Saat ini memang ada kecenderungan untuk Ros berpikir hal yang tidak-tidak terutama tentang dirinya sendiri. Selama ini dia merasa tidak pernah mencurigai dirinya sendiri. Semua yang ia miliki termasuk nama, latar belakang, dan keluarga tidak ada satupun yang mencurigakan. Hidup dan tumbuh dewasa dengan kemampuan yang membuatnya jadi sorotan bahkan perbincangan membuat Ros menjadi sangat terbiasa. Meski tentu saja pada mulanya, hal tersebut membuatnya sedih bahkan sampai terluka.
Ros membaur dengan orang-orang yang ada di sekelilingnya sambil berharap suatu saat dirinya akan diterima. Hingga mimpinya itu tak pernah jadi nyata, namun Ros tidak pernah menyerah dan berhenti. Hingga kemudian sikap naifnya hampir membuatnya kehilangan nyawanya sendiri. Saat Ayla menolong dan menyelamatkan nyawanya, Ros baru merasakan bagaimana indahnya berinteraksi dengan sesama manusia. Bagaimana melihat ia bisa berlarian ke sana ke mari dengan kaki yang memijak bumi, atau saat dia melihat Ayla menyantap makanan kesukaannya dengan lahap. Ros baru tersadar juga bahwa arwah-arwah itu tak pernah makan apa yang ia makan. Mungkin seharusnya sejak awal Ros memang harus bercuriga dengan hal itu.
Berat bagi Ros melalui ini sendirian. Bapak memang selalu mengupayakan agar menemani dan bersamanya. Terutama jika Ros harus menghadapi jin-jin usil yang sudah bertransformasi menyerupai manusia yang jauh lebih sulit dikenali. Dengan bantuan Bapak, Ros bisa dengan lebih mudah mengenali penyamaran mereka. Dari situ sebenarnya Ros sudah sadar juga bahwa sudah banyak sekali iblis yang bertransformasi hingga bisa bersosialisasi dan hidup layaknya manusia tanpa dicurigai.
Harusnya Ros menyadari kemungkinan tersebut sejak awal ia memutuskan untuk bersosialisasi. Harusnya Ros bisa memperkirakan bahwa orang yang ada di sekitarnya bisa saja makhluk astral yang sedang melakukan penyamaran dan membaur dengan manusia. Karena beberapa kali, Ros pernah mengalami hal tersebut sampai akhirnya sedikit tahu bagaimana cara membedakan mana yang manusia dan mana yang adalah iblis yang sedang menyamar. Sesungguhnya saat ini Ros ingin mengutuk dirinya sendiri karena sudah bisa berjalan sejauh ini tapi masih tidak mengenal kemampuan yang ia miliki. Memang tidak dapat disalahkan. Karena bagaimana Ros mau mengenal, tahu bahwa dia mempunyai kemampuan tersebut saja baru beberapa hari ini. Itu pun karena diberi tahu lalu diperlihatkan dengan jelas dan terbuka sejauh mana kekuatan yang ia punya. Jika itu tidak dilakukan, Ros pun mungkin tidak percaya.
Melihat bahwa Ros seperti sibuk dengan pikirannya sendiri, Taji membiarkannya saja. Karena mungkin Ros masih memerlukan waktu untuk menerima kenyataan yang seolah ditumpahkan sekaligus di depan mata. Kaget dan bingung pasti sedang Ros alami saat ini. Makanya Taji tidak ingin menginterupsi. Ia biarkan saja sampai Ros kembali sadar dengan sendirinya. Gadis itu pasti perlu waktu untuk diam sejenak.
“Apa lo lagi berpikir bahwa saat ini gue sedang mencerna kenyataan?” tanya gadis itu, masih tanpa menoleh. “Atau mungkin lo berpikir apa yang bisa lo lakukan untuk membuat hati gue jauh lebih baik?!” Karena Taji tak memberikan reaksi, Ros pun menoleh. Ia melihat pemuda itu hanya terdiam sambil menahan senyum di bibirnya.
“Sebenernya gue memang berpikir begitu. Tapi gue nggak mengerti kenapa lo bisa tahu dengan apa yang gue pikirkan tadi,” balas Taji kemudian menggaruk kepala.
Ros melemparkan pandangannya kembali ke depan dan mengangkat bahu. “Feeling aja sih kalau lo bakal berpikir begitu. Gue nggak yakin kalau bener,” balas Ros. “Setelah beberapa waktu gue mendapatkan banyak sekali fakta yang ditumpahkan semuanya di depan muka, gue rada bingung sekarang musti menyelesaikan masalah gue yang mana dulu,” ungkap gadis itu dengan nada gamang. “Gue beneran bingung.”
“Kalau gue boleh kasih saran, coba lo telusuri lagi apa yang paling mengganggu lo saat ini, dan coba untuk menyelesaikan itu dulu.” Ros menoleh pada Taji. “Lo bisa pakai waktu yang saat ini lo punya sebelum bertindak. Coba renungkan sebentar deh.”
Gadis itu coba mengikuti apa yang disarankan oleh Taji barusan. Merenungkan dengan dalam apa yang paling mengganggu dan membuatnya resah sepertinya akan cukup membantu dirinya. Ros tak tahu apakah ini sudah benar atau tidak, tapi sesuatu yang sedang membuatnya gelisah saat ini justru tentang dirinya sendiri. Siapa dia sebenarnya? Apakah penilaian Ros terhadap dirinya selama ini terlalu berlebihan?
Ros kembali memperkirakan apakah mungkin pantas untuknya mengedepankan dirinya dulu sebelum kepentingan orang lain? Apakah hal tersebut boleh ia lakukan? Sesuatu yang tak dapat dijelaskan kemudian seperti berbunyi sendiri di kepala Ros.
“Mengetahui siapa diri sendiri dan mengenal lebih dalam sejarah sampai akhirnya terlahir ke dunia bukanlah suatu tindakan yang egois. Tenang saja!”
“Hmm?” Ros langsung menoleh pada Taji. “Lo ngomong barusan?!” tanyanya.
Taji nampak bingung karena ia sedang membuat beberapa bentuk tanaman baru dengan rumput pendek yang ada di hadapannya. Jelas saja Taji kontan menggeleng saat Ros bertanya. Pemuda itu hanya menunjukkan aktivitasnya sejak tadi yang tidak mengeluarkan suara sama sekali. Ros pun bukan tidak melihat. Tapi ia merasa tidak ada orang lain di sana yang bisa mengeluarkan suara dengan jelas sampai seakan bergema di dalam kepala. Ros mengalihkan pandangannya untuk mencerna apa yang tadi ia dengar. Mengetahui siapa dirinya lebih dalam sama sekali bukan tindakan egois.
“Kayaknya gue tahu deh gue harus ngapain dulu sekarang,” ucap Ros sambil kembali menoleh pada Taji yang saat ini sudah membentuk sebuah pot bunga dari rumput yang semula ia olah. Ros tidak terlalu memperhatikan apa yang Taji buat dan lebih fokus pada apa yang hendak ia utarakan selanjutnya. “Gue tahu kudu ngapain.”
“Harus ngapain dulu?” tanya Taji yang kemudian melepaskan mantranya dari rumput-rumput di hadapannya yang langsung kembali pada bentuk mereka semula.
“Gue akan mencari tahu siapa gue sebenarnya. Karena sekarang gue merasa mulai penasaran dengan jati diri dan asal usul gue sendiri. Siapa leluhur gue yang sebenarnya? Seperti apa mereka atau kekuatannya? Siapa gerangan gantung siwurnya? Bagaimana rupa ibunya dan sehebat apa kekuatannya?” Ros menjabarkan apa saja yang sedang sangat ingin ia ketahui di depan Taji. “Gue pengin mencari semua jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tadi. Entah gimana caranya, gue harus bisa menemukan jawabannya itu segera,” ungkap Ros lagi. “Gue harus cari tahu!”
Pemuda di samping Ros itu menganggukkan kepalanya. “Kalau lo udah tahu apa yang sedang jadi pertanyaan lo, berarti lo tahu harus ngapain dulu?” tanyanya antusias.
Semula Ros tersenyum sumringah dan sangat bersemangat tentang apa yang harus ia lakukuka segera. Tapi berkat pertanyaan Taji barusan, senyum Ros mendadak lenyap. “Gue belum tahu juga sih harus ngapain dulu,” katanya berterus terang.