"Oke, Maya hutang lo udah lunas. Lain kali kalau lo butuh duit lagi, lo bisa hubungi gue," ucap Jarwo setelah menghitung uang yang diberikan Abi sambil tersenyum mengejek.
"Oh, iya. Dari mana anak lo dapet duit lima puluh juta secepat ini? Semoga dia mendapatkan uangnya dengan cara halal karena kalau dia merampok atau mencuri, gue yakin gak akan lama lagi polisi akan atang ke sini menangkapnya, lalu dia akan berakhir di penjara," lanjut Jarwo membuat Abi geram.
"Dari mana saya dapatkan uang itu tidak penting. Yang jelas uang itu adalah uang halal. Polisi tidak akan ke sini untuk menangkap saya," bantah Abi membuat Jarwo tertawa lebar. Lelaki berkumis tebal itu memberikan isyarat kepada dua anak buahnya untuk segera meninggalkan rumah Maya.
Husna merasa lega karena hari ini dirinya telah selamat dari lelaki hidung belang itu. Seandainya Abi tidak membawa uang lima puluh juta untuk melunasi hutang ibunya hari ini, dia tidak tahu lagi bagaimana nasibnya. Mungkin saja Jarwo telah membawanya pergi dan menjadikannya istri kelima.
"Mas, dari mana kamu dapat uangnya?" tanya Husna setelah Jarwo dan kedua anak buahnya pergi.
"Kamu juga ragu kalau aku dapat uangnya dengan cara yang halal, Dek," balas Abi kesal.
"Bukan begitu, Mas. Tetapi--"
"Kamu harus yakin kalau aku nggak mungkin menafkahi kalian dengan uang haram," tegas Abi.
"Maafkan Ibu ya, Bi." Maya angkat bicara.
"Iya, Bu. Abi harap ini yang terakhir kalinya Ibu terjerat hutang dengan Juragan Jarwo."
"Iya, Bi. Ibu janji."
"Oh iya, Bu. Saya sekalian mau minta ijin sama ibu. Saya akan menikah." Ucapan Abi sontak membuat ibu dan adiknya terkejut.
"Menikah?" Maya dan Husna berucap hampir bersamaan.
"Benar, Bu. Saya hanya minta doa restu dari ibu," balas Abi datar. Pemuda itu tahu kalau ibu dan adiknya pasti akan terkejut mendengar berita ini.
"K-kamu mau menikah dengan siapa, Bi?" tanya Maya gugup. Selama ini wanita paruh baya itu tidak pernah melihat Abi dekat dengan seorang wanita, sehingga dia merasa sangat heran saat putra sulungnya itu mengutarakan niatnya untuk menikah.
"Saya akan menikah dengan Non Inara, putrinya Kiai Ammar," jelas Abi.
"Tunggu, putrinya Kiai Ammar, berarti majikan kamu?" tanya Maya memastikan.
"Benar, Bu."
"Apa kamu sudah siap dengan semuanya, Bi? Menikah itu kan butuh biaya besar, sedangkan kamu baru saja membayar hutang Ibu sebanyak itu. Lagi pula wanita yang akan kamu nikahi itu kan putrinya Kiai, orang yang terpandang dan juga orang kaya. Apa kamu sudah pikirkan biaya untuk mahar dan lain-lainnya?" tanya Maya mengingatkan.
Wanita paruh baya itu tahu betul, selama ini Abi bekerja sebagai tulang punggung keluarga. Bahkan pemuda itu tidak sempat menabung untuk dirinya sendiri, apalagi untuk persiapan menikah. Beberapa minggu terakhir Abi telah terkena PHK dan menganggur sehingga uang pesangon dari pabrik telah habis untuk makan setiap hari, lalu kini ketika baru bekerja tiga hari di tempat Kiai Ammar, tiba-tiba pemuda itu minta ijin untuk menikah. Tentu saja Maya merasa khawatir.
"Ibu tidak perlu khawatir. Saya sudah mempersiapkan semuanya. Tugas Ibu hanyalah memberikan doa restu kepada saya dan Non Inara."
"Maafkan Ibu, Bi. Selama ini Ibu hanya bisa menyusahkanmu. Semoga kamu dan Non Inara menjadi keluarga yang bahagia, ya." d**a Abi berdesir saat mendengar doa dari sang ibu. Andaikan mereka tahu kalau dirinya hanya menjadi suami kontrak. Ah, pemuda itu tidak mungkin menceritakan semua kepada keluarganya. Dia hanya ingin, ibu dan adiknya bahagia. Abi bahkan tidak pernah memikirkan kebahagiaannya sendiri. Entah kehidupan macam apa yang menantinya di kemudian hari setelah dirinya menikah dengan Inara.
"Iya, Mas. Aku juga ikut berdoa untuk kebahagiaan kamu dan Non Inara," sahut Husna bahagia. Meskipun belum mengenal secara baik siapa itu Inara, tetapi Husna meyakini kalau pilihan kakaknya tentulah yang terbaik.
"Terima kasih doa kalian. Ibu dan Husna tidak usah khawatir. Meskipun nanti saya sudah menikah dengan Non Inara, tetapi saya tetap akan menafkahi kalian. Jadi, pesan saya, Husna tetap semangat kuliahnya agar bisa tercapai cita-cita kamu menjadi guru," pesan Abi. Dirinya yang sudah lulus sarjana agama dari IAIN Yogyakarta saja gagal menjadi guru karena tuntutan ekonomi. Tentu saja Abi tidak ingin Husna gagal juga seperti dirinya.
"Iya, Mas. Insya Allah saya tidak akan mengecewakan kamu. Saya akan belajar dengan giat agar nanti bisa lulus dengan nilai yang terbaik dan bisa menjadi guru seperti cita-cita almarhum Ayah," balas Husna bersemangat. Gadis itu terharu dengan perjuangan kakak sulungnya untuk membiayai kuliahnya meskipun dalam keadaan ekonomi yang pas-pasan. Sampai-sampai Abi rela mengubur cita-citanya menjadi seorang guru demi mendapatkan gaji yang lebih layak untuk menafkahi mereka berdua.
"Untuk ibu, jangan sampai terjerat hutang lagi, terutama pada rentenir seperti Juragan Jarwo," ucap Abi sembari menoleh ke arah ibunya. Abi baru tahu kalau sebenarnya hutang ibunya kepada Jarwo hanyalah dua puluh juta. Sedangkan yang tiga puluh juta adalah bunga yang harus dibayarkan karena menunggak selama tiga tahun. Semenjak meninggalnya sang ayah karena kecelakaan, ibunya sering berhutang sedikit demi sedikit kepada Jarwo untuk menutup kebutuhan rumah tangga dan tidak membayar angsurannya selama tiga tahun terakhir sehingga hutang itu berbunga sehingga menjadi lima puluh juta.
"Iya, Bi. Sekali lagi Ibu minta maaf karena selalu menyusahkanmu. Terima kasih, ya," ucap Maya haru. Wanita baru baya itu berhambur memeluk putra sulungnya sembari menangis.
"Ibu jangan pernah merasa menyusahkan saya. Semua ini sudah kewajiban saya. Saya adalah anak laki-laki, saya pengganti Ayah dan saya lah yang akan menjadi pelindung kalian berdua," balas Abi sembari mempererat pelukannya.
***
"Saya terima nikah dan kawinnya Inara Putri Humaira binti H. Ammar dengan maskawin tersebut dibayar tunai," ucap Abi lantang.
"Bagaimana para saksi? Sah?"
"Sah."
"Alhamdulillah barakallahu lakuma wa baraka alaikuma wa jamaah bainakuma bil khoir."
Dada Abi berdesir saat Inara menjabat dan mencium punggung tangannya. Begitu juga saat Penghulu memintanya mencium kening wanita yang baru saja sah menjadi istrinya. Seketika tubuh pemuda itu meremang.
Satu minggu setelah Abi melamar Inara, ijab kabul dilaksanakan di rumah kediaman Kiai Ammar dan hanya dihadiri oleh beberapa kerabat dekat saja dari keluarga Inara. Sedangkan dari keluarga Abi hanya Maya dan Husna yang hadir.
Inara menolak diadakan pesta karena menurutnya pernikahan itu yang terpenting adalah sah dengan Ijab kabul menurut agama dan negara. Sedangkan pesta bisa dilaksanakan kapan-kapan. Gadis itu beralasan kepada kedua orang tuanya, bahwa Abi belum memiliki tabungan untuk mengadakan pesta.
Inara juga menolak saat Kiai Ammar berniat mengadakan resepsi pernikahannya di gedung dan mengundang beberapa relasi bisnis dengan alasan dia tidak suka pesta. Padahal sebenarnya, gadis itu tidak ingin mempublikasikan pernikahannya dengan Abi karena sesuatu hal yang tidak diketahui oleh keluarganya termasuk soal surat perjanjian antara dirinya dengan Abi yang hanya merupakan suami kontrak.
Selepas acara ijab kabul dan acara ramah tamah, ibu dan adik Abi pulang ke rumahnya dengan taksi online. Begitu pula para kerabat terdekat keluarga Kiai Ammar. Hanya tinggal putri bungsu Kiai Ammar yang memang sengaja tinggal dan menginap. Putri bungsu Kiai Ammar yang beberapa tahun terakhir ini tinggal dan belajar di pesantren memutuskan untuk menginap beberapa hari di rumah kedua orang tuanya karena masih rindu.
Sementara itu di dalam kamar pengantin, d**a Abi berdebar saat hendak memasuki kamar wanita yang kini telah sah menjadi istrinya. Meskipun sadar diri kalau pernikahan mereka hanyalah di atas kertas dan dirinya hanyalah seorang suami kontrak, tetapi tidak dapat dipungkiri kalau Abi merasa grogi. Dadanya berdebar kencang seolah jantungnya hendak melompat keluar.
Saat sampai di dalam kamar, Abi melihat Inara telah keluar dari kamar mandi. Gadis itu memakai piyama lengan pendek dan mengurai rambutnya yang hitam legam dan panjang. Hal itu membuat Abi memandang tanpa berkedip dan hanya bisa menelan ludahnya yang mengental di tenggorokan. Pemuda itu baru tahu bahwa ternyata Inara terlihat jauh lebih cantik tanpa jilbab.
"Ngapain ngeliatin aku seperti itu?" tanya Inara membuat Abi gelagapan.
"Biar aku ingatkan isi surat perjanjian yang sudah kamu tandatangani agar kamu tidak lupa maupun melanggarnya. Perjanjian nomor satu, bahwa tidak ada kewajiban suami istri di antara kita berdua. Yang nomor dua, kita tidak tidur satu ranjang, kamu tidur di bawah dan aku tidur di ranjang. Nomor tiga, kamu tidak boleh mencampuri urusanku dan aku juga tidak akan mempedulikan urusanmu. Kita jalan masing-masing. Yang keempat kita harus pura-pura harmonis dan bahagia di depan semua orang kecuali saat kita hanya berdua saja. Kamu tetap panggil aku Non saat kita hanya berdua, tetapi kalau ada orang lain panggil aku Dek. Yang kelima, masa perjanjian pernikahan kita akan berakhir sembilan bulan dari sekarang. Kamu harus menceraikan aku setelah pernikahan kita berjalan sembilan bulan. Kamu sudah paham, kan," ucap Inara panjang lebar.
"Iya, Non. Saya paham. Insya Allah saya akan melaksanakan isi surat perjanjian itu sesuai dengan keinginan Non. Tetapi kalau boleh saya menagih janji Non."
"Janji? Janji apa?" tanya Inara sembari menatap lelaki yang kini telah sah menjadi suaminya itu.
"Non berjanji setelah menikah akan jujur pada saya tentang apa alasan Non mencari suami kontrak?" tanya Abi penasaran. Sudah lama pemuda itu menantikan jawaban dari Inara.
"Kamu benar ingin tahu?" tanya Inara memastikan.
"Bener, Non. Saya berhak tahu, bukan?" tanya Abi lagi.
"Baiklah, aku akan memberitahukanmu mengapa aku harus mencari suami kontrak. Sebenarnya ....