Bab 27 : Sebuah Kota Bernama Hurtg (1)

1171 Kata
Sebuah Kota Bernama Hurtg (1) = = = = = = = = = = = = = = = = = = = Dalam tidurku, setelah beberapa malam tidak bermimpi tentang kehidupan masa lalu menyedihkan itu ... akhirnya mimpi itu datang lagi. Padahal aku kira semuanya sudah berakhir. Sebenarnya ada apa? Mengapa mimpi itu terus mengikutiku sampai ke sini? Apakah ada hal yang belum aku selesaikan di masa lalu? Tapi ... mengapa? Bukankah diriku yang berada di masa lalu itu sangat menyedihkan dan tak punya satu pun hal berharga, maupun tugas untuk di selesaikan? Apa Dewa sedang mempermainkan aku? Ini adalah hari yang indah, ketika sinar matahari menyentuh wajah Arden yang terlelap, angin mulai hembus membelai mesra wajahnya yang masih mengantuk. Seminggu terakhir adalah perjalanan yang sangat berkesan bagi Arden. Dia melewati segala macam medan yang sulit, berkemah tanpa logika, dan belajar untuk menghapus jejak serta mengecoh pengejar mereka. Arden dan Zatras sepakat untuk bersantai dikota ini setidaknya selama 2 hari sebelum mereka kembali melanjutkan perjalanannya. Tanpa berpikir panjang Arden segera membangunkan Zatras dari tidurnya. Nafasnya yang berbau seperti alkohol selalu menjadi cara unik untuk menggambarkannya ketika dia sedang beristirahat. Tidak perlu waktu yang sebentar untuk membangunkan Zatras, Arden hanya perlu menendangnya hingga dia terjauh dari tempat tidur dengan wajah yang bingung dan melihat sekeliling. Arden turun kebawah tanpa mengucapkan sepatah kata kepada Zatras yang masih kebingungan. Dia menuruni anak tangga yang tidak terlalu banyak. Sesekali dia menyapa pelayan yang tersenyum kearahnya, dia bergegas menuju sumur dibelakang bar tersebut kemudian membasuh wajahnya. Terkadang ketika dihutan Elgard dia membasuh seluruh tubuhnya namun dia tidak memikirkan hal itu ketika berada dikota. Dia kembali kedalam bar untuk mengisi perutnya sebelum dia berkeliling dikota Hurtg. Sayang rasanya jika dia tidak melihat sekeliling kota dan hanya menghabiskan waktunya di kamar yang terasa sesak bagi dua orang. Dia lebih memilih meninggalkan Zatras yang masih mengantuk dan pergi berkeliling daripada berusaha membangungkannya. Tak perlu waktu lama segelas s**u hangat dan semangkuk sup dan sepotong roti sampai disebuah meja kecil, dimana hanya ada Arden seorang yang duduk disana. Dia baru menikmati waktu sarapan yang indah ketika sampai dikota Hurtg. Kota yang ramah dan tenang memang selalu menjadi pilihan bagi para pelancong untuk menetap. Penduduk asli kota Hurtg tidak seramai ini pada awalnya. Semenjak muncul dekrit dan peraturan terbaru serta pembangunan jalan utama disekitar kota Hurtg barulah muncul para pedagang dikota ini. Kemunculan yang tiba-tiba dan potensi besar kota Hurtg yang disadari oleh gubernur yang lama dengan cepat menjadikan kota ini sebagai titik pusat dari segala rute perdagangan di kekaisaran Archorn. Rute yang aman serta jalan yang mudah dilalui menjadi salah satu manfaat terbaik yang bisa ditawarkan para penduduk kota Hurtg kepada para pelancong dan pedagang yang memiliki urusan dikota ini. Inilah yang menyebabkan banyak pedagang dan imigran yang memilih menetap dikota ini dan membuka usaha mereka ketimbang bekerja di desa Hult dan desa-desa sekitar kota Hurtg. Arden mulai berkeliling dikota Hurtg, dia mulai menjelajahi semua distrik yang ada dikota ini. Mulai dari Distrik yang digunakan sebagia penginapan hingga distrik yang digunakan sebagai sebagai tempat untuk urusan bisnis. Tanpa sadar dia telah berkeliling selama 3 jam lamanya. Matahari mulai bertambah terik dan dia mulai kelelahan. Dia duduk disebuah kursi taman dipusat kota, melihat sekeliling. Kota ini memang selalu ramai tanpa terkecuali hari, mungkin akan lebih ramai jika ada suatu pertunjukkan ditengah kota ini. Arden mulai berpikir melihat kerumunan yang ramai. Betapa menyenangkannya jika dia bisa menjadi salah satu dari penduduk yang hidup damai dikota ini, membuka sebuah kedai atau kios makanan tidak menjadi pilihan yang buruk. “Nona kau harus membayar makanan yang kau beli, aku tidak menerima segala keluhan apapun disini.” Itu adalah seorang pria dewasa dengan tinggi yang rata rata dan janggut tebalnya. Dia menjual makanan ringan disebuah kios dan baru saja meneriaki seorang gadis yang sangat cantik. “Aku sudah bilang paman aku benar benar lupa membawa uangku. Biarkan aku kembali ketempat temanku dan aku akan membayarmu berapapun itu.” Gadis cantik itu membalas berteriak kepada orang tua itu. Ini menyebabkan daerah sekitar menjadi ramai. Arden yang juga mulai penasaran mulai ikut mengerumuni daerah tersebut. Mereka berdua mulai bertengkar dengan kata-kata mereka. Para warga sekitar yang menyaksikan dibuat terheran. Bagaimana mungkin seorang gadis cantik yang seperti bangsawan lupa membawa uangnya. Dengan sedikit intimidasi dari beberapa orang disekitar keadaan mulai memanas. Gadis itu tidak dapat berkata-kata kembali karena tidak ada yang akan percaya dengan apa yang disampaikan oleh gadis itu. “Paman dia adalah saudaraku, aku kesini mengejarnya untuk mengembalikan dompetnya yang tertinggal dipenginapan.” Itu adalah Arden yang mencoba meredam suasana. Semua orang terlihat heran tidak terkecuali gadis manis itu. Dia tidak mengenal seorang anak remaja yang mengaku bahwa dia adalah saudaranya. Pedagang itu percaya dan tampak lega bahwa dirinya tidak akan merugi hari ini. Ini adalah hal terkonyol yang dilakukan oleh Arden. Dia menghabiskan semua uang saku yang diberikan Zatras hanya untuk menolong seorang gadis yang tidak dikenalnya. Namun disisilain dirinya tidak akan bisa membiarkan seseorang dalam kesulitan. Kembali ketika dia masih menetap di desa Hult, penduduk sekitar akan meminta bantuannya untuk pekerjaan yang tidak bisa mereka selesaikan seperti menangkap ternak yang hilang dan mengangkat hasil panen yang berlebihan. Arden adalah seorang anak dengan hati yang hangat dan sedikit emosional. Dia duduk kembali setelah menyelesaikan insiden tidak terduga itu. Kembali menikmati pemandangan yang indah. Gadis cantik itu mengejar Arden untuk berterima kasih. Bagi dirinya Arden menyelamatkan dirinya dari banyak masalah yang mungkin muncul, walaupun dia dapat dengan mudah menyelesaikan segalanya dengan identitas yang dimilikinya. Dia masih harus tetap menjaga wibawa dirinya. Apa yang akan terjadi jika orang lain mengetahui bahwa kapten korp mencuri makanan dari kios kecil ? Ini murni rasa terima kasihnya kepada Arden. Dia duduk dan mengobrol tentang segala sesuatu tentang kota Hurtg, karena bagi mereka yang baru pertama kali singgah dikota ini banyak hal yang akan dibicarakan. Ini adalah pengalaman yang unik bagi mereka berdua, mereka berbicara lepas tanpa membawa beban apapun dipundaknya. Bercerita tentang segala hal yang unik dikota Hurtg, tentang banyaknya pedagang hebat dengan pengawal mereka hingga pekerjaan yang dilakukan para pejabat lokal dikota ini. Tanpa terasa hari mulai senja. Matahari yang terbenam adalah hal yang indah untuk disaksikan disegala tempat. Ini menambah daya tarik wisatawan untuk lebih menyukai kota Hurtg, tidak terkecuali dengan Arden dan gadis itu. Ini merupakan hal yang baru bagi mereka berdua. “Kakak, terima kasih telah menghabiskan waktumu dengan diriku, sekarang aku harus kembali ketempat ayahku. Mungkin sekarang dia menangis mencariku.” Tidak pernah merasa sebebas ini ketika arden bicara dengan Zatras. Hal itu dikarenakan perbedaan umur yang jauh. Ketika dia bertemu gadis itu Arden merasa dapat berbicara dengan santai dan tenang.  “Adik kecil terima kasih atas perhatianmu. Namaku Alesha, aku harap kita bisa bertemu dan bercerita lagi disini” Gadis itu berteriak dari kejauhan sambil melambaikan tangannya. * * * * * T B C * * * * * Arden masih mimpi tentang kehidupan masa lalunya sebagai Jono. Tapi di tengah semua itu hidupnya di dunia baru masih harus terus berjalan. Hm ... kira - kira bakal gimana, ya, Kev Readers?  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN