Bab 12. Bukan Ibu Kandung

1222 Kata
"Apa benar ibu mau menjodohkan Husna?" tanya Abi setelah sampai di rumahnya, suatu sore sepulang dari Pasar Raya. "Iya, memangnya kenapa? Apa ada yang salah? Ibu hanya mau yang terbaik buat Husna," jawab Maya santai. "Tolong, Bu. Biarkan Husna fokus kuliah. Jangan dulu bicarakan tentang perjodohan," pinta Abi. "Bi, Ibu melakukan semua ini karena Ibu peduli pada kalian. Teman ibu ini adalah orang kaya raya. Suaminya pemilik perusahaan besar di Jakarta. Dia sangat baik dan insya Allah anaknya juga baik sama seperti kedua orang tuanya. Ibu hanya tidak ingin mengecewakan mereka yang ingin menjodohkan anaknya dengan Husna. Lagipula, Husna bisa tetap kuliah meskipun nanti menikah dengan anak teman ibu. Ditambah lagi, kamu tidak perlu memikirkan biaya kuliah Husna lagi karena nanti suaminya yang akan membiayai. Ibu tahu kamu sudah menikah dan punya kewajiban menafkahi istri kamu. Jadi, Ibu tidak ingin membebani kamu. Tolong kamu ngertiin Ibu, Bi." "Abi tahu maksud ibu baik. Abi tahu ibu hanya ingin meringankan beban Abi, tetapi apa Ibu tidak memikirkan perasaan Husna? Bagaimana perasaannya kalau harus menikah dengan seorang lelaki yang tidak dia cintai? Apalagi mereka belum saling mengenal satu sama lain," protes Abi. Sementara Husna yang duduk di samping sang ibu hanya diam menyimak tanpa ikut berdebat. "Maafkan Ibu. Ibu memang tidak punya hak mengatur hidup kalian. Kalian sudah dewasa dan bisa menentukan jalan hidup kalian sendiri. Sepertinya kalian sudah tidak butuhkan Ibu lagi," balas Maya lirih. Buliran cairan bening mulai muncul dari kedua sudut mata wanita paruh baya itu. "Bu, bukan begitu maksud Abi. Abi hanya tidak ingin Ibu memaksakan perjodohan untuk Husna, itu saja." "Baiklah Ibu tidak akan memaksa. Kalian boleh melakukan apa saja yang kalian inginkan. Jangan pedulikan Ibu lagi. Ibu memang bukan siapa-siapa kalian. Ibu tidak punya hak menentukan masa depan kalian." Maya beranjak dari kursi lalu meninggalkan keduanya. Abi dan Husna saling memandang. "Tunggu, Bu! Apa maksud ibu berkata seperti itu?" tanya Husna angkat bicara. Gadis yang sejak tadi terdiam menyimak pembicaraan ibu dan kakaknya itu merasakan kejanggalan terhadap ucapan terakhir Maya. Namun, wanita paruh baya itu hanya bergeming tanpa memperdulikan pertanyaan Husna "Bu, Ibu, tunggu! Maafkan Husna. Husna akan menuruti apa yang Ibu mau. Husna nggak mau jadi anak durhaka," ucap Husna sembari mengikuti sang Ibu ke kamar. Gadis itu merasa telah menyakiti hati sang ibu hingga menangis demikian. "Kamu tidak akan pernah jadi anak durhaka, Husna. Karena Ibu bukanlah ibu kandung kamu," balas Maya yang sudah bersimpah air mata sembari menoleh ke arah Husna. Mendengar ucapan sang ibu, Husna terlihat syok. Gadis itu berdiri mematung sembari menatap sang ibu dengan tatapan penuh tanya. "Ibu!" Husna berlari memeluk sang Ibu sembari menangis. "Maafkan Husna kalau sudah bikin Ibu marah. Tapi jangan pernah mengatakan kalau Husna bukan anak kandung ibu. Husna tidak mau jadi anak durhaka," ucap Husna sembari terisak dan mempererat pelukannya pada sang ibu. "Tidak, Husna. Kamu anak yang baik. Kamu bukan anak durhaka. Aku memang bukan ibu kandung kamu. Sudah saatnya kamu tahu kalau sebenarnya kamu dan Abi bukanlah anak kandung Ibu. Ibu hanya Ibu tiri kalian. Ibu menikah dengan ayah kalian saat usia kamu empat bulan." Ucapan Maya membuat Husna merenggangkan pelukannya. Gadis itu menatap wajah sang ibu dengan tatapan tak percaya lalu mengalihkan pandangannya kepada Abi yang sudah berdiri di belakangnya. "Mas Abi, apa benar yang dikatakan Ibu?" tanyanya. Abi tidak menjawab apapun kecuali hanya menganggukkan kepala. "Lalu, di mana ibu kandung kita, Mas?" "Ibu kita sudah meninggal saat melahirkan kamu, Na. Ibu Mayalah yang sejak kecil merawat kita," jelas Abi membuat Husna semakin syok. "Maafkan Ibu, Husna. Ayah kamu melarang Ibu menceritakannya. Beliau takut kamu akan sedih dan tidak menyayangi ibu, tetapi sekarang kamu sudah dewasa. Kamu berhak tahu kebenarannya. Maaf, kalau ibu selama ini sudah menyusahkan kalian berdua. Ibu bukan ibu kandung kalian. Jadi, ibu tidak berhak mengatur hidup kalian. Jika kalian sudah tidak ingin bersama Ibu lagi, tidak mengapa. Kalian bisa menempuh jalan hidup kalian masing-masing. Ibu tidak akan memaksa lagi. Ibu akan kembali ke panti asuhan dan mengabdikan sisa umur ibu di sana," ucap Maya sedih. Maya berpikir kalau Husna akan membencinya karena menyembunyikan kebenaran ini selama bertahun-tahun meskipun semua atas permintaan suaminya. "Ibu!" Tanpa diduga, Husna berhambur memeluk Maya. Gadis itu terisak dalam pelukan sang ibu. "Husna sayang sama Ibu. Meski Ibu bukan ibu kandung Husna, tetapi Husna ingin Ibu bahagia. Kalaupun Husna harus menikah dengan anak teman Ibu, Husna rela. Husna tidak akan menolak perjodohan ini, Bu. Asalkan Ibu jangan pergi." "Ya sudah, begini saja. Ibu bawa Husna ketemu dulu sama anaknya teman ibu. Biarkan mereka taaruf dulu saja. Barangkali cocok ya diteruskan, tetapi kalau tidak ya jangan. Ya namanya jodoh kan tidak bisa dipaksakan, Bu. Bagaimana menurut ibu?" Abi memberikan solusi yang bijak. Pemuda itu tentu saja tidak ingin Husna mengalami hal yang sama dengan dirinya, yaitu menikah tanpa cinta. Meskipun saat ini Abi sudah jatuh cinta kepada Inara, tetapi wanita itu sama sekali tidak menganggapnya. Abi hanyalah seorang suami kontrak yang tidak berharga di mata Inara. "Baiklah, Ibu setuju. Maafkan Ibu kalau terlalu memaksakanmu, Husna. Nanti ibu akan bicara pada teman ibu tentang hal ini," putus Maya. "Terima kasih, Bu. Husna sayang sama ibu." "Iya, Ibu juga." Kedua wanita beda generasi itu kembali berpelukan. Suara kumandang adzan Magrib memecah suasana haru antara ibu dan anak tersebut. Mereka kemudian mengambil air wudhu, lalu melaksanakan salat Magrib berjamaah di rumah dengan Abi sebagai imamnya. "Ibu, Husna, aku pulang dulu, ya. Takut dicari sama Abah Ammar dan Inara," pamit Abi seusai melaksanakan salat Magrib. "Iya, Bi. Terima kasih kamu sudah ke sini. Sampaikan salam ibu untuk kedua mertuamu, ya!" "Iya, Bu. Abi pulang dulu. Assalamualaikum." Abi menjabat dan mencium punggung tangan ibunya. "Waalaikumsalam," jawab Maya dan Husna hampir bersamaan. Husna kemudian menjabat dan mencium tangan Abi sebelum pemuda itu pergi mengendarai ojek online menuju rumah Kiai Ammar. Setelah menempuh perjalanan sekitar dua puluh menit dengan ojek online, Abi sampai di komplek perumahan Puri Indah Permai. "Assalamualaikum," ucapnya sembari mengetuk pintu rumah mertuanya. "Waalaikumsalam," terdengar jawaban dari dalam rumah. Tak Berapa lama kemudian, seorang gadis berjilbab lebar membukakan pintu untuknya. "Mas Abid baru pulang?" tanya gadis itu setelah membuka pintu. "Iya, Rin. Tadi habis dari Pasar Raya aku mampir ke rumah Ibu dulu," jawab Abi sembari masuk rumah. "Oh, begitu. Mas Abid sudah makan?" tanya gadis yang tidak lain adalah Khurin itu sembari mengekor di belakang Abi. "Belum. Tadi aku buru-buru takut kemalaman," jawab Abidzar. "Kalau begitu, Mas Abid makan dulu, ya! Biar aku panasin lagi sayurnya," ucap Khurin sembari beranjak ke dapur. "Nggak usah, Rin. Nanti biar Inara yang menyiapkan makan malamku," balas Abi tidak enak hati. Meskipun pemuda itu sangat tahu pasti kalau Inara tidak akan mungkin mempersiapkan makan malam untuknya, tetapi setidaknya pemuda itu tidak ingin merepotkan adik iparnya. "Mbak Rara belum pulang, Mas. Abah sama Umi juga sedang ada pengajian. Jadi, biarkan saya yang menyiapkan makan malam Mas Abid, ya." "Tapi, Rin. Aku nggak mau ngerepotin kamu." "Mas Abid ini kayak sama siapa aja. Nggak apa-apa, Mas. Aku tidak merasa direpotkan, kok. Aku malah senang bisa bantu Mas Abid. Tunggu, ya." Abi akhirnya mengalah dan membiarkan Khurin mempersiapkan makan malam untuknya. "Oh, ya. Mas Abid mau dibikinin teh apa kopi?" "Teh saja." "Ya sudah, Mas Abid mandi dulu saja. Nanti kalau makanannya sudah siap aku panggil," ucap Khurin. Abi hanya mengangguk, lalu melangkah menuju kamarnya untuk mandi. "Sebenarnya istri aku itu Inara apa kamu, Rin, " batin Abi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN