Malam hari, aku dan Aurel menyusuri koridor asrama. Sepi, gelap nan sunyi. Hanya langkah kaki kami yang terdengar. Kami berjalan hingga ujung koridor asrama, menunggu pintu lift agar segera terbuka. Perasaanku tidak enak, aku merasakan ada yang mengintai kami. Kulirik Aurel yang nampak gelisah, wajahnya dingin dan juga terlihat datar. Ada apa dengan Aurel. Gelagatnya agak berbeda kali ini. Wajahnya menunjukkan ketakutan serta kekhawatiran. Pintu lift terbuka, kami masuk kedalam lift. "Untung, lift datang tepat waktu," lirih Aurel aku dapat mendengarnya. "Maksudnya?" "Ada yang akan datang Ser, dan gue nggak tahu siapa itu." Aurel menghembuskan nafasnya. "Auranya gelap dan gue nggk bisa melihatnya. Gue takut dia akan mencelakai kita. Feeling gue nggak enak," sambung Aurel. Aku mengang

