Begitu memasuki cafe, dengan kikuk dia memilih tempat duduk yang tak jauh dari pintu masuk. Takut teman-temannya tak bisa menemukannya. Dia berusaha santai dan langsung duduk di salah satu meja dengan enam kursi.
“Selamat siang mbak. Mau pesan apa?” mbak pramuniaga meletakan daftar menu di meja Ros.
“Ng-,” Ros langsung bingung. Tidak tahu harus apa yang dia makan atau apa yang dia minum. “Minumannya ada apa aja mbak?”
“Banyak mbak. Di menu itu mbak bisa memilih.” Mbak pramuniaga tersenyum ramah.
Ros pura-pura melihat daftar menu itu. Tapi yang dia paham hanya satu. Sweet tea.
“Hmm, sweet tea aja mbak.”
“Makannya mau tunggu teman atau mau pesan sekarang mbak?”
“Oh, tunggu teman saja, mbak. Makasih.”
“Pesanan segera diantar mbak.” Sekali lagi mbak pramuniaga itu tersenyum.
Gadis itu menganggukan kepala lalu balas tersenyum. Tak berapa lama pesanan Ros datang. Dia membereskan rambut dan mengira-ngira apakah nanti teman-temannya akan banyak yang datang. Ketidaksabaran membuatnya jadi tersenyum-senyum sendiri. Beberapa pengunjung lain yang kebetulan melihatnya hanya mengernyitkan dahi bingung. Tapi Ros tak peduli. Dia lebih peduli bahwa sebentar lagi dia punya teman.
Waktu bergerak begitu cepat. Saking cepatnya, Ros tak menyadari jika sudah pukul lima dan teman-temannya belum juga datang. Sudah gelas kesepuluh dari pesanan yang serupa sejak pertama dia datang, tapi tidak ada satupun dari temannya menampakan diri. Sementara di sekelilingnya pengunjung kebanyakan adalah anak seusia dirinya. Mereka sedang menikmati aktivitas remaja kebanyakan. Mengobrol, saling curhat atau menceritakan film terbaru yang akan segera diputar. Ros merasa iri, untuk pertama kali. Dia tidak tahu kapan tepatnya dia dapat menikmati hal macam ini?
Smartphone di saku roknya bergetar. Ros mengambilnya dan nama “Bapak” tertera di sana.
“Ya, pak?”
“Kamu dimana, nduk? Di rumah sudah ada pasien. Dia kesurupan. Kamu cepat pulang sekarang, ya.”
Ros melongok jam di tangannya. Ini belum saatnya dia buka praktik.
“Ini kan masih jam lima, Pak. Masih lama dari jam buka. Aku nggak mau ah.”
“Jangan gitu tho, nduk. Kasian lho dia. Yah, kamu pulang, yah, sekarang.”
Gadis itu semakin jengkel. Sudah tahu belum buka jam praktik, kenapa juga dia harus melayani pasien? Benarkah dia tidak bisa hidup normal? Karena ayahnya terus saja mengoceh dan berkhotbah tentang pentingnya menolong sesama manusia, maka mau tak mau Ros pulang. Dengan gontai dia berjalan ke mobil. Meskipun menurut untuk pulang, tapi bukan berarti dia akan memberikan servis terbaiknya seperti biasa. Mood buruk karena teman-temannya tidak ada seorangpun yang datang, ditambah desakan sang ayah untuk segera menangani pasien membuat dongkol di hatinya memuncak.
*
Pukul lima lewat Ros sudah sampai di rumahnya. Di ruang praktik yang sudah dipersiapkan khusus baginya, sudah ada seorang gadis seumuran dirinya yang sedang menjerit-jerit. Disampingnya lagi seorang ibu nampak panik dan bingung melihat kondisi gadis muda itu.
“Aduh, nduk, kamu kok lama sekali, sih?” pak Joko langsung menyambut putrinya dengan suka cita.
“Ini kan jam kantor pulang kerja. Wajar juga kan kalau kejebak macet di jalan tadi.”
“Ya, sudah. Kamu cepat lakukan ritual untuk mengusir arwah jahat di dalam tubuh gadis itu. Oh, iya. Namanya Rima dan yang di sebelahnya itu ibunya. Namanya bu Sukma.”
Ros menganggukan kepala malas. Wajahnya nampak sedang tidak ingin mengerjakan apa-apa. Tapi pak Joko langsung menyeret Ros agar segera mempersiapkan segala macam kebutuhan yang memang diperlukan. Dengan ogah-ogahan juga Ros mengerjakan itu semua. Sementara pasien kesurupan yang bernama Rima terus meronta-ronta sambil menjerit-jerit. Ros sudah sering menangani pasien dengan masalah sejenis. Tapi kali ini dia benar-benar sedang malas. Tanpa sengaja dia melihat sesuatu yang ganjil di saku celana panjang ayahnya. Ros mengasumsikan kalau ayahnya itu pasti sudah menerima DP. Makanya dia nampak terus mendesak Ros.
“Ros, ayo cepat lakukan ritualnya. Kasian dia.” Sahut ayahnya lagi.
Gadis itu menganggukkan kepalanya. Dia mulai memusatkan konsentrasi sepenuhnya pada gadis yang sedang butuh pertolongannya ini. Namun sekelebat bayangan teman-temannya yang ternyata tidak datang, lalu peristiwa dia ketiduran di kelas dan perasaan jengkel kenapa tidak bisa umum seperti teman-temannya yang lain membuat Ros kemudian menjadi benar-benar tidak bisa fokus. Hasilnya justru dia hanya memberikan segelas air yang sudah diberi doa untuk diminumkan pada Rima. Itu tidak akan membuat roh yang menimpa tubuh Rima bisa keluar sepenuhnya. Setelah dipaksa minum air tersebut, tubuh Rima pun melemas dan dia pingsan.
“Rohnya sudah hilang kok, bu. Anaknya silakan di bawa ke rumah sakit aja. Nanti juga dia seperti biasa lagi.” Tutur Ros sambil lalu.
“Maksudnya anak saya harus di bawa ke rumah sakit apa, ya? Saya bawa anak saya ke sini, karena di rumah sakit dia tidak diterima. Sebab dia bukan sakit yang bisa dijelaskan secara medis. Terus untuk apa saya harus membawa dia ke sana?”
“Tadi kan saya udah bilang. Kalau setan dalam tubuhnya sebetulnya udah keluar. Yang kelihatan ini cuma efek samping biasa orang yang barusan kesurupan aja.”
Saat Ros menjelaskan itu, Rima ternyata sudah siuman. Dan pertanyaannya itu justru menimbulkan masalah yang sebetulnya di luar kuasa Ros.
“Aku dimana? Ibu siapa? Mbak dan bapak ini juga siapa?”
“Aku ini kan ibu kamu.”
“Ibu aku? Ibu itu apa, ya?”
Ros ternganga. Apa tadi dia salah memberikan doa di dalam air yang dia berikan pada Rima? Kenapa gadis itu malah amnesia sekarang?
“Aku ini ibu kamu, Rima. Ibu kamu.” Bu Sukma sudah menangis.
“Rima itu siapa? Ibu atau Rima itu apa?” Rima lagi-lagi bertanya dengan dahi berkerut seakan dia begitu bingung.
“Ros, pasien ini kenapa?” bisik pak Joko ke telinga Ros.
Ros mengendikan bahunya. “Mana kutahu, pak. Aku kan ngasih air yang aku doain aja tadi. Nggak aku apa-apain lagi lho.”
“Aduh, kenapa kamu nggak pakai ritual pengusiran setan kayak yang biasa, sih? Kalau udah begini urusannya bisa berabe tahu.”
“Lagian aku lagi malas gini malah di suruh nangangin pasien. Terus pas belum jam prakteknya pula.”
Pak Joko tidak bisa berbuat apa-apa. Meski pun kesal tapi dia tidak sanggup untuk memarahi Ros.
“Hmm, maaf, ya bu suk. Sepertinya, apa yang dikatakan anak saya ada benarnya juga. Bagaimana jika Rima dibawa ke dokter saja?”
“Heh, ini nih pasti gara-gara anak Anda. Anak Anda yang bikin anak saya jadi amnesia. Anak Anda yang udah bikin anak saya jadi seperti ini.” Bu Sukma menunjuk-nunjuk Ros. “Saya nggak mau tahu, pokoknya Anda harus ganti rugi atas ketidaknyamanan ini.”
“Lho, kenapa sampai minta ganti rugi? Kan anak ibu nggak kenapa-kenapa.” Pak Joko menolak tuntutan bu sukma.
“Ooh, begitu. Jadi kalau harus ganti rugi tunggu ada apa-apa dulu, iya, begitu?”
“Eh, bukan begitu, bu. Begini, maksud saya, kita bisa menyelesaikan ini secara kekeluargaan.”
“Ngapain? Kita tidak ada hubungan kekeluargaan. Saya nggak mau tahu, pokoknya saya minta ganti rugi uang kembali, plus bunga atas perasaan tidak nyaman ini.”
“Hah?”
“Saya tidak butuh hah Anda, saya butuh uang saya kembali. Sekarang juga!”
Dengan terpaksa pak Joko pun memberikan uang bu Sukma kembali plus bonus ganti rugi atas ketidaknyamanan atas pelayanan yang telah dilakukan oleh Ros.
“Masih untung saya minta ganti rugi, nggak sampai saya laporkan ke polisi.” Keluh bu Sukma ketika keluar dari ruang praktek itu. Sambil membawa Rima yang terus bicara ngelantur, bu Sukma tidak berhenti mengeluhkan pelayanan mengecewakan dari Ros.
“Kamu lihat, Ros? Dia tidak puas dengan pekerjaan kita. Dia tidak puas karena kamu mengerjakan pekerjaanmu asal-asalan sehingga anak itu amnesia. Sekarang bapak tanya, apa kamu tahu sampai kapan ingatannya bisa kembali? Kamu punya jaminan tidak kalau ingatannya bisa kembali jika dia dibawa ke rumah sakit?”
“Aku capek, pak. Aku pengin istirahat sebentar.” Ros berlalu menuju kamarnya.
