Meragukan Eksistensi

2143 Kata
Ros menyadari bahwa saat ini Gagah bisa saja hanya memanfaatkan dirinya hingga memanipulasi fakta bahwa pemuda ini adalah bagian dari bangsa iblis yang harusnya ia binasakan. Karena selama beberapa waktu ini, Gagah berpura-pura sebagai manusia dan membaur dengan manusia lainnya seolah-olah adalah bagian dari mereka. Jika ingin diingat lagi, Gagah memang tidak pernah melanggar batas dengan sengaja membahayakan atau melukai manusia. Mereka yang pernah terlibat komunikasi dan interaksi dengan Gagah pun pasti akan mengatakan hal yang sama. Gagah memang usil, jahil, dan kadang menyebalkan. Tapi ya jahil dan usilnya sekadar bercanda, bukan untuk tujuan sampai mencelakakan atau membahayakan mereka. Jadi, kalau mau ditelusuri memang sebenarnya tidak pernah ada tindakan Gagah yang bisa diperkarakan. Hanya saja, karena menurut Ros bahwa keadilan dan kebenaran tetap harus ada di jalurnya, makanya gadis itu mempertimbangkan untuk melenyapkan Gagah sekalian. Masalahnya, Gagah tahu bahwa kekuatan Ros saat ini sama sekali tidak ada setengahnya dari kekuatan yang dimilikinya. Kalau Ros memang berencana untuk membekuk Gagah, setidaknya kekuatannya harus melampaui iblis ini. “Gue tahu, agak sulit mungkin buat lo mempercayai iblis kayak gue. Tapi sungguh Ros, untuk membaur bersama bangsa gue dan menjerumuskan manusia pun gue nggak kepikiran. Cuma memang, gue punya tujuan utama mengapa akhirnya gue berusaha untuk dekat dan berteman dengan lo,” kata Gagah sambil menatap mata Ros. “Memangnya apa tujuan utama lo deketin dan berteman dengan gue?” Ros mencoba memberikan kesempatan untuk mempercayai apa yang akan Gagah ucapkan padanya. Meskipun ia mungkin saja akan menyesali keputusannya. “Karena lo bisa membantu gue untuk mengendalikan itu, Ros. Karena kalau satu kali aja gue udah lepas kendali dan menyentuh manusia dan menjerumuskan mereka, bukan nggak mungkin gue juga akan lupa sama gue yang saat ini ada di depan lo. Karena hawa untuk menggoda dan terus mengulang kejadian menjerumuskan manusia akan terus membakar hati gue sampai akhirnya gue merealisasikannya. Pertaruhan gue ini besar, Ros. Gue sendiri kadang nggak mengerti kenapa gue sampai harus sepeduli ini sama perasaan atau nasib manusia.” Gagah menggelengkan kepalanya.  Ros hanya fokus mendengarkan apa yang diucapkan oleh Gagah padanya tanpa rencana untuk menginterupsi atau menyanggah kalimat pemuda ini.  “Gue sempet berpikir mungkin memang ada sedikit sifat manusiawi yang tertinggal di dalam diri gue sampai gue merasa nggak sampai hati buat melihat manusia menderita. Meskipun gue tahu dunia ini buruk dan banyak orang-orang serakah, tapi tetep aja ada banyak manusia manis, berhati lembut dan arif yang bisa membuat dunia jadi lebih baik dari yang bisa kita duga,” tutur Gagah lagi. “Lo juga pasti sepakat, kan?!” Tentu saja Ros sepakat, hanya saja ia tak mungkin terang-terangan mengatakan hal tersebut di depan Gagah. “Hmm, yah, mudah-mudahan aja memang bener begitu,” katanya sambil lalu. “Terus apa yang bisa gue lakukan supaya lo nggak jadi iblis yang menjerumuskan dan menempel pada orang-orang lemah iman?” tanyanya kemudian. Mendengar pertanyaan Ros barusan, Gagah tersenyum kecil. “Sebelumnya gue udah bilang bahwa urusan menggoda atau menjerumuskan manusia itu sudah ada dalam darah gue. Itu udah jadi takdir semesta yang nggak bisa gue gugat. Tapi gue pengin untuk jadi iblis yang nggak melukai atau mencelakakan manusia. Gue nggak mau itu terjadi.” Saat mengucapkan kalimat barusan, wajah Gagah berubah keruh. “Kalau sampai itu terjadi dan gue melukai dan mencelakakan manusia, energi negatif yang akan mendekati gue justru semakin banyak.” Kalimat Gagah, lagi-lagi terhenti. “Lo mungkin nggak tahu atau memperkirakan ini tapi itu bisa aja akan mengubah jati diri gue menjadi lebih jahat lagi. Secara nggak sadar gue akan merasa ketagihan untuk melakukannya lagi karena yah… mungkin hampir sama seperti kalian saat melakukan hal yang disuka. Ada semacam kepuasan dalam diri dan gue nggak mau itu terjadi.”  Ros memperhatikan wajah dan ekspresi Gagah dengan saksama. Ros lumayan lama mengenal dan berinteraksi dengan Gagah. Meski baru menyadari bahwa sebenarnya Gagah adalah iblis, tapi ada beberapa ekspresi yang tetap sama dari pemuda ini. Ekspresi ketika sedang dalam keadaan atau situasi tak aman tak berubah. “Lo tahu, waktu kejadian bokapnya Ayla kecelakaan, gue hampir aja ketahuan oleh kalian semua,” kata Gagah sambil memperhatikan sesuatu di kejauhan sana. “Karena gue merasa pernah mengenali energi yang tertinggal di motor bokapnya Ayla. Hanya saja cukup samar dan gue sungguh kesulitan saat menyentuh energinya. Tapi gue sangat yakin, gue pernah bersinggungan dengan energi itu satu kali selama gue deket sama lo. Kalau bukan dari salah satu satu iblis yang mungkin pernah lo hadapi, mungkin dari temen baru lo yang saat ini sedang menunggu lo dengan gelisah di sana.” Mendengar kalimat Gagah barusan, Ros hampir terlupa bahwa ia meninggalkan Taji yang pasti sedang menunggu dirinya di pemakaman keluarganya yang tersegel. “Gimana lo tahu kalau…” Ros tidak melanjutkan kalimatnya tersebut. Dia pun baru menyadari kalau Gagah pernah menunjukkan secara terang-terangan bagaimana ingatan yang ia miliki pada Ros tadi, bukan tidak mungkin ada memori yang dia miliki juga yang terbawa saat mereka terkoneksi. Terlepas dari sengaja atau tidak, Ros harusnya tidak mempertanyakan bagaimana Gagah bisa tahu apa yang ia alami. “Lo udah tahu sejak awal kalau dia juga bukan manusia?!” tanya Ros dengan nada datar. “Bukannya gue mau meremehkan kekuatan atau kemampuan lo, gue juga penasaran dengan apa yang sudah terjadi pada lo sampai lo tidak bisa mendeteksi dari kali pertama lo ketemu sama Taji. Tapi memang sulit untuk tidak merasakan hawa atau frekuensi yang nyaris sama ketika ketemu Taji pertama kali.” Gagah menahan senyum. “Tapi gue nggak bisa tahu niat atau tujuan mendekati lo. Mungkin dia udah memproteksi pikiran dan dirinya sendiri sampai gue nggak bisa melihat lebih dalam,” katanya lagi. Kalau Gagah saja tahu bahwa Taji bukan manusia, ada kemungkinan Taji juga tahu kalau Gagah… “Bisa jadi dia tahu kalau gue bukan orang, Ros. Pikiran lo bener,” serobot Gagah pada apa yang barusan dipikirkan oleh Ros dan diucapkan secara jelas. “Jadi… satu-satunya yang nggak tahu dan menyadari kalau selama ini gue dikelilingi oleh makhluk-makhluk astral yang cuma gue sendiri, ya?!” Ros berucap gamang. “Berarti memang ada sesuatu yang membuat gue nggak bisa memaksimalkan kekuatan gue padahal gue punya potensi besar untuk mengendalikan banyak hal. Tapi entah karena apa, akhirnya gue nggak bisa mengeluarkan semua yang gue bisa.” Ros menoleh pada Gagah yang masih berdiri menunggu sampai ia bereaksi. “Gue jadi penasaran siapa gue sebenarnya? Apa tujuan gue lahir ke dunia dan untuk apa gue hidup? Siapa nyokap gue, siapa nenek moyang gue… gue sepertinya harus tahu.” “Lebih cepat lo cari tahu mungkin lebih baik, Ros,” sahut Gagah. “Tapi jangan lupa, ada makhluk gaib yang sengaja mempertaruhkan eksistensinya untuk bisa hidup dengan menunjukkan wujud yang sebenarnya ke lo.” Gagah masih tersenyum tipis. Ros tak mengerti siapa yang dimaksud oleh Gagah, apakah Taji atau dirinya sendiri. Hanya saja Ros merasa apa yang diucapkan oleh Gagah memang ada benarnya. Mungkin keberadaannya di dunia ini memang untuk membantu lebih banyak orang yang memerlukan tenaga dan kekuatannya untuk bertahan. Selama ini Ros tidak memedulikan tentang bagaimana orang lain selama dirinya baik-baik saja dan pekerjaan yang ia jalani lancar tanpa halangan. Namun sekarang, Ros tidak ingin melakukan apapun secara biasa saja. Ia harus melakukan sesuatu yang serius untuk hidupnya, dan untuk segala tujuan yang sudah dititipkan keluarganya saat dirinya lahir. “Karena gue tahu lo akan selalu berusaha untuk membuat segala sesuatu tetap berada di jalurnya. Lo nggak akan membiarkan sampai ada yang menyimpang dan tak sesuai aturan. Begitulah gue melihat cara lo hidup selama ini,” ungkap Gagah yang membuat Ros agak malu sendiri karena apa yang diucapkan pemuda ini benar adanya. “Di sisi lain tentu saja membuat lo menjadi salah satu manusia yang memiliki peran besar dan penting dalam upaya untuk membuat dunia ini damai dan tetap berjalan sesuai rencana. Tapi gue harap lo juga jangan lupa bahwa ada hal-hal yang masih bisa diantisipasi sejak dini agar tidak timbul efek yang jauh lebih besar, yang ketika lo mau mengatasinya… lo udah nggak bisa karena lo sudah terlalu terlambat.” Sesungguhnya Ros langsung merasa terganggu dengan apa yang diucapkan oleh Gagah barusan. Ros bukanlah tipe gadis yang bisa biasa saja dalam menanggapi penyesalan. Karena gadis itu tahu betapa tidak nyaman ia ketika harus bergulat dengan rasa sesal dan deritanya itu masih akan membayangi meski tahun sudah berganti. ** Ros segera kembali ke tempat Taji di mana ia sudah menunggu dengan gelisah. Ketika gadis itu datang lagi ke area pemakaman, Taji sedang menaburkan bunga di atas pusar ayah ibunya. Ros agak ragu-ragu untuk menyapa atau mengeluarkan suara. “Gue yakin sifat nggak enakan yang satu ini adalah turunan dari nyokap lo,” ucap Taji yang kontan mengagetkan Ros. Cowok itu menyudahi aktivitasnya tersebut dan menatap ke arah Ros. “Lo udah tahu siapa Gagah sebenarnya, sekarang?!” tanyanya. “Hmm, ya ternyata kalian ini sama-sama makhluk astral makanya bisa saling mengenali satu sama lain begitu ketemu,” jawab Ros dengan nada yang agak pasrah. Taji tahu hari ini akan datang. Hari saat Ros tahu semua tentang apa yang selama ini tak ia sadari karena ada sesuatu yang menutupi kekuatannya agar tidak keluar. Makanya meski Ros mungkin akan merasa kecewa atau sedih, tapi Taji siap dengan risiko yang dia hadapi. Perkiraan Taji, Ros akan marah dan ngamuk sekalian. Namun ternyata, gadis itu hanya menghela nafas dalam dan tak bereaksi apa-apa lagi. “Lo yakin nggak pengin meluapkan kekesalan lo saat ini ke gue? Marah atau ngamuk dan mencaci maki gue misalnya?” Taji bahkan sudah siap dengan risiko seperti ini. Hanya saja, yang terjadi Ros justru duduk di atas rumput lalu memandang langit. “Kalau lo udah mendongak ke atas tandanya lo lagi sedih atau putus asa. Nah, sekarang yang terasa lebih dominan yang mana?” tanya Taji lalu berjalan mendekat. Gadis itu menggelengkan kepalanya lesu. “Sesungguhnya gue nggak tahu manakah yang sedang lebih dominan daripada yang satu. Tapi saat ini di pikiran gue kayaknya ruwet banget,” akunya masih memandang langit. “Belum selesai urusan gue mau resign jadi dukun, dateng satu makhluk yang katanya sudah lama menantikan kelahiran gue dan siap menukar segalanya dengan gue asal gue membantu dia. Otak gue belum selesai mencerna fakta itu, bokap sahabat gue sendiri malah kecelakaan serius dan sekarang harus dirawat di Rumah Sakit.” Ros menghela nafasnya. “Gue masih shock karena gue mau mencari siapa yang berulah sampai bikin bokap Ayla kecelakaan. Eh gue malah menangkap basah dengan mata kepala gue sendiri kalau orang yang udah gue anggep sahabat selama ini sebenarnya bukanlah manusia.” Ros lalu memeluk kedua lututnya sendiri dan memperhatikan rumput di kakinya. “Entah apa lagi fakta yang saat ini masih belum terbongkar, tapi kayaknya gue belum siap untuk menerima kenyataan baru lagi. Apalagi sampai kenyataan yang mencengangkan dan nggak masuk di akal,” ungkap gadis itu lalu tersadar bahwa Taji sudah ikut duduk di sampingnya. “Kalau lo mau mengucapkan kata-kata mutiara atau motivasi, gue peringatkan dari sekarang mending lo nggak perlu ngomong apapun.” Pemuda itu tersenyum dengan ancaman Ros yang terdengar sungguh-sungguh. “Gue bukan mau memotivasi lo atau mengucapkan semacam kata-kata penyabar kok. Justru gue mau lo melihat dengan lebih jelas dan menyadari juga bahwa memang sudah sejak awal penciptaan ini terjadi, lo harus sudah terbiasa dengan banyak hal yang nggak masuk di akal,” kalimat Taji barusan membuat Ros menoleh padanya. “Gue sempat lupa kalo lo udah ratusan tahun lamanya bergaul dengan manusia dan berbaur bersama mereka,” kata Ros. “Makanya nggak heran kalau pikiran dan kata-kata sentimental seperti yang lo barusan ucapkan bisa keluar dengan lancar.” “Tapi ya bukan karena gue udah bergaul dan berbaur dengan banyak manusia juga, sih. Karena pada dasarnya gue sebelumnya memang manusia. Beda dengan temen deket lo yang memang sejak awal adalah iblis,” sahut Taji tidak mau kalah. “Gue lagi nggak mau terlihat sok pinter dan kuat juga sekarang. Karena sadar gue memang nggak punya kemampuan untuk mengenali kalian sejak awal, ya gue bersedia dapat sebutan cupu dari lo sekarang,” kata Ros seperti enggan berdebat. Taji tersenyum. “Lo bukannya nggak punya kemampuan itu, tapi kemampuan lo sengaja dibiarkan mati suri,” balasnya masih menatap lurus ke depan. “Yang entah gimana cara bilangnya tapi gue merasa hal itu cukup ganjil. Karena rasanya aneh aja kalau sampai orang tua lo sendiri yang melakukanya. Karena mustahil mereka memberikan kemampuan lo itu hanya untuk disegel lagi, kan?!” kata Taji seolah bertanya pada dirinya sendiri. “Jadi menurut gue, ada orang lain yang melakukannya.” “Orang itu sengaja menutupnya biar gue nggak tahu siapa diri gue yang sebenarnya?” Ros mengucapkan kalimat tersebut seolah tak yakin dengan dugaannya. “Kenapa terdengar seperti makin menakutkan buat gue sendiri, ya?! Gue jadi meragukan diri gue dan siapa gue sebenarnya.” Ros menoleh pada Taji yang juga menoleh padanya. “Bagaimana kalau gue ternyata juga adalah orang jahat?” Pertanyaan Ros barusan sebenarnya bukan ditujukan pada Taji melainkan dirinya sendiri. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN