Bab 10. Perjodohan

1580 Kata
"Ratih, ini beneran kamu?" tanya seorang wanita paruh baya saat keluar dari sebuah Mall di pusat kota Yogyakarta sembari memegang pergelangan tangan wanita yang dipanggilnya Ratih. Sejenak wanita bernama Ratih itu membuka kacamata hitamnya, kemudian tersenyum. "Ya ampun, Maya, ya? Aduh, seneng banget bisa ketemu di sini," balasnya sembari memeluk wanita paruh baya yang ternyata adalah Maya, ibunya Abi. "Sudah lama sekali kita tidak ketemu, ya. Kira-kira sudah dua puluh tahunan ya kita tidak ketemu. Kalau tidak salah sejak kamu menikah sama ... siapa itu si duda anak dua." Ratih menjeda ucapannya dan terlihat berpikir keras. "Mas Bayu," balas Maya mengingatkan. "Oh, iya, Bayu. Bagaimana kabar kalian sekarang? Wah, pasti anak-anak Bayu sudah besar, ya?" tanya Ratih membuat Maya terdiam dan menunduk sedih. "Loh, loh, May. Apa ada kata-kata aku yang salah?" tanya Ratih tidak enak hati saat melihat perubahan ekspresi wajah Maya. "Enggak kok, Rat. Nggak ada," balas Maya sembari berpaling agar Ratih tidak melihat kesedihan di wajahnya. "May, ayo ikut aku makan di sana. Kita ngobrol sebentar, ya. Aku masih kangen nih," ajak Ratih sembari menarik pergelangan tangan Maya. Sementara Maya yang tidak bisa menolak permintaan sahabat lamanya itu pun mengekor di belakang Ratih. Keduanya masuk ke sebuah restoran yang ada di dalam Mall. "Maya, ayo pilih makan apa yang kamu mau. Aku yang traktir," ucap Ratih sembari memberikan buku menu makanan yang diberikan pelayan restoran kepada Maya. Wanita itu bisa menilai keadaan ekonomi sahabatnya dari penampilan Maya. Ratih bisa memperkirakan keadaan finansial Maya pastilah tidak seperti puluhan tahun yang lalu saat baru menikah dengan Bayu. "Terima kasih, Rat. Tapi aku sudah makan," bohong Maya. Restoran ini begitu mewah, pasti harga makanannya sangat mahal Maya merasa tidak enak hati kepada Ratih. "Kalau begitu makan lagi, ya. Masa iya kamu cuma mau ngelihatin aku makan, May. Apa mau aku pilihkan makanan yang paling enak di sini?" tanya Ratih lagi dengan sedikit memaksa. "Ya sudah. Terserah kamu," balas Maya akhirnya mengalah. Ratih menuliskan pesanannya dan menyerahkan kepada pelayan restoran. Sembari menunggu makanan datang keduanya berbincang tentang masa lalu. Ratih dan Maya adalah dua sahabat lama. Mereka dulu dibesarkan di Panti Asuhan. Keduanya sama-sama tidak mengetahui asal usul kedua orang tua mereka. Namun, Ratih lebih beruntung karena bertemu ada orang dengan seorang lelaki kaya raya yang akhirnya menikahinya. Sedangkan Maya masih harus tinggal di Panti Asuhan tujuh tahun setelahnya, hingga akhirnya suami Ratih, Alvan, memperkenalkan Maya dengan salah seorang rekan bisnisnya yang seorang duda beranak dua. Maya yang saat itu sudah berusia 27 tahun akhirnya mau menerima Bayu, duda tampan beranak dua yang berusia tiga puluh tahun. Istri pertama Bayu meninggal dunia saat melahirkan putri kedua mereka, yaitu Husna. Bayu merasa kewalahan mengasuh bayi sembari bekerja, belum lagi mengurus putra sulungnya, Abidzar yang saat itu berusia lima tahun dan mulai masuk sekolah Taman Kanak-kanak. Beberapa orang Baby Sister yang dia sewa selalu berujung mengecewakan, karena mereka selalu berharap memikat hati Bayu dan menjadi Nyonya rumah. Akhirnya saat Husna berusia empat bulan, Bayu memutuskan untuk menikah lagi. Lelaki itu menerima tawaran Alvan untuk menikah dengan Maya sahabat istrinya semasa masih di Panti Asuhan. Meskipun awalnya menikah tanpa cinta tetapi akhirnya seiring berjalannya waktu Maya dan Bayu saling mencintai keduanya saling membutuhkan dan mengarungi bahtera rumah tangga dengan bahagia. Keadaan finansial Bayu yang kecukupan membuat Maya nyaman dan terbiasa hidup enak. Tugasnya hanya mengasuh Abi dan Husna selebihnya ada asisten rumah tangga yang mengerjakan. "Bagaimana kabar Alvan dan Putra kalian?" tanya Maya setelah pelayan restoran mengantar makanan pesanan mereka. "Alhamdulillah kabar kami baik, May. Tadinya saat belum lama kami pindah ke Jakarta, aku dan Alvan sempat mau bercerai. Alvan punya wanita lain, tetapi dia memohon padaku untuk memaafkan sekali saja. Dia berjanji tidak akan mengulanginya lagi dan meninggalkan selingkuhannya itu. Melihat kesungguhannya, aku memutuskan untuk memaafkan Alvan. Apalagi mengingat putra kami yang masih berusia enam tahun dan masih sangat membutuhkan kedua orang tua. Sejak itu Alvan tidak berani lagi bermain wanita. Dia menjadi lelaki yang setia sampai saat ini. Putra kami pun saat ini juga sudah menjadi orang yang sukses. Baru-baru ini, dia mendapatkan beasiswa untuk kuliah S3 di London. Sebelumnya dia sudah kuliah di sebuah universitas ternama di Singapura. Ya, begitulah hidupku sekarang, May. Aku hanya punya satu anak dan dia tinggal jauh di luar negeri. Sedangkan suamiku masih seperti dulu, selalu sibuk di kantor," cerita Ratih panjang lebar. "Kabarmu bagaimana, May? Bayu sehat-sehat aja, kan? Pasti anak-anak Bayu sudah besar sekarang. Terus kamu punya anak nggak sama Bayu?" Ratih memberondong Maya dengan banyak pertanyaan seketika kedua mata wanita paruh baya itu mengembun. "May, kamu kenapa?" tanya Ratih. Wanita itu menggenggam tangan Maya. Buliran cairan bening mulai muncul dari sudut kedua mata wanita paruh baya itu. "Setelah aku menikah, Mas Bayu mengatakan kalau untuk sementara belum ingin punya anak dariku. Dia takut jika aku punya anak sendiri, aku tidak sayang lagi pada anak-anaknya. Aku menurut saja dan mengabdikan hidupku untuk Abi dan Husna, anak-anak Mas Bayu, hingga putri bungsu kami berusia lima tahun. Akhirnya Mas Bayu setuju untuk punya anak dariku. Tak lama setelahnya aku hamil. Namun, ternyata ada tumor dalam kandunganku yang membuat janinku tidak berkembang. Dengan sangat terpaksa dokter melakukan tindakan operasi dengan mengeluarkan janin sekaligus mengangkat rahimku untuk mencegah tumor tumbuh kembali. Aku sangat terpukul karena selamanya Aku tidak akan bisa memberikan keturunan untuk Mas Bayu. Namun, Mas Bayu selalu menghiburku. Dia mengatakan agar aku jangan bersedih karena anak-anaknya akan menjadi anak-anakku juga. Sejak saat itu hidupku aku curahkan untuk membesarkan Abi dan Husna, dua anak Mas Bayu yang sangat aku sayangi seperti anak kandung sendiri. Bahkan sampai saat ini Husna tidak pernah tahu kalau aku bukanlah ibu kandungnya. Sedangkan Abi, sebenarnya dia sudah tahu. Saat ibunya meninggal, Abi sudah berusia lima tahun. Namun, Abi tidak pernah mengatakan apapun kepada Husna. Abi juga menganggap aku seperti ibu kandungnya. Aku sangat bahagia, Rat." Maya menjeda ceritanya lalu menghapus bulir bening yang telah jatuh membasahi kedua pipinya. Ratih menggenggam tangan sahabatnya untuk memberikan kekuatan. "Tiga tahun yang lalu, Mas Bayu meninggal dunia karena kecelakaan. Saat itu dia ada meeting penting. Karena takut terjebak macet, Mas Bayu naik ojek dan lewat jalan alternatif untuk menghindari macet di jam-jam berangkat kerja." "Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Aku turut berduka ya, May. Aku benar-benar tidak tahu kalau suami kamu sudah meninggal. Sejak aku pindah ke Jakarta, kita lost kontak," sesal Ratih. "Iya, Rat. Tidak apa-apa. Kita punya kesibukan masing-masing." "Lalu, setelah suami kamu meninggal, bagaimana