Lo hidup bukan di dalam iklan rokok. My life my adventure kagak wajib naik moge menyebrangi jurang. Hidup jadi pejantan memang harus tangguh, tapi masih boleh down sekali-sekali, syaratnya cuma satu: masih manusia. Satu lagi ... jangan memancing di kolam yang dangkal, karena kagak ada ikannya - kevriawan 2020
= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
Bab 7 : Masculinity, Siapa yang Bilang Itu Wajib?
Setiap hari entah kenapa ada saja yang selalu membuat gue patah hati. Ya, memang sih, yang namanya hidup itu, kan, dinamis ya … terlebih, enggak semua orang bisa gue kendalikan. Gue tahu, kadang gue yang harus lebih mengontrol diri sendiri, untuk enggak terlalu baper atau memikirkan ucapan mereka. Yah, walaupun begitu, kenyataannya hal - hal ini sangat menggelitik isi kelapa gue. Rasanya kurang lengkap aja gitu kalau belum di julid. Bukan gue hobi nge-julid, tapi kadang iya juga, sih haha. Sometimes, yang menjadi permasalahan itu kenapa sih, kok mereka bisa atau tega banget melakukan hal ini dan itu. Gue suka penasaran aja dengan bagaimana cara mereka berpikir. Kadang gue berasumsi, apakah budaya dan gaya pendidikan rumah para emak - emak di Indonesia memang begini bobroknya atau bagaimana.
“Jon, lesu amat, sih, lo!”
Itu suara Lisa, cewek cantik dari kelas sebelah yang kadang suka minta tolong angkatin tumpukan dokumen sampe ke ruang dosen. Karena doi ketua kelasnya, alias komti, jadi sering di babuin sama dosen - dosen untuk bolak - balik mengambil dokumen, atau sekadar ngumpulin tugas anak - anak lain.
Gue pun cuma tersenyum menanggapi, mood gue agak kurang bagus. Soalnya tadi pagi gue hampir keserempet becak yang mengangkut anak tetangga. Ya, sepele, tapi namanya mau bad mood, mah ya bad mood aja. Haha.
“Lo belum sarapan?” Si Lisa nanya lagi, dalam hati gue agak penasaran, eh ciye, kok tumben amat nanyain gue udah sarapan apa belum. Wkwk.
“Udah, kok.” Gue cuma jawab pelan, getaran HP gue cukup mengganggu, dan ternyata itu dari Bang Agus. Orang yang juga sudah berhasil bikin gue bad mood pagi - pagi. “Cuma lagi males aja.” gue menjawab lagi ke Lisa setelah mengecek ponsel.
“Wow, jangan gitu, dong!” Dia membalas semangat, senyum cantiknya membuat gue betah mantengin wajah doi lama - lama. “Lo, kan, cowok … masa lemes gitu. Yang semangat, lah!”
“Syiaap. Syiapp!” gue cuma mengangguk - angguk dengan respon berlebihan.
“Yah, kagak usah lebay gitu juga, keleus!”
“Gue lesu salah, gue semangat dibilang lebai. Duh, jangan sampe gue tegang nih!”
Lisa tertawa, dia hampir berlalu dari hadapan gue. “a***y, kagak paham gue, Jon. Polos!”
“Iya, cewek mah gitu … suka pura - pura enggak paham.”
“Duh, iya deh! Cowok mah gitu … suka menumpahkan segala kesalahan ke cewek.”
“Wadaw, iya deh … cewek memang enggak pernah salah.”
“Harusnya cowok yang selalu peka. Kan gentle, tuh, jadinya. Sekali - kali jadi cowok yang keren, dong, Jon!” Lisa menepuk pundak gue. “Yang cool gitu, cewek enggak perlu kode, dia udah peka. Yang strong, enggak lemes kayak lo. Terus kalau jalan tegap, jadi tingginya kelihatan. Macho, gitu lah ….”
“Yah, itu mah lo cari aja di novel, atau drama korea!”
Gue menarik napas, kemudian si tjantek Lisa berlalu. Gue bingung dengan pemikiran cewek - cewek sebenarnya. Kenapa sih, mereka menuntut cowok itu yang keren harus cool, terus macho, terus kalau jalan badannya tinggi tegap. Please, lah. Deskripsi itu cuma ada di novel - novel romantis, atau mentok - mentok drama korea. Lagi pula, belum tentu apa yang lo semua, para cewek - cewek lihat, adalah sesuatu yang nyata begitu adanya. Cowok yang cool bukan berarti dia bakalan sekaku itu kalau sama Emaknya, kan? Cowok yang macho itu, bisa jadi SSTI --- alias suami - suami takut istri. Masalahnya adalah, lo cuma enggak ngeliat aja ketika mereka lagi dalam posisi yang enggak keren.
Memang, gue akui bahwa sejak lama konsep masculinity itu sudah menjadi momok buat kami para pejantan dengan batangan, ups. Pertama gue akan jelasin dulu ke lo semua, apa itu masculinity. Menurut Wikipedia, Maskulinitas (disebut juga kejantanan atau kedewasaan) adalah sejumlah atribut, perilaku, dan peran yang terkait dengan anak laki-laki dan pria dewasa. Maskulinitas didefinisikan secara sosial dan diciptakan secara biologis. Sifat maskulin berbeda dengan jenis kelamin. Baik laki-laki maupun perempuan dapat bersifat maskulin. Ciri-ciri yang melekat pada istilah maskulin adalah keberanian, kemandirian dan ketegasan. Ciri-ciri ini bervariasi dan dipengaruhi oleh faktor sosial dan budaya.
By the way, buset dah ini Wiki kenapa bahasanya kaku begondrong. Kan gue jadinya enggak paham juga. Oke skip aja kalau begitu. Jadi intinya, menurut gue … maskulinitas adalah sikap yang mana cenderung cowok banget. Eum, bukan cowok banget juga, sih, cuma apa ya … mungkin sejenis perilaku, cara berpikir, atau tindakan yang arahnya lebih cocok untuk kaum Adam dari pada kaum Hawa. Contohnya semisal kayak keberanian, tanggung jawab, rasional, dan lain - lainnya. Ya, sebenarnya cewek punya sifat itu juga so what, enggak ada yang melarang. Cuma konsep ini memang be like lebih ditujukan untuk para pejantan tangguh. Gitu kali, ya.
Pernah kan lo mendengar kata maskulin dan feminin? Pasti sering lah ya, dan tentu aja kata ini biasa digunakan buat menggambarkan sifat seseorang dalam berperilaku, berpikir, maupun berpenampilan. Kata sifat ini juga sering banget dipakai buat mengotakkan jenis pekerjaan, pakaian, serta mengatur bagaimana laki-laki dan perempuan seharusnya berpikir, merasakan, serta berperilaku. Padahal sebenarnya dalam kenyataan itu semua enggak sekaku yang dijelaskan dalam teori ini.
Tapi tahukah lo semua, bahwa sifat maskulin dan feminin ini sebenarnya ada dalam setiap diri manusia. Sandra L. Bem (1974) mengatakan hal yang sama, kalau manusia memiliki dua sifat itu dan kedua sifat ini berguna bagi kehidupan kita. Sifat maskulin sering diidentikkan dengan bagaimana seseorang berpikiran rasional, berani, bertanggung jawab, dan melindungi. Sementara sifat feminin sering dikaitkan dengan kelemahlembutan, keibuan, merawat, penyayang dan sabar. Kalau dilihat-lihat secara seksama, sebetulnya semua sifat yang tergolong feminin maupun maskulin tadi dimiliki setiap dari kita dan penting untuk kehidupan kita. Seorang penjantan yang sudah menjadi ayah, misalnya, ketika bermain bersama dengan anaknya pasti akan menampilkan sifat lemah lembut, penyayang, dan sabar. Sementara seorang perempuan juga perlu berpikir secara kritis dan rasional, berani, serta bertanggung jawab dalam kehidupannya.
See? Jadi sebenarnya baik cewek maupun cowok memiliki kedua sifat ini.
* * * * *
By the way, kalau kalian merasakan sama seperti apa yang Jono rasakan, boleh banget langsung di tap LOVE nya gaes. Atau bisa juga kalau kalian mau add cerita ini ke library atau perpustakaan. Supaya kalau next time saya update, kalian enggak ketinggalan beritanya, hihiw~ Oke deh, kalau gitu see you in the next chapter ya!
Bye ....