Bab 6. Cerita Inara

1331 Kata
"Selama tiga tahun aku kuliah di Singapura, tepatnya di National University of Singapore. Waktu itu aku mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan S2 di sana. Sebenarnya Abah merasa berat melepaskan aku kuliah di luar negeri karena Abah menginginkan aku belajar di pesantren seperti adikku. Tetapi aku menolak karena aku lebih suka mempelajari ilmu bisnis dan manajemen daripada ilmu agama. Akhirnya dengan berat hati, Abah mengijinkan aku mengambil beasiswa itu. Selama tiga tahun kuliah di Singapura, aku hanya pulang ke Yogya dua kali dalam setahun dan bagiku itu tidak masalah. Abah berulang kali memperingatkan aku untuk menjaga diri karena aku hidup seorang diri jauh dari keluarga. Di tahun kedua kuliah di sana, aku mulai dekat dengan seorang lelaki. Namanya Radit, orang Indonesia juga, asal Jakarta. Dia adalah kakak tingkatku di kampus. Kedekatan kami bermula dari seringnya kami sharing tentang ilmu manajemen bisnis. Radit banyak membantu aku dalam mengerjakan tugas-tugas kuliahku hingga akhirnya aku merasa nyaman dan selalu mempercayainya. Suatu malam seorang temanku mengundang pesta ulang tahun yang diadakan di sebuah hotel. Kebetulan Radit juga diundang dalam pesta itu. Saat masih tengah acara, tiba-tiba kepalaku terasa pusing. Sepertinya aku salah mengambil minuman yang beralkohol karena dalam pesta itu juga disediakan minuman alkohol. Padahal aku belum pernah minum alkohol sebelumnya. Mungkin itu yang menyebabkan kepalaku pusing dan badanku tidak seimbang lagi. Aku pun berpamitan pada temanku untuk pulang terlebih dahulu sebelum acara usai karena aku merasa tidak kuat lagi. Radit menawarkan diri untuk mengantarku pulang ke tempat kost dan aku menerimanya, sebab aku berpikir akan lebih aman bagiku pulang bersama Radit daripada harus mencari taksi dalam keadaan seperti ini. Dalam perjalanan pulang kepalaku sudah terasa berat. Aku pun tidak sadar dengan apa yang terjadi selanjutnya. Seingatku Radit membopong tubuhku masuk ke kamar. Aku seperti bermimpi didatangi makhluk yang mengerikan, sehingga saat membuka mata dan melihat Radit hendak pergi, aku menahannya. Aku memintanya tinggal karena takut mimpi buruk itu datang lagi. Setelah itu aku kembali tertidur, tetapi aku sempat tersadar telah melakukan sesuatu yang terlarang dengan Radit. Kami dikuasai nafsu, hingga malam itu, kami bersama-sama mereguk surga dunia. Aku terbangun di pagi hari dan terkejut saat melihat Radit tidur di sampingku dan kami berpelukan tanpa busana. Aku menjerit, menangis, kecewa sambil berusaha membangunkan Radit yang masih tertidur pulas. Lelaki itu minta maaf kepadaku karena tadi malam dia telah khilaf. Namun, dia berjanji akan segera menikahiku karena dia telah mengambil kesucianku dan aku percaya pada janjinya. Satu bulan setelahnya aku telat datang bulan dan aku sangat syok saat tahu kalau di dalam rahimku telah tumbuh benihnya Radit. Aku segera mendatangi Radit di tempat kosnya untuk memintanya segera menikahiku sebelum Abah tahu apa yang terjadi antara kami. Namun, yang terjadi justru di luar dugaanku. Radit memintaku untuk menggugurkan kandungan ini karena dia harus melanjutkan studi S3 ke London. Radit mendapatkan beasiswa untuk meneruskan pendidikannya di sana dan dia tidak ingin kehilangan kesempatan itu. Radit memberiku uang seratus juta untuk konpensasi sekaligus biaya menggugurkan bayi dalam kandunganku. Dia berjanji akan menikahiku setelah pulang dari London nanti. Aku sedih, hancur, kecewa karena tidak menyangka kalau Radit lebih mementingkan beasiswa S3 nya daripada aku dan benihnya yang telah tumbuh dalam kandunganku. Namun, aku tidak bisa berbuat apa-apa selain menerima apa yang menjadi keputusan Radit. Semula aku berniat menggugurkan bayiku seperti apa yang diminta Radit. Namun, setelah tahu kalau hal itu beresiko terhadap nyawaku belum lagi dosa besar yang harus aku tanggung nanti, aku mengurungkannya. Aku sudah melakukan dosa besar dengan berzina, tidak mungkin aku menambahnya lagi dengan membunuh bayi tidak berdosa ini. Sekejam-kejamnya aku tetap tidak tega. Aku memutuskan untuk pulang ke Yogya dan mencari suami agar bisa menutupi aibku sebelum kandungan ini bertambah besar. Aku menggunakan uang pemberian Radit untuk mencari suami kontrak. Radit menyetujui rencanaku. Dia akan kembali dan menikahiku setelah menyelesaikan pendidikan S3nya. Pilihanku jatuh pada kamu, Bi. Kebetulan kamu adalah lelaki pertama yang aku temui saat tiba di Yogya. Tadinya pertama kali bertemu denganmu, aku ingin menawarimu agar mau menjadi suami kontrak untukku, tetapi aku ragu karena kamu terlihat seperti lelaki baik-baik. Aku merasa kamu tidak mungkin mau menerima tawaranku. Namun, setelah aku tahu kalau ibumu terjerat utang pada seorang rentenir, aku jadi sangat yakin kamu akan menerima tawaranku," cerita Inara panjang lebar. Kedua sudut mata gadis cantik itu mengeluarkan cairan bening yang sudah tidak dapat dibendung lagi. Ternyata di balik sikap cuek dan angkuhnya, Inara mempunyai segudang derita yang dia simpan rapat dari siapapun. "J-jadi, Non hamil?" tanya Abi memastikan. Entah kenapa setelah mendengar cerita Inara, ada rasa kecewa yang mendalam di hati lelaki itu bahwa sebenarnya sang istri telah hamil benih laki-laki lain. Apalagi, sebagai penganut islam, Abi sangat paham kalau menikahi wanita yang sedang hamil itu dilarang. Hati Abi seperti diremas kuat. Ternyata harapannya terhadap seorang Inara terlalu tinggi. Pemuda itu berpikir, Inara adalah wanita yang sempurna, cantik, putri seorang Kiai dan bisa menjaga kehormatannya meskipun terlihat jutek dan angkuh. Namun, ternyata semua itu tidak seindah bayangannya. "Iya aku hamil. Usia kandunganku baru sekitar lima minggu. Itu sebabnya aku membuat perjanjian denganmu bahwa setelah pernikahan kita berjalan sembilan bulan kamu harus menceraikan aku. Aku hanya butuh kamu untuk menutupi dosa yang telah aku lakukan bersama Radit. Kamu tahu sendiri kalau abahku adalah seorang Kiai, pemuka agama dan disegani oleh masyarakat. Apa jadinya bila Abah tahu kalau aku telah berzina sampai hamil dengan lelaki yang tidak lain adalah kakak tingkatku sendiri. Aku tidak ingin mencoreng nama Abah. Aku tidak ingin membuat Abah malu. Setelah bayi ini lahir, kamu boleh menceraikan aku. Kamu boleh menikah dengan wanita yang menjadi pilihanmu. Ingat, Bi. Diantara kita tidak boleh ada rasa apapun. Kamu jangan sampai jatuh cinta padaku dan aku juga tidak akan jatuh cinta padamu. Kita harus profesional. Anggap saja kamu bekerja padaku dan aku telah membayarmu. Kamu paham, kan?" tanya Inara setelah menyeka air matanya. "I-iya, Non," jawab Abi gugup. Terus terang, baru kali ini dirinya melihat sosok Inara yang begitu lemah dan rapuh. Andaikan boleh, ingin sekali Abi merengkuh tubuh gadis yang sedang rapuh itu ke dalam pelukan, membuatnya tenang agar bisa melepaskan semua kesedihan. Namun, tentu saja pemuda itu tidak berani meskipun keduanya sekarang ini telah halal. Apalah dirinya yang hanya seorang suami kontrak yang digaji untuk menutupi dosa yang diperbuat majikannya. "Ini, kamu tidur di bawah," ucap Inara sembari menyerahkan selimut dan bantal kepada Abi. "Aku tahu kamu lelaki yang baik. Aku percaya kamu tidak akan berbuat di luar batas. Meskipun secara hukum kita sudah sah, tetapi kita tetap bukanlah suami istri yang sebenarnya. Lagipula sekarang aku sedang hamil. Jadi, jangan sampai kamu khilaf. Itu yang perlu kamu ingat," pesan Inara membuat Abi menelan ludahnya. Bagaimana bisa pemuda ini mengendalikan perasaannya untuk tidak jatuh cinta pada majikannya, sedangkan saat pertama kali bertemu dengan Inara saja Abi sudah jatuh cinta pada pandangan pertama. "Ya, Non. Saya mengerti," balas Abi sembari menerima selimut dan bantal dari majikannya. Inara beranjak ke ranjang dan merebahkan tubuhnya, lalu menutupnya dengan selimut. Sementara Abi membuang pandangan agar pikirannya tidak berfantasi terhadap wanita itu. Abi membentangkan selimut di lantai lalu merebahkan tubuh dan mencoba menutup matanya. Namun, hingga satu jam lamanya pemuda itu tetap tidak bisa tidur. Abi duduk dan memandang Inara yang kini telah tertidur pulas. Pemuda itu berusaha membuang perasaan dan hasrat yang kini memenuhi pikirannya. Sebagai lelaki normal, sangat wajar jika Abi dipenuhi hasrat yang menggebu. Berada dalam satu kamar hanya berdua dengan seorang wanita cantik yang bahkan telah dia cintai saat pandangan pertama, apalagi Wanita itu sudah sah menurut agama dan negara sebagai istrinya. Namun, Abi sangat sadar posisinya yang hanya sebagai suami kontrak dan terikat dalam surat perjanjian. Abi harus bisa menjaga hati dan nafsunya sampai sembilan bulan ke depan. Entah, apakah dia akan sanggup. Tiba-tiba tenggorokan Abi terasa kering. Pemuda itu beranjak keluar kamar untuk mencari air putih di dapur. Namun, saat memasuki dapur, dia terkejut karena hampir bertabrakan dengan seorang gadis cantik. Keduanya sama-sama terkejut dan saling memandang. "Maaf," ucap gadis cantik itu sembari menunduk. Abi terpana melihat gadis cantik yang hampir mirip dengan Inara itu. Hanya saja penampilannya lebih syar'i. "Siapakah gadis ini?" batinnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN