Sebuah Kota Bernama Hurtg (2)
= = = = = = = = = = = = = = = = = =
Hurtg adalah tempat yang indah, akan tetapi saat malam semakin larut dan larut ... aku tak pernah bisa menghindar dari kejaran masa lalu itu. Apakah aku memang lemah seperti itu? Atau kah itu hanya segelintir dari masa lalu yang masih menghantuiku? Tapi kenapa? Wajah dewasa yang selalu murung dan menangis sendirian. Hati yang kosong dan hidup yang tak ada artinya. Sebenarnya ... apakah aku telah melampaui dimensi terlalu banyak? Reinkarnasi, inkarnasi, perpindahan dunia dan dimensi ... sebenarnya, hidup itu apa?
Langit telah gelap dan udara menjadi semakin dingin. Kota Hurtg yang semula ramai dan hangat menjadi gelap dan sepi. Hanya ada beberapa penjaga yang berpatroli disekitar jalanan dan sedikit dari pedagang yang berjalan kembali menuju penginapan serta beberapa pengawal mereka yang sedikit mabuk berjalan dijalan utama kota Hurtg. Memang tidak ada ancaman yang dapat menghampiri kota Hurtg karena daerah sekitarnya telah di eksplorasi oleh berbagai macam team. Mulai dari penjaga hingga kesatria kekaisaran Archorn.
Yang membuat kota ini sepi adalah karena mayoritas orang yang singgah di kota ini telah mengalami perjalanan yang panjang sehingga mereka ingin segera untuk beristirahat untuk menyambut hari esok. Arden berjalan dengan senyum diwajahnya dan sesekali bersenandung tanpa sadar ketika dia berjalan kembali menuju penginapan. Ini adalah hari yang sangat menyenangkan baginya ketika bertemu dengan seorang wanita yang menarik. Satu hal yang disayangkan adalah dia tidak mendengar kalimat terakhir yang diucapkan gadis itu dari kejauhan.
Arden tidak pernah memiliki sosok seperti saudara disekitarnya. Hal inilah yang menjadikannya tertarik untuk bercerita dengan lepas kepada gadis yang baru saja ditemuinya di jalan. Zatras mengajarkan kepada Arden untuk menolong orang yang kesusahan ketika mereka membutuhkan bantuannya. Berkat pelajaran ini Arden dapat bertemu orang yang menarik dan tidak menutup kemungkinan dimasa depan akan lebih banyak orang yang menarik yang akan ditemuinya selama perjalanan panjang ini. Mungkin saja perjalanan ini akan memberikannya sebuah tempat yang dinamakan rumah.
Dia memasuki sebuah bar yang menjadi tempat penginapannya. Ketika dia membuka pintu bar dia melihat sekeliling. Kemudian matanya terpaku pada seorang pria tua yang sedang mengobrol dan minum segelas alkohol dengan pemilik bar tersebut. Di benua Myeol cukup umum untuk menjadikan sebuah bar dan penginapan. Hal ini dimaksudkan untuk melayani kebutuhan para pelancong selama perjalanan sehingga mereka tidak harus berkeliling kota hanya untuk mencari hiburan maupun berjalan kembali dalam keadaan mabuk ke penginapan. Hal inilah yang memberikan ide bagi para pemilik bar untuk sekaligus membuka penginapan di bar mereka. Selain menghasilkan keuntungan yang lumayan mereka juga tidak harus menunggu pelanggan datang kebar mereka.
Arden berjalan menghampiri pria tua yang duduk sambil memegang segelas alkohol di tangannya. Pria itu meliriknya dengan ekspresi yang tertarik. Dia berpikir hal bagus apa yang dialami bocah ini ketika keluar berkeliling sehingga dia terlihat dalam mood yang bagus. Biasanya Arden akan memasang muka yang acuh tak acuh atau sesekali menunjukkan ekspresi penasaran terhadap sesuatu tanpa banyak bertanya. Dia juga adalah pendengar yang baik ketika Zatras memberikan arahan, nasehat, dan logika yang digunakan dibenua Myeol. Karena jika Arden tidak diberikan arahan yang sesuai dia akan menjadi orang aneh dan hidup menyendiri ketika Zatras telah pergi kelak.
Hal ini yang mendasari Zatras untuk memberikan arahan dan logika di benua Myeol. Dia berharap Arden akan tumbuh menjadi seorang yang kuat dan mendapat banyak rekan yang bersedia membantunya dalam berbagai hal termasuk dalam pelarian seumur dihidup ini. Disisi lain Zatras merasa kasihan dan iba kepada Arden. Ketika anak seusia dia tumbuh disebuah lingkungan yang baik dia harus berkelana tanpa tujuan hanya untuk bertahan hidup. Lantas siapa yang harus disalahkan atas kejadian malang yang menimpanya ? kekaisaran Archorn atau para dewa lama yang menjadikannya inkarnasi mereka ? satu hal yang perlu dilakukan oleh Arden hanyalah bertahan hidup untuk memutus siklus yang telah terjadi sebanyak empat kali.
“Apa yang terjadi selama kau keluar bocah nakal ? apa kau membuat masalah yang serius ? kalau begitu kita harus bergegas pergi.” Lelucon itu keluar dari mulut Zatras yang berbau seperti alkohol yang di pegang olehnya. Berapa banyak alkohol yang dia minum selama sehari ini ? tidak ada yang tau pasti sampai Zatras membayar minumannya. Arden tidak terlalu serius menanggapi Zatras, namun dia merasa orang tua itu perlu tahu apa yang terjadi dan siapa yang baru saja ditemuinya ketika berkeliling keluar.
“Aku membantu seorang wanita yang lupa membawa uangnya ketika makan siang. Dan aku mengobrol dengannya hingga senja dan kemudian kita berpisah. Oh aku lupa menanyakan namanya.” Arden adalah orang yang berterus terang dan langsung membicarakan apa yang dipikirkannya. Dia tidak suka berbasa-basi apalagi ketika membicarakan hal yang membuatnya berada dalam mood yang bagus. Mungkin pertemuan ini adalah hal yang paling menyenangkan bagi Arden mengingat selama mereka menetap disekitar desa Hult Arden tidak pernah banyak berinteraksi dengan anak-anak seusia dirinya. Mereka hanya mengisi keperluan dan menjual barang yang mereka kumpulkan kemudian kembali mengumpulkannya di hutan Eldegard. Itu adalah rutinitas yang telah lama dilakukan mereka. Bahkan Arden tidak dapat mengingat kapan pertama kali dia melakukannya.
“Ah seorang anak nakal telah menemukan calon istrinya hahaha.” Zatras tertawa terbahak-bahak. Baginya tidak ada hal yang lebih menyenangkan selain menggoda Arden. Mereka telah lama hidup bersama dan Arden sudah terbiasa untuk digoda oleh Zatras. “Dia lebih seperti seorang kakak. Mungkin dia lebih tua beberapa tahun dariku.” Arden mencoba menjelaskan agar kesalapahaman ini tidak menjadi lebih besar. Disisi lain Zatras mulai mendengarkan apa yang diceritakan oleh Arden selama dia berkeliling. Dia mendengarkan kisah itu dari seorang anak yang selalu murung. Baginya ini adalah hal baru melihat Arden bertingkah seperti anak seusia dirinya.
Disisi lain juga Zatras kembali merasa kasihan dan iba atas nasib yang dialami Arden. Ketika dia hanya ingin menjadi seorang anak normal, takdir mengharuskan dia untuk terus berlari untuk bertahan hidup. Mungkin Zatras akan meragukan bahwa anak ini nantinya akan punya kesempatan untuk memiliki sebuah keluarga kecil yang damai. Dia berfikir bagaimana caranya untuk lepas dari takdir yang mengikat Arden. Ini bukanlah takdir yang baru terjadi. Ini adalah takdir yang terulang kembali ketika dirinya harus dibunuh hanya untuk berenkarnasi kembali, lagi, lagi, dan lagi. Ini hanya seperti sebuah lingkaran yang akan terus berputar tanpa ada ujungnya.
Ketika dia berfikir dia mengingat tentang sebuah suku elf yang netral. Mereka mendewakan dewa waktu. Dimana tokoh adat dari suku tersebut adalah peramal yang menerima berkah dewa waktu untuk melihat kemasa depan. Berkat kemampuan yang diberikan Dewa inilah mereka menjadi suku yang paling susah untuk ditemukan. Hanya inilah satu-satunya harapan Arden untuk memutus takdirnya dari kehidupannya yang lalu. Dengan melihat masa depannya Zatras berharap bahwa kehidupannya akan berubah. Setidaknya ini lebih baik daripada menjadi buronan kekaisaran Archorn dan dikejar oleh Korp Khusus.
“Bocah, mungkin ini akan menjadi perjalanan yang sangat panjang.” Raut muka Zatras menjadi serius.
* * * * * * T B C * * * * *
Kev Readers, apakah Jono belum ikhlas berubah jadi Arden? Kenapa Arden masih mimpi terus ya? Lalu, apakah Arden bisa menaklukkan dunia baru yang diberikan hades untuknya? See you in the next chapter!