“Ros, bapak belum selesai bicara. Bapak tidak mau tahu. Kalau kamu masih juga seperti ini, entah berapa banyak kerugian kita nanti. Kamu ini kenapa, sih? Ros, ros? Bapak belum selesai bicara.”
Ros masuk ke kamarnya dengan perasaan campur aduk. Antara perasaan bersalah, kesal namun juga kecewa. Ros bukan pencerita yang baik. Jadi dia tidak bisa menceritakan seberapa parahnya ketiga kombinasi rasa itu membuatnya sedih. Dia hanya ingin hari ini segera tamat. Rupanya keinginannya itu sedikit berlebihan. Karena jarum jam di kamarnya baru saja menunjuk angka enam. Itu berarti jam praktek normalnya sebentar lagi akan dibuka. Haruskah dia menangani pasien dan masalah mengenai makhluk halus di saat begini? Haruskah? Malas yang benar-benar sedang meraja di dalam dirinya tidak bisa dia kendalikan. Perasaan kantuk pun mudah sekali menyerangnya. Tapi dia ingin mengganti pakaian sekolahnya dulu dengan baju tidur. Setelah ia mengganti pakaiannya, dia pun merebahkan diri di atas tempat tidur.
Gadis itu jadi terkenang bagaimana kehidupannya sewaktu kecil dulu. Dia bahagia, sebab dia punya banyak teman yang bisa dia ajak berbagi. Dia bermain, dia bercanda, dia tertawa. Dia merindukan saat dia tidak perlu menggelung rambutnya terus menerus. Saat dia tidak perlu memakai berbagai macam jimat yang membuat beberapa orang takut. Saat tidak perlu dia tidur terlambat. Bukan untuk mengerjakan PR. Melainkan menangangi kasus mengenai hantu.
Belum lama rasanya matanya terpejam, dan Ros merasa dia telah masuk ke alam mimpi dan melihat kembali teman-teman mainnya dulu, pintu kamarnya diketuk. Ros membuka kelopak matanya perlahan. Tidak perlu bakat khusus untuk menebak. Itu pasti bapak. Sebab, di rumah ini hanya ada dia, bapak, pak Udin dan Bi Yati. Bi Yati sangat jarang sekali datang ke kamarnya. Begitu juga pak Udin yang tidak punya kepentingan apa-apa untuk ke sini.
“Nduk, ini bapak.”
Tak perlu menyebutkan dirinya juga Ros sudah tahu. “Iya, pak. Sebentar.”
Begitu pintu terbuka bapak langsung tersenyum selayaknya bapak yang biasa mencandai dia. Ros ikut tersenyum, meski dipaksakan.
“Maafkan bapak, ya, Ros. Bapak khilaf tadi marahin kamu sampai begitu. Kamu mau kan maafin bapak?” tanyanya.
Ros mengangguk pelan. “Iya, pak. Ros juga minta maaf kalau tadi Ros ngasal. Tapi Ros berani jamin kalau amnesia pasien tadi tidak akan lama. Kurang dari dua puluh empat jam dia pasti udah sadar seperti sedia kala.”
Pak Joko mengangguk-anggukan kepalanya. Iya, bapak percaya kok sama kamu. Kamu tidak mungkin membahayakan seseorang dengan sengaja. Kemampuan yang sudah sejak lahir kamu sandang ini adalah anugerah, nduk. Meski pun terasa aneh, tapi kamu tidak bisa melawannya. Hal yang bisa kamu lakukan adalah menerima dan mengerjakan hal yang dapat bermanfaat bagi orang lain. Itu. Kamu masih ingat, kan, nduk, apa yang pernah bapak bilang?”
“Aku ingat kok, pak. Ingat sekali. Kepalaku tidak pernah terbentur pintu atau batu soalnya. Jadi aku masih ingat jelas kalimat bapak itu.”
“Waktu itu bapak bilang apa, ya? Coba bapak ingin dengar dari kamu, nduk.”
“Bapak dulu bilang sama aku, kalau aku memiliki kelebihan dan kemampuan untuk meringankan kesulitan orang lain, maka aku harus membantu mereka.”
“Pintar sekali kamu ini, nduk. Kalau begitu sekarang kamu siap-siap deh, ya. Di depan kita sudah ada p3langgan dan beberapa pasien baru yang mau berkonsultasi sama kamu, nduk.”
Wajah hangat sang ayah langsung luntur dan berganti dengan laki-laki tua mata duitan yang tersenyum jahil.
“Bapak tunggu di ruang praktek seperti biasa. Okeh?”
Ros mengangguk lemah. Dia mengembuskan napas perlahan. Buyar sudah keinginannya untuk melanjutkan tidur. Dia harus segera bersiap untuk melayani pasien-pasien yang memiliki berbagai macam masalah yang harus dia selesaikan. Kalau tidak diselesaikan dengan baik, maka kejadian seperti bu Sukma dan Rima tadi pasti akan terulang lagi. Membayangkan ayahnya akan marah dan mengotbahinya lagi membuat Ros bergidik. Lebih menakutkan ayahnya ternyata dari s3tan yang biasa dia lihat.