"I-iya. Gakpapa." Inara berusaha duduk dan menarik selimutnya. Wanita itu pun tidak menyangka kalau akan berada di posisi sedekat Itu dengan Abi. Meskipun mereka sudah halal tetapi Inara tidak pernah mengharapkan hal itu.
"Kamu berangkat saja ke masjid sama Abah. Aku salat di rumah saja. Aku kurang enak badan," lanjut Inara setelah duduk bersandar di ujung ranjang.
"Non kenapa? Non sakit? Kita ke dokter, ya," tawar Abidzar.
"Nggak, nggak perlu. Kamu tidak usah sok baik. Aku hanya kecapean. Aku cuma mau istirahat," tolak Inara.
"Maaf, Non. Ya sudah kalau gitu. Non salat dulu, ya! Habis itu nanti tidur lagi!" titah Abi.
"Iya, iya, bawel. Udah sana berangkat!" ucap Inara kesal. Abi pun beranjak dari tepi ranjang dan melangkah keluar kamar. Dadanya masih berdebar mengingat kejadian tadi. Seumur hidup baru kali ini pemuda itu berada dalam posisi sangat dekat dengan seorang wanita, apalagi wanita itu adalah Inara orang yang telah menguasai separuh hatinya. Meskipun keduanya telah halal baik secara agama maupun negara, tetapi tetap saja Abi tidak memiliki hak penuh atas Inara. Dia hanyalah seorang suami kontrak.
"Wah, kamu segar sekali pagi ini, Bi," sapa Kiai Ammar saat keduanya bertemu di ruang tengah. Lelaki paruh baya itu mengira tadi malam lelaki yang sudah sah menjadi menantunya itu telah melewati malam pertama yang indah dengan putri sulungnya. Terbukti, pagi itu rambut Abi terlihat basah. Pastinya habis mandi wajib.
"Ah, Pak Kiai bisa saja," balas Abi sembari tersenyum kecut. Andai saja lelaki paruh baya itu tahu kejadian yang sebenarnya, pasti akan sangat kecewa. Tiba-tiba Abi didera rasa bersalah karena telah membohongi Kiai Ammar.
"Jangan panggil Pak Kiai, panggil Abah saja, ya! Kamu kan sekarang sudah jadi menantuku," ucap Kiai Ammar sembari menepuk pundak Abi.
"Oh, iya Kiai. Eum, maksud saya Abah," balas Abi gugup. Pada saat yang sama, Khurin yang sudah berbalut mukena keluar dari kamarnya. Putri bungsu Kiai Ammar itu terlihat begitu cantik, terlebih aura wajahnya setelah wudhu yang terlihat begitu segar. Kebetulan pintu kamar gadis itu terletak di ruang tengah. Tanpa sengaja, pandangan Abi mengarah pada Khurin, begitu pun sebaliknya. Dalam beberapa saat keduanya saling memandang. Hal itu tidak lepas dari pengawasan Kiai Ammar. Lelaki paruh baya itu kemudian berdehem. Segera keduanya membuang pandangan sembari beristighfar lirih.
"Oh, iya, Bi. Inara mana?" tanya Kiai Ammar mengalihkan fokus keduanya.
"Non Inara, eum ... maksud saya Dek Inara kurang enak badan, Bah. Katanya mau salat di rumah saja," jawab Abi jujur, membuat Kiai Ammar terkekeh.
"Nanti malam jangan diforsir, ya, Bi," ucap Kiai Ammar ambigu sembari tersenyum dan menepuk pundak Abi lagi. Pemuda itu hanya menggaruk kepala yang tidak gatal sembari melirik sekilas ke arah Khurin yang juga menunduk mendengar ucapan abahnya. Beberapa saat kemudian, Umi Hanik yang sudah siap dengan mukena muncul. Mereka kemudian bersama-sama ke masjid yang berjarak sekitar dua ratus meter dari rumah kediaman Kiai Ammar. Abi berjalan di depan bersama Kiai Ammar, sedangkan Umi Hanik di belakang bersama Khurin.
"Bi, duduk sini. Abah pingin ngobrol," ucap Kiai Ammar saat sampai di teras rumah seusai salat Subuh berjamaah di Masjid. Abi mengangguk kemudian duduk di kursi teras mengikuti mertuanya. Sementara Umi Hanik dan Khurin masuk ke rumah.
"Nduk, tolong bikinkan kopi untuk kami!" titah Kiai Ammar saat Khurin melangkah masuk ke rumah.
"Njih, Bah," balas gadis itu patuh, kemudian meneruskan langkahnya masuk.
"Bi, Aku harap kamu bersabar pada putriku Inara," ucap Kiai Ammar memulai pembicaraan.
"Bersabar, maksudnya bagaimana, Bah?" tanya Abi tidak mengerti.
"Sejak kuliah di Singapura, Inara memang sedikit berubah. Dia jadi jarang ikut salat berjamaah di Masjid ketika pulang ke rumah. Selalu saja ada alasannya untuk tidak salat di Masjid. Dia juga sering keluar rumah untuk sesuatu yang lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya. Jujur awalnya aku sangat keberatan putriku kuliah di luar negeri apalagi bukan jurusan keagamaan, tetapi aku tidak bisa mencegah keinginannya. Sikapnya akhir-akhir ini membuatku sangat khawatir, takut kalau di sana pergaulannya salah." Kiai Ammar menjeda ceritanya saat Khurin datang mengantarkan kopi.
"Terima kasih, ya, Nduk," ucapnya.
"Terima kasih, Rin." Tidak ketinggalan Abi berucap. Khurin hanya mengangguk dan tersenyum lalu berpamitan kembali ke belakang. Karakter Khurin memang sangat jauh berbeda dengan Inara, tetapi meskipun begitu Abi sudah terlanjur jatuh cinta pada Inara.
"Tadinya aku terkejut saat Inara mau menerima lamaran kamu, Bi. Menurut prediksiku, Inara akan menolaknya karena aku tahu lelaki seperti apa yang dia sukai. Dia pernah mengajaknya ke rumah ini." Kiai Ammar terdiam sejenak. Lelaki paruh baya itu menyeruput kopi hitam di atas meja, lalu mempersilahkan Abi untuk meminum kopi buatan putri bungsunya itu.
"Aku tahu kamu lelaki yang baik. Aku sangat berharap banyak padamu Aku harap kamu bisa membimbing Inara agar bisa kembali seperti dulu lagi." Harapan Kiai Ammar membuat Abi bagaikan tertimpa palu godam bertubi-tubi. Sungguh lelaki paruh baya itu telah begitu mempercayainya. Namun, yang terjadi justru dia telah membohongi beliau.
"Bi, kamu mendengarkan apa yang aku ucapkan?" tanya Kiai Ammar.
"Iya, Bah. Saya dengar. Insya Allah saya akan berusaha melaksanakan apa yang Abah amanahkan semampu saya," balas Abi dengan suara bergetar.
"Terima kasih, Bi. Inara beruntung mendapatkan jodoh seperti kamu. Sabar, ya. Untuk masalah pekerjaan, kamu tetap bantu aku di pasar saja. Sopir pribadiku sebelumnya sudah sehat. Insya Allah hari ini mulai kerja lagi. Aku akan tetap menggaji kamu supaya kamu bisa menafkahi istrimu, juga Ibu dan adikmu. Jangan sungkan, aku sudah menganggapmu seperti anak sendiri karena memang aku tidak punya anak laki-laki. Sejak pertama bertemu dengan kamu aku sudah sangat cocok denganmu, Bi," ucap Kiai Ammar sembari terkekeh membuat Abi semakin merasa bersalah.
Baik Kiai Ammar maupun Abi kembali teringat saat pertemuan pertama mereka di Pasar Raya. Waktu itu, Abi mengembalikan dompet Kiai Ammar yang dia temukan terjatuh saat sedang berusaha mencari pekerjaan.
Kiai Ammar tersentuh dengan kejujuran Abi yang mau mengembalikan dompetnya. Padahal, seandainya pemuda itu tidak mengembalikannya pun tidak akan ada orang yang tahu. Apalagi, setelah lelaki paruh baya itu melihat isi dompetnya yang masih utuh tanpa kurang satu apapun. Dalam hati, Kiai Ammar berpikir, di zaman sekarang masih ada pemuda yang jujur seperti Abidzar, sehingga dia begitu bersimpati.
Apalagi saat Abidzar menolak uang pemberiannya sebagai tanda terima kasih karena telah mengembalikan dompetnya, padahal saat itu Abidzar sedang menganggur karena terkena PHK. Tidak butuh waktu lama, setelah berpikir beberapa saat, Kiai Ammar akhirnya menelepon Abidzar untuk memintanya bekerja sebagai seperti pribadi di rumahnya sekaligus membantu berdagang di pasar Raya.
"Terima kasih, Bah. Saya juga sangat beruntung dipertemukan dengan Abah. Sudah diberi pekerjaan, masih diambil menantu pula. Maafkan saya jika nantinya mengecewakan Abah," balas Abi dengan kepala menunduk. Sungguh pemuda itu merasa sangat berdosa telah membohongi orang sebaik Kiai Ammar. Namun, untuk mengatakan yang sebenarnya kepada lelaki paruh baya itu pun tidak mungkin karena dirinya telah terikat kontrak perjanjian dengan Inara. Saat ini yang bisa dilakukan Abi adalah menjalankan amanah Kiai Ammar untuk menjadi suami yang baik buat Inara, meskipun wanita itu tidak menginginkannya.
"Ya sudah, Bi. Sekarang kamu bersiap, gih. Kita berangkat ke Pasar Raya. Kamu bantuin Abah dagang kain, ya," ucap Kiai Ammar.
"Nggih, Bah. Saya mandi dan siap-siap dulu," balas Abi sembari beranjak dari teras pemuda itu kemudian memasuki kamar dan melihat Inara masih tertidur pulas.
"Kenapa kamu masih tertidur pulas, padahal Umi dan adikmu sudah sibuk di dapur untuk menyiapkan sarapan," batin Abi sembari menggelengkan kepala.
Abi beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap. Hari ini dia mulai bekerja membantu Abah mertuanya berdagang kain di Pasar Raya. Abi tidak ingin mengecewakan Kiai Ammar. Dia harus bekerja sebaik mungkin agar bisa menafkahi Inara serta Ibu dan adiknya. Meskipun hanya sebagai suami bayaran, tetapi Abi tetap ingin menafkahi Inara karena mereka menikah secara sah dimata hukum dan agama Abi ingin menjadi suami yang bertanggung jawab.
Setelah mandi dan berganti pakaian, Abi duduk di tepi ranjang dan berniat membangunkan Inara untuk mengajaknya sarapan bersama.
"Non, bangun! Sudah pagi, Non. Ayo bangun, Non! Kita sarapan dulu, yuk! Jangan tidur di pagi hari! Tidak baik untuk kesehatan. Ayo bangun, Non!" ucap Abi lembut sembari menggoyang tubuh Inara.
"Hmm, kamu bawel banget, sih. Aku masih ngantuk," balas Inara kesal tanpa membuka matanya.
"Tapi, Non. Ini masih pagi. Nggak baik tidur di pagi hari, lebih baik Non olahraga atau jalan-jalan, supaya Non dan dedek bayi sehat. Udara pagi itu sangat baik untuk kesehatan, Non," ucap Abi membuat Inara perlahan membuka matanya lalu menatap sebal pada lelaki yang kini menjadi suaminya itu.
"Heh, Abi. Kamu jangan lupa sama kodratmu. Jangan ngelunjak. Ingat ... kamu ini hanya suami kontrak. Jadi, jangan berlagak menjadi suami beneran. Aku tidak mau kamu atur-atur. Aku masih ngantuk dan jangan ganggu aku, ngerti!" bentak Inara marah. Wanita itu kemudian kembali membenamkan tubuhnya ke dalam selimut.
Abi terdiam menelan ludah yang terasa mengental di tenggorokannya. Apa yang dikatakan Inara benar adanya. Apalah dirinya yang hanya seorang suami kontrak. Dia tidak berhak mengatur kehidupan Inara. Entah kehidupan macam apa yang akan dia jalani bersama Inara kedepannya. Satu hal yang membuat Abi merasa sangat bersalah. Dia harus membohongi keluarganya, juga Kiai Ammar yang sudah begitu baik terhadapnya. Akhirnya, Abi melangkah keluar kamar dengan lesu.
"Bi, kita sarapan dulu," ajak Kiai Ammar saat melihat Abi melintas di ruang tengah.
"Njih, Bah," balas Abi sembari mengangguk dan mengekor di belakang lelaki paruh baya itu menuju ruang makan. Di ruang makan, sudah ada Umi Hanik dan Khurin yang mempersiapkan sarapan.
"Mas Abid mau minum kopi apa teh? Biar saya buatkan," tawar Khurin sembari melempar senyum. d**a Abidzar tiba-tiba berdesir. Seharusnya Inara yang mempersiapkan kebutuhannya sebelum berangkat kerja, tetapi ini malah Khurin, adik iparnya.
"Seandainya saja Inara memiliki sedikit sifat seperti Khurin," batin Abizar.
"Ah ... seharusnya aku memang tahu diri karena aku hanyalah seorang suami kontrak," batinnya miris.