Lo hidup bukan di dalam iklan rokok. My life my adventure kagak wajib naik moge menyebrangi jurang. Hidup jadi pejantan memang harus tangguh, tapi masih boleh down sekali-sekali, syaratnya cuma satu: masih manusia. Satu lagi ... jangan memancing di kolam yang dangkal, karena kagak ada ikannya - kevriawan 2020
= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
Bab 7 : Masculinity, Siapa yang Bilang Itu Wajib?
Selain itu Robert Brannon dan Samuel Juni (1984), mengembangkan sebuah alat ukur yang berakar pada teori peran s*x awal dan dikembangkan untuk mengukur bagaimana “apa yang sebenarnya orang rasakan tentang tradisional maskulinitas Amerika”. Termasuk dalam alat ukur tersebut adalah perspektif dan gambaran pernyataan-pernyataan yang mewakili nilai dan norma maskulinitas mainstream. Dalam norma tradisional maskulin Brannon Masculinity Scale (BMS), terdapat empat tema penting dari apa yang laki-laki inginkan, bagaimana laki-laki seharusnya, dan kesuksesan dalam menjalankan hal-hal yang berhubungan dengan bagaimana seharusnya laki-laki bersikap dan berperilaku:
The big wheel. Laki-laki adalah tulang punggung dan harus menanggung keluarganya; memiliki tujuan untuk dikagumi dan dihormati.
The sturdy oak. Memiliki fisik yang kuat dan dapat handling rasa sakit; kuat, memiliki kepercayaan yang tinggi, tegas, atau bisa juga disebut sebagai “male machine”.
No sissy stuff. Menghindari hal-hal yang dianggap feminin dan menghindari terlibat dalam aktivitas yang dapat dianggap feminin; menutupi emosi mereka dan tidak pernah menunjukkan perasaan mereka.
Give ‘em hell. Berani, agresif, dan memaksa, mampu terlibat dalam k*******n jika diperlukan.
By the way, gue pengen komen dulu sebelum melanjutkan teori dari jurnal. Eh, gile cuy … ini mah semua karakter yang ada di novel. Hmm … pantes aja para cewek suka termakan dengan yang beginian. Ampun, deh! Gue enggak memungkiri, memang kesannya keren banget kalau bisa melakukan itu semua. Macam kepercayaan diri lo bakalan langsung naik. Tapi gue juga enggak sanggup kayaknya kalau harus menanggung beban mentalnya. Gue adalah tipikal lelaki yang semau gue. Maksudnya kalo lagi pengen nangis, ya mewek aja. Kalo malu ketahuan tinggal ngumpet. Gue baperan, and it’s oke, walau kadang hati gue patah kalau dikatain baper. Padahal emang bener gue baper. Ugh!
Oke, kita lanjut.
Dapat dilihat bahwa norma-norma yang mengatur mengenai bagaimana seharusnya laki-laki bersikap dan berperilaku dapat menyebabkan munculnya toxic masculinity. Dengan adanya toxic masculinity, menyebabkan munculnya krisis identitas ketika laki-laki mencoba untuk mencapai maskulinitas yang ideal, dan kemudian dapat memberikan efek negatif pada mental dan emosi mereka, seperti:
Menampilkan emosi yang diredam atau tidak didengar.
Menunjukkan kurangnya rasa empati.
Mengalami agresi yang cenderung bertahan lama
Terlibat dalam perilaku kasar terhadap orang yang.
Mengalami diagnosis penyakit mental yang lebih.
Mendapatkan diagnosis gangguan psikologis yang salah.
Menghindari mencari bantuan dari profesional.
Saat ini, sangat penting untuk mempromosikan healthy masculinity, atau positive masculinity. Hal itu tidak hanya bermanfaat bagi laki-laki, tetapi pemahaman maskulinitas yang sehat bermanfaat pada upaya menekan angka k*******n terhadap perempuan dan anak. Sebuah organisasi di Amerika bernama A Call to a Men, mengembangkan positive manhood untuk mencegah k*******n, dan mereka mendorong laki-laki untuk:
Mengekspresikan berbagai emosi dan merasa emosi yang mereka rasakan diterima
Merasa rentan dan mencari bantuan jika memang perlu.
Memperlakukan orang lain secara sama rata dan dengan rasa hormat
Mendengarkan dan menghargai perempuan.
Menjadi role model bagi laki-laki yang sebaya dengan mereka.
Nah, genks, itu sudah semua materi yang gue punya. Lalu sekarang gue mau tanya sama lo semua. Kenapa, sih, lo harus berpandangan bahwa cowok itu wajib kuat, harus tegas, cenderung dituntut lebih berani, dan yang lain --- yang mana menurut lo termasuk hal yang seharusnya cowok lakukan dengan dalih, “ah … lo, kan, cowok. Lo aja yang lakukan.”
Faktanya: Menurut American Foundation for Suicide Prevention, laki-laki tiga kali lebih rentan untuk bunuh diri dan lebih memungkinkan untuk tidak meminta pertolongan baik kepada keluarga, teman, atau lembaga yang tersedia.
Mengapa begitu?
Simpel, woy! Laki - laki juga manusia. Laki - laki yang lahir enggak seluruhnya mempunyai semua kesamaan yang sama, ada yang manly, ada yang lembut, ada yang tegas, ada yang lemah, ada yang macho, juga ada yang kurus. Semua hal tersebut bukanlah kesalahan dan lo semua, khususnya cewek, benar - benar enggak punya hak menghakimi mereka, kita hanya harus menghargai mereka. Menangis bagi lelaki juga bukan hal yang biasa bagi lelaki, tapi menangislah jika memang ingin dan itu adalah hal yang normal bagi semua orang. Karena adanya perbedaan perlakuan emosional gender ini, malah menyebabkan ketidakmampuan bagi kami para cowok untuk mengekspresikan emosi, yang mana akibat konstruksi gender yang tradisional tersebut. Hasilnya malah bisa menyebabkan penumpukan emosi yang senantiasa memberatkan dari waktu ke waktu.
Ini hati, bukan panci. Harusnya berisi cinta, bukan luapan air mendidih dari emosi. Eaaaaa! Wkwkwk.
Emosi yang senantiasa memberatkan dan tanpa pertolongan ini menjadikan laki-laki lebih rentan untuk bunuh diri. Maka, istilah 'toxic masculinity' memang enggak salah lagi untuk digunakan terhadap berbagai konstruksi peran gender yang kemudian membahayakan laki-laki itu sendiri, bahkan bukan enggak mungkin terhadap perempuan juga.
Beranjak dari toxic masculinity, meminta bantuan adalah salah satu bagian dari mengekspresikan emosi. Sementara, untuk laki-laki yang masih terjebak dalam toxic masculinity dan konstruksi peran gender yang tradisional ini, mengekspresikan emosi dianggap lemah. Sehingga, meminta bantuan sebagai bentuk, secara kasar, penghinaan terhadap peran gendernya dan sebagai unjuk kelemahan.
Wahai saudara - saudara gue sebangsa dan setanah air. Buat kalian yang yang masih berbatang dan berjenis kelamin jantan. Perlu dipahami bahwa meminta pertolongan, dalam konteks apapun, bukanlah bentuk kelemahan.
Kesehatan mental juga tentu lebih penting ketimbang anggapan kuno bon jadoel dan konservatif semacam toxic masculinity. Laki - laki harus mulai melepaskan diri dari ikatan konstruksi sosial tersebut dan mulailah mewajarkan meminta pertolongan. Mulai dari keluarga atau teman terdekat saja dahulu. Kembali diingatkan bahwa meminta pertolongan bukanlah bentuk kelemahan. Orang-orang terdekat pun, baik yang laki-laki ataupun perempuan, perlu diingat bahwa sifat judgemental yang didasari oleh pemikiran konservatif dapat menjadi penghalang untuk teman-teman, juga baik yang laki-laki atau perempuan, meminta pertolongan. Misalnya, masih menganggap bahwa kesehatan mental itu sesuatu yang semu kemudian meremehkan permintaan tolong dari salah satu kawan, dapatlah menjadi penghalang untuk mereka meminta pertolongan kembali.
75 tahun Indonesia merdeka, wahai kaum Adam … rela kah kalian masih di jajah oleh stereotipe yang super duper enggak masuk akal, bin menyesatkan, juga menyakitkan, atau bahkan bisa membuat pikiran menjadi gila?
Gue rasa kalian lebih worth dari itu semua. Gue rasa kita enggak perlu lah merasa bahwa mentang - mentang jantan harus kuat. Lo manusia, bukan banteng. Manusia enggak perlu menunjukkan kekuatan, cuma banteng yang seradak - seruduk demi membuktikan bahwa dirinya kuat.
Kalo kata lagu yang lagi tenar : kita ini insan, bukan seekor sapi.
Anjay! Hahaha.
* * * * * to be continued * * * * *
By the way, kalau kalian merasakan sama seperti apa yang Jono rasakan, boleh banget langsung di tap LOVE nya gaes. Atau bisa juga kalau kalian mau add cerita ini ke library atau perpustakaan. Supaya kalau next time saya update, kalian enggak ketinggalan beritanya, hihiw~ Oke deh, kalau gitu see you in the next chapter ya!
Bye ....