Taji tersenyum ketika mendengar Ros berkata seperti itu. Rasanya sudah sangat lama ada orang yang mengetahui dan mengakui identitasnya seperti sekarang. Sejak seluruh warga di tanah kelahirannya dihabisi oleh mereka manusia-manusia serakah nan bengis sampai keluarganya yang tersisa pun disegel, Taji nyaris lupa akan identitasnya sendiri. Apalagi selama ratusan tahun harus menetap di tempat yang bukan rumahnya membuat Taji harus melakukan proses adaptasi berulang kali secara terus menerus. Taji harus melakukan hal itu untuk bertahan hidup demi satu tujuannya.
Menantikan kelahiran Ros dan menjaganya sampai ia benar-benar siap.
Hanya saja hal tersebut sulit untuk langsung Taji ucapkan semuanya saat ini pada Ros. Hal pertama dan pasti menjadi bahan pertimbangan Taji adalah di hadapan Ros sudah ada banyak hal mengejutkan yang membuatnya shock dan pasti kesulitan untuk mencerna. Hal kedua, Taji masih belum tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Ros. Padahal sejak Ros dilahirkan, Taji sudah memperhatikannya. Hampir setiap hari Taji datang ke rumahnya untuk sekadar memastikan bahwa Ros baik-baik saja.
Sampai kebakaran itu terjadi, dan kabarnya Ros hampir tak tertolong jika saja ayahnya saat itu tidak menerobos ke dalam kobaran api dan menyelamatkan gadis itu. Agar tidak terdeteksi, sejak pertama Taji memperhatikan dan menjaga Ros tentu saja ia harus menggunakan tubuh aslinya. Pada saat kejadian tersebut, tentu saja Taji tak dapat berbuat apa-apa selain mencoba untuk menggunakan kekuatannya agar api tersebut bisa dijinakkan. Hanya ada satu hal yang tak Taji pahami saat itu, yang ingin ia tanyakan tapi tak tahu harus bertanya pada siapa atau mencari tahu ke mana.
“Heh! Kok lo ngelamun, sih?!” tegur Ros sambil menjentikkan jarinya ke depan wajah Taji. Cowok itu tersadar lalu menatap Ros dan tersenyum. “Lagi mikirin apa lo?”
“Nggak mikirin apa-apa kok. Cuma merasa lega aja akhirnya gue bisa menceritakan semuanya ke lo. Selama ini kayaknya gue menyimpan beban yang lumayan berat banget.” Cowok itu manggut-manggut. “Tapi sekarang, bebannya agak berkurang. Sedikit, tapi jauh lebih baik daripada sebelumnya.” Cowok itu tersenyum.
“Gue sebenernya bingung juga harus bereaksi apa setelah lo ceritain semuanya ke gue barusan. Tapi yang bisa gue bilang ke lo sekarang adalah… gue bersedia buat bantu lo mencari dan menemukan arwah keluarga lo yang tersebar entah ke mana, dan setelah itu gue akan coba membantu melepaskan segel itu,” tutur Ros dengan mantap.
Mendengar kalimat yang Ros ucapkan barusan, sepasang Taji terlihat berbinar. Tanpa sadar pemuda itu memegang kedua bahu Ros dan bertanya lagi tentang kebenaran kata-katanya. “Lo serius? Mau bantuin gue? Beneran?” tanya cowok itu lagi.
Gadis itu lalu melepaskan tangan Taji yang menyentuh kedua bahunya dan membuat Taji agak bingung. Setelah itu Ros memperhatikan wajah Taji dengan saksama. “Tentu aja kita harus menguntungkan satu sama lain. Gue akan bantu lo, tapi lo juga harus bantuin gue untuk menemukan inti kekuatan gue dan… kasih tahu gue cara untuk bisa menembus ke dimensi itu lagi,” balasnya sambil memperhatikan Taji.
Taji tersenyum lalu mengulurkan tangannya untuk mengajak Ros berjabat tangan. “Gue setuju,” ucapnya dengan kalimat tegas tanpa keraguan sama sekali.
Ros tersenyum lebar lalu menyambut uluran tangan Taji dengan semangat. “Oke, kalau gitu kita sepakat,” balasnya riang. Mereka pun bersalaman dengan kuat. Usai menyepakati bahwa mereka akan saling membantu, Ros teringat sesuatu. “Hmm, berarti yang menyegel keluarga lo itu manusia yang berhasil mempelajari sihir?”
Taji terdiam sebentar sebelum akhirnya menggelengkan kepala. “Dari sisa energi yang tertinggal di tubuh keluarga gue, sepertinya bukan sihir yang ditinggalkan. Tapi ada energi yang jauh lebih besar yang gue rasain. Sepertinya tingkatan kekuatan yang bikin tubuh mereka tersegel bukan sihir biasa.” Taji menjeda kalimatnya sebentar.
“Gue malah berpikir orang yang membuat keluarga gue sampai tersegel punya kekuatan yang nggak bakal mungkin dimiliki manusia biasa atau orang yang tingkatan sihirnya udah tinggi. Nggak, pasti kekuatannya jauh lebih hebat lagi,” ungkap Taji begitu yakin. “Cuma masalahnya gue nggak bisa mendeteksi lagi keberadaan kekuatan itu. Terlalu kuat dan nggak pernah gue kenal sebelumnya.” Kedua rahang Taji mengeras.
Ros mengangkat tangannya yang terbuka. “Coba kasih tangan lo ke gue,” pintanya. “Sekalian kasih tahu gue cara lebih berkonsentrasi supaya bisa sampai ke dimensi itu lagi.” Saat mendengar Ros berkata begitu, Taji sempat ragu. Namun gadis itu menganggukkan kepalanya memberikan keyakinan. “Percaya sama gue. Gue bisa.”
Karena Ros sudah meyakinkannya, Taji pun berusaha lebih mempercayai kesanggupan Ros tersebut dengan menuruti apa yang jadi permintaannya. Pemuda itu kemudian meletakkan tangannya di atas tangan Ros yang terbuka. Sebelum memulai membaca mantra, Taji sempat terdiam sebelum berbicara pada gadis di depannya.
“Gue udah sangat lama sekali menunggu momen ini, Ros. Gue sangat bersyukur karena lo akhirnya mau untuk membantu gue. Meski gue tahu pasti keinginan lo untuk mengetahui lebih banyak tentang kekuatan lo juga sama besarnya. Gue tetep berterima kasih dengan kesediaan lo membantu gue,” kata Taji dengan suara agak bergetar.
Ros tersenyum dikulum. “Karena cara yang lo ambil memang cukup tepat. Dengan memberikan gue semacam teaser dan informasi tentang kekuatan gue yang sebenarnya, itu sungguh bikin gue penasaran luar biasa,” balas Ros sambil membalas tatapan Taji. “Apalagi dengan informasi yang lo bilang tentang nyokap gue dan lo bisa bantu gue untuk menjelajah lebih dalam informasi tentang masa kecil gue, gue nggak mungkin tinggal diam. Sesungguhnya gue butuh pengukuhan aja. Dan tadi lo sudah membuktikannya kepada gue.” Ros lalu tersenyum meledek. “Tapi kalau semisal cara lo nggak seperti itu, kemungkinan besar gue menolak proposal lo mentah-mentah, sih.”
Taji geli sendiri dengan kalimat Ros tersebut. “Gue udah menunggu cukup lama sampai akhirnya lo lahir, Ros. Nggak mungkin gue gegabah dan nggak merancang cara paling tepat yang harus gue pilih buat melakukan pendekatan ke lo. Atau paling nggak bikin lo mau dengerin informasi dari gue aja deh,” balas pemuda itu dengan santai.
“Yah, syukurlah lo benar-benar memikirkan cara untuk bicara sama gue dan ternyata tepat lho caranya.” Ros dan Taji tersenyum bersamaan. “Oke, let’s go!”
Pemuda itu mulai kembali memusatkan kekuatannya di telapak tangan untuk bisa memberikan Ros sedikit gambaran bagaimana agar gadis itu bisa mencapai ke dimensi ambang tanpa bantuan sama sekali. Ros memejamkan matanya perlahan agar bisa lebih memusatkan konsentrasinya. Tak begitu lama, ada hawa hangat yang keluar dari tangan Taji yang mengalir ke telapak tangan Ros. Lama kelamaan hawa hangat itu berganti dengan dingin yang membuat Ros sedikit tersentak sebelum akhirnya dia mengatur nafasnya agar bisa menerima segala hawa yang sedang merasuk ke dalam tubuhnya.