Ros segera bersiap dan berganti pakaiannya. Hanya saja jangan bayangkan dia mengenakan kostum seperti dukun kebanyakan. Dia memang masih mengikuti tradisi untuk memakai pakaian yang serba hitam ketika sedang menangangi kasus hantu. Tapi tidak sampai pakai jubah atau kalung tengkorak juga. Kalung-gelang-cincin jimat yang dia pakai sudah minimalis sekali. Meski pun mungkin bentuk dan modelnya tidak mengikuti zaman dan tren, tapi Ros tetap percaya diri memakai itu. Sebetulnya karena tida punya pilihan juga, sih.
Bapak benar. Pasiennya sudah banyak. Ada sekitar lima orang yang biasa datang ke sini. Meski pun hanya untuk menceritakan seputar mimpi atau tanda-tanda alam yang mereka rasakan, tapi mereka sudah menjadi pelanggan tetapnya. Tiga lainnya lagi baru kali ini Ros lihat. Ros tetap berjalan masuk ke ruang prakteknya tanpa harus menyapa.
Keluhan semua pasiennya nyaris berbunyi sama. Mereka tidak merasa tenang dalam hidupnya. Merasa dihantui, merasa dikejar-kejar, merasa selalu bingung.
“Silakan amalkan bacaan ini sehabis Anda solat. Bisa lebih dahsyat lagi jika Anda mengikutinya dengan solat tahajud, solat hajat, membaca surat Yusuf minimal tiga kali dan juga berpuasa senin-kamis.” Ucap Ros pada pasiennya yang terakhir. Masalahnya yang diceritakannya sebetulnya tergolong ringan. Hanya ingin agar dia lancar jodoh.
Kenapa Ros selalu kebanjiran pasien setiap harinya? Bahkan sebelum buka pun sudah banyak yang menunggunya di luar, karena pelayanan Ros yang selalu sigap dan minim efek samping. Minus kasus tadi, sih, ya. Karena biasanya Ros selalu bisa menyelesaikan kasus apapun. Hantu sesulit, semenyeramkan atau pun sebandel apapun selalu bisa ditaklukkan oleh Ros. Semuanya itu dia lakukan karena dia senang hati dan ingin membantu mereka yang kesulitan.
Sudah masuk pukul satu dini hari. Pasien tadi adalah yang terakhir. Sudah tidak ada lagi yang harus dia layani. Bapak memang membatasi berapa pasien yang bisa ditangani Ros setiap harinya. Bagaimana pun Ros masih anak sekolah, begitu pikir ayahnya.
“Mau makan, nduk?” tanya ayahnya ketika Ros keluar dari ruang praktiknya.
“Sudah lewat lapernya. Mau tidur aja, pak.”
“Makan dulu lah, Nduk. Nanti sakit.”
Ros menggeleng lemah. “Aku kepingin tidur, pak.”
Ros langsung masuk ke kamarnya tanpa melihat lagi bagaimana ekspresi ayahnya. Selain lelah, dia memang sudah mengantuk. Ketika sudah ada di dalam kamar, terbersitlah di hati Ros untuk refreshing sejenak dari pekerjaannya ini. Hmm, tapi apakah bisa?
*
Keesokan harinya di sekolah, Ros langsung menghampiri kerumuman teman-temannya yang kemarin berjanji untuk nongkrong di Oh La La Cafe.
“Hai, teman-teman. Aku duduk di sini, ya.” Sebelum dipersilakan, Ros sudah terlebih dulu duduk. Tepat di samping Shinta pula. Orang yang paling anti pati terhadap Rosmanah. Semua orang tahu itu. Bahkan mungkin Ros juga memang tahu. Tapi dia nampak tidak peduli.
Teman-teman sekelas Ros kemudian melanjutkan lagi obrolan mereka. Seperti Ros itu kasat mata, mereka terus mengobrol dengan seru tanpa mengajak Ros berkomunikasi. Meski pun harusnya Ros sadar bahwa kehadirannya tidak diinginkan di situ, tapi dia masih bertahan. Dia bahkan berkali-kali mengajak Delta atau Shinta atau siapa saja yang tanpa sengaja bertatapan mata dengannya untuk mengobrol. Walau hasilnya tetap mencewakan. Ros tetap tidak digubris.
“Hai, teman-teman. Kemarin sori ya, aku pulang duluan, nggak nunggu kalian datang dulu. Aku soalnya harus melayani pasien yang kesurupan gitu. Kalian nungguin aku ya pas kemarin itu? Aku minta maaf banget, ya. Next time, kita kumpul lagi deh. Gimana?”
Tak ada yang menjawab. Hanya Delta yang menjawab ‘Hore’. Tapi itu pun langsung di bungkam Lala yang notabene adalah anteknya Shinta.
“Heh, Ros. Lo sadar nggak, sih, keberadaan lo di sini itu sangat-sangat mengganggu kita?”
“Uh?” Ros menggeleng tak mengerti.
“Kemarin itu kita semua memang sepakat untuk nggak datang. Kenapa? Karena ada elo. Kita semua malas datang untuk nongkrong di cafe itu karena ada elo. Tahu?” air muka Ros berubah keruh. “Mending sekarang lo balik ke bangku lo sendiri deh. Obrolan kita tuh nggak bisa sama. Karena dunia kita juga nggak sama. Lo ngerti kan apa maksud gue?” Shinta melipat tangan di depan dadanya. Tatapannya begitu angkuh.
Ros bangun dari kursi. Wajahnya shock berat. Dia baru saja hendak merengsak maju dan bertanya mengapa, tapi kemudian pak Rusli masuk. Dia adalah guru Fisika dan tidak pernah bisa ada yang mematahkan ucapannya. Beliau juga terkenal sebagai orang yang mampu mengalahkan argumen ngeyel murid-murid jika mereka ketahuan salah dengan sekali ucap.
“Ayo, ini sudah waktunya belajar. Kenapa kalian masih bergosip anak-anak? Hai, kamu yang suka berpenampilan aneh. Cepat kembali ke tempat dudukmu sendiri.” Tunjuk pak Rusli pada Ros.
Ros pun memilih untuk kembali ke kursinya sendiri sebelum pak Rusli menggunakan s*****a pamungkasnya dengan mengucapkan kata-katanya yang mungkin saja akan membuatnya sedih. Semua siswa-siswi di sekolah ini tahu, agar mereka harus menjaga sikap bila sedang berhadapan dengan beliau ini. Bukan hanya karena bisa saja orang itu akan sakit hati dengan kata-katanya, alasan lainnya sebab pak Rusli akan selalu mengingat nama, kelas dan apa saja kesalahannya dan itu akan diucapkan berulang kali. Lebih mengerikan dari setan kemarin sore.
Pelajaran pertama pun di mulai. Semua orang di kelasnya mengeluarkan buku catatan dan alat tulis masing-masing dengan semangat. Sedangkan Ros justru sangat lesu. Pak Rusli sudah memulai penjelasannya dan menuliskannya di papan tulis, namun yang justru diperhatikan oleh Ros bukanlah papan tulis atau pun penjelasan dari guru itu. Melainkan Shinta dan beberapa teman yang kemarin sempat mengiyakan akan berkumpul di Cafe Oh La La. Ros masih tak habis pikir kenapa mereka bisa mempermainkannya seperti itu.
“Saya yakin sekarang teman kita yang bernama Rosmanah sanggup menggantikan saya di depan untuk menjelaskan ulang apa yang tadi saya sampaikan.”
Seketika satu kelas memandang ke arah Ros. Ros pun kemudian sadar bahwa sepertinya dia tadi melamun dan pak Rusli menyadari itu.
“Mampus,” gumam Ros pelan.
“Oh, jangan mampus sekarang, Ros. Minimal kamu harus menjelaskan dulu pada kita semua di sini tentang penjelasan saya yang tadi saya sampaikan. Silakan ke depan, Ros.”
Gadis itu semakin salah tingkah dan gugup. Jika dia ke depan, maka potensi dia akan semakin di bully teman-temannya akan semakin besar. Tapi dia tidak memiliki pilihan lain. Tidak mungkin dia tidak maju karena bila pak Rusli sampai mendekati mejanya, Ros bahkan tak berani meneruskan kemungkinan yang bisa terjadi.
“Rosmanah, silakan maju ke depan. Kita semua menunggu penjelasanmu. Ayo, cepat. Kita tidak punya banyak waktu untuk menunggu kamu.”
Ros kembali merasa dipaksa menelan ludah satu galon. Akhirnya dia bangun dari kursinya. Saat berjalan ke depan, dia melirik kanan-kiri, teman-temannya sudah terkekeh-kekeh dan juga berbisik-bisik sambil melihat Ros. Bahkan beberapa anak laki-laki tertawa puas sambil mengejek Ros dengan sebutan dukun.
Kini Ros sudah ada di depan kelas. Pak Rusli menyerahkan spidol pada Ros. “Silakan, Ros. Tolong jelaskan seperti penyampaian saya tadi. Tentang rumus ini.”
Ros menghadap ke white board dan tak bisa menemukan apapun yang bisa dijadikan petunjuk. Dia bahkan tidak tahu kalau Fisika punya rumus serumit ini. Gadis itu hanya diam mematung di depan papan tulis dan tak bergerak. Dia tak tahu harus menjelaskan apa.
Pak Rusli kembali duduk ke kursinya. “Rosmanah, kenapa kamu belum memulai juga penjelasanmu? Kami semua di sini menunggu.”
Itu dia. Ros juga menunggu bumi menelannya dan tidak mengembalikannya ke kelas ini. Apalagi untuk bertemu pak Rusli lagi.
Samar, suara kasak-kusuk mengenai dirinya semakin terdengar nyaring. Bahkan beberapa anak laki-laki tadi justru semakin mengeraskan suara mereka tentang Ros. Mereka tak segan lagi untuk menyebut Ros dengan sebutan dukun perempuan.
“Siapa? Siapa yang dukun?” tanya pak Rusli. Ya, ampun. Pak Rusli ini memang sengaja atau pura-pura lupa. Bukannya dia sudah tahu kalau Ros memang seorang detektif supernatural.
“Ros kan memang dukun, pak Rus. Kerjaannya ya nangangin orang kesetanan, ngurusin setan yang bandel dan nggak mau pindah.” Cetus Anwar, seorang cowok yang terkenal suka membully.
“Oh, benarkah? Siapa? Si Ros yang mana?” tanya pak Rusli tampak takjub.
“Itu pak, Ros yang sekarang ada di depan kelas.”
“Dia itu aneh, pak. Lihat aja dandanannya.”
“Dia pernah ngusir setan di sekolah itu, pak.”
“Dia juga kadang suka ngeramal temen-temen, pak. Ramalannya suka tepat.”
“Dia juga pernah nafsirin mimpi temen kita.”
Lagi dan lagi. Kalimat yang sama yang pernah Ros dengar, dulu. Tapi tak pernah menyangka jika untuk mendengarnya dua kali, ternyata begini sakitnya. Dadanya mulai sesak. Matanya memanas.
“Yang dukun itu Ros? Rosmanah yang ini?” pak Rusli menunjuk wajah Ros.
Teman sekelasnya sontak berkoor iya kemudian bertepuk tangan. Ros sudah tidak tahan lagi. Dia ingin menangis.
“Ros jadi dukun terus nggak tahu rumus Fisika? Kok bisa? Harusnya kan dukun tahu banyak hal termasuk rumus Fisika.”
Ros tak peduli lagi dengan kata-kata pak Rusli. Sudah sejak awal dia tahu kalau pak Rusli bisa saja akan menggodanya. Entah maksud bercanda atau bukan, tapi yang jelas Ros tak menyukainya.
“Ros, bener Ros jadi dukun?” Ros tidak tahu. Apa dia harus menjawab pertanyaan itu atau tidak. “Ros beneran jadi dukun atau nggak? Coba jawab.”
Kalimat pak Rusli memang pelan. Tapi kata-kata itu seperti pisau yang baru diasah dan siap menguliti kulitnya. Ros tak mau membayangkan lebih jauh lagi apa yang akan terjadi sesaat lagi. Itu jauh lebih buruk dari saat dia menghadapi genderuwo atau hantu-hantu bekas tentara Jepang di SMP-nya dulu.
“Ros, dengarkan bapak. Kalau Ros mau jadi dukun, Ros harus bisa dulu rumus Fisika ini. Agar saat menangani pasien nanti, Ros bisa lebih cepat. Fisika itu ilmu penting juga lho dalam dunia perdukunan, eh dunia gaib. Kalau nggak percaya, makanya Ros harus lebih mempelajari Fisika lebih jauh.” Pak Rusli tersenyum penuh arti. Tapi Ros tidak menyukai senyumnya itu. “lain kali, Ros harus memperhatikan jika bapak sedang menjelaskan pelajaran. Jangan melamun, apalagi memikirkan berapa pasienmu yang sedang menunggu. Bapak tidak suka jika kamu membagi-bagi konsentrasi kamu dengan hal yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan pendidikan. Apa kamu mengerti sekarang, Rosmanah?”
Tentu saja Ros mengerti. Sangat mengerti dari kalimat pertamanya tadi. Tanpa perlu dia teruskan lagi hingga akhir.
“Iya, pak. Saya mengerti. Sangat mengerti.” Ros berusaha tetap menahan tangisnya saat mengucapkan itu. Meskipun dia yakin matanya pasti sudah memerah. Walau dia tidak dapat melihat matanya sendiri.
“Good. Silakan kembali ke tempat dudukmu dan perhatikan penjelasan saya. Percayalah ini belum ada hubungannya dengan pekerjaan sampingan yang kamu kerjakan sekarang.”
Ros menganggukan kepalanya. Dia kembali ke bangkunya dan saat dia berjalan ke sana, teman-temannya masih saja berkoor dan mengejeknya dengan berbagai sebutan. Ros benci hari ini.