Twinkle, twinkle, little star
(Kerlap-kerlip bintang kecil)
How I wonder what you are
(Bagaimana aku tahu kamu itu apa?)
Up above the world so high
(Jauh di atas semesta yang tinggi)
Like a diamond in the sky
(Bagai berlian di langit)
wahai jiwa bocah yang tertidur dalam kedamaian, bangun lah ... karena kalian harus disembuhkan, hilang dari diri orang - orang dewasa ini - kevriawan, 2020
= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
Bab 8 : Monster Dari Masa Kecil
Inner child yang terluka cenderung membuat seseorang merasa tidak lengkap dan kehilangan kualitas-kualitas seperti kejujuran, tidak takut, rasa aman, keinginan bersenang-senang, dan tidak bersalah dalam diri. Hal itu membuat banyak orang akhirnya menghabiskan hidup mereka dengan mencari kualitas - kualitas tersebut dari luar diri mereka. Lalu apa yang bisa dilakukan ketika inner child terluka?
Menyembuhkannya. Iya, jawabannya sesingkat itu. Lantas, bagaimana caranya?
Gue paham dan tahu betul bahwa ini enggak mudah. Akan ada langkah - langkah panjang yang harus kita lakukan agar tidak mengganggu si inner child ini. Tapi, kita perlu cara untuk menghilangkannya, menyembuhkannya, atau minimal berteman dengannya. Menyembuhkan inner child kita yang terluka adalah sebuah proses yang panjang dan sebuah perjalanan yang sangat personal. Setiap orang memiliki inner child-nya masing-masing dengan kondisi yang berbeda-beda, hal pertama yang perlu kita sadari adalah bagaimana hubungan kita dengan “anak kecil” dalam diri kita ini. Apakah kita sering menyapanya? Apakah kita sudah menerimanya sepenuhnya?
Sadari bahwa diri ini punya inner child yang butuh untuk diterima, dirangkul, diperhatikan, dan dicintai. Kita perlu menyisihkan waktu untuk berdialog dengan diri kita “versi kanak - kanak” bahwa kita telah dewasa dan hidup di masa kini. Yakinkan ke dia kalau sekarang sudah enggak apa - apa, kalau sekarang ini kita aman, kita baik-baik saja, dan kita diterima serta dicintai. Mengabaikan hubungan diri dengan inner child kita justru akan menjadi rantai derita yang tidak berujung hingga lahir generasi berikutnya. Cukupkan rantai derita ini pada diri kita. Putuslah rasa sakit yang turun-temurun ini hanya pada diri kita dan tidak meneruskannya ke generasi selanjutnya. Bagaimana caranya? Sadari, akui, terima, dan cintailah inner child dalam diri kita bagaimanapun keadaannya.
Mungkin untuk kalian - kalian yang sedang mengasuh anak - anak, bisa juga mulai memahami dunia dan perspektif lingkungan mereka. Ada banyak banget hal yang bisa memicu dan meninggalkan luka yang akan terbawa sampai mereka dewasa. Simpelnya, mungkin kalau ada kakak beradik, ya si mama harus tahu diri untuk membagi segala sesuatunya secara adil. Meskipun kita tahu dan paham, kadang tuh bahkan bagi orang tua sulit berlaku adil, walau sama - sama sayang anak. Ini gue rasakan sendiri di keluarga gue. Emak gue bilang dengan mulutnya sendiri bahwa dia lebih mencintai dan menyayangi adik gue daripada gue. Pun begitu dengan bokap, walau sering memukuli gue pakai ikat pinggang, tapi doi dengan lantang bisa mengekspresikan bahwa gue adalah anak kesayangannya, lebih dari adik gue.
Serius, gue enggak menyarankan hal - hal yang kayak gini. Rasa iri itu bisa timbul di mana saja. Gue tahu bahwa ini enggak mudah, gue juga enggak pernah bilang ini adalah sesuatu yang gampang, atau minimal bisa diremehkan. Enggak, ya, sama sekali enggak. Kenapa? Ya, karena ketika kita tersakiti oleh banyak sebab, seringnya kita membutuhkan waktu untuk memaafkan dan berdamai dengan hidup. itu adalah hal yang sangat wajar apabila terlintas dalam benak kita bahwa memaafkan adalah perihal yang tidak mudah. Jangankan memaafkan, untuk sekadar bertatap muka dengan orang-orang yang telah menyakiti kita saja sepertinya hal yang mustahil.
Luka itu ada sekarang, tercipta dari masa lampau dan belum sembuh. Namun, itu tidak berarti kamu akan kehilangan dirimu.
Memang benar bahwa ketika kita tersakiti oleh banyak sebab, seringnya kita membutuhkan waktu untuk memaafkan dan berdamai dengan hidup. Hal yang sangat wajar apabila terlintas dalam benak kita bahwa memaafkan adalah perihal yang tidak mudah. Jangankan memaafkan, untuk sekadar bertatap muka dengan orang-orang yang telah menyakiti kita saja sepertinya hal yang mustahil. Gue rasa mau dewasa atau pun anak - anak akan memiliki sudut pandang yang sama untuk yang satu ini. Banyak orang dewasa yang meragukan adanya inner child dalam dirinya. Wajar memang, karena inner child itu tak terlihat secara fisik. Pasalnya, konsep dari inner child sendiri bukan seorang anak kecil yang ada di dalam diri kita secara fisik,ini bukan kehamilan ya, Parents. Inner Child, memang tidak bisa dilihat, namun dirasakan dan keberadaannya diakui oleh para psikolog.
Memaafkan adalah suatu proses yang bersifat personal. Setiap orang memiliki prosesnya masing-masing. Tidak perlu terburu-buru untuk lekas “pulih”. Sangat wajar apabila kita marah dan kecewa terhadap orang yang menyakiti kita. Namun, bukan berarti kita tidak bisa memaafkan orang-orang yang telah membuat kita marah, kecewa dan terluka. Kita hanya butuh berdamai dengan emosi-emosi tersebut karena apabila emosi tersebut kita abaikan maka akan berdampak pada kesehatan mental kita. Tidak jarang orang-orang yang mengalami gangguan mental, seperti depresi disebabkan karena dirinya belum berdamai dengan emosi-emosi dalam diri.
Memaafkan adalah sebuah keseluruhan proses dalam diri. Proses ini tidak hanya membutuhkan waktu, tetapi juga usaha. Usaha yang dimaksud adalah usaha untuk berdamai dengan emosi-emosi negatif yang muncul dalam diri. Kita perlu memaknai emosi-emosi yang muncul untuk dapat berdamai dengan luka. Memaknai rasa marah, kecewa, tersakiti, secara mendalam kemudian melepaskan semuanya seperti melepaskan balon di udara. Melepaskan segala amarah dan emosi negatif itu perlu untuk proses menerima diri sendiri dan menghadirkan empati. Empati hadir ketika kita telah menerima keseluruhan emosi, perilaku dan luka yang ada dalam diri kita dan melihat peristiwa lalu dengan sudut pandang yang berbeda. Selanjutnya, memaafkan adalah perihal yang memungkinkan untuk kita lakukan, tentunya dengan sebelumnya menghadirkan empati dalam diri.
Kita butuh waktu dan usaha untuk perlahan melepaskan rasa marah dan benci pada orang-orang yang menyakiti kita. Kita butuh waktu dan usaha untuk memandang apapun yang terjadi di masa lalu dengan kacamata yang berbeda. Kita butuh waktu dan kemauan untuk bertumbuh baik secara spiritual maupun kognitif demi kesehatan mental kita. Kita butuh waktu untuk akhirnya sampai pada titik berdamai dengan masa lalu dan usaha untuk menghadirkan empati terhadap seseorang yang telah menyakiti kita. Perihal waktu yang kita butuhkan untuk sampai pada titik tersebut adalah persoalan pribadi masing-masing. Tidak instan dan tidak terjadi dalam semalam.
Memaafkan adalah satu kata kerja sehingga memaafkan selain butuh waktu juga melibatkan usaha dan kemauan.
Jadi, apa pun luka yang lo dapat dari orang tua, gue harap itu semua bukan lah sesuatu yang akan terlalu memusingkan lo nantinya. Untuk bertahan hidup, kita harus sembuh dulu dari luka - luka itu, agar kita enggak menularkannya ke anak - akan kita nantinya. Kita semua ingin membesarkan anak-anak yang sehat, bahagia , suka berteman dan percaya diri. Ingat, rasa cinta pada diri anak itu diajarkan, bukan sebuah “bakat alami”. Sebagai orang tua, kita bertanggung jawab untuk mengajar anak-anak kita untuk mencintai diri sendiri. Cara kita nomor satu untuk melakukan ini adalah dengan mencintai diri sendiri. Jika sebagai orang tua, kita tidak mencintai diri kita sendiri, tetapi mempedulikan orang lain dan segala sesuatu yang lain, maka kita mengajar anak-anak kita bahwa cinta berasal dari luar atau hanya datang dengan “berbuat” untuk orang lain. Dengan begitu, kita membesarkan anak-anak untuk “menyenangkan orang lain”, atau kita membesarkan anak-anak dengan rasa penerimaan yang tidak seimbang.
Menjadi role model (contoh) yang ‘mencintai diri sendiri’ berarti bahwa kita, sebagai orang tua mereka, mencintai hidup kita terlebih dahulu. Kita mengurus waktu kita, kita bertanggung jawab, terorganisir, sehat dan punya semangat tentang siapa diri kita di dunia, kita bekerja keras dan kita membuat waktu berkualitas untuk teman-teman kita, keluarga, dan anak-anak.
Jika kita melakukan apapun kurang dari ini, tetapi menuntut semua sifat-sifat ini pada anak-anak kita, kita tidak akan melihat itu terwujud pada anak-anak kita . Anak-anak melihat . Anak-anak melakukan apa yang kita lakukan , dan melakukan sangat sedikit dari apa yang kita perintahkan.
Jika kita tidak senang dengan apa yang kita lihat pada anak-anak kita, dalam hal sikap, tanggung jawab dan bersyukur, maka kita harus melihat secara mendalam pada diri kita sendiri dan apa yang kita contohkan untuk mereka.
Hadiah terbaik yang dapat kita berikan pada anak kita adalah untuk mencintai diri sendiri. Bagi seorang anak adalah sebuah ‘visi’ untuk melihat orang tua mereka bangun dan bersemangat tentang siapa mereka sebagai individu .
Setiap orang tua akan dipersiapkan untuk hari itu, tujuan dan agenda yang ditetapkan, ada latihan yang bisa didapat, makanan sehat untuk dimakan, struktur di rumah dan ada energi tentang” kita semua memiliki tujuan khusus di dunia ini.
Jika kita memiliki tujuan dan kita menjalani hidup sebagai individu dan mendorong melalui bagaimana cara kita hidup, bicara, mencintai, dan mengekspresikan diri, anak-anak kita akan mengikutinya. Mereka akan hidup dengan standar cinta yang kita miliki untuk diri sendiri dan cinta dan disiplin yang ditanamkan di rumah.
Beuh, keren banget, kan, bahasan gue hari ini? Haha, stay tune makanya!
* * * * * to be continued * * * * *
By the way, kalau kalian merasakan sama seperti apa yang Jono rasakan, boleh banget langsung di tap LOVE nya gaes. Atau bisa juga kalau kalian mau add cerita ini ke library atau perpustakaan. Supaya kalau next time saya update, kalian enggak ketinggalan beritanya, hihiw~ Oke deh, kalau gitu see you in the next chapter ya!
Bye ....