Bukan Keturunan Biasa

2036 Kata
Ros bahkan belum mengedipkan matanya sama sekali ketika tangan Taji menariknya maju dan mendadak mereka sudah berpindah tempat. Gadis itu melirik situasi di kanan dan kirinya dan menyadari bahwa dia sudah berada di tempat yang berbeda dari tadi. Ketika yakin bahwa ia memang sudah sampai ke tempat yang dimaksud, Ros pun segera bertanya pada pemuda yang sedang memandangnya. “Udah sampai kita, ya?!” tanya gadis itu masih sambil melirik ke kanan dan kiri. Taji mengangguk lambat. “Iya, kita sudah sampai ke tempat yang gue maksud.” Gadis itu mulai menoleh dengan lebih yakin dan melebarkan pandangannya. Matanya secara kontan terbelalak saat ia melihat pemandangan mengelilinginya. “Ini pemakaman… deket rumah gue?!” tanyanya tak percaya lalu menoleh pada Taji. Cowok itu mengulum senyum lalu menganggukkan kepala. “Areal pemakaman tua yang ada di deket rumah lama gue adalah tempat di mana lo dan keluarga lo disegel?” Seakan tak mempercayai dengan apa yang ia lihat, Ros pun sampai harus bertanya dua kali. Taji masih memberikan reaksi dan jawaban serupa dari ekspresinya. “Waaaah, kenapa gue nggak kepikiran dan ngerasain sama sekali kalau ada yang tersegel di area pemakaman ini, ya?!” Ros bingung sampai merasa geram sendiri. Taji memahami dengan ekspresi kesal, kecewa sekaligus bingung yang terlihat di wajah Ros saat ini. Cowok itu pun hanya bisa menjelaskan apa yang ia tahu pada Ros. “Apa yang gue bilang kemarin itu ke lo adalah salah satu bukti. Bahwa memang sejak awal lo nggak menyadari seberapa besar kekuatan yang lo miliki. Gue pun nggak paham bagaimana bisa itu terjadi. Tapi gue bisa membantu lo untuk mengaktifkan kekuatan lo lagi dengan menelusuri titik kunci dari inti kekuatan lo yang sengaja dibuat mati suri,” terang Taji lagi. “Tapi untuk mencari arwah keluarga gue yang tersegel, gue rasa kekuatan yang ada saat ini sudah cukup.” Taji lalu mengulurkan tangan pada Ros. Ros memperhatikan tangan Taji yang terulur lalu mengulurkan juga tangan kanannya. Telapak tangan Taji berada di bawah sengaja dibiarkan terbuka. Sedangkan tangan Ros berada di atasnya menutup tangan Taji yang terbuka. Meski demikian, mereka sama sekali tidak bersentuhan. Taji sedang ingin merasakan energi yang ada di tubuh Ros saat ini makanya ia memindai tangan Ros. Gadis itu pun hanya pasrah saja. Ia masih ingin meyakinkan dirinya bahwa di dalam tubuhnya ada kekuatan yang jauh lebih besar dari yang ia duga. Sedangkan selama ini dirinya tidak sadar sama sekali. “Apa semua ini kebetulan?” tanya gadis itu dengan suara gamang. “Kelahiran gue, tempat lo dan keluarga lo disegel, dan lo udah mengawasi gue dari entah kapan tapi gue nggak menyadari hal itu sama sekali. Sebenarnya gue masih nggak paham dengan ini semua.” Ros menghela nafas dalam. Ia lalu menoleh pada Taji. “Ceritain semua tentang keluarga lo sejelas-jelasnya. Baru setelah itu gue bisa pertimbangkan untuk membantu untuk menemukan seluruh keluarga lo yang tersegel atau nggak.”  Jelas Ros memiliki alasan yang kuat dan jelas sampai ia mengungkapkan alasannya mengapa ia harus mengetahui background keluarga Taji lebih dulu sebelum memutuskan membantunya. Taji pun akan bersikap seperti Ros jika ada di posisinya. “Oke, gue akan menceritakan semuanya ke lo sekarang,” ujar Taji kemudian. Akhirnya Taji pun mengungkapkan latar belakang keluarganya dan siapa dia sebenarnya. Taji dan keluarganya merupakan generasi terakhir dari klan Gua Sembilan. Klan Gua Sembilan adalah musafir yang juga satu-satunya pemilik ilmu sihir terkuat yang ada di jagat raya. Mereka menjadikan gua-gua besar sebagai tempat tinggal mereka. Namun lama kelamaan, gua tersebut bukan hanya sebagai tempat tinggal saja, melainkan sebagai tempat untuk bersembunyi dari para manusia serakah. Dahulu kala, terdapat sembilan daerah yang menjadi tempat awalnya manusia berevolusi. Tanah satu, tanah dua, tanah tiga, hingga tanah kesembilan merupakan tempat yang aman, damai, dan tenteram untuk ditempati oleh manusia sebelum terbentuknya sebuah peradaban seperti sekarang. Klan Gua sembilan turut menempati salah satu tanah tersebut dan hidup berdampingan dengan damai dengan manusia lainnya. Di sana para manusia dan penyihir dapat hidup serta berkembang biak hingga lahirlah para keturunan-keturunan dengan wajah dan warna kulit yang beragam. Ada yang tubuhnya tinggi, pendek, besar, kecil. Ada juga yang memiliki rambut lurus, keriting, dan ikal. Ada yang matanya berwarna hitam, ada juga yang biru atau hijau. Di sisi lain, sesuai janjinya pada Pemilik Semesta, iblis pun mulai melancarkan rencananya untuk selalu berdampingan dengan manusia agar dapat menyesatkan mereka dari jalan kebenaran. Iblis-iblis tersebut konon dipimpin oleh seorang pemimpin iblis merupakan jin yang dilaknat Tuhan karena telah menolak untuk menghormati manusia pertama di muka bumi. Oleh Pemilik Semesta, jin tersebut diusir dari surga dan ditetapkan sebagai iblis yang akan selalu menjerumuskan manusia dari jalan yang lurus. Dendam dan amarah jin tersebut menjadikannya iblis terkuat sekaligus pemimpin dari iblis-iblis lain yang dikerahkannya untuk membelokkan manusia yang tipis imannya. Manusia-manusia tersebut yang secara dasar sudah memiliki sifat dengki, iri, sombong, dan serakah terhadap hal yang tak mampu mereka miliki kemudian merampas hak dan ketenangan dari manusia-manusia lain. Klan Gua Satu hingga Klan Gua Kedelapan yang memiliki ilmu sihir namun tak sekuat Klan Gua Sembilan lalu dihabisi dengan tak manusiawi. Sedangkan keturunannya yang masih dibawah umur sengaja dibiarkan hidup asal mau membangkang dan mengabdi pada raja iblis. Tanah dan gua mereka diambil secara sepihak. Para keturunan Klan Gua Satu, hingga keturunan Klan Gua Delapan lalu mengincar Klan Gua Sembilan untuk dapat membuktikan pengabdiannya pada sang raja iblis. Sayangnya, kemampuan milik Klan Gua Sembilan jauh lebih tinggi. Sebab mereka mampu melepaskan diri dari raga meski belum sepenuhnya mati. Hal tersebut bisa dilakukan saat keturunan Klan Gua Sembilan sedang terancam atau ketika bertirakat. Kelemahannya, kemampuan untuk melepaskan raga tersebut dapat diserap oleh makhluk lain. Namun jika makhluk tersebut memiliki tujuan jahat dan tak mulia, maka kemampuan itu akan musnah dengan sendirinya. Taji menjeda ceritanya dengan menoleh pada Ros untuk melihat ekspresinya. Ros tak memberikan ekspresi apa-apa dan justru nampak menantikan kelanjutan ceritanya. Ros memberikan tanda dengan tangannya yang terbuka untuk melanjutkan. Pemuda itu tersenyum simpul dan mulai melanjutkan ceritanya dengan perlahan. Setelah itu warga biasa Klan Gua Sembilan yang mencari makan ke luar Gua rata-rata tak pernah kembali. Jika orang tersebut sudah berumur, biasanya akan langsung dihabisi. Namun jika ia masih muda, mereka akan menghilang begitu saja. Awalnya tak ada yang menduga bahwa warga yang menghilang tersebut sengaja disesatkan agar menjadi pengikut dari raja iblis. Namun ketika semakin banyak warganya yang menghilang, Kiagung, kakek Taji pun curiga bahwa penduduknya tersebut telah terhasut bujukan iblis hingga akhirnya membangkang pada aturan dan jalan kebenaran. Sayangnya kesadaran tersebut terlambat datang. Karena Klan Gua Sembilan saat itu hanya tersisa beberapa puluh orang. Hingga akhirnya tempat persembunyian mereka diketahui oleh bangsa iblis yang mengerahkan pasukannya untuk menghabisi para tetua dan menyegel lainnya yang berusia kurang dari 100 tahun. Usai bercerita bagian tersebut, wajah Taji mendadak tegang dan rahangnya mengeras.  Ros memperhatikan wajah Taji. “Lo… nggak apa-apa?!” tanyanya hati-hati. Taji menggelengkan kepalanya. “Saat kakek nenek gue dihabisi, keluarga gue yang lainnya disegel dan sengaja dikubur seperti orang mati di sini namun saripati hidup mereka yang murni sengaja diambil, gue sedang bertirakat. Gue melepaskan roh gue karena menurut kakek gue itu akan sangat aman untuk kelangsungan hidup gue. Tapi, ketika gue selesai, gue udah nggak menemukan keluarga gue tersisa. Ayah, ibu, dua kakak perempuan gue, dan adik laki-laki gue yang masih berusia enam tahun, semuanya tersegel. Bahkan tubuh gue juga ada di dalam peti dan terkubur di dalam tanah bersama mereka.” Suara Taji mulai bergetar menjelaskan kronologi saat itu. Ros kini mulai memahami sedikit penjelasan Taji. “Gue pikir itu cuma semacam retorika sejarah umat manusia yang sengaja dibuat untuk bikin kita beriman. Ternyata memang benar-benar ada, ya?!” ucap Ros lalu memandang ke area pemakaman keluarga Taji. Jika dilihat dari luar, makam tersebut tampak biasa saja. Padahal sebenarnya, ada rantai tak kasat mata yang memblokir akses ke makam tersebut.  “Jadi sederhananya, lo adalah keturunan dari Klan Gua Sembilan yang adalah Klan penyihir terakhir yang mampu bertahan setelah Klan Gua Satu hingga Klan Gue Kedelapan dihabisi oleh iblis yang memang sengaja menyesatkan dan mengambil saripati hidup mereka yang murni, dan ada juga yang sengaja dirayu untuk menjadi pengikut iblis?” Ros mengulang apa yang sudah Taji ucapkan. Cowok itu mengangguk. “Di masa itu, sihir dianggap sebagai sesuatu yang sesat karena kemudian disebarkan oleh orang-orang kafir dan sesat. Padahal bangsa kami, tidak pernah menggunakan sihir untuk kejahatan atau melukai orang lain. Terjadi banyak perdebatan mengenai sihir pada zaman itu. Makanya leluhur kami pun terpaksa bersembunyi agar kemampuan kami tetap ada dan diwariskan.” Taji menjeda kalimatnya sendiri. “Namun Klan lain justru sengaja menyebarkan dan mewariskannya pada orang kafir yang malah membuat kegaduhan di mana-mana. Hingga kemudian sihir menjadi terlarang untuk dipelajari atau disebarluaskan. Kami yang masih memegang teguh dasar dan tujuan sihir murni terpaksa menyingkir serta menyembunyikan identitas kami sebenarnya.” Pemuda itu menoleh pada Ros dan mencoba tersenyum. “Begitulah gue.” Ros melipat bibirnya ke dalam dan terlihat seperti masih mencerna apa yang disampaikan oleh Taji tadi. “Setelah dengar cerita lo tadi, gue jadi merasa kudu mulai membaca lebih banyak lagi buku sejarah deh. Karena banyak informasi yang gue skip.” Taji hanya tersenyum dikulum. “Lo bisa baca kitab suci lagi habis ini,” ujarnya. Gadis itu berdeham lalu menoleh pada Taji dengan cepat. “Terus apa lo dan arwah keluarga lo menjadi sesuatu yang bukan mereka saat ini? Kalian kan udah terlalu lama bergentayangan di bumi.” Wajah Ros mendadak khawatir saat bertanya hal itu. Tampaknya Taji begitu berat menjawab pertanyaan Ros tersebut. “Tentu saja,” sahutnya kemudian. “Karena inti jiwa mereka semuanya terkunci di dalam sini.” Taji melemparkan pandangannya ke makam keluarganya tersebut. “Karena arwah yang saat ini bergentayangan harus beradaptasi dengan alam semesta. Mereka pasti sudah memakan intisari sifat-sifat manusia.” Sepertinya Taji sudah mengetahui banyak hal tentang apa yang dilakukan arwah keluarganya tersebut untuk beradaptasi di sini. Pemuda itu menghela nafas berat lalu melanjutkan. “Hanya sayangnya, terlalu banyak intisari manusia jahat yang mereka konsumsi sehingga mereka… keluarga gue jadi nggak mengenal lagi siapa mereka sebenarnya.” Nada bicara Taji sangat berat. Karena mendengar informasi tersebut, Ros pun mendadak jadi penasaran. “Hmm… gue boleh nanya nggak?” tanyanya dengan berhati-hati sekaligus memperhatikan wajah Taji. Pertanyaannya ini memang cukup sensitif. Cowok itu mengangguk samar. “Ng… gimana caranya lo tetap seperti lo yang sekarang?” Sejak tadi Ros sebenarnya tak dapat menahan diri untuk bertanya. “Gue beneran penasaran.” Taji kembali tersenyum dikulum. “Lo berpikir ini bukan wujud asli gue gitu?” Agak ragu, Ros menganggukkan kepalanya. “Sebelumnya gue udah bilang bahwa ketika keluarga gue disegel, gue sedang bertirakat dan baru saja menyelesaikan tirakat. Gue rasa ketika sedang melakukan tirakat itulah ada sebagian pengaruh sihir dari makhluk yang menyegel keluarga gue justru terpental dan akhirnya nggak mempan ke gue. Makanya wujud gue masih sama dan sama sekali nggak berubah,” terang Taji. “Aaah, begitu, ya?!” Ros mengangguk-angguk. “Jadi ini beneran masih wujud asli lo? Tapi raga lo kan terkubur di dalem. Kenapa lo bisa jadi kasatmata sekarang?” Dengan sabar Taji kembali menjelaskan hal tersebut pada Ros. “Sekitar empat puluh tahun yang lalu, gue bertemu seorang pria yang umurnya udah nggak lama lagi. Entah gimana ceritanya, dia tahu kalau gue bukan manusia. Dia lalu cerita kalau selama dia hidup, dia nggak ngerasa hidupnya nggak berguna. Dia selalu mengabaikan orang-orang yang minta pertolongan, bahkan keluarganya sendiri. Sampai akhirnya dia mengidap penyakit yang cukup parah.” Taji memulai ceritanya. “Satu tahun berlalu setelah gue dan dia berkenalan lalu tanpa sengaja jadi makin akrab dan malah berkawan, dia justru mengatakan untuk memanfaatkan tubuhnya jika gue memerlukan.” Ros berdehem lagi lalu memandang wajah Taji dengan saksama dan membiarkan Taji melanjutkan ceritanya.  “Ketika pria itu dinyatakan meninggal, saat tubuhnya masih hangat, gue langsung mengambil alih tubuhnya. Gue juga bergegas melakukan transformasi dan penyesuaian bentuk tubuh. Makanya sekarang tubuh, wajah, dan semua yang ada di diri gue jadi terlihat milik gue. Padahal kalau gue lepas mantranya, ya lo juga bakal ngeliat gue sebagai pria yang udah meninggal itu.” Taji tersenyum ketika menjelaskan tentang tubuh dan wajahnya ini. “Ah, gue lupa. Lo keturunan penyihir terhebat di jagat raya.” Ros menepuk kepalanya sendiri karena baru tersadar untuk urusan merekayasa kenyataan, bukan perkara yang sulit untuk Taji.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN