"Astagfirullah!" ucap Khurin sembari menutup mushaf Al Qur'an yang ada di tangannya. Gadis cantik putri bungsu Kiai Ammar itu mengusap wajahnya berulang-ulang sembari mendesah lirih.
"Ampuni saya, ya Allah," ucapnya lagi sembari meletakkan mushaf Al Quran yang barusan dia baca di atas nakas. Tadinya, Khurin sedang khusyuk bertilawah Al Qur'an untuk mengisi waktu senggangnya. Selama pulang di rumah, Khurin tidak punya kegiatan apa-apa. Kebetulan asisten rumah tangga keluarga Kiai Ammar sedang pulang ke kampung halaman. Jadi, Khurin membantu uminya menyelesaikan pekerjaan rumah.
Setelah membantu uminya menyiapkan makan malam sekaligus membereskan dapur dan membersihkan rumah, gadis itu lebih suka menyibukkan diri dengan bertilawah Al Qur'an sembari menambah hafalan. Namun, sore itu gadis cantik putri bungsu Kiai Ammar untuk pertama kalinya tidak bisa konsentrasi dalam menghafal Al Qur'an. Entah kenapa tiba-tiba bayangan wajah Abi muncul di halaman mushaf Al Qur'an yang sedang dia baca. Berkali-kali gadis itu mengucapkan kalimat istighfar, berharap Allah mengampuni dosa-dosanya karena telah memikirkan seorang lelaki yang kini menjadi suami dari kakaknya.
Khurin beranjak dari kamarnya untuk menghirup udara segar di luar. Gadis itu ingin menghilangkan bayangan Abi yang sudah dua hari ini mengganggu pikirannya. Entah kenapa semenjak bertemu dengan kakak iparnya itu, Khurin tidak pernah bisa berhenti memikirkan suami dari sang kakak. Perlakuan Inara yang terlihat janggal bagi Khurin menjadi tanda tanya besar yang belum terjawab. Apalagi Khurin tidak pernah melihat Inara memperhatikan kebutuhan suaminya, termasuk membersamai salat, sarapan, maupun mengantarnya berangkat kerja. Padahal, mereka baru dua hari berumah tangga. Bukankah seharusnya sebagai pengantin baru mereka sedang lengket-lengketnya? Namun, yang disaksikan Khurin justru sebaliknya. Seperti tidak ada kemesraan antara kakaknya dengan Abi.
"Lho, Abah dan Umi mau ke mana?" tanya Khurin saat keluar kamar dan melihat kedua orang tuanya sudah berpakaian rapi serta bersiap untuk pergi.
"Abah dan Umi mau ikut pengajian di masjid komplek, Nduk. Sekalian nanti salat Magrib dan Isya di sana," balas Kiai Ammar.
"Oh, ya. Nanti kamu tolong siapkan makan malam untuk Abi kalau dia pulang, ya," pesan Umi Hanik.
"Loh, memangnya Mas Abid belum pulang? Bukannya pulang bareng Abah, ya?" tanya Khurin. Setahunya, Abi bekerja di Pasar Raya membantu Sang Abah, sehingga gadis itu mengira Abi pasti sudah pulang bersama Abahnya tadi bakda Ashar.
"Tadi Abi ijin mau mampir ke rumah ibunya, tetapi katanya nanti sebelum Magrib sudah pulang," jawab Kiai Ammar.
"Oh, begitu." Khurin manggut-manggut mendengar jawaban sang Abah.
"Jangan lupa pesan Umi kamu. Nanti kalau Abi pulang kamu siapkan makan malamnya, ya. Maaf kalau kami merepotkan kamu karena Abah yakin Inara tidak akan cepat pulang," tambah Kiai Ammar.
"Memangnya Mbak Rara ke mana sih, Bah? Harusnya kan dia yang melayani Mas Abid," balas Khurin heran.
"Kamu kayak nggak kenal Mbakmu saja. Dia kan kalau lagi mengejar sesuatu lupa dengan kewajibannya. Tadi sih pamitnya mau mencari bahan untuk mengerjakan tesis. Kasihan Abi, nanti kalau mbakmu belum pulang dia nggak ada yang nyiapin makan malam. Apalagi Bibi Ndari kan lagi cuti pulang kampung."
"Oh iya. Abah dan Umi tenang saja, nanti Ririn siapin makan malamnya Mas Abid."
"Ya sudah, Nduk. Kami berangkat dulu, ya. Takut telat. Jangan lupa dikunci pintunya," pesan Umi Hanik. Khurin menggangguk, kemudian Kiai Ammar dan istrinya beranjak meninggalkan rumah menuju masjid komplek untuk mengikuti pengajian rutin.
Setelah kepergian kedua orang tuanya Khurin segera mengunci pintu, bertepatan dengan itu terdengar kumandang adzan maghrib yang mengalun merdu dari Masjid Komplek Perumahan Puri Indah Permai. Gadis itu pun bersiap untuk melaksanakan Salat Magrib.
Seusai melaksanakan kewajiban tiga rakaatnya, Khurin kembali menyibukkan diri dengan bertilawah Al Qur'an. Kali ini gadis itu benar-benar berusaha membuang bayang wajah Abi dari dalam pikirannya. Khurin sadar kalau apa yang dipikirkannya adalah sebuah kesalahan. Abi adalah kakak iparnya dan dia tidak halal untuk memiliki perasaan kepada lelaki itu.
Beberapa menit menikmati suasana bertilawah, tiba-tiba Khurin mendengar suara Abi mengucapkan salam dari pintu depan. Gadis itu kemudian mengakhiri tilawahnya dan menjawab salam sang kakak ipar. Entah kenapa d**a Khurin berdebar bertalu-talu saat hendak membukakan pintu untuk kakak iparnya itu.
"Astagfirullah, Ya Allah. Buanglah perasaan tidak pantas ini dari hati hamba. Hamba tidak ingin cinta terlarang ini tumbuh subur di hati hamba," batin Khurin sembari menarik napas panjang dan mempersiapkan diri untuk bersikap biasa saja di depan Abi, lelaki yang telah berhasil mencuri sebagian hatinya.
"Mas Abid baru pulang?" tanya Khurin setelah berhasil mengendalikan ritme jantungnya yang tiba-tiba berdetak di atas normal.
"Iya, Rin. Tadi habis dari Pasar Raya aku mampir ke rumah Ibu dulu," jawab Abi sembari masuk rumah.
"Oh, begitu. Mas Abid sudah makan?" tanya Khurin sembari mengekor di belakang Abi.
"Belum. Tadi aku buru-buru takut kemalaman," jawab Abi.
"Kalau begitu, Mas Abid makan dulu, ya! Biar aku panasin lagi sayurnya," ucap Khurin sembari beranjak ke dapur. Meski sebenarnya tidak ingin berlama-lama dengan sang kakak ipar, tetapi gadis itu tetap ingin melaksanakan apa yang menjadi pesan uminya sebelum berangkat pengajian tadi, yaitu mempersiapkan makan malam untuk Abidzar.
"Nggak usah, Rin. Nanti biar Inara yang menyiapkan makan malamku," tolak Abidzar tidak enak hati. Meskipun pemuda itu sangat tahu pasti kalau Inara tidak akan mungkin mempersiapkan makan malam untuknya, tetapi setidaknya pemuda itu tidak ingin merepotkan adik iparnya.
"Mbak Rara belum pulang, Mas. Abah sama Umi juga sedang ada pengajian. Jadi, biarkan saya yang menyiapkan makan malam Mas Abid, ya."
"Tapi, Rin. Aku nggak mau ngerepotin kamu."
"Mas Abid ini kayak sama siapa aja. Nggak apa-apa, Mas. Aku tidak merasa direpotkan, kok. Aku malah senang bisa bantu Mas Abid. Tunggu, ya." Abi akhirnya mengalah dan membiarkan Khurin mempersiapkan makan malam untuknya.
"Oh, ya. Mas Abid mau dibikinin teh apa kopi?"
"Teh saja."
"Ya sudah, Mas Abid mandi dulu saja. Nanti kalau makanannya sudah siap aku panggil," ucap Khurin. Abi hanya mengangguk, lalu melangkah menuju kamarnya untuk mandi. Sedangkan Khurin mulai memanaskan sayuran dan menggoreng lauk pauk untuk sang kakak ipar.
"Mas Abid, makanannya sudah siap," ucap Khurin sembari mengetuk kamar Abi.
"Iya, Rin. Terima kasih," balas Abidzar dari dalam kamar. Tak Berapa lama kemudian lelaki itu keluar dari kamar dalam keadaan segar. Abi yang hanya berbalut kaos oblong putih dan celana pendek selutut serta rambutnya yang masih sedikit basah sempat membuat Khurin memandang takjub kepada kakak iparnya itu. Namun, dengan segera dia memalingkan pandangan ke arah lain sembari beristighfar lirih.
"Kamu tidak makan, Rin?" tanya Abi saat melihat di meja makan hanya tersedia satu piring.
"Nggak, Mas. Saya belum lapar. Nanti saja saya makan sendiri. Saya permisi ke kamar dulu, ya." Khurin berpamitan. Sebagai gadis santri tentu dia sangat paham kalau dirinya dan Abi memiliki hubungan mahram sementara. Bahkan dalam ilmu agama disebutkan kalau ipar itu berbahaya. Meskipun mahram, tetapi dalam arti haram dinikahi bukan berarti bisa saling berduaan apalagi bersentuhan. Abi tersenyum melihat sang adik ipar yang sengaja meninggalkannya makan sendiri. Lelaki yang pernah mengenyam pendidikan sarjana di bidang keagamaan itu paham betul kalau Khurin memang sengaja menghindari berkhalwat dengan dirinya.
"Seandainya Non Inara memiliki sedikit saja sifat yang kamu miliki, Rin. Mungkin sekarang aku akan menjadi lelaki yang paling bahagia di dunia ini. Sayangnya aku hanyalah seorang suami kontrak," batinnya miris. Lelaki itu kemudian menyantap makan malamnya hingga terdengar kumandang adzan Isya. Abidzar kemudian bersiap untuk melaksanakan salat Isya.
"Rin, aku ke masjid dulu, ya," pamit Abi sembari mengetuk pintu kamar Khurin. Tak Berapa lama kemudian, Khurin membuka pintu kamar.
"Mas Abid mau salat di masjid?" tanya Khurin.
"Iya, Rin. Lelaki kan lebih utama salat di masjid. Apa kamu mau ikut salat ke Masjid?" Abi balik bertanya.
"Enggak, Mas. Saya Salat di rumah saja. Lagian tadi Umi berpesan supaya saya jaga rumah," tolak Khurin.
"Ya sudah. Saya berangkat dulu, ya. Assalamualaikum." Abi berbalik dan berjalan keluar rumah.
"Waalaikumsalam," jawab Khurin sembari mengekor di belakangnya. Gadis itu berniat untuk mengunci pintu depan setelah Abi keluar. Namun, saat keduanya membuka pintu depan bertepatan dengan itu Inara pulang. Wanita itu menatap dengan curiga ke arah suami dan adiknya.