Seberusaha Itu

1870 Kata
Kebencian Ros seakan bisa langsung terendus oleh seseorang yang mungkin menjadi orang di sekolah ini yang tidak menganggap dirinya aneh. Sebab, cap dan label aneh juga sudah melekat pada dirinya. Anak muda ini, Gagah namanya, seangkatan dengan Ros, namun kelasnya saja berbeda. Ros berada di IPA 2 sementara Gagah di IPA 3. Kelas mereka bersebelahan, tapi Ros amat jarang melihat cowok satu ini bergaul juga dengan teman-teman lain, sama seperti dirinya. Bedanya, jika Ros sengaja dijauhi oleh anak-anak, dalam kasus Gagah justru dia yang menjauhkan diri dari mereka. Saat ditanya alasannya pun Ros sempat ingin melemparkan sepatu ke wajah Gagah saking kelewat percaya dirinya saat menjawab. “Alasan mereka mau deket dengan gue juga semata karena wajah gue yang tampan serta pesona yang tak tertahankan. Jadi, keinginan itu sama sekali tidak tulus. Makanya gue males dekat dan berteman dengan mereka,” tutur Gagah yang sontak membuat Ros marah. Dirinya susah payah mencari teman, sedangkan Gagah justru mengabaikan mereka dengan alasan yang sama sekali tak bisa dipercaya. Di sekolah ini mungkin hanya Gagah yang ia kenal dan menganggapnya ada. Tidak seperti teman-teman atau guru yang terus mengolok-olok atau membercandainya, Gagah justru memandangnya penuh dengan kekaguman yang luar biasa. Di matanya, Ros ini keren. Penampilannya yang mencolok tapi tak membuatnya terlihat konyol. Justru menurut Gagah, Ros satu-satunya orang di sekolah ini yang jadi dirinya sendiri dan tak berusaha memakai topeng. Makanya Ros ingat betul bagaimana akhirnya ia mempercayai orang ini, sehingga mereka pun bisa duduk bersama tanpa khawatir dengan pandangan sinis orang-orang ke arah mereka. Hanya saja, hari ini Ros sedang tidak berselera ‘meladeni’ ocehan Gagah mengenai puisi yang baru saja dibuat.  Semenjak Gagah datang dan duduk begitu saja di hadapannya, Ros belum menoleh ke arahnya dan masih menatap ke arah lain. Namun Gagah masih bersabar dan menanti sampai Ros mau menggubris kehadirannya saat ini. Sambil menunggu, Gagah kembali membuka buku catatannya dan menuliskan kata-kata yang ia rangkai menjadi sebuah puisi. Karena istirahat pertama baru dimulai, Gagah rasa ia punya lebih banyak waktu yang bisa ia gunakan untuk menulis sampai menantikan Ros bersuara. “Kok lo berusaha negur gue, sih? Malah milih buat nulis,” cetus Ros yang membuat kegiatan Gagah terhenti. Cowok itu mendongak dan Ros sudah menoleh ke arahnya. “Nggak pengertian amat lo jadi temen. Ditanya kek kenapa gue diem aja? Atau kenapa gue muka gue asem banget kek cucian numpuk. Ini malah nyuekin juga.” Gagah langsung meletakkan pulpennya dan mengambil posisi untuk memberikan Ros perhatian penuh. “Lo kenapa? Dijailin temen-temen sekelas lo lagi?” Tebakan Gagah yang tepat tersebut membuat Ros langsung menundukkan kepalanya dan langsung mengangguk lambat. “Lo pasti dikibulin lagi deh sama mereka. Iya, kan?!” Lagi-lagi tebakan Gagah membuat Ros merasa ingin kembali menangis. “Kenapa sih gue nggak bisa kayak temen-temen gue yang lain? Yang normal? Umum aja gitu. Gue kan juga pengin nikmatin masa remaja gue seperti yang lain, Gah,” balas gadis itu dengan suara yang hampir tertelan lagi. “Kan, bukan salah gue juga kalau gue punya kemampuan ini, Gah.” Ros masih menundukan kepalanya saat bicara.  Gagah lalu mengetuk area meja yang persis di hadapan Ros sampai gadis itu mendongak. “Lagian lo udah tahu mereka tuh ngeselin semua, ngapain juga maksa temenan sama mereka?” tanyanya tak paham. “Apa lo lupa kejadian waktu kelas X pas kita kemping Pramuka di Cisarua? Lo ditinggal gitu aja di pasar sama mereka waktu kita belanja buat masak hari itu. Mau gue ingetin lagi?” Gagah menawarkan diri untuk membawa Ros ke kejadian yang nyaris setahun lalu yang tak berusaha ia ingat lagi. Sebagai anak baru di sekolah tersebut, Ros dan hampir semua anak di angkatannya wajib untuk ikut kegiatan Pramuka. Salah satu bumi perkemahan di daerah Cisarua pun menjadi lokasi diadakannya Perjusami atau Perkemahan Jumat-Sabtu-Minggu SMA nya. Ros yang saat itu masih lugu dan naif tentu saja berusaha cukup keras agar diterima dan dianggap oleh teman-teman di kelasnya. Hanya saja yang tidak Ros tahu, sejak awal penampilannya yang mencolok dan berbeda ini membuat anak-anak itu mulai membicarakan dan menjaga jarak dengannya. Kalung bandul seperti bola bekel, cincin yang serupa batu akik serta gelang kembar yang dipakainya langsung membuat semua orang menjaga jarak. Ada kewaspadaan juga dari mereka yang takut kalau Ros akan mengirimkan santet, guna-guna atau ilmu hitam semacamnya. Padahal ilmu supernatural yang dimiliki oleh Ros yang ia miliki sejak lahir bukanlah ilmu semacam itu. Hanya saja menurutnya akan sangat sia-siap juga rasanya jika ia jelaskan satu per satu pada mereka. Karena toh mereka pun tidak akan bisa memahami dan bisa mengerti seperti apa kekuatannya. Makanya meski Ros ingin melepaskan semua benda yang menempel padanya ini sejak dulu, tapi demi keselamatan dirinya dan satu-satunya keluarga yang ia miliki yakni Bapaknya, Ros tidak akan pernah bisa melakukan itu. Ros harus tetap memakai benda-benda itu agar makhluk-makhluk jahat yang bisa saja melukai mereka bisa Ros hadapi dan kendalikan. Karena benda-benda yang ia pakai tersebut bukan sembarang aksesoris yang bisa ditemui di pasar dengan sembarangan. Kalung, cincin, dan gelang yang ia pakai juga bukan ‘aksesoris’ biasa agar terlihat berbeda. Ada mantra dan beberapa ilmu yang ditinggalkan oleh almarhumah Ibu dalam benda-benda tersebut yang harus tetap ia jaga. Menurut cerita Bapak, jika usia dan kematangan ilmu yang saat ini ada dalam dirinya sudah mencapai kecukupan yang selaras, maka mantra dan ilmu yang terkandung dalam benda-benda tersebut akan terserap dengan sendirinya. Hal tersebut konon akan ditandai dengan warna bandul di kalungnya yang berubah dari semula yang berwarna merah menjadi warna biru. Karena menurut Bapak nya, kekuatan mantra dan ilmu terbesar yang ditinggalkan sang Ibu berada di kalung yang selalu ia kenakan. Cincin dan gelang ia kenakan sekarang hanya penunjang dari kekuatan inti pada kalung yang sama sekali tidak boleh ia lepaskan. Karena kata Bapak, efeknya bisa sangat fatal jika Ros sampai berani melepaskan kalung tersebut. Demi menjaga kepercayaan serta peninggalan satu-satunya dari Ibu, Ros pun bertekad untuk menjaga kalung di lehernya itu dengan sekuat jiwa dan raga, meski ia harus mempertaruhkan nyawa. Tidak ada kenangan terakhir yang ia ingat dari Ibu. Oleh sebab itu, ia ingin tetap bersama satu-satu nya benda yang ditinggalkan untuknya ini. Meski banyak yang menganggap dirinya aneh dan mengolok-oloknya karena memakai kalung bandul tersebut, Ros tidak begitu memedulikan. Namun dia juga tidak dapat menutupi keinginannya untuk hidup dan dianggap normal oleh orang-orang di sekelilingnya. Mungkin karena tak menyadari bahwa hal tersebut bisa saja dimanfaatkan orang untuk berbalik mengerjainya, makanya Ros sama sekali tak awas ketika pelaksanaan Perjusami tersebut. Karena bisa memilih teman yang berbeda kelas, Ros pun bisa berada satu kelompok bersama teman-teman perempuan di kelas Gagah. Cowok itu lah yang menjamin bahwa Ros akan baik-baik saja bersama mereka. Namun ketika di pasar, Ros berjumpa dengan kelompok Gagah dan kelompok Shinta yang langsung berpura-pura tidak melihat dirinya. Padahal jelas-jelas mata mereka sempat bertemu. Saat itu Ros masih berusaha juga untuk dekat dan bisa diterima oleh teman-teman satu kelasnya. Padahal Gagah sudah mewanti-wanti nya agar ‘damai’ saja bersama teman-teman perempuan di kelasnya. Tak perlu sok akrab atau mendekatkan diri lagi pada mereka yang jelas-jelas menolak keberadaan Ros. Ros bebal. Dia tidak mengindahkan sama sekali pesan dari Gagah dan tetap berusaha menyapa Shinta dan kawan-kawan yang seperti diberi ikan segar untuk dipanggang. Mereka memanfaatkan dengan baik keputusasaan Ros yang ingin bisa diterima dengan meminta Ros mencarikan bahan-bahan yang sebenarnya tidak ada dalam catatan yang diberikan guru mereka. Karena Ros masih merasa bahwa itu adalah kesempatan bagi dirinya untuk menjadi akrab dengan teman-teman sekelasnya. Hanya saja memang Ros juga terlalu naif saat itu. Sudah tahu bahwa teman-temannya tidak menaruh rasa suka padanya, tapi dirinya masih saja berusaha untuk diterima mereka. Dan hal tersebut justru berimbas pada dirinya sendiri. Setelah menerima secarik kertas untuk membelikan bahan-bahan yang menurut teman-temannya disuruh oleh guru mereka, Ros pun dengan penuh semangat pergi ke dalam pasar dan mencari satu per satu. Setelah yakin bahwa tidak ada bahan yang ia lewatkan, Ros pun bergegas kembali ke tempat minibus sekolahnya di parkir. Hanya saja ketika ia sampai di parkiran, mobil bus mini itu sudah tidak ada. Ros yang bingung kemudian bertanya. Menurut tukang ojek yang mangkal tak jauh dari sana, tadi supir bus nya sempat bertanya apakah masih ada murid yang berkeliling belanja. Namun ada sekumpulan gadis yang mengatakan semuanya sudah absen dan sudah naik semua ke dalam bus. Tentu saja Ros sudah bisa menduga siapa yang dimaksud oleh tukang ojek tersebut. Mungkin tukang ojek itu kasihan melihat Ros ditinggalkan sendiri dan akhirnya menawarkan diri untuk mengantarkannya. Katanya tidak usah membayar ongkos juga. “Nggak apa-apa, nggak usah bayar juga, Neng. Hayuk, Mamang antar,” kata tukang ojek tersebut. “Lokasi bumi perkemahannya mah dekat sebenarnya. Cuma kalau pakai bus memang harus pakai jalan memutar. Makanya terkesan jauh.” Ros menerima bantuan tersebut, tapi tidak dengan ketentuan tidak usah membayar. Ros bilang bahwa jika bapak itu tidak mau menerima uang yang diberikan, maka Ros akan memberikan bantuan dalam bentuk lain yang tak dapat bapak itu tolak. Asalkan, bapak itu bisa mengantarnya sampai lebih dulu sebelum bus sekolahnya ke lokasi bumi perkemahan. Bapak tersebut setuju saja meski tak tahu bentuk bantuan apa yang dimaksud Ros. Seperti yang sudah bapak ojek tersebut katakan, lokasi bumi perkemahannya bisa dijangkau jauh lebih cepat dari yang Ros perkirakan.  Saat teman-temannya sampai ke bumi perkemahan tersebut, mereka pun dibuat kaget dengan keberadaan Ros yang sudah duduk di pendopo sambil memakan es goreng dengan santai. “Kalian nggak pernah lihat ada elang terbang di kehidupan nyata, kan?!” tanyanya sambil tersenyum penuh misteri yang menambah kesan horor dirinya di mata teman-temannya. Yah, jika mengingat pada kejadian itu, memang cukup mengejutkan juga dirinya masih berusaha mencoba masuk pada lingkar pertemanan Shinta dan teman-temannya. Untung saja Gagah barusan menyinggungnya.  “Udah inget belum?” tanya cowok itu sambil memandang wajah Ros yang masih datar saja. “Mau gue ulang nggak ceritanya? Gue masih inget banget soalnya.” Ros segera mengangkat tangannya. “Nggak perlu. Gue masih inget kok. Dan gara-gara itu otak gue mendidih lagi. Rasanya kok kesel juga, ya?!” keluhnya sambil mengusap d4danya. “Apa gue bales perlu dendam, Gah?” tanyanya sungguh-sungguh. Gagah menggelengkan kepalanya. “Nggak perlu. Soalnya nggak bisa juga. Lo paling nggak bisa bales dendam ke orang. Mesti lama kelamaan lo bakal merasa kasihan. Ujung-ujungnya nggak bakal kejadian tuh aksi balas dendam,” seloroh Gagah. Mendengar itu tentu saja Ros menyeringai. “Ah, elu. Kan gue juga memikirkan masa depan dia kalau sampai gue kelepasan gimana?” Ros malah balik tanya. “Ya, makanya nggak usah sok mau bales dendam kalau masih mikirin orang yang jahat ke lo gimana nasib akhirnya,” tukas Gagah kemudian. “Lagian lo mau ampe kapan, sih, berusaha banget buat masuk ke lingkar pertemanan mereka? Pergaulan mereka tuh toksik tahu,” komen cowok itu. “Tukang bully iya, tukang madol iya, tukang sontek iya. Mentang-mentang bapak-bapaknya yang nyumbang paling gede ke yayasan. Jadi merasa bisa berbuat semaunya.” Gagah menggeleng prihatin. “Lagian lo kan udah punya gue sama Alya. Butuh temen kek apa lagi coba?!” Ros menoleh pada Gagah dengan pandangan bingung. “Gue mau punya temen yang normal… satu aja. Nggak bisa banget kayaknya, ya?!” “Memang Ayla nggak normal?” tanya Gagah bingung. “Kayaknya dia fine-fine aja, sih.” Ros benar-benar tidak dapat sependapat dengan Gagah kali ini. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN