Sebenarnya, tanpa perlu diingatkan tentang hal tersebut pun, Ros pun ingat bahwa Gagah tidak pernah melukai orang yang ada di sekitar mereka. Meskipun usil, tapi Ros jarang melihat Gagah ‘rese’ sampai harus membuat seseorang terancam. Makanya ketika Gagah mengatakan kalimat tersebut, wajahnya tampak tidak gentar sama sekali dan terlihat cukup percaya diri. Ros tidak heran juga jika sikap Gagah tetap tenang meskipun aura kemarahan jelas terlihat dari sorot matanya yang ditunjukkan.
“Kalau lo coba inget-inget lagi, keisengan yang gue lakukan pada manusia yang ada di sekitar gue adalah karena memang semata-mata iseng dan…” Gagah mencoba mencari padanan kalimat yang tepat. “ya itu udah jadi garis takdir nggak, sih? Karena bangsa kami memang sudah diciptakan demikian. Itu tuh udah jadi ketentuan alam semesta yang nggak mungkin bisa lo lawan.” Gagah berusaha menjelaskan dengan cara yang amat sederhana. Meskipun entah apakah Ros akan memahami atau tidak.
“Kadang-kadang, bangsa gue dan bangsa lo bisa saling mengcopy dan mengadaptasi tingkah polah satu sama lain tanpa disadari. Makanya mungkin lo sudah sering mendengar ungkapan, ‘zaman sekarang banyak banget manusia yang tingkahnya kayak iblis’,” ucap Gagah seolah menirukan kalimat orang-orang mengenai perilaku manusia yang tidak berperikemausiaan. “Ya, mungkin kalimat gue nggak sama persis tapi lebih kurangnya seperti itu lah,” lanjutnya sambil masih memperhatikan Ros.
Ros masih menatap lurus ke arah Gagah dan menjawab apa yang diucapkan oleh Gagah barusan. “Lo tahu sendiri gue nggak akan pernah membiarkan ada iblis yang berkeliaran di sekitar gue tanpa gue bertindak apapun sama sekali,” kata gadis itu.
Gagah tersenyum. “Lo nggak pengin denger dulu apa sebenarnya yang menyebabkan gue berusaha sekuat tenaga mengendalikan karakter alami gue? Padahal tentu saja itu sudah digariskan oleh Pemilik Semesta untuk gue miliki.” Gagah memperhatikan wajah Ros yang ekspresinya sama sekali tidak berubah. Ia pun melanjutkan kalimatnya. “Itu semua karena gue berjumpa sama lo.” Jelas saja kalimat tersebut membuat Ros menyipitkan kedua matanya. “ Lo pasti nggak percaya gue.”
“Bagaimana bisa lo mengharapkan gue untuk mempercayai lo setelah ini semua?” tanya Ros sambil memperhatikan dengan lurus dan saksama wajah Gagah.
Gagah pun mengangguk. “Harusnya juga gue sadar diri gue adalah makhluk hina yang nggak mungkin bisa dipercaya kaum kalian manusia. Tapi lo tuh beda, Ros.”
Ros tak memahami sama sekali ke mana arah tujuan Gagah ini. “Kalau lo lagi berusaha merayu atau memengaruhi gue dengan kebohongan lo, gue saranin berhenti melakukan itu. Seperti yang tadi lo bilang, kita adalah dua kaum yang berbeda.”
“Gue tentu aja sadar, Ros. Gue pun nggak mengharapkan lo mentah-mentah mempercayai apa yang akan gue sampaikan ke lo. Tapi bisakah lo mendengarkan gue sekali ini aja?” pinta Gagah. “Kesempatan yang lo berikan ke gue bakal gue manfaatin buat menceritakan semuanya ke lo. Meskipun gue nggak bisa ngasih jaminan, tapi gue harap lo masih mau buat kasih gue satu aja kesempatan,” ujar Gagah lagi.
“Karena sekarang gue tahu lo bukanlah iblis biasa, jadi gue rasa lo punya kekuatan tinggi buat menyampaikan apa yang sudah lo lalui bukan dengan kata-kata.”
Gagah tahu Ros akan memintanya untuk melakukan hal tersebut. Makanya ia sudah mempersiapkan dirinya setiap hari saat sampai harus berhadapan dengan kalimat yang diungkapkan oleh Ros barusan. Ia pun mengangkat tangan dan membuka telapak tangannya tersebut. Gagah memberikan isyarat agar Ros mau mendekatkan tangannya untuk lebih dekat dengannya. Lagi-lagi Ros mempertaruhkan kepercayaannya pada sosok iblis yang seharusnya tidak ia dengakan. Ros tak tahu apakah ini bentuk syirik atau bukan. Namun Tuhan pasti sudah menyetel sejak awal.
Ketika kedua tangan Gagah dan Ros sudah berdekatan, mendadak Ros dibawa dengan sangat cepat ke memori yang dimiliki oleh iblis satu ini. Ros tidak tahu bagaimana iblis ini melakukannya. Hanya saja ia ingat bahwa iblis merupakan salah satu makhluk yang memiliki kecerdasan luar biasa. Segala hal dapat dipelajari dengan mudah. Mungkin hal ini juga sudah dipelajari oleh Gagah sejak ratusan tahun yang lalu.
Dalam memori yang coba disampaikan oleh Gagah pada Ros, Gagah menunjukkan sudah ribuan lamanya Gagah mencari seseorang yang dapat membantunya untuk mengendalikan diri dan naluri yang mengalir dalam darahnya. Saat Gagah berjumpa Ros, Gagah langsung menyadari bahwa Ros bukan manusia biasa dengan kemampuan standar layaknya dukun kampung yang kebanyakan hanya mengobral janji dan kata-kata. Kemampuannya tersebut bukanlah sekadar sihir atau mantra-mantra biasa yang bisa dengan mudah dipelajari hanya dengan bertirakat atau bertapa. Kekuatan yang saat ini dimiliki Ros memang jauh lebih besar dari yang bisa Ros duga. Hal tersebut sama sekali tidak disadarinya sampai ia bertemu Taji. Dan sekarang, melalui ingatan yang ditunjukkan oleh Gagah, Ros meyakini hal tersebut sebagai sebuah hal yang nyata. Bahwa dirinya memang memiliki kekuatan yang jauh lebih tinggi dari yang ia tahu selama ini. Hanya saja masalahnya mengapa ia tak tahu?
Bagaimana mungkin Ros sampai tak tahu bahwa dalam tubuhnya ada kekuatan besar semacam itu? Melalui memori yang ditunjukkan oleh Gagah juga lah, Ros melihat bahwa setiap kali dirinya sedang bersama teman-temannya, ada semacam energi positif yang selalu terpancar dan menyembulkan aura ke sekelilingnya. Hal tersebut kerap membuat iblis lain ada yang terusik bahkan ingin mengelabui Ros agar dapat menyerap energi miliknya, dan ada juga yang malah ingin membinasakannya segera.
Melalui ingatan yang coba ditunjukkan oleh Gagah tersebut, Ros pun bisa jauh lebih yakin dengan apa yang sudah disampaikan oleh Taji sejak awal mereka berbicara.
Gagah sudah melepaskan tangannya dan Ros pun sudah menurunkan perlahan tangan yang ia gunakan untuk melihat ingatan dalam kepalanya. Mereka berdua masih bergeming. Gagah juga tak ingin bicara duluan karena memang harus Ros yang mulai.
“Jadi… kekuatan gue selama ini tuh belum seluruhnya gue keluarkan?!” tanya gadis itu sambil tetap memperhatikan ke arah Gagah. “Lo nggak mencoba melebih-lebihkan, kan?!” Meski tidak menyipitkan matanya, tapi Gagah tahu Ros serius.
“Untuk apa gue lakukan itu setelah lo tahu juga dengan identitas gue sekarang? Sama aja cari mati nggak, sih?!” Gagah mengembalikan pertanyaan. “Udah jelas gue nunjukin ingatan gue itu biar lo nggak membinasakan gue. Ngapain juga kudu gue lebih-lebihkan, Ros? Nggak ada untungnya sama sekali buat gue,” lanjut cowok itu.
Ros terdiam dan membenarkan apa yang baru saja diucapkan Gagah. Memang tidak ada untungnya sama sekali jika sampai Gagah berani mengarang bebas padanya saat ini. Untuk ukuran iblis senior, jelas Gagah tidak akan segegabah itu.