"Husna, tunggu sebentar!" teriak seorang gadis saat Husna keluar dari gerbang kampus UGM seusai kuliah. Gadis manis berbaju syar'i itu menghentikan langkah dan menoleh ke arah sumber suara.
"Kak Raya," ucap Husna setelah melihat orang yang memanggilnya. Gadis cantik yang dipanggil Raya itu berjalan tergesa mendekati Husna dengan napas ngos-ngosan.
"Tunggu sebentar, Na. Aku mau bicara," ucapnya setelah mengikis jarak dengan Husna.
"Ada apa, kak?" tanya Husna sembari menatap gadis berbalut tunik warna kunyit dengan jilbab pashmina warna hitam itu. Raya adalah teman Abi saat masih kerja di pabrik. Sudah cukup lama mereka tidak berjumpa karena Abi terkena PHK sedangkan Raya masih bekerja di pabrik. Perusahaan itu memang sengaja mengurangi karyawan pria dan mempertahankan karyawan wanita.
"Aku mau tanya, apa benar Abi sudah menikah?" Husna terdiam mendengar pertanyaan Raya.
"Jawab, Husna. Apa benarkah Abi sudah menikah?" Raya mengulang pertanyaannya.
"Iya, Kak. Mas Abi sudah menikah."
"Kamu serius, Na. Kamu nggak bohong, kan?" tanya Raya meyakinkan.
"Aku serius, Kak." Mendengar jawaban Husna, seketika kedua kaki Raya melemas. Sejak kenal dengan Abi hingga tiga tahun bekerja bersama-sama di pabrik, Raya sudah menaruh hati kepada pemuda itu. Namun, Gadis itu terlalu pemalu untuk mengungkapkan perasaannya. Bagi Raya, bisa menjadi teman Abi saja hatinya sudah sangat senang. Raya sangat syok saat mendengar kabar dari salah satu teman di pabrik, kalau kemarin Abi telah melangsungkan pernikahan, sehingga gadis itu memastikan dengan bertanya langsung kepada Husna.
"Kak Raya baik-baik saja?' tanya Husna khawatir.
"Iya, Na. Aku baik-baik saja. Apa benar Abi menikah dengan anak Kiai Ammar, pemilik toko kain terbesar di Pasar Raya itu?" tanya Raya ingin tahu.
"Iya, Kak. Benar."
"Kenapa aku tidak diundang? Kapan pesta pernikahannya?" tanya Raya lagi.
"Mas Abi dan istrinya tidak mengadakan pesta, Kak. Hanya ijab kabul yang kemarin sudah dilaksanakan di rumah kediaman Kiai Ammar.
"Oh, begitu. Kenapa orang sekaya Kiai Ammar tidak mengadakan pesta pernikahan untuk anaknya?" tanya Raya yang merasa janggal.
"Untuk masalah itu saya tidak tahu, Kak. Mungkin karena Mas Abi belum punya tabungan yang cukup untuk mengadakan pesta."
"Oh begitu. Terima kasih ya, Na. Tolong sampaikan salamku untuk Abi. Semoga dia bahagia," ucap Raya sebelum berbalik meninggalkan Husna.
"Kak Raya. Dia pasti patah hati banget karena Mas Abi menikah. Semoga Kak Raya mendapatkan jodoh yang jauh lebih baik," batin Husna sembari memandang punggung Raya yang semakin menjauh. Beberapa saat kemudian, sebuah mobil plat kuning alias angkot berhenti di depan kampus Universitas Gajah Mada. Husna kemudian masuk ke angkot yang akan membawanya pulang ke rumah.
"Husna, kamu sudah pulang?" tanya Maya saat Husna baru saja tiba di rumah. Wanita paruh baya itu tersenyum karena sejak tadi sudah tidak sabar menanti kepulangan Putri bungsunya.
"Ada apa, Bu? Kenapa ibu tampak bahagia sekali?" tanya Husna heran. Beberapa waktu terakhir ini, gadis itu jarang melihat sang ibu tersenyum. Selain karena keadaan ekonomi yang serba kekurangan, juga hutang-hutang yang begitu menghimpit mereka membuat wanita paruh baya itu seolah kehilangan senyum. Namun, siang ini Husna melihat wanita yang selama ini dia tahu adalah ibu kandungnya itu terlihat bahagia dan wajahnya berseri.
"Sini, Nduk. Ibu punya sesuatu buat kamu,"ajak Maya sembari menarik pergelangan tangan putrinya dan mengajak gadis itu masuk ke ruang tamu. Husna yang tidak ingin mengecewakan sang ibu yang sedang berbahagia hanya mengekor di belakangnya dengan hati penuh tanya. Setelah sampai di ruang tamu, Maya mengajak Husna duduk, lalu memberikan sebuah paper bag.
"Apa ini, Bu?" tanya Husna heran sembari menerima paper bag dari ibunya. Pandangan gadis itu kemudian mengarah pada paper bag lain yang ada di atas kursi usang di ruang tamunya.
"Itu baju gamis buat kamu. Ibu baru saja membelinya di Mall. Dan yang ini buat ibu," jawab Maya sembari menunjuk ke arah paper bag yang ada di atas kursi.
"Ibu dapat uang dari mana? Gamis ini harganya mahal, kan?" tanya Husna setelah membuka isi paper bag yang ada di tangannya.
"Ibu tidak berhutang lagi pada rentenir, kan?" tanya Husna lagi. Gadis itu benar-benar sudah trauma dengan Jarwo yang tadinya sok baik membantu perekonomian keluarga mereka dengan memberikan pinjaman uang, tetapi ternyata hanya seorang lintah darat penghisap darah.
"Kamu jangan khawatir, Husna. Ibu tidak berhutang pada rentenir, Uang itu pemberian Abi, kok," balas Maya sembari tersenyum.
"Kapan Mas Abi ke sini, Bu?" tanya Husna.
"Bukan dia yang ke sini, tetapi Ibu yang mendatanginya di Pasar Raya tadi. Ibu minta uang sama dia."
"Ibu minta uang pada Mas Abi?"
"Iya ... memang kenapa? Nggak boleh? Abi kan sekarang sudah jadi menantunya Kiai Ammar, pasti dia udah banyak duit. Jadi, apa salahnya Ibu minta jatah buat belanja kita?"
"Ya Allah, Bu. Kenapa Ibu lakukan itu? Mas Abi baru sehari menjadi menantunya Kiai Ammar. Kasihan Mas Abi, Bu. Dia bisa malu dengan mertuanya," tutur Husna.
"Kenapa mesti malu? Uang itu kan memang haknya Abi. Uang itu gajinya Abi sebelum menikah dengan Inara. Jadi, ya wajar aja kalau Ibu minta," jelas Maya.
"Terus kenapa Ibu membeli gamis mahal-mahal? Harusnya uang itu kita hemat untuk makan kita sehari-hari, Bu. Kita jangan membebani Mas Abi. Dia sekarang sudah punya istri dan punya kewajiban menafkahi istrinya juga," tutur Husna lagi.
"Iya, iya. Ibu tahu. Tadinya sih jang ini mau Ibu gunakan untuk kebutuhan sehari-hari kita, tetapi ibu berubah pikiran karena Ibu pikir kamu harus punya gamis yang bagus untuk ketemu sama teman ibu."
"Kenapa harus pakai gamis yang bagus, Bu? Lagian gamis Husna kan masih banyak. Tidak perlu beli yang baru. Uangnya kan bisa kita pakai untuk kebutuhan yang lain."
"Tapi, Na. Semuanya gamis kamu itu gamis murahan yang beli di pasar. Ibu ingin kamu pakai gamis yang bagus dan bermerk karena teman ibu ini sangat istimewa.
"Tapi, Bu--"
"Husna, teman Ibu ini adalah orang kaya. Suaminya punya perusahaan besar di Jakarta. Dia punya seorang anak laki-laki yang tampan dan mapan dan kami sepakat menjodohkan kalian.
"Apa, Bu? Dijodohkan? T-tapi Husna kan masih kuliah," balas Husna terkejut.
"Tidak masalah meskipun kamu masih kuliah, Na. Istrinya si Abi kan juga masih kuliah, tapi dia mau menikah dengan Abi yang hanya dari keluarga sederhana seperti kita. Udah, deh. Pokoknya, kamu nggak bakal nyesel dengan laki-laki pilihan ibu."
"Tapi, Bu--"
"Jangan membantah, Husna. Tolong penuhi keinginan Ibu sekali ini saja. Ibu sudah terlanjur sanggup pada teman ibu. Ibu tidak enak untuk menolaknya. Dia adalah teman Ibu sejak kecil semasa masih di Panti Asuhan. Dia begitu baik dan selalu menolong Ibu. Dia juga yang memperkenalkan Ibu pada ayah kalian hingga akhirnya kami menikah. Tolong jangan tolak perjodohan ini!"
"Tapi, Husna kan tidak mengenal laki-laki itu, Bu. Masa iya Husna harus menikah dengan dia? Husna juga tidak mencintainya." Husna mencoba menolak perjodohan yang direncanakan ibunya itu.
"Kamu akan Ibu kenalkan sama dia nanti. Kalian bisa saling mengenal satu sama lain sebelum menikah. kalian bisa taaruf dulu. Kalau masalah cinta, kamu harus tahu kalau Ibu dan Ayah kamu dulu juga tidak saling cinta. Tetapi kami menikah dan lama-kelamaan cinta itu tumbuh. Tolong, Husna. Jangan kecewakan ibu, ya."
Setelah berkata demikian, Maya beranjak dari duduknya sembari membawa paper bag yang ada di atas kursi. Wanita paruh baya itu masuk kamar lalu menutupnya. Husna hanya bisa menghela napas panjang melihat sang Ibu merajuk. Sebenarnya gadis itu tidak ingin mengecewakan ibunya, tetapi baginya pernikahan itu adalah sebuah ibadah panjang yang harus dipersiapkan dengan sungguh-sungguh. Suami adalah partner hidup yang harus bisa membawa dirinya sehidup sesurga. Mana mungkin dia akan menikah dengan seorang lelaki yang bahkan sama sekali tidak pernah dikenalnya hanya karena sebuah perjodohan.
Kepala Husna berdenyut. Gadis itu kemudian beranjak membawa paper bag pemberian ibunya dan melangkah menuju kamar. Husna menghenyakkan bobot tubuhnya di tepi ranjang sembari mendesah panjang. Tiba-tiba gadis itu teringat pada kakaknya.
"Sebaiknya aku memberitahu Mas Abi tentang hal ini. Barangkali Mas Abi bisa memberikan solusi," batin Husna. Gadis itu meraih ponsel dari dalam tasnya lalu menekan nomor kontak Abi.
"Halo, assalamualaikum, Na. Ada apa?" tanya Abi dari seberang sana setelah sambungan telepon terhubung.
"Waalaikumsalam, Mas Abi. Eum, anu Mas. Gimana cara ngomongnya, ya," jawab Husna bingung. Gadis itu tidak tahu harus memulai cerita dari mana.
"Ada apa, Na? Ngomong saja," ucap Abidzar dari seberang telepon penasaran.
"Ibu, Mas."
"Ibu? Ibu kenapa?"
"Ibu mau menjodohkan Husna dengan anak temannya."
"Apa? Menjodohkan, maksud kamu bagaimana?"
"Ibu meminta aku menerima perjodohan dengan putra temannya. Bagaimana ini, Mas. Husna masih mau fokus kuliah. Husna belum mau menikah apalagi dengan lelaki yang tidak Husna kenal."
"Ya sudah. Kamu tenang dulu, ya. Mas akan pulang. Mas akan bicara sama ibu. Tunggu, ya."
"Iya, Mas. Terima kasih. Oh, iya. Mas Abi mau makan apa? Biar aku masakin," tawar Husna.
"Nggak usah, Na. Nanti aku makan di rumah saja," tolak Abi.
"Cie ... yang sudah punya istri sekarang udah nggak mau makan masakan Husna," sindir Husna sembari menahan senyum. Abi hanya bisa menelan ludah yang mengental di tenggorokannya mendengar sindiran adiknya.
"Andaikan kamu tahu bagaimana kehidupan rumah tanggaku, Na," batin Abi sembari tersenyum miris. Namun, bagaimanapun pemuda itu tetap harus bersandiwara seolah-olah kehidupannya dengan Inara bahagia seperti apa yang diinginkan wanita itu, meskipun sebenarnya hatinya sangat tersiksa.