Tidak Pernah Membahayakan

1054 Kata
Ros tak pernah lupa dengan bagaimana ekspresi wajah dan hawa yang terasa saat ia pertama kali berjumpa dengan Gagah… beberapa tahun lalu sebelum akhirnya mereka dekat dan berteman akrab. Ros tidak pernah merasa ‘begitu nyaman’ saat dekat dengan seseorang, selain Ayla, karena menyadari betapa dirinya seaneh itu.  Ia pernah hampir melenyapkan nyawanya sendiri karena terlalu sering bermain dengan arwah penasaran. Sampai kemudian ia diselamatkan Ayla dan mau tak mau membuat Ros jauh lebih waspada. Kini, bukan hanya arwah penasaran saja yang membuatnya bersiaga. Sosok yang terlihat seperti manusia pun akhirnya, mau tak mau bisa menumbuhkan rasa curiga. Ros kadang merasa tidak enak sendiri saat ia berdekatan dengan orang lain yang tanpa sadar ia sangsikan. Perlu waktu bertahun-tahun untuk Ros melatih kesadarannya sendiri serta memastikan radarnya berkali-kali agar tidak salah lagi menilai. Hingga hari itu Ros berjumpa dengan Gagah. Hal pertama yang Ros rasakan saat bertemu Gagah adalah… mengapa baru sekarang ia berjumpa dengan manusia yang bisa sangat peka dan tulus seperti ini? Bagaimana cara Gagah membantunya dari keisengan teman-teman sekelasnya membuat Ros meyakini bahwa Gagah memang ‘manusia’. Hilang sudah pikiran dan praduga bahwa mungkin saja cowok ini adalah makhluk astral yang entah apa jenisnya. Ros hanya meyakini bahwa cowok yang sudah membantunya saat itu hanya anak narsis yang butuh validasi atas dirinya sendiri. Sebab setelah kejadian hari itu, Ros jadi sering melihat betapa sering Gagah mencari perhatian dan menyukai saat dirinya menjadi pusat perhatian. Gagah terlihat senang dan jemawa ketika ada yang memujanya seperti artis yang dielu-elukan fan setiap kali melintas di depan mereka.  Ros pun sampai berpikir bahwa Gagah adalah cowok paling narsis yang pernah ia temui. Kadang tindakannya ada saja yang membuat geleng-geleng kepala. Ayla pun kemudian ikut dekat dan akhirnya mereka bertiga menjadi karib yang tak terpisahkan. Hampir setiap Ros memiliki waktu senggang dan sedang bosan dengan rutinitasnya menjadi dukun, Gagah seperti selalu tahu dan akhirnya mengajak gadis itu itu bermain. Mulai dari bermain game online di warnet, sekadar nongkrong di depan sekolah sambil minum es dalam plastik seharga seribu rupiah atau hanya mampir ke rumah Ayla dan memperhatikan betapa hangat interaksi keluarganya. Ros kadang merasa terhibur dengan ide yang Gagah utarakan agar dirinya tidak mendadak mati bosan. Hanya saja, selama mereka berkawan, Ros dan Ayla memang tidak pernah Gagah ajak bermain ke rumahnya. Setiap Ros atau Ayla tanya di mana rumah Gagah, pemuda itu hanya menjawab nama jalannya saja tanpa menjelaskan informasi lainnya. Lalu ketika Ros bertanya mengapa dirinya dan Ayla tidak pernah diajak main ke rumah padahal mereka sudah berteman sejak lama, jawaban Gagah selalu sama sejak itu. “Kalian nggak akan suka main di rumah gue. Rumah gue nggak terawat karena gue cuma tinggal sendiri di sana. Belum lagi koleksi buku-buku lama di rumah numpuk banget. Kalian nggak bakal betah.” Itulah kalimat yang saat itu Gagah ucapkan. Ros sungguh tak menyangka bahwa yang dimaksud oleh pemuda itu dengan koleksi buku lama di rumah yang numpuk itu adalah di sebuah museum di mana mungkin saja Gagah merupakan penghuni dari museum tersebut atau arwah penasaran yang sudah ada di sana sebelum museum berdiri. Jika begitu berarti usia Gagah sudah lebih lama lagi dari perkiraannya. Entahlah, Gagah tergolong yang mana, tapi yang jelas sekarang Ros ingin mengetahui apa dan siapa sosok ini sebenarnya. “Meski lo udah ngasih gue pertanyaan, tapi saat saat ini lo pasti sedang berpikir dan memperkirakan apakah gue adalah arwah penasaran yang mati gantung diri di sekitar sini sampai akhirnya ruhnya tertahan? Atau mungkin gue sudah ada di sini sebelum museum ini berdiri. Yang… kalau udah seperti itu, besar kemungkinan gue bukan hantu biasa.” Gagah tersenyum tipis saat mengucapkan kalimatnya.  Ros memandang Gagah yang masih terlihat tenang. “Jawab pertanyaan gue. Lo ini apa?!” gadis itu mengulang pertanyaannya dan tidak melepaskan cengkeramannya. “Kalau lo mau tahu gue ini apa… lo harus lepaskan gue dulu supaya gue bisa kasih tunjuk wujud gue yang sebenarnya,” balas Gagah sambil melirik ke arah Ros. “Gimana gue bisa yakin? Bisa aja lo melarikan diri kalau sampai gue lepasin.” Ros tidak ingin kecele dua kali. Makanya meskipun hatinya masih sulit mempercayai, namun apa yang dilihatnya saat ini harus diyakininya sebagai kenyataan. Gagah memahami mengapa Ros masih sulit mempercayai dirinya setelah apa yang terjadi saat ini. Dirinya pasti kecewa dan merasa dibohongi. Bukan tidak mungkin Ros juga mempertanyakan kemampuan dirinya dalam mengenali hawa arwah atau manusia yang dulu sering diceritakan padanya. Gagah mengerti jika saat ini Ros membencinya. Jujur saja Gagah pun tak punya pembelaan apa-apa terhadap Ros. Karena Gagah paham ia sudah membuat Ros kecewa sejak mereka berteman. Jadi sangat wajar jika Ros tersinggung atau sulit untuk dapat mempercayainya lagi. “Gue paham kalau lo saat ini marah sama gue, Ros. Tapi gue mohon untuk kasih gue kesempatan terakhir untuk kasih lihat wujud gue yang sebenarnya. Setelah itu, izinkan juga gue untuk bicara dan menjelaskan apa dan kenapa gue masih ada di sini.” Jelas Ros mempertaruhkan segala kepercayaannya lagi pada apa yang Gagah ucapkan barusan. Tapi jika tidak demikian, Ros akan terus penasaran dan tak tahu alasan Gagah masih ada di sini hingga sekarang. Jadi, memang harus Ros yang punya keputusan sendiri terhadap apa yang harus ia lakukan saat ini. Ros akhirnya melepaskan perlahan tangannya dari tubuh Gagah dan membiarkan ia agak menjauh. Gagah kemudian berbalik dan berdiri berhadapan dengan Ros. Mereka sempat bertatapan sebentar sampai akhirnya Gagah menundukkan kepalanya dan kurang dari satu detik ia sudah berubah wujud menjadi jiwa. Mulut Ros sempat ternganga karena ternyata Gagah memang iblis yang sudah ada di bumi sejak lama. Ketika Ros melihat wujud Gagah yang sebenarnya, ia sempat berhadapan dengan dilema akan keputusan selanjutnya yang harus ia ambil. Apakah Ros harus membiarkan saja atau justru segera membinasakannya? Karena Gagah ternyata jenis yang sama dengan jin-jin yang selama ini ia temui atau mengganggu manusia. Bukankah Gagah juga melakukan hal yang sama? Selama ia mengenal Ros, bukankah Gagah juga berperilaku demikian? “Ternyata lo iblis yang memang pengin membinasakan manusia dengan menggoda atau menyesatkan mereka. Karena lo adalah jenis yang sama dengan para jin usil yang selama ini gue hadapi. Lo iseng, lo narsis, kadang lo juga menyebalkan. Lo juga kadang…” kalimat Ros terhenti. Ia bingung harus melanjutkan kalimat apa saat ini. Gagah memperhatikan wajah Ros lalu tersenyum. “Gue nggak pernah menyakiti atau membahayakan nyawa manusia manapun yang ada di sekitar kita, Ros,” katanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN