"Nggak usah, Rin. Nanti merepotkan," tolak Abi.
"Sama sekali nggak ngrepotin kok, Mas. Sekalian aku buatin buat Abah," balas Khurin memaksa.
"Iya, Bi. Nggak papa. Mumpung Khurin belum balik ke pondok. Harusnya memang Inara yang melayani kamu. Tetapi dia pasti masih tidur, kan?" Ucapan Kiai Ammar membuat Abi menoleh ke arah lelaki paruh baya itu. Sepertinya semua anggota keluarga sudah terbiasa dengan ketidakhadiran Inara di meja makan saat sarapan.
"Ya sudah, teh saja," jawab Abi akhirnya. Khurin mengangguk, lalu bergegas membuatkan teh untuk dua lelaki beda generasi itu.
"Umi kira setelah menikah, Inara akan berubah. Ternyata masih sama," ucap Umi Hanik sembari mendesah panjang.
"Sabar, Um. Semoga Abi bisa membawa perubahan yang baik untuk Inara. Semua butuh proses, tidak bisa instan," balas Kiai Ammar membuat Abi semakin merasa bersalah. Lelaki paruh baya itu begitu menaruh harapan besar terhadapnya. Apa jadinya jika beliau tahu kebohongan yang telah dia sepakati dengan Inara?
"Ini tehnya, Mas," ucap Khurin membuyarkan lamunan Abi. Gadis cantik berjilbab lebar itu meletakkan segelas teh hangat di meja, tepat di depannya. Sejenak, pandangan keduanya bertemu. Kalau dipikir-pikir, sifat Khurin jauh berbeda dengan Inara. Tutur kata Khurin jauh lebih lembut dan sopan, meskipun secara fisik keduanya sama-sama cantiknya.
"Seandainya aku lebih dahulu bertemu Khurin, apa mungkin aku akan jatuh cinta pada gadis itu?" pikirnya setelah membuang pandangan dari putri bungsu Kiai Ammar itu.
"Astaghfirulloh, mikir apa sih aku?" batin Abi sembari mengusap kasar wajahnya. Meskipun Inara hanya menganggapnya suami kontrak, tetapi Abi tidak pernah berniat mempermainkan ikatan pernikahan mereka.
"Terima kasih, Rin," ucap Abi yang dibalas anggukan kepala oleh Khurin. Gadis itu kemudian duduk tepat di depan Abi. Mereka kemudian memulai sarapan bersama.
"Abah hari ini ke pasar dengan Abi?" tanya Umi Hanik disela-sela menyantap sarapan.
"Iya, Um. Abah mau mengajari Abi dagang di pasar biar dia bisa menafkahi Inara. Sekarang dia bukan sopir lagi," jelas Kiai Ammar. Meski awalnya Umi Hanik tidak suka memiliki menantu seperti Abi, tetapi wanita paruh baya itu berusaha menerimanya dengan harapan pemuda itu bisa membawa perubahan yang baik untuk Inara. Wanita paruh baya itu sudah sangat putus asa dengan perubahan Inara semenjak kuliah di Singapura.
Setelah sarapan Abi dan Kyai Ammar berangkat ke Pasar Raya, sedangkan Umi Hanik dan Khurin membereskan bekas harapan mereka.
***
Seorang wanita paruh baya berjalan tergesa di kawasan Pasar Raya menuju sebuah toko bertuliskan UD Ammar Jaya. Wanita itu tersenyum setelah sampai di depan sebuah toko kain terbesar yang ada di sana. Apalagi saat melihat Abi sedang melayani pembeli.
"Bi, Abi," panggil wanita itu. Sontak pemuda itu menoleh ke arahnya, lalu mendekati sang ibu yang berdiri di teras toko.
"Ibu? Ngapain Ibu ke sini?" tanya Abi memelankan suaranya setelah meminta karyawan Kiai Ammar yang lain untuk melayani pembeli yang sedang dia layani tadi.
"Bi, Ibu minta uang belanja. Kebutuhan dapur sudah habis," ucap wanita paruh baya yang tidak lain adalah Maya, Ibunya Abi.
"Iya, Bu. Tapi aku belum gajian. Pakai dulu uang kuliah Husna yang aku berikan tempo hari. Nanti akhir pekan aku ganti," balas Abi lirih karena takut terdengar Kiai Ammar.
"Tapi, Bi. Uang kuliah Husna sudah dibayarkan kemarin," ucap Maya.
"Eh ada Bu Maya, toh." Suara seorang lelaki paruh baya mengejutkan keduanya. Abi dan ibunya langsung menoleh ke arah sumber suara.
"Pak Kiai, ini saya--" Maya menggantung ucapannya saat melihat kedua mata Abi mengedip memberikan kode untuk diam. Pemuda itu tidak ingin sang Ibu membicarakan soal keuangan di depan Kiai Ammar. Sungguh Abi merasa sangat malu karena dia baru bekerja beberapa hari dan juga baru sehari menjadi menantu Kiai. Namun, sepertinya Kiai Ammar paham.
"Bi, sini ikut aku sebentar," titah Kiai Ammar sembari berbalik masuk ke toko. Abi mengangguk lalu mengekor di belakang lelaki paruh baya itu.
"Ini ... berikan pada ibumu," ucap Kiai Ammar sembari menyerahkan sebuah amplop berisi sejumlah uang kepada Abidzar.
"Jangan, Bah. Saya nggak bisa nerima ini," tolak Abizar. Pemuda itu benar-benar merasa sungkan kepada Abah mertuanya.
"Anggap saja ini gaji kamu, Bi. Sebelum menikah dengan Inara kamu kan sudah tiga hari bekerja sama aku. Kasihan Ibu kamu. Maaf, tadi Abah tidak sengaja mendengar obrolan kalian," ucap Kiai Ammar sembari tersenyum.
"Tapi, Bah--"
"Sudah ... tidak apa-apa. Ayahmu sudah tidak ada dan kamu adalah anak laki-laki satu-satunya. Kamu lah bertanggung jawab atas ibu dan adikmu. Sudah sepantasnya kamu memberikan nafkah kepada mereka," tutur Kiai Ammar.
"Saya jadi tidak enak hati, Bah. Kesannya saya memanfaatkan Abah karena sekarang saya menjadi menantu Abah," balas Abi membuat Kiai Ammar terkekeh.
"Ini kan sudah menjadi hak kamu, Bi. Uang ini adalah gaji kamu selama tiga hari sebelum menjadi suami Inara. Jadi, jangan sungkan, ya," ucap Kiai Ammar.
Hati Abi berdesir, sedemikian baik lelaki yang kini menjadi mertuanya. Pemuda itu merasa sangat berdosa karena telah membohongi beliau dengan menutupi kesalahan Inara dan menjadi suami bayaran bagi wanita itu, padahal Kiai Ammar begitu menyayanginya seperti anak sendiri.
"Ya Allah ... hamba telah melakukan dosa besar dengan menikahi Non Inara yang sedang hamil. Meskipun hanya sebagai suami kontrak, tetapi sebelumnya hamba benar-benar tidak tahu kalau Non Inara sedang hamil. Ampuni saya, Ya Allah. Saya sangat ingin mengatakan kebenaran ini kepada Kiai Ammar, tetapi saya sudah terlanjur terikat kontrak. Apa yang harus hamba lakukan, Ya Allah. Ampuni dosa-dosa hamba," ucap Abi dalam hati.
Abi sangat tahu, kalau dalam hukum Islam tidak diperbolehkan menikahi wanita yang sedang hamil. Namun, bukankah dia tidak tahu kalau Inara sedang hamil? Abi sudah terlanjur tanda tangan kontrak dan tidak mungkin membatalkannya karena pasti Inara akan memberikan denda yang besar kepadanya. Apalagi surat perjanjian itu telah diberikan kepada pengacara dan memiliki kekuatan hukum.
"Bi, kamu mikir apa? Ayo berikan uangnya pada ibumu. Kasihan dia sudah menunggu," ucap Kiai Ammar membuyarkan lamunan Abi.
"Eh, iya, Bah. Terima kasih karena Abah sudah sangat baik pada saya. Saya merasa tidak pantas menerima kebaikan Abah," balas Abi sembari menunduk.
"Sudah, jangan sungkan. Kita kan keluarga." Kiai Ammar menepuk pundak Abi. Pemuda itu kemudian berbalik menemui Maya yang masih menunggu di teras rumah.
"Ini uangnya, Bu. Tolong dihemat, ya. Jangan sampai ibu terlibat hutang lagi," pesan Abidzar sembari mengulurkan amplop berisi uang dari Kiai Ammar tadi.
"Iya, Bi. Kamu tidak usah khawatir. Terima kasih, ya. Ibu pulang dulu." Maya menerima amplop itu dengan mata berbinar. Wanita paruh baya itu tidak menyangka kalau Kiai Ammar akan secepat itu memberikan uang.
Abimenjabat dan mencium punggung tangan ibunya, kemudian wanita itu berbalik meninggalkan toko kain Kiai Ammar. Abi menghela napas panjang. Pemuda itu belum yakin benar kalau uang itu akan cukup di tangan ibunya. Dia sudah hafal kalau ibunya tipe perempuan boros.
"Sebaiknya lain kali uang belanja aku berikan pada Husna saja," pikir Abidalam hati. Pemuda itu yakin kalau Husna lebih bisa dipercaya mengelola keuangan daripada sang ibu. Abi kembali ke dalam toko dan melayani pembeli, hingga petang tiba dan toko tutup. Kiai Ammar sudah menunggu di mobil untuk pulang, sementara Abi masih membantu para karyawan menutup toko.
Dering ponsel disaku baju Abi menghentikan langkahnya yang saat akan menyusul Kiai Ammar ke parkiran. Abi segera meraih benda pipih itu, ternyata nama Husna terpampang di layar ponselnya.
"Halo, assalamualaikum, Na. Ada apa?" tanya Abip setelah menggeser tombol hijau di layar benda pipih itu.
"Waalaikumsalam, Mas Abi. Eum, anu Mas. Gimana cara ngomongnya, ya." Suara Husna di seberang sana terdengar sedang bingung.
"Ada apa, Na? Ngomong saja," ucap Abi penasaran.
"Ibu, Mas."
"Ibu? Ibu kenapa?"