Bab 18. 1: Khayalan Tanpa Batas

1013 Kata
Setiap orang berhak memiliki kehidupan yang aman, damai, dan nggak neko neko. Lo nggak perlu ikut andil dalam menentukan mau dibawa kemana kehidupan mereka nanti. Mau nyungsep, terbang, ngesot ... sumpah, ya ... itu semua sama sekali bukan urusan lo. Berlatihlah menghargai orang lain, termasuk memaklumi alasan dari setiap pilihan yang mereka ambil. Lo nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi sampai lo mengalaminya sendiri, jadi lo nggak punya hal buat ngebacot sana - sini. Udah lah, hidup aja dengan damai, urus diri lo sendiri. - kevriawan 2021     = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =    Bab 18. 1: Khayalan Tanpa Batas Gue tahu bahwa hidup di dunia yang terkadang suka mirip tokai kerbau yang kena injak kuda bukanlah hal yang mudah. Lo akan dituntut untuk melakukan berbagai macam hal yang mungkin saja sebenarnya enggak lo sukai, enggak lo kehendaki, atau pun enggak lo inginkan sama sekali. Gue juga enggak mengerti sebetulnya, kenapa begitu banyak pemaksaan. Kenapa kita enggak bisa berlaku bebas seperti asas dalam pancasila. Padahal kebebasan adalah hak setiap bangsa, yang mana itu juga berarti setiap warga negaranya harus memiliki kebebasan yang hakiki. Tapi … so sadly, kenyataannya kebebasan yang kita alami ini semu. Ibarat kata cuma bayangan. Kayak orang diabetes yang kagak boleh makan gula, tapi dikibulin sama iklan gula  anti diabet yang sebenarnya enggak jauh berbeda fungsinya sama gula biasa.  "Jon, muka lo suram amat, sih!" Juki tiba-tiba duduk di samping gue, berjongkok dan ikut memandang langit yang mulai gelap karena memang sudah malam. Gue menoleh, menatap Juki yang tidak henti-hentinya meratapi nasib bersama-sama. "Ah, lo juga sama kan juk?" "Sama apanya, an.jay? Hahaha!" Juki tertawa getir.  Gue mendelik, ya elah ... si be.go malah cengengesan. "Nggak usah ketawa, lo. Pasti abis di bully juga kan?" Juki terdiam, an gue jadi enggak bisa melakukan apa-apa. Mukanya yang terlihat asem dan muram itu sudah menjawab pertanyaan gue sebenarnya. Ya, mungkin benar kata orang. Kalau berteman itu jangan sama orang cupu, nanti ikutan cupu. Buktinya kayak gue dan Juki. Hanya karena kami sering berduaan, dan sering jadi bahan ceng-cengan, orang-orang jadi malah makin membully kami. Yang katanya gue gay-lah, yang katanya Juki naksir gue. Belum lagi gosip aneh yang mengabarkan kalau kami mau nikah di thailand. Haha ... orang gila. Gak ada obat emang si bangsad-bangsad satu itu. "Jon, lo capek nggak sih hidup kayak gini terus?" Juki tiba-tiba bertanya ke gue dengan mimik wajah sangat serius. "Gue ngerasa hampa banget, an/jir. Mau sampe kapan kita jadi bahan ledekan orang-orang?" "Iya juga, ya?" Gue jadi ikut berpikir, mata gue menerawang ke atas. "Kapan ya mereka mulai nge-ceng-in kita? Kenapa harus kita? Apa nggak ada orang lain?" "Mungkin karena kita diam aja?" Juki berkomentar. "Enggak lah. Gue nggak tinggal diam, kok." Gue membantah komentar Juki. "Manusia tuh emang begitu, kalau punya kekuasaan sedikit, penginnya membully yang lemah." "Ampas banget, ya Jon?" Juki menatap gue, tapi matanya jelas kosong. "Kok kita nggak bisa jadi mahasiswa normal aja, sih?" "Lo mau hidup normal, ya, juk?" Gue membalas tatapanya. Gils, kami menyedihkan banget ga sih gais? "Gue mau pindah dunia, kalau bisa." Juki membalas ucapan gue. Sedikit melirik, gue pun tertarik mengomentari perkataan kawan gue ini. "Kalau memang mau pindah dunia, harusnya waktu itu ... ketika gue memutuskan buat bunuh diri ... lo ikut lompat bareng. Bukan malah melarang gue, Juk." "Ya kali ... lo gila aja. masa bunuh diri, sih?" Juki menyikut pinggang gue. "Emang apa yang lo harapin dengan bunuh diri, Jon?" "Mungkin aja kita bisa pindah dunia kan? Masuk ke cerita yang lo inginkan. Dunia baru, cerita baru. Tempat yang nyaman. Di mana nggak ada satu pun orang yang kenal sama kita. Nggak tau siapa kita dan nggak membully kita. Kayaknya asik, deh?" Gue berdeham, ikut membayangkan. Dalam kepala gue yang kecil ini muncul sebuah dunia seperti di anime - anime atau game - game MMORPG yang pernah gue mainkan. Sebuah dunia yang ala - ala kerajaan jaman dulu. Ada perang, ada ksatria, ada pahlawan. Gue Pokoknya melihat hamparan padang luas nan hijau yang ditumbuhi segala jenis tanaman. Lalu, ada orang-orang yang pandai menggunakan sihir. Mereka bisa mengubah segalanya hanya dengan sebuah mantra dan pakai mana ... bahasa indonesianya tenaga dalam kali ya? Hahaha, suka an.jay emang kehaluan gue. "Kalau ada dunia kayak gitu ... gue yakin hidup akan sangat menyenangkan ya Jon." Juki membalas ucapan gue. Langit yang makin lama semakin gelap seolah ikut mem-bully kami. Gimana enggak? Masa gue sama Juki cuma duduk di teras kos-kosan, tpai tiba-tiba gledeknya kencang banget? Angin juga berembus sangat kencang, sampai - sampai gue yang terbiasa kepanasan sampai cuma tidur dengan sem.pak doang jadi kedinginan. Ini aneh banget. Udara yang tadinya kering, mendadak lembap. Auranya kayak mendung mendadak gitu dan mau turun Hujan. Ya Tuhan, apakah Engkau juga mau ikut membully ---- eh, nggak. Maksudnya, apakah Engkau juga mau ikut menguji kesabaran hambamu ini? Baru juga damai melihat langit yang hampir malam. Eh, pemandangannya sudah kabur ketutup awan hitam. "Kalau lo punya kesempatan untuk itu ... lo mau jadi apa Juk?" Gue menoleh, menatap Juki yang sekarang sedang memeluk lututnya dalam diam. Juki tampak berpikir sejenak. Itu membuat gue sedikit penasaran. "Mungkin gue mau ngerasain hidup kayak karakter game, ya Jon. Jadi pahlawan gitu. From zero to hero lah istilahnya." "Oh, jadi tokoh utama yang tadinya gak punya apa - apa tapi nantinya bisa jadi orang hebat?" Gue memperjelas kehaluan Juki. Kawan gue itu mengangguk mantap. "Nah, bener! gue mau jadi orang baik yang bisa menyelamatkan orang-orang, Jon!" Tanpa sadar gue menghela napas. Itu memang mustahil. Tapi bukan nggak mungkin malah bisa jadi kenyataan, kan? * * * * *   to be continued * * * * *   By the way, kalau kalian merasakan sama seperti apa yang Jono rasakan, boleh banget langsung di tap LOVE nya gaes. Atau bisa juga kalau kalian mau add cerita ini ke library atau perpustakaan. Supaya kalau next time saya update, kalian enggak ketinggalan beritanya, hihiw~ Oke deh, kalau gitu see you in the next chapter ya!   Bye ....   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN