Tiba-tiba saja Ros merasa bersemangat untuk mencari tahu apakah ada cara yang bisa ia lakukan agar bisa melepaskan kekuatan yang ia punya. Meski ia belum tahu bisa atau tidak melepaskan kekuatan yang saat ini dimiliki, namun Ros seperti sangat antusias untuk mencari tahu. Beberapa detik setelah ia menunjukkan semangat yang menggebu, mendadak Ros kembali lesu. Ayla yang sudah tidak begitu fokus pada permainan gim online nya karena melihat Ros yang belingsatan sendiri tentu jadi heran.
“Kenapa lo jadi lemah, letih, dan tak bertenaga begitu?” Ayla bertanya sambil memperhatikan wajah Ros dengan saksama. Ros balas memandangnya dengan sedih.
“Kata Bokap, kekuatan gue ini sudah ditanamkan sejak kecil sama nyokap di tubuh gue. Kalau ini pemberian, bukan anugerah dari lahir, berarti memang bisa ditanggalkan. Cuma masalahnya…” kalimat Ros terhenti. Sepertinya ada sesuatu yang mengganggu pikirannya dan membuatnya mendadak tak berselera. “Kekuatan ini satu-satunya yang nyokap tinggalin buat gue, dan udah menyatu sama darah gue. Gue bahkan nggak tahu sebenarnya gimana wajah nyokap gue, Ay.” Kalimat Ros terhenti lagi. “Selama ini gue cuma bisa mengandai-andai aja. Mungkin ada sebagian dari wajah gue ini, yang mirip dengan beliau.” Senyum pahit kini terulas di bibir Ros. “Kalau misalnya gue melepaskan kekuatan yang udah nyokap kasih, apa gue termasuk anak yang durhaka?!” tanya Ros dengan wajah yang sudah diselimuti sedih dan khawatir.
Ayla terdiam dan mendengarkan penuturan Ros dengan saksama. “Gue nggak bisa merasakan gimana sedih dan hampanya lo karena lo nggak tahu gimana nyokap lo, Ros. Tapi gue bisa membayangkan kok betapa kesepian dan kangennya lo sama sosok beliau.” Ayla mencoba membantu meringankan beban hati Ros. “Gue juga nggak tahu apa tujuan nyokap lo sebenarnya mewariskan kekuatannya ke lo. Tapi pasti ada alasan yang mungkin suatu saat, lo bakal tahu juga alasan sebenarnya. Cuma mungkin, sekarang belum tiba saatnya lo tahu tentang alasan itu,” ucap Ayla lagi.
Ros menoleh pada Ayla. “Setiap gue tanya soal nyokap ke bokap, bokap tuh selalu enggan membahas. Entah memang sengaja menutupi atau karena rasa kehilangan beliau akan kepergian nyokap terlalu besar.” Ros mengangkat kedua bahunya. “Gue nggak begitu bisa memahami bokap, Ay. MAkanya gue juga bingung harus nanya atau ngomong gimana ke bokap tentang masalah ini. Sementara kalau gue males-malesan ngebantuin pasien yang datang, kasihan si pasien nya juga, kan?!”
Ayla tahu. Karena Ros pernah sangat malas dan tidak bersemangat lalu dia terkesan setengah hati membantu pasien yang datang ke tempatnya. Masih bagus jika pasien tersebut hanya amnesia selama dua puluh empat jam. Tapi pernah juga ada kejadian, pasien tersebut benar- benar lupa akan siapa dirinya dan malah bertingkah seperti kucing yang kebetulan dipelihara di rumahnya. Ros sampai harus setiap hari, selama tujuh hari berturut-turut mengadakan ritual untuk mengembalikan keadaan.
Ketika Ros tidak bersemangat atau b*******h, Ros ingin Bapak lebih mengerti dan memahaminya. Tidak perlu memaksa sebab jika moodnya sedang baik-baik saja dan bersemangat, Ros pun tidak pernah protes harus menangani pasien hingga larut malam dan hingga dini hari pada malam jumat dan akhir pekan. Ros tidak keberatan.
Ros menyadari bahwa ia harus selalu profesional dalam mengerjakan pekerjaannya. Hanya saja ini bukan pekerjaan yang benar-benar ia inginkan. Ros tidak membayangkan bahwa ia harus tetap menjadi ‘dukun’ hingga ia dewasa nanti. Sungguh tak terbayangkan saja jika Ros harus tetap menjalani profesi dukun ini hingga puluhan tahun kedepan. Meski menurut cerita Bapak, Ibu sudah menjadi paranormal sejak ia masih remaja. Kekuatan dan ilmu kanuragan yang dimiliki Ibu juga didapat dari Ayah yang mana adalah kakek dari Ros dan didapatkan juga dari kakek buyutnya. Ilmu dan kekuatan yang sudah diberikan secara turun temurun itu apakah harus musnah begitu saja karena keinginan Ros untuk tidak lagi menjalani hidup sebagai seorang dukun?
“Kayaknya gue harus ngomong ke bokap sih kalau gue keberatan dengan jam kerja dan teror kayak gini,” ucap Ros sambil menunjukkan lagi pesan singkat pada Ayla yang dikirimkan oleh Bapak. Ayla langsung membaca pesan tersebut dan meringis.
Bapak
Ros, kamu jangan main-main nggak jelas sama
teman-teman sekolah kamu, ya. Mending langsung
pulang dan bersiap-siap. Makanan kesukaan kamu
udah selesai dimasak dan ruang praktik juga udah
dibersihkan. Kamu udah tinggal masuk dan menangani
pasien-pasien dengan nyaman.
“Apa lo bisa jelasin ke gue bagaimana cara gue bisa nyaman kalau hidup gue aja udah kayak latihan militer gini. Jam segini lo sekolah, tapi habis sekolah lo langsung pulang. Oke jadwal makan lo jam sekian, habis itu lo masuk lagi ruang praktik. Belum lagi kalau misal ada panggilan pasien dari luar yang pastinya bikin gue harus begadang paling nggak sampai sepertiga malam. Aturan gue tidur dulu kan biar bisa sekalian tahajud. Tapi nggak bisa juga, Ay.” Ros menjabarkan keluhan panjang lebar pada Ayla. “Gue beneran nggak bisa paham sama bokap gue kenapa memperlakukan gue begitu.”
Ayla pun jadi tidak enak sendiri. Karena setiap kali Ros diteror oleh Bapak nya seperti ini, emosi dan mood nya pun sudah pasti jadi buruk. Jika sudah begitu tentu mau lanjut main dan berkumpul pun tetap tidak tenang dan menyenangkan.
“Berarti lo mau cabut aja sekarang?!” tanya Ayla dengan suara lesu juga. “Kalau lo mau balik, ya gue juga balik lah. Depok jauh, Mpok, dari sini. Gue kan juga nggak mungkin nebeng mobil lo karena kita udah beda arah. Kalau lo nekat nganterin gue, bokap lo pasti bakal marah karena telat balik ke rumah. Gue juga nggak mau lo kena masalah.” Ayla kemudan memutuskan sambungan gim nya dan keluar dari akun warnet. “Ya, udah, balik sekarang aja, yuk?! Nanti kita pikirin lagi langkah selanjutnya.”
Ros mengangguk lalu segera mengabari supirnya melalui pesan teks untuk menyusulnya ke warnet ini. Setelah mengirim pesan, Ros kembali memasukkan ponselnya ke saku rok sekolahnya. Kepala Ayla menyembul di atas bilik Gagah yang membuat cowok itu terkejut. Ayla hanya menyeringai lalu memberi isyarat untuk keluar.
Gagah melepaskan headphone dan keluar dari bilik. “Lo mau balik sekarang?”
“Iya, Gah. Gue udah dicariin bokap, jadi disuruh balik sekarang,” jawab Ros. Ia lalu menoleh pada bangku panjang di mana Taji semula duduk di sana. “Anak baru itu ke mana dah?” tanyanya sambil menunjuk bangku panjang yang kosong. Gagah dan Ayla mengangkat bahu mereka kompak. Ros berusaha tak peduli. “Ah, bodo amat.” Ros menoleh pada Gagah. “Lo lanjut aja gapapa. Gue sama Ayla balik duluan.” Kedua gadis itu lalu melambaikan tangan pada Gagah yang terlihat sedih karena ditinggal.
Usai membayar biaya warnet, Ros dan Ayla segera keluar dari warnet tersebut. Mereka bersiap menunggu supir Ros yang baru saja dikabari agar menyusul ke warnet yang sebenarnya masih satu komplek dengan sekolah mereka. Sambil menunggu Ros dan Ayla duduk bersisian sambil memandang jalanan yang kosong dan sepi.
“Kalau gue bukan anak dari dukun dan harus mewarisi kekuatan dukun, apakah cerita hidup gue bakal sama ya, Ay?!” tanya Ros dengan suara mengambang.
“Mungkin aja.” Ayla mengangkat kedua bahunya. “Gue juuga sempet mikir kayak lo kok. Kalau gue bukan lahir di Depok dan jadi anak satu-satunya dari bapak dan ibu pemilik warung kelontong yang alhamdulillah sih, rame banget, mungkin hidup gue juga akan berbeda, sih.” Ayla menyahut. Ros lalu menoleh pada Ayla yang juga menoleh padanya. Gadis itu tersenyum. “Tapi kita kan sama-sama nggak tahu apakah bakal lebih seneng atau justru sebaliknya.” Ros hanya terdiam mendengarkan ucapan Ayla.
“Hidup memang misterius, Ros. Manusia kayak lo yang punya kemampuan memperkirakan masa depan aja masih bisa kecele dan surprise sama hidup. Apalagi gue yang nggak punya ilmu apa-apa. Tapi poinnya adalah gimana lo menjalani hidup lo yang sekarang. Gue tahu pasti berat banget jadi anak dari bokap yang ya kalau gue lihat, kesannya memaksakan kehendak dan maksain lo buat ‘nolong’ orang karena lo punya kemampuan supernatural. Tapi menurut gue, tetep ada yang bisa lo syukuri dan nikmatin dari hidup lo kok. Gue kan kenal lo dari kecil, Ros. Jadi gue juga tahu sebenernya lo hepi-hepi aja ngejalanin ini. Cuma karena bokap lo kadang maksain lo harus kudu saat ini juga bersiap untuk menangani pasien, makanya lo jadi tertekan.”
Mau tak mau, Ros membenarkan apa yang Ayla ucapkan barusan. “Hmm, lo bener, sih, Ay. Kalau aja bokap bisa lebih ngasih gue kebebasan dikit buat ngejalanin masa remaja gue, mungkin gue nggak setertekan ini. Gue jadi lebih enjoy ngejalanin ini semua. Karena ya sebenernya gue hepi-hepi aja sih nolongin orang. Apalagi kalau misal mereka puas sama apa yang udah gue kerjain. Hati gue tuh rasanya ringan banget, Ay,” tutur Ros sambil tersenyum. “Yah, gue bakal coba ngomong ke bokap masalah ini, sih. Semoga aja bokap bisa ngerti kalau gue juga mau dikasih ruang buat nikmatin masa remaja gue. Mudah-mudahan aja bokap mau ngerti, ya?!”
“Amin, semoga bokap lo juga nggak pake template dia yang kayak biasa itu lho. Kepuasan p3langgan adalah nomor satu, Nduk, jangan sampai mereka kapok buat pakai jasa kita.” Ros kontan tertawa geli mendengar Ayla menirukan kalimat dan cara bicara Bapaknya. “Gue ngarang banget tuh ekspresinya. Nggak mirip, ya?!” Ayla merasa gagal karena kurang menjiwai ketika menirukan cara bicara bapaknya Ros.
“Justru mirip banget lho, Ay. Sampe heran gue,” sahut Ros tak menyangka.
“Hah? Serius?” Ayla juga shock sendiri. Ros hanya mengangguk-angguk.
Sebuah sedan hitam kemudian berhenti persis di depan warnet. Ros dan Ayla sama-sama bangun dari duduk mereka. “Gue duluan ya, Ay. Sorry, nggak bisa nganterin lo.” Ekspresi Ros amat menyesal karena tidak bsia mengantarkan Ayla.
“Nggak apa-apa lah, Ros. Udah, buruan balik. Nanti gue kabarin kalau udah di rumah,” jawab Ayla kalem.
Ros pun terpaksa meninggalkan Ayla dan berjalan menuju mobilnya. Ketika ia hendak membuka pintu mobilnya, entah kapan datangnya, tiba-tiba suara Taji muncul dari belakang dan mengagetkan.
“Gue ikut, ya?!”
Ros dan Ayla kompak menoleh ke arah suara dan mereka sama-sama kaget karena Taji memang ujug-ujug muncul dari arah belakang mereka.
“Astaga!” Ros memegang d4danya sendiri. “Lo ngapain sih? Ngagetin deh ah!” semprot gadis itu pada Taji yang tampangnya datar saja, seolah tak mengerti apa-apa.
Kedua mata Ayla menyipit. “Lo nongol dari mana? Kok gue nggak denger langkah kaki lo?” tanyanya pada Taji. “Kayaknya lo bukan orang deh,” lanjutnya lagi.
Taji menyeringai. “Ah, kalian kan dari tadi ngobrol. Makanya nggak sadar kalau gue udah jalan ke arah sini. Gue dari belakang situ tuh cari toilet.” Cowok itu menunjuk ke area belakang. Ros dan Ayla kompak menoleh ke arah sana dan memang ada sebuah jalan setapak yang menuju langsung ke sebuah musala. “Gue ikut dong!”
“Ikut ke mana, sih?” sergah Ros karena lagi-lagi Taji mendesak untuk ikut. “Orang gue mau balik ke rumah. Nggak usah aneh-aneh ya lo. Gue selepet penggaris kelar idup lo. Udah ah, minggir. Gue mau balik. Ngerepotin aja!” Ros bersungut-sungut.
Taji lalu memberikan jalan agar Ros bisa lewat dan masuk ke dalam mobilnya. Sedan hitam yang ditumpangi Ros pun bergerak pelan dan meninggalkan halaman warnet tersebut. Saat Taji masih memandang mobil Ros dari kejauhan, Ayla rupanya masih memperhatikan cowok itu dari belakang. Taji menyadari bahwa Ayla memperhatikannya lalu menoleh bingung. Ekspresi wajah Ayla tidak berubah dan malah membuat Taji jengah sendiri.
“Lo kenapa lihatin gue kayak gitu? Risih tahu.” Taji bicara sambil mencoba mengabaikan pandangan Ayla yang menyorot tajam. “Ada sesuatu di muka gue, ya?!”
Ayla lalu mengangguk. “Ada.” Gadis itu bangkit dari kursinya lalu mendekati Taji. Ayla terus mendekat dan Taji yang gugup mundur perlahan. Gadis itu lalu merendahkan wajahnya dan berbisik. “Di wajah lo ada kebohongan yang kelihatan jelas.”
Taji langsung menoleh pada Ayla dengan tatapan semakin bingung. Ayla sendiri masih memperhatikan wajah Taji seperti meneliti sesuatu.