkan kening ku bingung, ketika mendapati sebuah pesan dari nomor yang tak di kenal. "Gimana Ra, lo nemuin sesuatu?" tanya Haris tak sabar. Aku menatap mereka satu persatu, "Ra, plis jangan buat kita bingung," ucap Aurel, karena tak sabar Haris mengambil ponsel Tiara yang berada di genggaman ku. Aku hanya diam, melihat ekspresi wajah Haris, yang berubah menjadi pucat. Aurel pun mengambil ponsel Tiara di gengaman Haris. 0822******** Selamat datang di neraka, Tiara Asyla:! "Gue yakin, orang yang ngebunuh Tiara pasti satu sekolah sama kita," ucap Aurel, menyimpulkan opininya. Haris menatap Aurel tak percaya."Maksud lo gimana Rel, lo tau sesuatu?" tanya Haris menatap Aurel. "Ris, lo inget gak sih. Seminggu sebelum Tiara meninggal. Tiara sempet ngilang dan, kita nemuin dia pingsan di toilet yang ada di belakang sekolah, kan?"ucap Aurel, Haris diam. "Lo tau siapa yang ngelakuin itu semua?" tanya Haris, aku masih menyimak keduanya. "Yang gue tau, orang itu pakek topeng. Bahkan Tiara sempat cerita sama gue, kalau dia di teror sama manusia bertopeng sejak 2 bulan belakangan ini," Ujar Aurel. Aku dan yang lainnya melebarkan mata. "Rel lo kan indigo coba lo liat ini ponsel Tiara," ucap Haris memberikan ponsel Tiara pada Aurel. Aurel mengambil ponsel tersebut. Matanya terpejam, raut wajahnya berubah jadi gelisah. Aku Haris, dan Langit masih menunggu apa yang di dapatkan oleh Aurel. Aurel membuka mata nya tiba tiba, nafasnya tersengal. "Rel apa yang lo liat?" tanya Haris tak sabaran. "Gue liat, Tiara berbaring di ranjangnya. Dia sedang chatingan dengan orang itu. Tapi sambil nangis terus gue juga liat dia membanting ponselnya di ranjang dan keluar kamar," ucap Aurel. "Setelah itu apa yang lo lihat Rel?!" tanya Haris lagi. "Maaf Ris, setelah itu gue gak bisa lihat apa-apa semuanya gelap," ucap Aurel. Haris menjatuhkan bahunya. "Apa semua ini ada hubungannya, dengan peraturan sekolah?" tanya ku kepada Mereka. Mereka semua menatap kearah ku. "Maksud lo?" tanya Haris. "Bukan kah sekolah kita punya peraturan. Tidak boleh keluar pas malam jum'at kliwon. Dan malam itu tepat malam jum'at Kliwon. Kalian merasa aneh gak sih?" ucapku memberikan opiniku.  Hal itu membuat mereka berpikir sejenak. "Kalau emang bener apa yang lo bilang. Itu berarti? Misteri kematian Tiara ini ada hubungannya dengan sekolah?" sahut Langit menarik kesimpulan. "Dan kita akan mencari tahu tentang sekolah kita terlebih dahulu," sambungku membuat mereka semua menganggukan kepalanya. ***** Malam mulai tiba, suasana mencekam mulai ku rasakan. Aku duduk menghadap laptop di pangkuan ku. Kacamata juga bertengger di hidung ku. Hembusan angin malam meniup tengkuk leherku membuat ku menggosok bagian belakang kepala ku. Tiba-tiba jendela kamar ku terbuka. Tirai nya melambai lambai. Ku letakan laptop ku dan berjalan menuju jendela. Saat ku tangan ku meraih jendela tersebut. Aku melihat kearah bawah. Dan apa yang ku lihat. Seorang perempuan sedang duduk di bawah pohon. Aku menengguk silvahku, menerka-nerka apa itu manusia atau... Belum sempat aku memikir lagi, Perempuan itu melayang dan tertawa keras. Perempuan itu manatap ku! Mata ku terbelak mengetahui siapa perempuan itu. Membuat ku bergegas menutup jendela dengan rapat. Nafas ku terengah, aku memeluk lutut ku sendiri. "Kenapa? Kenapa kamu belum tenang Ra... " gumam ku, dengan air mata yang jatuh membasahi pipi ku. Jadi benar, apa yang di bilang Viona dan Fiza tadi di kantin. Bahwa hantu Tiara berkeliaran di asrama ini. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN