Bab 8.1 : Monster Dari Masa Kecil

1110 Kata
Twinkle, twinkle, little star (Kerlap-kerlip bintang kecil) How I wonder what you are (Bagaimana aku tahu kamu itu apa?) Up above the world so high (Jauh di atas semesta yang tinggi) Like a diamond in the sky (Bagai berlian di langit) wahai jiwa bocah yang tertidur dalam kedamaian, bangun lah ... karena kalian harus disembuhkan, hilang dari diri orang - orang dewasa ini - kevriawan, 2020 = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =   Bab 8 : Monster Dari Masa Kecil   “Masuk, Dek! Kamu b***k, ya?!”   Gue menoleh seketika telinga ini mendengar suara teriakan lucknut khas emak - emak, yang tampaknya enggak terlalu jauh dari tempat gue berdiri. Dengan sedikit memicing, lirik - lirik sedikit dan berusaha untuk tetap cool serta terlihat normal, gue menaruh atensi lebih pada ibu - ibu yang berdiri dengan anaknya. MUngkin jarak mereka sekitar satu sampai dua meter saja dari tempat gue berpijak.   “Mami udah bayarin kamu les mahal, lho, Dek!” Emak - emak yang tampaknya sosialita itu agak setengah menyeret anaknya, kemudian menenteng tangannya. “Kamu kenapa, sih?! Mami udah capek, lho, cepat masuk dan belajar sana!”   “Huweeee!”   Gue menunduk, tapi masih berusaha melirik tanpa ketahuan. Bocah yang tadi setengah diseret oleh Mamanya sampai ke depan pintu itu mendadak berhenti. Dia memajukan bibir sambil terisak. Sampai beberapa menit kemudian tangisnya pecah. Bocah lelaki lucu yang gue perkirakan usianya baru menginjak antara empat sampai lima tahun itu menangis sejadinya. Gue enggak tahu karena dia menolak masuk atau karena takut sama Mamanya.   “Jason, stop crying!”    Si Mami ngebentak anak itu lagi, yang ternyata namanya Jason, tapi kali ini doi membentak dengan bahasa inggris. Yaelah, Nyah, dikira kalau ngomel in english enggak kelihatan lagi berlaku kejam pada bocah dibawah lima tahun kali yak. Tukang parkir setengah b***k juga tau kalau ente lagi ngomel ke bocah yang kencing aja mungkin masih di celana, keleus!   “Jason, kamu enggak dengar Mami, ya?!” Duh, ini emak - emak masih aja ngomel. Anaknya malah makin menjadi - jadi tangisannya.   Akhirnya gue pun beranjak dari sana, karena pesanan pisang goreng kalimantan gue sudah jadi. Terpaksa, gue move, pindah, jalan, bergerak, caw dari situ pokoknya. Padahal gue pengen banget lihat kelanjutan keributan emak dan bocah tadi. Mana tempe, kan, scene berubah jadi fantasi, datang ibu peri, lalu di Mami diubah menjadi labu atau batu. Atau bisa juga berubah jadi drama dan tragedi, saat bapak dari anak itu datang dan lihat bocah gantengnya diomelin, terus ternyata si Nyonya tadi itu adalah ibu tiri. Ya, anggap lah gue ini kebanyakan nonton drama korea sama anime, tapi mana tau aja kan?   Bicara - bicara soal nyonyah yang tadi, gue jadi ingat kalau dulu juga gue pernah dapat perlakuan serupa dari bokap. Yang mana, karena kejadian itu gue jadi trauma dan agak getir - getir ngeri gitu sama yang namanya ikat pinggang. Kagak ada demen - demennya gue sama aksesoris satu itu. Kalau seandainya celana gue kedodoran, dan solusinya adalah ke tukang jahit tapi mahal dan lama atau pilih pake ikat pinggang yang murah dan cepat --- bahkan bisa minjam ---- gue rasa sudah jelas yang akan gue pilih adalah pergi ke tukang jahit yang mahal dan lama daripada si ikat pinggang s****n itu.   Pastinya, hal kayak gini terjadi bukan karena tanpa sebab. Dulu, sewaktu gue kecil, bokap itu barbariyah jahiliyah bin siti badriyah, ampun - ampun, pokoknya amit - amit cabang orok lah. Kagak ngerti lagi gue gimana cara mendeskripsikan masa - masa kegelapan itu. Bokap gue itu tipikal yang emosional banget, tapi gue enggak tahu juga alasannya. Dia adalah tipe bapak - bapak yang didikannya ke anak keras, pake banget. Kayak semen kering. Batu maksimal lah, pokoknya. Dan sebagaimana anak bocah, gue itu cukup nakal. Entah, deh, kagak tahu lagi gue … sudah berapa kali ikat pinggang bokap menghajar betis, s**********n, paha, pundak - lutut - kaki, lutut - kaki ----eh, maaf keceplosan.   Gue bahkan pernah ngumpet di kolong tempat tidur dan kagak keluar seharian karena takut di hajar. Bukan apa - apa, bokap gue udah kayak psikopat, anjir! Masa, beliau nungguin gue di depan ranjang. Berharap gue bakalan keluar, tapi ikat pinggangnya menjuntai kemana - mana. Kan sebagai bocah kecil pintar gue mikir, dong. Kalau keluar sudah pasti habis lah kena hajar. Oleh karena itu … jadi … gue pun memutuskan untuk enggak keluar dari kolong tempat tidur, sampai - sampai gue ketiduran, dan besok paginya pas bangun kejedot karena kaget. Parah banget, kan, yes?    Dengar - dengar, kalau kata para psikolog, ini namanya inner child. Apaan lagi itu,  Jon? Menurut sumber yang gue baca, dari artikel kesehatan Kemenkes RI, inner child adalah sisi kepribadian seseorang yang terbentuk dari pengalaman masa kecil. Bisa juga diartikan sebagai sosok anak kecil yang masih melekat dalam diri seseorang. Atau secara sederhana adalah … dalam diri setiap orang masih tersimpan beberapa sisi anak - anak yang melekat. Dengan kata lain, sisi anak kecil dalam diri lo, gue, atau orang - orang di luar sana --- yang tidak mendapat perlakuan dengan semestinya dari orang tua, atau memiliki luka batin masa anak - anak, tidak pernah pergi dan menetap di alam bawah sadar.    Tanpa kita sadari, mereka mempengaruhi bagaimana cara lo dan gue -- kita --- saat membuat keputusan, merespons masalah, dan menjalani kehidupan. Pengalaman kanak-kanak yang tidak menyenangkan atau kurangnya pengasuhan dalam keluarga dapat terus membekas dalam diri seseorang. Saat tumbuh dewasa, hal ini bisa bermanifestasi atau menumpuk dalam berbagai bentuk perasaan dan perilaku negatif. Mulai dari perasaan tidak dicintai, mudah cemas, sulit percaya orang lain, dan sebagainya. Apabila terus dibiarkan, inner child yang terluka dapat menghambat perkembangan diri seseorang sebagai orang dewasa.    Semua orang pasti bertambah tua. Namun faktanya, enggak semua orang dapat menjadi dewasa. Kedewasaan yang sejati adalah ketika posisi ketika lo sudah menyadari dan menyembuhkan ‘anak kecil’ dalam diri lo yang menyimpan rasa sakit, trauma, serta amarah. Sayangnya, tak sedikit orang yang justru menyangkal dan mengabaikan luka inner child atau luka batin dalam diri mereka, sehingga terbawa hingga ke kehidupan dewasa. Saat dihadapkan pada masalah hidup, inner child yang masih bersemayam ini bisa mencuat ke permukaan dan mengambil alih kendali dalam diri kita.   * * * * *   to be continued * * * * *   By the way, kalau kalian merasakan sama seperti apa yang Jono rasakan, boleh banget langsung di tap LOVE nya gaes. Atau bisa juga kalau kalian mau add cerita ini ke library atau perpustakaan. Supaya kalau next time saya update, kalian enggak ketinggalan beritanya, hihiw~ Oke deh, kalau gitu see you in the next chapter ya!   Bye ....   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN