Taji merasa semakin risih karena Ayla memperhatikannya sedemikian rupa seolah-olah menelisik sesuatu yang tak terlihat oleh mata biasa. “Kenapa lo ngeliatin gue begitu, sih? Kayak gue hantu aja,” sergah cowok itu dengan ekspresi tak terima.
“Gue curiganya memang begitu,” jawab Ayla kemudian nyengir. “Tapi kan, nggak mungkin ada hantu keluar siang bolong dan bebas berbaur kayak manusia, ya?!”
“Ya, mana gue tahu. Kenapa lo nanya gue?!” Taji masih tidak mengerti dengan sikap Ayla ini. Apalagi ketika gadis itu meraba-raba udara sambil menyipitkan mata, Taji keki sendiri. “Mending gue balik aja juga deh. Duluan, ya?!” cowok itu langsung balik badan dan meninggalkan Ayla yang sepertinya tidak puas karena Taji malah bergegas.
Ketika Ayla sedang bersedih karena tidak bisa mengetahui lebih banyak tentang Taji, Gagah keluar dari warnet sambil bersiul. Ayla menoleh dan melihat Gagah keluar sambil memegang plastik es. “Lo kenapa lesu begitu, Ay?!” tanyanya.
“Nggak berhasil menjalankan aksi detektif soalnya,” dengus gadis itu. “Padahal gue yakin tadi udah mengintimidasi anak baru di sekolah lo sama Ros,” lanjutnya lagi.
Gagah hanya terkekeh tanpa suara. “Lagian lo kenapa pengin jadi detektif hantu sih? Nggak paham gue sama lo.” Gagah lalu menyedot es di plastik yang dipegangnya.
“Ya namanya cita-cita, bisa jadi apa aja, kan?!” Ayla lalu menoleh pada Gagah dan makin cemberut. “Lo memang dasar nggak peka, ya?! Minum es sendirian aja gue nggak dikasih. Kenapa sih tingkat kepekaan cowok tiarap banget?” Ayla menggeleng-gelengkan kepala tak habis pikir. Ia lalu bergegas meninggalkan Gagah.
“Eh, ya ampun lo mau es? Gue beliin di warung depan sana, ya?!” Gagah tersadar namun Ayla tak memedulikan dan tetap berjalan lurus meninggalkannya.
Sambil berjalan menyusul Ayla, Gagah sempat melirik ke belakang karena ia tersadar sepertinya ada yang sedang memperhatikan mereka dari kejauhan. Meskipun belum pasti dan yakin, tapi Gagah tahu feelingnya tidak salah. Ia pun mencoba mengabaikan dan mencoba mensejajari langkah Ayla yang masih merajuk padanya.
Dalam perjalanan, Ros menyandarkan tubuhnya dengan lesu dan melemparkan pandangan ke luar. Pak Udin agak heran karena non majikannya itu hanya terdiam.
“Non, mau beli sesuatu sebelum pulang?” tanya Pak Udin memecah keheningan.
Ros menggeleng. “Nggak, Pak. Langsung pulang aja,” balas Ros tetap dengan posisinya semula. “Aku cuma pengin segera sampai di rumah.”
Karena sudah mendapatkan pernyataan seperti itu dari Ros, Pak Udin pun memilih untuk berkonsentrasi pada kemudinya dan melanjutkan menyetir.
Satu jam kemudian, mobil yang membawa Ros sudah berbelok ke sebuah rumah besar di kawasan elit Jakarta Pusat. Ros dulu bahkan tak pernah menyangka akan bisa tinggal dan menetap di rumah yang konon disebut oleh orang-orang di desanya dulu sebagai ‘rumah gedong’ karena saking mewah dan besarnya. Tapi Ros bahkan tidak pernah memiliki keinginan untuk bisa tinggal di rumah seperti ini. Dia tahu ada banyak hal yang ia lakukan sampai akhirnya bisa tinggal di rumah besar dan indah seperti ini. Segala usaha dan bantuan yang ia berikan pada orang-orang yang datang padanya dan mengharapkan kesembuhan tentu menambah juga isi pundi-pundi keuangan keluarganya. Hanya saja, Ros kadang merasa rumah ini seperti kosong.
Tidak ada kehangatan dan keakraban yang sering ia dengar dari Ayla di rumahnya. Meski ia tahu mungkin ayahnya memang orang yang agak kaku jika harus berkomunikasi dengannya sesering itu, tapi Ros nyaris tak punya kesempatan waktu bicara hal lain di luar pekerjaan dengan Bapak. Di ingatannya saat ini Ros tidak bisa menemukan interaksi dan komunikasi selayaknya anak dan bapak seperti yang terjadi antara Ayla dan ayahnya meski kadang diisi dengan keributan-keributan kecil.
Namun bukankah keluarga yang seharusnya memang demikian? Jika terjadi ribut-ribut kecil bukankah hal yang wajar terjadi? Sedangkan interaksi dengan Bapak benar-benar nyaris tidak pernah terjadi jika bukan yang berkaitan dengan pekerjaan.
Bapak selalu mengurung diri di kamar dan tidak pernah membiarkan siapapun masuk ke sana, bahkan Bik Imah yang sekadar ingin membersihkan kamar pun tidak diperbolehkan. Bapak selalu beralasan bahwa ia memang ingin menikmati kenangan bersama Ibu dan tak ingin ada orang yang menginterupsi. Awalnya Ros memaklumi karena mungkin bapak memang amat mencintai ibu sampai-sampai ingin memelihara kenangannya setiap waktu. Namun lama kelamaan Ros merasa bapak kadang tidak begitu mengenal Ibu nya. Saat Ros bertanya mengenai Ibu, jawaban Bapak selalu berubah-ubah. Sedangkan jika ia bertanya pada Ki Damari, kenangan terakhir Aki bersama Ibu adalah momen dua tahun sebelum kepergian Ibu yang mana saat itu Ibu kabarnya baru menikahi Bapak. Ros kadang merasa bukan anak kandung di keluarga ini saking asingnya dengan Bapak nya sendiri. Namun dari sebuah lukisan yang ada di rumah Ki Damari, kerinduan Ros akan sosok ibu setidaknya terobati. Sebab lukisan itu seolah memberi sedikit gambaran tentang seperti apa sosok Ibu sebenarnya.
Ros bisa mengira-ngira jika ibu masih ada, bagaimana saat ia tersenyum, bagaimana saat ia tertawa, bagaimana saat ia memarahi Ros yang tak patuh, dan berbagai ekspresi lainnya. Hanya melalui lukisan yang bisa saja tidak menyerupai aslinya itu, Ros bisa memiliki gambaran jelas mengenai wujud ibunya jika masih hidup.
“Non, sudah sampai,” tegur Pak Udin karena Ros masih belum mau turun.
Ros menoleh pada Pak Udin dan menganggukkan kepala. “Iya, Pak, ini mau turun kok,” jawab gadis itu lalu mengambil tasnya dan membuka pintu mobil.
Dengan gontai dan sambil tertunduk letih, Ros berjalan masuk ke rumah megahnya. Bik Imah langsung menyapanya Ros ketika berjalan menuju tangga.
“Non mau langsung makan sekarang? Bibik udah masakin ayam goreng lengkuas kesukaan Non,” kata Bik Imah dengan suara yang ceria saat menyambutnya.
Langkah Ros terhenti dan menoleh pada Bik Imah. Ia menganggukan kepalanya. “Aku ke kamar ganti baju sebentar ya, Bik. Bibik siapin aja dulu makanannya di meja.”
Usai mengucapkan itu, Ros segera naik tangga menuju kamarnya. Bik Imah agak bingung melihat Ros yang tidak bersemangat itu. Pak Udin yang sudah masuk rumah lalu mendekati Bik Imah yang terlihat masih memperhatikan tangga.
“Ngeliatin apa, Bik?!” tanya Pak Udin bingung.
“Si Non kenapa Pak Udin? Kok kayaknya lemes, lesu gitu, ya?!” tanya Bik Imah.
“Dari tadi pas Pak Udin jemput juga udah lemes begitu, Bik,” sahut Pak Udin. “Tapi ya mungkin karena memang belum makan aja sih, si Non,” lanjut Pak Udin. “Saya ke belakang dulu ya, Bik. Mau beresin garasi.”
Bik Imah hanya mengangguk lalu bergegas menyiapkan piring dan minum untuk Ros. Meskipun Bik Imah amat khawatir, tapi saat ini tak ada yang bisa dilakukan selain melaksanakan perintah Ros dan menunggu saja sampai Ros ingin bercerita sendiri.
Dua puluh menit kemudian, Ros sudah berganti pakaian dengan kaus oblong biasa dan celana pendek. Dengan santai Ros berjalan menuju meja makan. Bik Imah sudah menunggu di samping kursi yang biasa Ros duduki dan siap menyendokkan nasi untuknya. Ros pun duduk di kursi yang sudah disiapkan oleh Bik Imah. Begitu Ros sudah duduk, Bik Imah dengan cekatan langsung menyendokkan nasi.
“Nasinya cukup, Non?” tanya Bik Imah sambil menunjukkan nasi di atas piring.
Ros mengangguk. “Kurangi dikit, Bik. Ros lagi kurang enak perutnya jadi nggak pengin makan banyak-banyak,” jawab Ros. Bik Imah lalu mengurangi lagi porsi nasi di piring Ros. Saat nasinya sudah sesuai dengan keinginannya, Ros mengangguk. “Sip, segitu aja, Bik,” lanjutnya. Bik Imah lalu mengambilkan ayam goreng lengkuas bagian paha bawah di sisi piring, lengkap dengan sambal bawang, lalapan, tempe dan tahu goreng. Ros tersenyum saat menerima piring yang disodorkan padanya. “Makasih, Bik.”
Bik Imah balas tersenyum lalu menuangkan air minum dan menaruhnya juga di dekat Ros. “Ada lagi yang bisa Bibik bantu, Non?!” tanya Bik Imah sebelum pergi.
“Bibik duduk aja di sini, temenin Ros.” Jawaban Ros itu membuat Bik Imah kontan kikuk. “Nggak usah takut dimarahi Bapak. Nanti Ros yang tanggung jawab.”
Meski Ros sudah mengatakan akan bertanggung jawab, namun Bik Imah seperti masih belum berani untuk duduk semeja dengan majikannya. Ros lalu mendongak dan tersenyum pada Bik Imah. “Katanya tadi nanya ada yang bisa dibantu lagi apa nggak? Ros minta bantuan Bik Imah buat nemenin Ros makan di sini,” terang Ros lagi.
“Iya, Non, tapi nanti saya bisa kena marah Bapak,” jawab Bik Imah takut-takut.
Ros menggelengkan kepalanya. “Aku yang bakal jamin, Bik. Tenang aja.”
Meskipun sudah mendapatkan jaminan dari Ros, sebenarnya Bik Imah masih belum berani untuk menuruti permintaan non majikannya itu. Namun sorot mata Ros yang mendadak jadi sedih, membuat Bik Imah jadi tak tega sendiri. Bik Imah pun akhirnya menuruti Ros dan menarik kursi di dekatnya. Ros langsung tersenyum lebar.
“Nah, kalau gini kan aku jadi ada yang nemenin deh,” sahut Ros lalu mulai menyantap masakan yang disajikan Bik Imah tadi dengan antusias. Senyum senang Ros masih dikulum sambil ia mengunyah makanan yang disajikan di hadapannya.
Bik Imah pun ikut tersenyum karena Ros sepertinya menyukai masakannya. “Suka banget ya Non kalau lauknya ayam goreng lengkuas?” Bik Imah ikut senang dengan cara makan Ros yang dihiasi ekspresi bahagia seperti sekarang.
“Suka banget bener, Bik. Apalagi ayam goreng buatan Bik Imah juga seenak yang biasa dulu dibuatin sama Ibu nya Ayla. Jadi berasa masih di kampung halaman.”
“Syukurlah, Non, kalau memang mirip. Bibik kan juga cuma mengikuti resep yang dulu Non kasihin ke Bibik. Eh ternyata bisa mirip. Malah seneng juga bibik.”
Ketika Ros dan Bik Imah sedang fokus mengobrol di sela-sela makan Ros, Bapak keluar dari kamar dan sontak membuat Bik Imah langsung bangun dari kursinya.
Ros awalnya bingung mengapa Bik Imah buru-buru bangun dari bangkunya sampai kemudian Bapak berdiri di samping nya. Gadis itu menoleh ke sebelahnya.
“Bapak udah makan?” tanya Ros pada Bapak nya dengan santai.
Bapak mengangguk. “Sudah. Pakai menu yang sama dengan yang kamu makan, Nduk,” jawab Bapak singkat kemudian menoleh ke arah Bik Imah yang sudah menundukkan kepalanya dalam sejak tadi. “Kamu tadi kenapa duduk di kursi, Imah?” tanya Bapak dengan suara agak tinggi.
Ros buru-buru bangun dan menghadap pada Bapak. “Jangan marahin Bik Imah, Pak. Ros yang minta Bik Imah buat duduk di kursi ini,” kata Ros membela asistennya tersebut. “Lagian apa salahnya Bik Imah nemenin? Ros bosen makan sendirian terus.”
“Tapi kamu tahu kelasnya Imah ini beda sama kamu, sama kita. Kenapa dia harus duduk sejajar sama kita?!” Bapak memandang Ros dengan sorot mata tajam.
“Bapak aja nggak pernah menemani Ros makan di meja ini. Terus kenapa Bapak menyalahkan kalau Ros minta Bik Imah buat menemani Ros makan?” Pertanyaan Ros itu membuat Bapak diam. “Kenapa Bapak harus melarang Bik Imah untuk menemani Ros makan di sini? Toh Bik Imah nggak ikut makan juga. Urusan menemani makan nggak usah bawa-bawa kelas, Pak. Orang kita sama-sama makan nasi, ngapain juga harus merasa lebih tinggi?!” kata Ros lagi pada Bapak yang masih terdiam.
Kedua rahang Bapak mengendur dan terlihat tidak sekeras tadi. Bapak lalu menatap Ros. “Jadi kamu mau ada yang menemani kamu setiap makan?! Begitu?” Ros diam saja tak menjawab. “Kalau begitu, Bapak akan menambah job desk nya Imah untuk menemani kamu makan atau apapun yang kamu butuhkan. Apapun yang kamu butuhkan, Nduk, bapak akan coba penuhi asalkan kamu senang.”
Bapak hendak balik badan namun Ros kemudian bicara. “Bukannya asalkan aku tetap menjalankan praktik tepat waktu?” Gadis itu meralat kalimat Bapak yang sontak membuat Bapak kembali menoleh. “Bukannya Bapak cuma memedulikan soal jam praktik dan mendadak cemas kalau Ros belum pulang dan bersiap-siap buat segera melay4ni pasien yang datang?!”
Kedua sorot mata Ros terlihat begitu sedih saat mengatakan kalimat tersebut.