Berinteraksi Sejak Lama

1037 Kata
Tetiba Ros merasakan ada energi asing yang merasuk dari ujung tangannya dan menjalar dengan sangat cepat ke tubuhnya. Energi yang masuk tersebut seakan bisa menyatu dengan kekuatan yang saat ini ia miliki. Tubuh Ros yang semula tersentak mendapati bahwa kini ia merasa hawa dingin tersebut berubah lembut dan menghangatkan tubuhnya. Kekuatan radar yang biasa Ros pakai untuk mendeteksi keberadaan makhluk halus terasa semakin kencang dan mencengkeram. Ros mencoba tetap menjaga konsentrasinya agar jangan sampai hilang meski dengan mata terpejam. Secara samar, Ros kemudian mulai melihat radarnya sendiri yang seperti pemancar radio butut yang pernah ia lihat beberapa kali di toko loak. Bedanya pemancar tersebut melayang tepat di atas kepalanya. Radar miliknya itu tidak terlalu panjang, tapi tidak bisa disebut pendek juga. Pada ujung pemancar nya bercahaya sedikit seolah terdapat lampu yang menyala berkelip-kelip persis kunang-kunang. Ros bisa merasakan radarnya tersebut dapat mengikuti semua perintahnya untuk memindai berbagai jenis makhluk halus yang berkeliaran di beberapa tempat yang secara sepintas terpikirkan olehnya saat ini. Mulai dari sudut sekolah, di warnet tempat dirinya dan teman-temannya bermain, di dekat jalan-jalan kecil, dan beberapa tempat lagi secara acak. Ketika Ros mulai merasakan energi di tangannya sudah dapat ia kuasai dengan baik, Ros mendadak terpikirkan untuk memindai rumah lamanya. Ia ingin tahu kekuatan apa yang ditinggalkan oleh ibunya di sana dan mengapa ia sama sekali tak merasakan energi apapun selama ini. Padahal jika benar kekuatannya ini sudah ada sejak ia kecil, harusnya Ros sudah akrab dengan energi yang tertinggal di sana. Akan tetapi, Ros tidak dapat mengenali sama sekali. Seolah energi itu baru-baru ini ditinggalkan di sana. Gadis itu masih memusatkan konsentrasinya dan berkeliling secara acak untuk memindai arwah atau energi-energi yang berperilaku tak wajar hingga membahayakan nyawa manusia di sekitarnya. Sejauh Ros memantau daerah-daerah yang sering ia kunjungi atau beberapa tempat yang memang akrab dengannya, Ros sama sekali tidak menemukan hal yang ganjil atau mencurigakan. Karena tidak ada yang serius, gadis itu sempat ingin menghentikan pemindaiannya hanya untuk mengetes apakah radar pemancarnya jauh lebih kuat daripada sebelumnya. Selayaknya mencoba suku cadang baru pada kendaraan, Ros sudah merasa cukup untuk mencoba radar yang seolah ‘upgrade’ tersebut. Sampai Ros pun menurunkan kewaspadaannya saat memindai. Di saat yang bersamaan, Ros justru mendeteksi sebuah kekuatan yang lagi-lagi baru ia kenali hawanya. Energi baru yang sepertinya tidak benar-benar baru juga. Ros agak lupa di mana ia pernah merasakan energi dengan kekuatan yang saat ini ia rasakan. Apakah saat ia mengusir syaitan yang nakal di pohon tua? Atau makhluk yang terperangkap di sebuah bangunan yang terbengkalai puluhan tahun lamanya? Atau jangan-jangan pernah ‘bersentuhan’ secara tak langsung (dan tentu tak sadar) ketika ia sedang berada di sekolah. Ros mengerutkan agak kening di tengah usahanya saat membongkar memorinya terkait energi yang ia rasakan saat ini. Rasa penasaran yang hebat membuat Ros kemudian mencari dan menelusuri keberadaan energi tersebut. Ketika Ros mulai mengencangkan lagi radar pemindainya untuk menemukan pemilik energi tersebut, Ros mulai bisa merasakan getaran yang aneh. Getaran ini biasanya semakin terasa saat ia sudah akan menemukan keberadaan dari energi yang ia temukan. Ros kembali meneruskan pencarian sampai akhirnya satu sosok berhasil ia temukan. Sebentar… Ros sepertinya tidak begitu asing dengan perawakan dari sosok yang mulai ia temui keberadaannya. Tidak salah lagi, Ros pernah bertemu dengan pemilik energi ini. Bahkan sepertinya Ros sampai berinteraksi dengan energi ini. Tidak satu kali… bahkan tidak juga dua kali. Ros menajamkan lagi radarnya sekaligus indera penglihatan keenamnya untuk bisa melihat pemilik energi ini dengan lebih jelas dan dengan kedua matanya. Ros sering melakukan interaksi dengan pemilik energi ini. Radar miliknya itu tidak terlalu panjang, tapi tidak bisa disebut pendek juga. Ros bahkan tak sadar pernah berbagi hawa hingga sesekali tubuhnya menyerap energi tersebut. Spontan Ros membuka matanya dan membuat Taji ikut tersentak karena Ros menghentikan pemindaiannya begitu saja. Sebelum mendengar Taji bertanya, Ros dengan cepat berteleportasi lebih cepat dari yang Taji perkirakan. Gadis itu sudah berpindah ke lokasi tempat di mana energi itu bersembunyi dan menyembunyikan diri. Ros tak menyangka ia akan sampai di halaman sebuah museum. Ros mulai melemparkan pandangan dan melihat apa yang ada di sekelilingnya. Ros berjalan sebentar untuk mendeteksi keberadaan energi itu sebenarnya. Gadis itu sampai memakai mata keenamnya untuk memindai apa yang ada di dalam museum tersebut. Di dalam museum tersebut hanya terdapat koleksi buku-buku tua. Mulai dari yang berbahasa Indonesia, sampai yang berbahasa Belanda pun tersedia. Saat mata keenam Ros sampai di bagian salah satu rak buku, gadis itu tersadar akan satu hal yang mengejutkan ada di sana. Ia pernah mendengar seseorang membacakan judul buku yang saat ini sedang ia lihat. Ros sampai membetulkan posisinya saat ini. Tidak! Ini tidak mungkin! Ros tersentak dengan apa yang ia temukan. Untuk bisa menjawab kebenaran dari apa yang saat ini terpikirkan olehnya tak lain adalah dengan menangkap basah energi itu dan bertanya secara langsung. Ros akhirnya memutuskan untuk berteleportasi dan masuk sendiri ke museum tersebut. Ia ingin bisa membaca dengan jelas judul buku yang menarik perhatiannya ketika sedang memindai tadi. ‘Levensgeschiedenis’... Ros mengeja bahasa Belanda tersebut yang artinya adalah… “Sejarah kehidupan.” Ros mengucapkan arti dari judul buku itu dengan lantang. Ia tak menyangka bahwa ketika ia menyebutkan kalimat tersebut energi yang ia cari tadi sudah ada di belakangnya tanpa perlu susah payah ia memindai lagi hingga ke pelosok museum. Ros tersenyum. Lalu dengan gerakan cepat dan tak terduga, Ros berteleportasi tepat ke belakang sosok tak kasatmata tersebut sebelum dia menyamar. Begitu ada di belakang energi tersebut, Ros merasakan hatinya bergetar sesaat. Getaran yang jarang sekali ia rasakan saat berhadapan dengan arwah atau makhluk-makhluk usil sejenisnya biasanya hanya datang jika lawannya memang sudah terlalu lama ada di dunia atau sudah menyerap banyak sekali intisari manusia jahat. Sementara untuk energi satu ini, Ros tak tahu mengapa hatinya justru bergetar. “Banyak sekali pertanyaan yang saat ini muncul di kepala gue. Tapi pertama-tama yang pengin gue tanyain adalah…” Ros menguatkan lagi hatinya untuk mengeluarkan kalimat tersebut. “lo ini apa?!” tanya Ros sambil mengangkat tangan persis di belakang si energi tak kasatmata, bersiap untuk membekuk energi yang masih bergeming itu. “Lo ngasih gue pertanyaan ini bukan sebagai teman yang udah pernah gue selamatkan dari anak-anak manusia culas yang bikin lo susah waktu kemping itu, ya?!” Pertanyaan dari Gagah barusan membuat sesuatu dalam diri Ros merinding.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN