Mencoba Mencari Kawan

1296 Kata
Ada beberapa teman yang mau berkomunikasi dengannya saat menanyakan soal kecocokan dengan gebetan, tafsir mimpi, atau perasaan dihantui makhluk halus. Selebihnya, mereka pasti langsung membatasi diri dan obrolan dengan Ros meskipun gadis itu selalu berusaha untuk mengajak mereka bicara tentang hal lain di luar ‘dunia lain’. Terkadang, Ros jadi merasa seperti alien. Atau bahkan lebih buruk lagi dari itu. Ros terus berjalan ke kantin. Di sana dia langsung memesan semangkuk soto ayam dan sebotol air mineral. Dia tahu, tidak mungkin bisa duduk dengan teman-teman sekelasnya meskipun sangat ingin membaur dengan mereka. Selalu tidak ada bangku kosong jika Ros sengaja mendekat. Selalu tidak ada tempat tersisa apabila Ros datang. Saat Ros menghampiri gerobak soto dan mengatakan pesanannya, tiba-tiba perasaan itu datang lagi. Perasaan seperti diikuti dan diperhatikan. Dengan mata batinnya Ros coba memusatkan radarnya untuk  mendeteksi keberadaan sebenarnya makhluk tersebut. Sepertinya tak jauh dari pintu masuk kantin sekolah. Dengan sekali lihat dia langsung melemparkan pandangannya ke sana. Dapat! Akan tetapi, sosok itu kemudian langsung menghilang dalam sekejap ketika Ros sedang memindai makhluk apakah gerangan yang mengintainya tersebut. Ros masih memperhatikan ke pintu masuk kantin dengan saksama. Dia tahu, pasti ada yang tidak beres di sini. Tanpa Ros sadari pak Yana, penjual soto ayam yang dia pesan tadi sudah ada di depannya. Bingung kenapa Ros menatap ke arah pintu kantin dengan pandangan penuh pandangan curiga. “Ng- maaf, Neng. Ini soto ayamnya yang tadi dipesen. Sama es jeruknya juga.” Pak Yana agak terbata sambil mengangsurkan pesanan Ros. Kesadaran Ros kembali. “Eh, iya, pak. Makasih. Oh, iya, ini uangnya.” “Oh, sebentar saya kasih kembaliannya dulu ya, Neng.” Ros menganggukan kepala seraya tersenyum dan menantikan kembalian dari Pak Yana. Saat melihat soto ayam di mangkuk dihadapannya, serta merta air liur Ros pun menetes. Dia pun mengabaikan pertanyaan dan rasa penasarannya tentang apa sosok yang dilihatnya tadi. Saatnya menikmati salah satu kegiatan manusiawi yang masih bisa dia lakukan di tengah manusia lainnya siang ini. * Hari ini berlalu seperti biasanya. Selesai jam terakhir dan pak Edi memberikan PR yang tidak sedikit, teman-teman kelas pun otomatis membubarkan diri. Ros pun sama. Setelah alat tulis dan buku telah dia masukan ke dalam tas, dia pun beranjak dari kursinya. Tapi gerakannya dia buat sepelaaaaaaaaaaaaaan mungkin. Dia tidak ingin terburu karena ingin menikmati pemandangan teman-temannya bergosip di kelas. Meskipun pembicaraan mereka terdengar standar. Misalkan seorang anak baru yang kini menghuni kelas XI IPS 2, atau dandanan ratu prom tahun lalu yang kini mulai jadi tren, atau krim pemutih wajah yang sedang laku keras di pasaran. Ros sama sekali tidak peduli dengan itu. Yang dia perhatikan adalah reaksi teman-temannyan dan bagaimana cara mereka berinteraksi dengan orang lain. “Hai, kalian mau pulang, ya?”  Sumpah, itu basa basi yang kelewatan basinya. Entah dari mana keberanian Ros muncul. Empat teman sekelasnya yang masih membereskan buku dan perlengkapan lainnya menoleh ke arahnya. Dua diantara mereka tersenyum janggal dan mengangguk lambat. Dua lainnya mengacuhkan lalu kembali dengan aktivitas mereka. Ros menggigit bibir bawahnya. Apa yang salah dari sapaannya tadi, ya? Perasaan wajahnya yang  biasanya terkesan kaku, kini dipaksakannya untuk tersenyum. Semanis mungkin yang dia mampu. Tapi apa mereka masih tidak bisa melihat wajah Ros yang sebetulnya manis itu, ya? Atau dia salah menarik urat bibirnya? Empat teman sekelasnya itu bergegas keluar ruangan tanpa pamit atau berbasa-basi. Begitu sampai di depan gerbang beberapa teman sekelasnya nampak mengobrol dengan penuh semangat. Sambil tertawa-tawa pula. Nampak asyik dan Ros ingin bergabung bersama mereka. Gadis itu pun kembali memberanikan diri mendekat pada mereka. Dua diantara mereka adalah Shinta dan Delta yang bangkunya tak jauh dari bangkunya. “Hai, temen-temen.” Ros mengangkat telapak tangannya ke arah mereka.  Obrolan seru itu otomatis terhenti. Pusat pandangan mereka kini hanya pada satu objek. Ros. Dia mencoba tersenyum hangat. Tapi sedetik kemudian teman-temannya mulai meneruskan obrolan lagi dan tak menganggap Ros ada di situ. “Jadi kita mau jalan kemana nih, guys?” tanya Shinta pada yang lainnya. “Eh, kalian mau jalan? Ke mana? Aku boleh gabung nggak?” Ros kontan antusias. “Memangnya lo bisa gabung sama kita? Lo lagi nggak ada kerjaan?” Ros tahu kemana arah pembicaraan ini. Dia berusaha tetap tenang dan tidak menganggapnya sebagai suatu sindiran. “Nggak ada. Hari ini aku kosong. Boleh kan, aku gabung sama kalian?” kini nada bicara Ros terdengar mendesak. Dia seperti sengaja menjejalkan diri di tengah teman-temannya ini.  Shinta dan Delta bertatapan. Begitu juga dengan empat orang lainnya. “Hmm, gimana, ya?” Shinta nampak mempertimbangkan. “Nggak apa-apa, kan, Ros ikut? Lagian kita cuma mau ke Oh La La Café doang. Di sana juga paling kita mau cekikikan bahas si Romi anak IPA 3 itu kan?!” celetuk Delta lugu. Shinta melotot dan langsung menginjak kaki Delta hingga gadis itu meringis kesakitan. “Adaw! Gue salah apa, Shin?” tanyanya masih polos. Ros tetap tidak peduli dengan sikap menolak dari Shinta. Dia tetap ingin mengikuti kegiatan (normal) teman-temannya ini.  “Gimana, teman-teman? Aku boleh gabung kan? Kita nanti berangkat sama-sama ke Cafe Oh La La pakai mobilku aja.” “Eeehh, seru tuh. Naik mobilnya Ros. Di dalemnya pasti ada kemenyan sama kembang-kembangan.” Sekali lagi celetukan Delta menyebabkan kakinya diinjak oleh Shinta. Kali ini dengan lebih niat. Delta sampai akhirnya menutup mulut dan langsung manyun sepenuh hati. “Eh, beneran nih elo mau ikut?” tanya Shinta seakan memastikan. “Tentu saja. Aku pengin banget ikut. Kalau kalian sedang nggak bawa kendaraan, naik mobilku boleh kok.” Delta lagi-lagi mengangguk antusias. Namun lirikan mata sinis dari Shinta seketika membuatnya manyun lagi. “Nggak usah, Ros. Kita semua dijemput dan gue sama Delta juga lagi bawa mobil kok. Kita ketemuan aja di Oh La La setengah jam lagi. Kebetulan rumah kita deket dari sini, jadi kita mau pulang dulu buat ganti baju. Sementara rumah lo kan jauh. Jadi lo langsung aja ke Oh La La.” “Ooh, begitu, ya. Oke deh. Sampai ketemu di sana setengah jam lagi kalau begitu.” Ros berucap dengan gembira. Wajahnya sumringah tak terbendung. “Supirku juga udah dateng, sih, kayaknya. Aku berangkat sekarang deh kalau begitu.” Ros cepat menghampiri sedannya yang telah terparkir tak jauh dari gerbang sekolah. Shinta tersenyum dipaksakan. Delta melambaikan tangannya pada Ros seolah Ros akan pergi begitu jauh. Teman di sebelahnya kembali meliriknya dengan sinis. Delta menunduk dalam namun Shinta cepat menyikutnya. “Balik, yuk, ah! Udah laper gue,” kerumunan pun bubar. “Pak Udin, kita ke Cafe Oh La La, ya.” Sahut Ros ketika menghampiri supirnya yang menunggu di warteg tak jauh dari situ. “Cafe apa non? Dimana itu?” tanya Pak Udin polos. “Hmm, oh, ya, ya. Itu dimana, ya?” Ros menatap beberapa temannya yang tadi berkumpul di depan gerbang. Sudah tidak ada. Oh, mereka pasti sudah pulang untuk segera bersiap-siap. “Kita cari pakai GPS aja deh, pak Udin. Temenku udah pada bubar semua, jadi aku nggak bisa nanya mereka.” “Ya, udah, non. Cari dulu aja lokasinya, baru kita jalan ke sana.” Ros pun mencari letak cafe Oh La La itu terlebih dahulu melalui GPS di smartphone miliknya. Tak sampai semenit, lokasinya pun ketemu. “Oh, di sini nih, pak.” Ros menunjukan sebuah lokasi dan jalan menuju ke sana pada pak Udin. Pak Udin langsung mengangguk. Setelah dia menghabiskan sisa kopi hitam di gelas beningnya, dia bangun dan bersiap. “Ayo, non. Kita meluncur ke sana.” Ros mengangguk dengan semangat full. Dia cepat masuk ke mobil sambil bernyanyi-nyanyi kecil. “Sudah siap non?” tanya pak Udin ketika sudah di depan setir.  “Siap dari tadi, pak Udin.” Jawab Ros yang sudah diliputi perasaan bahagia yang tak dapat ditutupi. Pak Udin tersenyum lalu mobil pun melaju pelan. Ros sudah tak sabar rasanya menghabiskan waktu dan menikmati semua kegiatan bersama teman-temannya nanti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN