Malam mulai tiba, suasana mencekam mulai ku rasakan. Aku duduk menghadap laptop di pangkuan ku. Kacamata juga bertengger di hidung ku. Hembusan angin malam meniup tengkuk leherku membuat ku menggosok bagian belakang kepala ku.
Tiba-tiba jendela kamar ku terbuka. Tirai nya melambai lambai. Ku letakan laptop ku dan berjalan menuju jendela. Saat ku tangan ku meraih jendela tersebut. Aku melihat kearah bawah. Dan apa yang ku lihat. Seorang perempuan sedang duduk di bawah pohon.
Aku menengguk silvahku, menerka-nerka apa itu manusia atau...
Belum sempat aku memikir lagi, Perempuan itu melayang dan tertawa keras. Perempuan itu manatap ku!
Mata ku terbelak mengetahui siapa perempuan itu. Membuat ku bergegas menutup jendela dengan rapat.
Nafas ku terengah, aku memeluk lutut ku sendiri. "Kenapa? Kenapa kamu belum tenang Ra... " gumam ku, dengan air mata yang jatuh membasahi pipi ku.
Jadi benar, apa yang di bilang Viona dan Fiza tadi di kantin. Bahwa hantu Tiara berkeliaran di asrama ini.
***
Aku masih mengingat, bagaimana kejadian semalam. Bahkan aku sampai tidak tidur, karna bayang-bayang wajah Tiara masih ku ingat jelas. Ku tatap wajah ku di depan cermin, ada lingkaran berwarna hitam di bawah mataku. Itu menandakan, bahwa aku benar-benar tidak tidur semalam.
Seperti biasa aku olesi wajahku, dengan crim harian yang biasa ku pakai. Setelah itu, memberi sedikit bedak tabur. Untuk menutup sedikit wajahku yang kurang fresh. Saat sedang asyik di depan cermin, aku merasakan ada sekelebat bayangan yang lewat di belakang ku.
Secara reflek, aku memutarkan tubuh ku. Aku tidak melihat apa-apa di sana. Pandangan ku beralih pada kamar mandi, ketika aku mendengar suara gemercik air.
Dengan langkah pelan, aku membuka pintu kamar mandi. Suara deritan pintu, membuat ku menjulurkan kepalaku untuk melihat isi kamar mandi. Tidak ada apa-apa, hanya kran air, yang belum ku matikan.
Aku membuang nafas kasar, dan masuk kedalam kamar mandi, serta mematikan kran air tersebut. Aku pun keluar dari kamar mandi. Tepat di ambang pintu kamar mandi, aku mendengar suara rintihan seorang perempuan.
Tolong aku Sera.....
Tidak! Aku hanya halusinasi, di ruangan ini hanya ada aku. Jadi tidak mungkin aku mendengar orang berbicara kan? Aku pun segera keluar kamar, tidak lupa membawa tas, dan bekal yang sudah ku persiapkan.
Aku juga mengunci pintu kamarku, entah mengapa susah sekali mengunci pintu kamarku. Aku terdiam, meneguk silvah ku kasar. Saat sebuah tangan menepuk bahu ku. "Hey Sera! Lo kenapa?" tanya seorang di belakangku.
Aku pun menengok ke belakang. 'Huft' Aku hembuskan nafasku lega.
"Lo kenapa?" tanya Fiza lagi.
"Ah, nggak pa-pa," jawabku seadanya. Fiza hanya mengangguk, kami pun berjalan menuju sekolah bersama.
"Oh iya, si kembar mana? Kok aku nggak lihat mereka dari tadi," tanyaku kepada Fiza.
"Nggak tahu, tuh bocah berdua kemana. Tadi sempet gue ketok pintu kamarnya. Tapi, nggak ada sahutan," jawab Fiza, aku hanya mengangguk.
Di loby asrama, kami bertemu dengan Aurel. "Hay Rel!" sapaku kepada Aurel. Aurel hanya mengulas senyum.
Aku berjalan, masih memikirkan kejadian semalam, dan hari ini. Tiara, apa yang membuat mu menjadi seperti ini? Aku bertanya-tanya, tentang apa yang ada dalam benakku.
Tanpa sadar, Aurel menepuk bahu ku. "Jangan ngelamun Ser," ucap Aurel mengingatkan. Aku pun menengok kearah Aurel.
Fiza sudah tidak ada, hanya ada aku dan Aurel. "Fiza kemana?" tanyaku.
"Pergi, nggak tahu kemana," jawab Aurel seadanya.
"Yang semalam lo liat, itu bukan Tiara!" ujar Aurel tanpa melihat ku.
"Kamu tahu?" tanyaku, bodoh sekali aku bertanya seperti itu. Bukan kah Aurel bisa mnegetahui semuanya tentang ku?
"Ehem, maksudku. Kamu tahu kalau dia bukan Tiara?" kata ku membenarkan perkatan ku tadi.
"Iya, ini semua adalah permainan. Dan yang namanya permainan, pasti ada orang yang mengendalikan. Tiara nggak disini, tapi arwahnya terkunci di alam lain," jelas Aurel.
"Seseorang? Kamu tahu siapa itu?" tanyaku, Aurel menggelengkan kepalanya.
"Lo chat, Haris dan Langit. Kita bahas nanti pulang sekolah di cafe biasa," ujar Aurel.
Aku membuka Grup Chat, yang baru di bikin kemarin.
Squad horor
@sera.agesha_
Guys, nanti pulang sekolah
Kita kumpul di Cafe biasa
@langitbilu_
Ada barang yang mau
Di bawakan lagi non?
@ananda_haris
Kenapa?
Ada berita apa?
@langitbilu_
Nggk usah Lang.
Aku bilang jangan
Panggil Non!
@ananda_haris
Datang aja!
****
Sore ini, aku dan Aurel berjalan menuju cafe depan sekolah. Setelah beberapa saat kami sampai di depan pintu cafe, di sana sudah ada Langit dan Haris. Kami duduk di sudut cafe.
"Jadi ada apa?" tanya Haris to the point.
"Sebentar Ris, mereka baru saja datang. Ser, lo sama Aurel mau minum apa biar gue yang pesan," kata Langit kepadaku dan Aurel.
"Terserah," jawabku, Aurel juga mengangguk. Langit pergi, lelaki itu memesan minuman.
"Ris, apa selama ini lo pernah di hantui sama Tiara?" tanya Aurel kepada Haris.
"Gue nggak pernah di temuin, bahkan kalau memang hantu Tiara ada. Gue mau di temuin. Cuma dia sering datang di mimpi gue," jawab Haris. Aurel sedikit berpikir. Langit datang membawa minuman.
"Arwah Tiara di kendalikan seseorang," ucap Aurel, semua tampak terkejut dengan apa yang di katakan oleh Aurel.
"Jadi, gue minta sama kalian semua. Kalau pun kalian di ajak Tiara ke suatu tempat baik itu dalam mimpi atau secara langsung. Gue mohon jangan pernah mau," jelas Aurel memberi jeda.
"Terutama lo Sera," sambung Aurel menunjukku.
"Aku?" kataku tidak percaya. Aurel mengangguk.
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" ujar Langit. Aurel melirik Langit.
"Besok malam, kita akan masuk kedalam ruang kepala sekolah. Kita cari daftar murid-murid yang sudah meninggal," ucap Aurel.
"Lo yakin? Bukan kah kita nggak boleh keluar malam? Apa lagi ke sekolah," ujar Haris menatap Aurel.
"Kita nggak boleh keluar mulai dari habis magrib sampai isya. Dan berarti kita akan keluar sekitar jam 9 malam," jawab Aurel.
Kami melanjutkan mengobrol kami, tentang rencana kita selanjutnya. Dan pertualangan kami akan di mulai besok malam.
****
Malam ini, rencana gila kami akan di laksanakan. Aku sudah bersiap dengan hoodie hitam serta celana senada. Aku keluar kamar, dan masuk kedalam kamar Aurel yang hanya berada di pojok ku. Aurel sedang memasukan barang barang nya di dalam tas.
"Lo udah siap?" tanya Aurel sembari mengendong tasnya.
"Udah kok. Kamu sudah?" tanyaku kembali kepada Aurel. Aurel mengangguk.
"Lo chat anak-anak, bilang kalau kita akan berangkat," perintah Aurel. Aku mengangguk.
Setelah menge-chat mereka. Ku masukan kembali ponsel ku kedalam tas. "Ayo berangkat," ajak Aurel, aku pun mengikuti Aurel dari belakang.
Kami melangkah pelan di koriodor Asrama. Suasana cukup menyekam, meski pun baru jam 8 malam. Aurel menghentikan langkanya membuatku juga menghentikan langkahku.
Aurel menarik ku untuk bersembunyi di balik tembok. "Kenapa?" bisik ku
Aurel tidak menanggapi ucapan ku. Ia menempelkan telunjuknya pada bibirnya. Kedua mataku melebar, ketika melihat kepala manusia yang terbang dengan usus yang mengantung. Aku memeluk Aurel erat. Begitu juga dengan Aurel. Wajahnya tidak terlihat. Hanya saja rambutnya yang tidak terlalu panjang. Serta usus yang mengantung bebas di udara.
Mahkluk itu pergi, kami bernafas lega. "Ada yang pelihara kuyang disini?" tanyaku, Aurel mengangguk.
"Sayang banget kita nggak bisa lihat wajahnya," sambung ku.
"Gue juga nggak bisa lihat wajahnya. Auranya terlalu gelap. Belum lagi, kalau gue paksa pasti dia bakalan tahu kalau kita ada di sini," sahut Aurel.
"Ayo Ser, sebelum ada yang lihat kita." ajak Aurel. Aku mengangguk. Kami pun melanjutkan perjalaan kami.
***
Kami sampai di depan gerbang sekolah. Di sana sudah ada Langit dan Haris. "Maaf lama," kata kami. Dengan nafas ngos-ngosan.
"Kalian kenapa? Kayak habis liat hantu." goda Langit.
"Memang habis lihat hantu, " jawabku bersandar pada gerbang sekolah.
"Ha? Serius? Apa yang kalian lihat?" tanya Langit kepo.
"Kuyang, di koridor asrama lantai 2," balas Aurel.
"Ada yang pelihara kuyang?" tanya Haris yang sedari tadi diam. Aurel mengangguk.
"Tapi sayang, kita nggak lihat wajahnya." ucapku.
Mereka mengangguk-anggukan wajahnya. Kami pun menyiapkan senter yang kami bawa masing masing. Gerbang sekolah tidak pernah di kunci, entahlah apa sebabnya. Memang sedari dulu tidak pernah di kunci. Terlebih, satpam sekolah yang beberapa hari ini tidak berkerja.
"Kita harus berpencar. Kalau nggak berpencar nanti kita kelamaan," usul ku semua tampak menganggukkan kepala.
"Gue sama Sera," kata Langit.
"Enggak. Gue sama Sera. Lo sama Aurel. Kalian tuh kan anak baru kalian kurang paham dengan lokasi sekolah. Jadi gue sama Sera. Dan lo Langit, sama Aurel," jelas Haris, aku mengangguk begitu juga dengan Langit, yang mengangguk pasrah.
"Kalau gitu, kalian. Lo Haris sama Sera ke ruang tata usaha. Biar gue sama Langit ke ruang kepala sekolah," kata Aurel. Kami mengangguk.
Aku dan Haris berjalan menuju ruang tata usaha. Tangan Haris mengandeng tangan ku. Kamu berjalan beriringan. Kami sampai di depan ruang tata usaha. Deritan pintu ruang tata usaha menambah kesan seram.
"Kita cari di bagian arsip sekolah," kata Haris. Aku hanya mengangguk, Haris masih mengandeng tanganku. Membuatku melepaskan tangan tersebut.
Kami memilah arsip yang berdebu, aku menemukan sebuah map berwarna merah. Ku tiup map tersebut. Setelah itu aku buka Map tersebut. Aku mengkerutkan kening ku melihat beberapa daftar Nama di sana. Di dalam map tersebut ada juga biodata siswa yang sama sekali tidak ku kenal.
"Haris..." panggil ku, Haris berjalan ke arahku.
"Lo nemuin apa?" tanya Haris, sembari melihat kearah map yang ku pengang.
Haris menyenteri map tersebut. "Ini yang kita cari Ser. Map tentang daftar siswa yang meninggal.
"Beneran? Eh bentar deh," kata ku saat melihat sebuah buku coklat yang menarik perhatianku.
Aku arah kan senter tersebut ke arah buku tersebut. "Ini buku dairy?" ucap ku mengambil buku tersebut.
Haris ikut melihat buku yang ku pengang. Aku buka halaman pertama buku tersebut. Ada sebuah nama di dalam buku itu.
"Nadia Kirana Saputri. Tahun 1990?" kata ku membaca buku tersebut. Haris tampak tertarik dengan buku yang ku pegang.
"Ser, lebih baik. Kita tinggal buku itu," saran Haris, aku pun mengangguk. Aku pun menaruh kembali buku tersebut pada tempat semula.
"Yuk" ajak Haris kami pun meninggal kan ruangan tersebut. Tidak lupa aku memberi kabar dulu kepada Aurel.
Kami kembali menyusuri koridor sekolah. Kami melihat Aurel dan Langit yang berada di gerbang sekolah. "Kalian dapetin apa?" tanya Aurel.
"Kita dapat daftar siswa/siswi yang meninggal," kata ku.
"Lo dapat apa?" tanya Haris.
"Kita dapatin sebuah koran, tahun 1990. Coba nanti lo liat deh," kata Aurel.
"Terus sekarang kita mau kemana?" tanya Langit.
"Gue tahu tempat yang baik buat kita bahas ini," ujar Haris membuat kami menatap Haris.
Kami pun pergi dari lingkungan sekolah.