Bab 18.2: Khayalan Tanpa Batas

1058 Kata
Percayalah, di antara kita akan selalu ada orang - orang toxic yang ingin selalu menyakiti orang lain. Orang yang hannya akan bahagia kalau melihat penderitaan orang lain. Orang yang akan senang kalau melihat orang lain susah. Orang yang tidak bisa kalau tidak mencari - cari kesalahan orang lain. Mereka yang dengan tanpa bersalah mengaku - ngaku sebagai manusia paling baik, paling mulia, paling suci ... tapi, mereka juga lah yang paling na.jis di antara semua manusa terna-jis yang pernah ada. Apakah orang kayak gini ada di muka bumi? Oh ... tentu ada! Coba ngaca, jangan - jangan, lo orangnya! - kevriawan 2021 = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = Bab 18.2 : Khayalan Tanpa Batas     — — — — — — — — — — — — — — —  —       Orang - orang mungkin saja mengira kalau gue sudah gila. Di malam yang semakin larut ini gue justru mengajak Juki jalan-jalan. Bukan di cuaca yang normal pastinya. Karena hujan sedang mengguyur tepat di atas kepala kami. Tuhan benar-benar punya caranya sendiri untuk menguji manusia. Bagi gue yang sudah sangat tertekan dan menderita, ini benar-benar sebuah cobaan yang hampir di luar batas. Bukan sekali atau dua kali gue merasa hidup gue s**l. Be like ... nggak ada orang yang mengerti gue sama sekali. lo pernah, nggak, sih, merasa kayak gitu? Apakah ini hanya perasaan kami orang - orang yang ter-bully? Apakah hidup kalian akan langsung blangsak kalau seandainya tidak membully kami barang sehari saja? "Jon, kita mau ngapain, sih?"  Juki yang sedari tadi berjalan di sebelah gue bertanya. Dia memeluk tubuhnya sendiri yang mulai kedinginan. Angin malam yang berembus kencang di tengah hujan deras ini membuat kami seperti pakai minyak angin lalu di kipasin. Dingin cuyy! "Lo bilang tadi mau merasakan dunia baru, kan?" Gue bertanya ke Juki, dan dia mengangguk. "Ini adalah langkah yang tepat untuk datang ke Dunia baru. Lo percaya sama gue kan?" "Sebenernya kaga. Musrik, tau!" Juki  berseru, bercanda di tengah nelangsa yang kami alami. "Kita kek artis sinetron ya. Yang di ikan terbang tuh. kumenangis ~" "Ah, lo aja deh Juk. Gue ogah." Kilahku sambil mempercepat langkah. Juki mengikuti gue di belakang. Dia kebingungan tapi tidak protes juga. Namun, semakin jauh jarak yang kami ambil, semakin pelan juga langkah yang kami patri. tentu saja ... kami lelah dan kedinginan. "Lo mau ke mana sih, Jon?" Juki bertanya lagi. Kali ini dia menghentikan langkahnya sejenak. Menahan tangan gue, dan membuat kami berhadapan. "Kita udah hujan - hujanan kayak film india, tapi dari tadi lo nggak ngasih tau gue." "Juk ... lo capek nggak sama dunia ini?" Gue bertanya ke Juki dengan pasrah, dan tentu dua mengangguk. ya, sebenarnya nggak ada orang yang tidak lelah dengan dunia yang seperti ini. "Gue mau ngajak lo ... melepas semua lelah ini." "jangan bilang ...." ucapan Juki terputus, sepertinya dia sudah mulai bisa menebak. ke arah mana kami akan melangkah. Dan pilihan macam apa yang sedang gue suguhkan padanya. "Gue nggak tahu kalau lo, ya Juk ..." ucapan gue menggantung, rintik air hujan terus membasahi kami. "Tapi kalau gue ... kayaknya sudah nggak kuat lagi deh." "Kenapa?" Juki bertanya dengan wajah tidak percaya. "Apa lo selemah ini, Jon?" "Iya, gue lemah. Lemah banget, Juk." Gue tersenyum getir. "Memang seharusnya waktu itu lo nggak usah menyelamatkan gue." "HA HA HA HA!" tiba-tiba juki tertawa sangat keras, dan gue jadi nggak bisa  berkomentar apa - apa karena kaget pastinya. "Lo lucu banget, deh, Jon." katanya melanjutkan. "Lo jelas - jelas takut dengan ketinggian, tapi masih aja nekat mau lompat dari atap gedung kampus. Lo kira malaikat maut bakalan seneng dapet tugas tambahan dan tamu nggak diundang kayak lo?" "Ya, bukan nya semua orang emang udah pada nggak suka sama gue? Apa lagi yang mau gue harapkan? Malaukat maut suka sama gue? Gue juga nyadar kali kalo yang suci itu mereka, gue mah penuh dosa!" "ya, terus lo mau mati terus masuk neraka?" Juki tiba-tiba emosi. "Gue juga muak diperlakukan kayak gini, jon ... tapi bukan berarti kita harus ..." "CUKUP!" gue berseru tiba - tiba. Kesal juga lama - lama dengerin bacotan Juki. "Ini pilihan gue, kalau lo nggak mau, pulang aja sana. Jangan ganggu proses perjalanan gue menuju kedamaian." "Jon, lo gila, ya?!" juki menahan tangan gue, dan mendadak melayangkan tinju ke wajah gue. Gue nggak membalas, saat tubuh gue lemas dan terhuyung, gue memilih pasrah dan jatuh begitu saja ke tanah. "Lo bunuh gue aja kalau kesel. Terus bunuh diri." "GILA!" "Ha ha ha ...." gue tertawa getir. "Mana tau Tuhan beneran ngasih kita kesempatan kedua? Ya, siapa tau?" "Bercanda, lo, bang-ke!" Juki mengguncang-guncang tubuh gue, tapi pikiran gue malah semakin kosong. "kalau Tuhan belum mau lo mati, percayalah ... lo nggak akan mati!" "Mau buktiin sama-sama?" Gue mengangkat sebelah alis ke Juki. "Kita berdiri di tengah jalan sampe ada yang nabrak gi mana?" "Orang gila, ya lo!" Juki makin marah. "Hidup lo itu berharga, Jon!" Mendengar ucapan Juki, gue malah jadi semakin hopeless sama hidup. Bener kata Juki sebelumnya, mau sampai kapan gue dan dia seperti ini? Gue udah capek banet deh rasanya. Nggak tau kenapa, nggak kuat aja. Mengingat kehidupan yang lalu-lalu membuat hati gue sakit dan d**a gue sesak banget rasanya. Ini di luar batas kemampuan gue. Dan jujur aja, memang sudah lama gue memiliki keinginan untuk bunuh diri. Mungkin, Juki juga yang paling tahu hal itu. Stress berkepanjangan membuat gue burn out. Emosi gue makin nggak terbendung dan ... "Jono, gue nggak peduli, lo mau marah atau musuhin gue sekalipun, tapi ayo kita pulang sekarang!!" juki menyeret gue dengan susah payah. "Gue akan selamatin lo, Jon, nggak peduli berapa kali pun!" "Juk ... sumpah ya, itu beneran percuma dan buang-buang wak-----" CKIITTTT!! BRRAKKK!! Gue belum selesai ngomong, tapi hantaman keras itu membuat gue dan Juki terpental. Entah apa yang terjadi. Rasanya tubuh gue melayang, pandangan gue gelap. Hal di sekitar gue buram. Lalu perlahan ... hitam pekat itu menelan gue hidup - hidup. * * * * T B C * * * * Hai guys, saya come back nih, haha ,,, arah ceritanya berubah. saya pengin nulis fantasy. Kira-kira jono beneran mati, nggak ya? Hayoo ... apa ada yang penasaran? Stay toon yaa. Saya harap kalian suka dengan ceritanya dan suka dengan comeback saya~ Sampai jumpa di chapter berikutnya~!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN