Di luar sekolah, sebenarnya Ros memiliki teman lain yang perlu diperkenalkan juga selain Gagah. Awalnya Ros tidak menyangka bahwa kehadiran temannya yang satu ini akan cukup mengisi kekosongan dan kesepiannya sebagai anak tunggal—aneh—pemilik—ilmu—supernatural yang sudah bisa melihat wujud makhluk astral dari kecil. Karena semula, Ros sulit membedakan mana yang manusia dan bukan. Namun berkat gadis ini, Ayla namanya, Ros pun akhirnya dapat mengenali perbedaannya. Hanya saja, sama seperti Gagah yang selalu menganggap dirinya luar biasa tampan dan digilai banyak perempuan (meski fakta juga bicara demikian), Ayla juga memiliki ‘keanehan’. Padahal keanehan yang dimiliki Ayla tersebut justru yang sudah menyelamatkan Ros dan membuat mereka akrab hingga sekarang.
Sejak kecil, Ros tidak punya kawan, sama sekali. Semenjak tetangga dan anak-anaknya tahu bahwa Ros sering bicara sendiri dan terlihat akrab dengan makhluk halus, para orang tua yang tinggal di dekat rumah Ros melarang anak-anak mereka untuk dekat dengan Ros. Bahkan mereka pun secara terang-terangan mengabaikan Ros dan menyuh menjaga jarak. Akhirnya, Ros hampir saja ‘terbiasa’ bermain bersama roh-roh anak kecil yang berkeliaran di sana yang selalu menemani dan mengajaknya bicara. Sebenarnya ada satu anak yang cukup pendiam dan sering memperhatikannya saat Ros sedang bicara dengan hantu-hantu itu. Hanya saja Ros masih belum menyadari apakah anak ini roh juga atau anak manusia. Sampai kemudian anak ini mengikutinya saat Ros dan roh-roh tersebut bermain. Ada roh yang sempat mengatakan bahwa mereka dimata-matai, tapi Ros tidak begitu peduli.
Suatu ketika, ketika ketika Ros sedang bermain dengan roh-roh tersebut, anak ini menabrak pintu karena terlalu fokus mengikuti Ros. Barulah Ros tersadar dan menoleh padanya. “Hati-hati jalannya. Lagian kamu kenapa sih ikutin aku terus?”
Pertanyaan Ros tidak dijawab anak itu. Dia tetap diam. Ros jadi bingung sendiri.
Sampai akhirnya ketika usianya delapan tahun, Ros hampir ‘dibawa’ oleh roh yang cukup kuat. Meski penampilannya yang terlihat oleh kedua mata Ros seperti anak kecil, namun sebenarnya roh tersebut sudah berusia dewasa, nyaris puluhan tahun.
Di saat itu lah ada seorang anak yang usianya tak begitu jauh dari Ros melihat ketika Ros hampir menenggelamkan dirinya sendiri di sungai. Anak itu adalah Ayla. Meski ia sudah berusaha memperingatkan Ros agar menghindar dari tepi sungai yang memiliki debit cukup deras, namun sepertinya Ros sudah terpengaruh. Makanya saat itu Ayla langsung melompat dan tubuhnya jatuh menimpa tubuh Ros yang ambruk begitu saja ke tanah. Ayla yang sadar sudah membuat tubuh Ros jatuh dan tak sadar langsung mencoba menyadarkannya. Hanya saja mata Ros terus terpejam.
“Heh, bangun! Jangan mati sekarang. Belum waktunya. Bangun, hei!” ucap Ayla sambil menepuk-nepuk kedua pipi Ros yang masih tak sadarkan diri.
Ayla mungkin sadar bahwa usahanya akan sulit berhasil. Dengan sigap ia pun mencari tanaman yang bisa ia pakai untuk membangunkan Ros. Untungnya di dekat sungai tersebut terdapat deretan pohon kayu putih yang langsung ia petik beberapa.
Usai mendapatkan daun kayu putih tersebut, Ayla segera kembali ke tempat Ros pingsan dan meremas-remas daun tersebut dan mendekatkannya ke hidung Ros. Tak berapa lama, kesadaran Ros kembali. Perlahan matanya pun terbuka dan ia langsung melihat Ayla dengan tatapan bingung. “Kamu siapa?” tanyanya dengan suara parau.
“Yang jelas gue anak manusia, bukan setan kayak yang tadi ngajak elu nyebur ke sungai!” jawab Ayla ketus. “Mulai sekarang lo temenannya sama gue aja. Nggak usah sama anak-anak setan itu. Besok gue bakal sering mampir ke rumah lo!” Ros hanya melongo ketika Ayla mengatakan kalimat tersebut dan langsung berdiri. “Lo bisa bangun kan?! Buruan, gue anterin lo pulang!” ucapnya lagi sambil mengulurkan tangan.
Sejak saat itu, Ros dan Ayla pun menjadi akrab. Meskipun yang tidak Ros mengerti mengapa Ayla jadi kembali banyak diam dan hanya memperhatikannya saja. Padahal saat kejadian dirinya hampir tenggelam di sungai, Ayla bicara panjang lebar padanya bahkan memarahinya. Namun, Ros pun tidak begitu ambil pusing meski Ayla jarang bicara. Yang penting sekarang, dia tidak lagi bermain dengan roh-roh anak kecil yang bisa saja membahayakan nyawanya, dan punya teman seorang anak manusia.
Ketika kemampuan Ros sudah mulai tersohor dan Bapak membuka praktik secara profesional untuk mengobati orang-orang yang kesulitan, kondisi ekonomi keluarga Ros pun semakin baik. Bapak berpikir untuk membawa Ros pindah dari tempat tinggal asal mereka yang saat ini berada di pinggiran kota ke tengah perkotaan.
Hal tersebut tentu saja membuat Ros dan Ayla sama-sama sedih karena artinya mereka harus berpisah. Ros tidak tahu apakah nanti akan menemukan teman baru yang bisa menerima keanehannya atau tidak seperti Ayla. Pun sama dengan Ayla yang berpikir sepertinya tidak ada lagi orang lain yang bisa menerima dan mau berteman dengannya. Ros sempat protes pada Bapak agar mengurungkan niatnya untuk pindah. Hanya saja Bapak bersikeras dan mengatakan bahwa lingkungan tempat tinggal mereka saat ini kurang bagus untuk perkembangan mental dan jiwa Ros. Tempat itu bisa dibilang sebagai kampung halaman Ibu nya. Bapak takut Ros tidak akan bisa berkembang jika ia berada di tempat yang bisa mengingatkannya akan kehadiran Ibu.
Meski Ros sempat menentang, tapi ia hanya anak umur delapan tahun yang tak bisa berbuat banyak selain menurut apa kata orang tua nya. Makanya ia pun terpaksa pindah. Sebelum pergi, Ros sempat memberikan alamat barunya pada Ayla.
“Kamu main ya kapan-kapan ke rumahku,” ucap Ros waktu itu.
“Gue bakal sekolah di deket sekolah lo. Lo tenang aja.” Begitu jawab Ayla dengan semangat. “Pokoknya jangan temanan sama setan lagi, ya. Tunggu gue.”
Setelah itu, Ros dan Ayla mengikat janji untuk berjumpa lagi dengan saling mengaitkan jari kelingking mereka. Ros tahu mungkin agak sulit Ayla untuk bisa sekolah ke luar daerah tersebut. Selain karena faktor ekonomi, Ros belum tahu apakah Ayla memiliki prestasi yang bagus atau tidak. Dan… Ayla membuktikan kemampuannya. Sadar bahwa ia tidak memiliki kekayaan seperti Ros, Ayla pun berusaha agar menjadi siswa berprestasi di sekolah hingga akhirnya bisa masuk ke sekolah... di seberang sekolah Internasional di mana Ros disekolahkan Bapak nya.
Mendengar nama Ayla disebut Gagah tadi, Ros pun sempat tersenyum. Menyinggung soal normal dan tidaknya teman yang ia punya, memang tidak bisa melepaskan fakta dibalik kejadian saat itu. Jika dirinya tokoh Nasional, Ros ingin kejadian Ayla lompat ke arahnya hingga membuat pingsan di pinggir sungai masuk dalam catatan penting. Sebab karena inisiatif Ayla saat itu lah, dirinya masih hidup hingga sekarang. Ros kemudian menoleh pada Gagah. “Balik sekolah, ke warnet yuk sama Ayla,” ajaknya dengan antusias. “Kek nya seru deh kalau main gim bertiga.”
Gagah langsung bertepuk tangan dua kali lalu mengacungkan jempolnya. “Gue setuju. Gue juga penasaran gimana sih keseruannya bermain gim di warnet kek cerita orang-orang,” kata Gagah sambil menengadahkan pandangan ke atas.
Ros sudah malas dengan gaya tengil Gagah seperti ini. Namun bagaimanapun, Gagah adalah orang yang menolong dan membelanya ketika teman-teman sekelasnya kompak merisak dan meninggalkannya. Ini bukan tentang merasa punya hutang jasa. Tapi Ros sepertinya harus mulai berhenti memaksa orang yang memang tidak ingin dekat, mengenal atau berhubungan dengannya.
Karena sudah ada agenda akan pergi bersama sepulang sekolah, Ros segera menghubungi teman karibnya yang hanya berbeda gedung dengannya tersebut. Dengan ponsel yang sebenarnya juga sama keren dengan anak-anak orang kaya itu, Ros mengirimkan pesan singkat melalui Line pada Ayla.
RosssO
Mpok, bubar sekolah nanti, nongkrong warnet
eket sekolah lo lah. Main gim kita. Sama si
Gagah juga. Gimana?
Tak perlu waktu lama untuk Ayla membalas pesan dari Ros tersebut.
Aylala Depp
Yaelah, Mpok, lo kayak gini-gini mah kagak perlu
nanya gue. Jabanin langsung. Kita ketemu depan
warnet nya aja entar.
Usai menerima balasan dari Ayla tersebut, Ros segera menunjukkan pada balasan tersebut pada Gagah. Cowok itu membaca sepintas lalu mengacungkan jempolnya. “Berangkat udah,” sahutnya. “Gimana? Lo masih jengkel nggak sekarang?”
Ros seperti berpikir sesaat lalu menggelengkan kepalanya. “Hmm, sebenarnya, sih masih. Tapi ya gue nggak pengin rasa jengkel gue menghalangi keceriaan yang bakal gue rasakan sama kalian. Jadi, gue nggak pengin ngebahas lagi aja,” sahutnya.
Bersamaan dengan itu, bel tanda masuk kembali berdering. “Yah, masuk. Gue duluan, ya. Ada ulangan Fisika soalnya habis ini. Pulang sekolah nanti tungguin gue depan gerbang. Bye!” usai mengucapkan itu Gagah langsung melesat pergi sebelum Ros sempat menjawab. Gadis itu hanya mengerjapkan mata lalu mengangguk.
Ros hendak berjalan kembali ke kelasnya, namun perasaan itu datang lagi. Perasaan seperti ada yang mengintai dan diawasi. Kedua mata Ros otomatis terpejam dan ia menggerakkan kepalanya sedikit untuk menemukan posisi paling bagus untuk bisa menebak keberadaan makhluk tersebut. Hanya saja rasanya kali ini agak sulit.
Entah kenapa Ros tidak dapat menembus ke areal itu. Ros pun pasrah dan membuka matanya lagi. Ia bangun dari kursinya dan berjalan kembali ke kelas. Namun sedetik kemudian dia tahu di mana makhluk itu berada. Ros segera menoleh dan memastikan kali ini wujudnya tertangkap mata. Sayangnya, tidak. Makhluk itu lebih cepat dari dugaan Ros. Gadis itu hanya bisa menangkap sekelebat saja dan tidak bisa menemukan satu ciri agar bisa ia cari. Ros pun memilih mengacuhkannya dan terus berjalan ke depan. Meskipun Ros amat yakin bahwa makhluk itu masih memperhatikannya saat ini, namun ia memilih untuk lanjut berjalan. Sebab jujur saja, Ros belum tahu apa jenis makhluk tersebut. Jadi daripada ia harus menghadapinya secara langsung di sekolah, mending Ros pancing makhluk tersebut di tempat lain.