kamu melangsungkan hidupmu, May? Aku tidak bisa membayangkan Bagaimana repotnya kamu menjadi single parent, apalagi anak-anak sudah mulai beranjak dewasa." "Aku tidak punya keahlian dalam bidang bisnis. Aku mempercayakan perusahaan Mas Bayu kepada adiknya. Namun, ternyata dia menipu kami. Dia mengambil alih semua peninggalan suamiku sampai-sampai rumah yang kami tinggali pun dia ambil. Dia mengatakan kalau aku tidak berhak mendapatkan harta Mas Bayu karena aku tidak mempunyai anak. Dia mengusirku dan tidak membiarkanku membawa serta Abi dan Husna karena takut aku menggunakan dua anak itu untuk mengambil kembali harta Mas Bayu. Namun, kedua anak-anak Mas Bayu tidak mau tinggal bersamanya. Mereka lebih memilih ikut denganku tanpa membawa sepeser uang pun. Saat itu, Abi baru saja lulus kuliah. Sayangnya, Abi kuliah jurusan pendidikan agama islam. Jadi, dia tidak bisa mendapatkan pekerjaan di perusahaan dan terpaksa kerja di pabrik garmen daripada menjadi guru honorer yang gajinya cuma sedikit. Mulai saat itu, Abi menjadi tulang punggung keluarga yang bertanggungjawab membiayai kehidupan kami, termasuk kuliah Husna. Tiga tahun berlalu, pabrik tempat kerja Abi mengalami kebangkrutan. Dia kena PHK, tetapi alhamdulillah sekarang Abi sudah dapat pekerjaan lagi. Bahkan dia diambil menantu sama majikannya." "Ya Allah, May. Aku benar-benar tidak tahu kalau jalan hidupmu akan sepahit ini. Aku pikir kamu sudah bahagia dengan Bayu," ucap Ratih ikut prihatin. "Tidak apa-apa, Rat. Semua sudah menjadi takdirku." "May, untuk beberapa bulan ke depan aku dan Alvan akan tinggal di Yogya. Kebetulan suamiku itu sedang membuka cabang perusahaan baru di sini. Jadi kita akan lebih sering ketemu. Kalau kamu butuh sesuatu atau bantuanku kamu ngomong saja, May. Selagi aku bisa, aku pasti akan membantumu. Jangan sungkan, ya," "Iya, Rat. Terima kasih." "Oh, iya. Ngomong-ngomong Husna sekarang sudah besar, ya. Pasti dia tumbuh menjadi gadis yang cantik. Bagaimana kalau kita jodohkan Husna dengan putraku?" tanya Ratih membuat Maya terkejut. "Kamu serius, Rat?" tanya Maya. "Tentu saja aku serius. Putraku masih jomblo sampai sekarang dan aku khawatir dia mendapatkan wanita yang tidak baik. Kamu tahu, kan, kalau aku hanya punya satu putra. Aku ingin dia mendapatkan wanita yang baik. Aku percaya kalau Husna pasti cocok dengan putraku. Bagaimana, May? Kamu setuju, kan?" "Kamu yakin, Rat? Apa suamimu akan setuju?" tanya Maya ragu. "Suamiku pasti setuju. Apalagi Husna adalah putri Bayu yang dulunya adalah rekan baik suamiku. Akhir bulan nanti biar aku suruh putraku pulang untuk bertemu dengan Husna. Bagaimana menurutmu?" "Aku bicarakan dulu dengan Husna, ya." "Baiklah, aku minta nomor telepon kamu. Nanti aku kirimkan foto terbaru putraku." Maya menggangguk, lalu menyebutkan angka-angka yang merupakan nomor kontak w******p-nya. Sementara Ratih langsung menyimpannya di dalam ponsel. "Ya sudah, Rat. Nanti kamu hubungin aku, ya." "Oke, May. Aku yakin Husna akan mau. Putraku sangat tampan dan karirnya mapan. Hidup putrimu akan terjamin, May." Maya mengangguk dan tersenyum mendengar ucapan sahabatnya. Seandainya saja Husna mau menerima perjodohan ini, tentu dia sudah tidak akan kepikiran lagi. Abi sudah mendapatkan mertua yang kaya raya dan Husna juga akan mendapatkan mertua yang kaya raya. Maya tidak lagi memikirkan kehidupan perekonomian keluarga. Setelah menghabiskan makan siang mereka, Maya segera berpamitan pulang. Wanita paruh baya itu tidak sabar untuk memberikan kabar kepada Husna tentang perjodohan dengan putranya Ratih.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN