"Assalamualaikum," sapa Inara memecah keheningan. Abi dan Khurin saling memandang saat tiba-tiba Inara muncul dari balik pintu depan. Keduanya kemudian menjawab salam dari Inara. Putri sulung Kiai Ammar itu pun tersenyum sembari menjabat dan mencium punggung tangan sang suami. d**a Abi berdesir saat sang istri mendaratkan ciuman di pipinya, bahkan harum wangi parfum Inara begitu terasa menusuk indra penciuman pemuda itu.
Sontak Khurin yang melihat kejadian itu memalingkan pandangan. Seperti ada sebuah tangan tak kasat mata yang meremas hatinya melihat pemandangan romantis antara keduanya. Namun, Abi sangat tahu kalau saat ini Inara sedang bersandiwara di depan adiknya. Wanita itu tidak benar-benar ingin menciumnya. Abi paham betul kalau Inara hanya ingin tampak menjadi istri yang baik di depan adiknya.
"Maaf, Mas. Aku terlambat pulang. Tadi aku mendapatkan sedikit kendala dalam mengumpulkan bahan untuk mengerjakan tesis," ucap Inara menjelaskan tanpa diminta.
"Iya, Dek. Tidak apa-apa," balas Abi mengimbangi sandiwara Inara. Sementara Khurin hanya terdiam mematung menyimak obrolan pasangan suami istri itu.
"Kamu sudah makan malam, Mas? Mau aku siapin?" tawar Inara berlagak sok menjadi istri yang baik.
"Sudah, Dek. Tadi aku sudah makan. Aku mau ke masjid dulu," balas Abi sedikit gugup. Seandainya saja perlakuan Inara ini bukan hanya sekedar sandiwara tentu dia akan merasa sangat bahagia.
"Oh begitu. Ya sudah kamu salat dulu saja. Nanti kita ngobrol lagi. Aku mau mandi dulu."
"Iya. Aku salat dulu, ya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Hati-hati, Mas," pesan Inara. Abi hanya menoleh dan mengangguk lalu berbalik meninggalkan halaman rumah menuju masjid komplek yang ada di ujung gang perumahan.
"Abah sama Umi mana, Rin?" tanya Inara setelah Abi pergi sembari melangkah masuk
"Abah sama Umi ada pengajian di Masjid Komplek sejak sebelum maghrib tadi, Mbak," jawab Khurin sembari menutup pintu depan rumah.
"Oh, terus siapa yang nyiapin makan malam Mas Abi?" tanya Inara mengetes. Sebenarnya wanita itu tahu kalau Khurin lah pasti yang telah menyiapkan makan malam untuk suaminya.
"Maaf Mbak, kalau tadi saya lancang. Karena Abah dan Umi tidak ada dan Mbak juga belum pulang, maka tadi makan malam Mas Abid aku yang nyiapin," jelas Khurin.
"Oh, jadi kamu. Makasih, ya. Maaf kalau aku ngerepotin kamu," ucap Inara dengan nada sedikit ketus. Wanita itu mulai merasa kalau adiknya menyukai Abi. Entah kenapa dia merasa tidak rela, walaupun sebenarnya dirinya juga tidak punya perasaan apapun pada suami kontraknya itu.
"Oh, ya. Kapan kamu kembali ke pondok?" tanya Inara membuat Khurin mengangkat pandangannya. Gadis itu merasa sang kakak sudah tidak menghendaki kehadirannya di rumah.
"Eum, masih belum tahu, Mbak. Aku masih kangen sama Abah dan Umi," jawab Khurin.
"Oh, ya sudah. Aku ke dalam dulu, mau mandi dan salat," pamit Inara. Khurin hanya menjawab dengan anggukan kepala. Gadis itu merasakan sikap kakaknya berubah dingin. Memang sejak kecil keduanya tidak begitu akrab seperti dua saudara pada umumnya. Meski dalam tubuh keduanya mengalir darah yang sama, tetapi sifat mereka sangatlah berbeda.
Khurin kembali ke kamarnya untuk melaksanakan salat Isya, begitupun Inara. Setelah mandi dan berganti baju, putri sulung Kiai Ammar itu melaksanakan salat Isya di kamarnya, lalu merebahkan tubuhnya di ranjang dan berselancar di dunia maya lewat ponselnya sembari menunggu Abi pulang dari Masjid. Ada banyak hal yang perlu dia bahas dengan suami kontraknya itu.
Suara ketukan di pintu kamar disertai ucapan salam dari seorang lelaki membuat Inara meletakkan ponselnya di nakas. Wanita itu menjawab salam dari lelaki yang tidak lain adalah Abi lalu menyuruhnya segera masuk.
"Non belum tidur?" tanya Abi sembari mengambil bed cover dan bantal yang ada di lemari Inara lalu membentangkannya di lantai.
"Aku belum ngantuk," jawab Inara sembari menatap ke arah Abi yang mulai duduk di atas bentangan bed cover dan bersiap tidur. Hari ini begitu banyak pembeli yang datang di toko Abah mertuanya, sehingga badan Abi terasa penat dan ingin segera istirahat
"Aku ingin bicara sesuatu," ucap Inara membuat Abi mengurungkan niatnya untuk berbaring.
"Ada apa, Non? Apa saya berbuat salah?" tanya Abi mulai tidak enak hati. Melihat raut wajah Inara yang masam, pemuda itu sudah bisa menerka apa yang akan dibicarakan oleh istri sekaligus majikannya itu.
"Aku sudah bilang berkali-kali padamu. Saat di dalam kamar dan kita hanya berdua, kita memang bukan suami istri yang sebenarnya, tetapi setidaknya kalau di depan keluargaku, kamu harus bisa bersandiwara dengan baik. Jangan kaku. Aku gak mau kalau sikapmu menimbulkan kecurigaan pada mereka. Aku nggak mau tahu, ya. Kalau sampai keluargaku tahu tentang sandiwara kita terutama Abah dan Umi, aku akan membatalkan kontrak pernikahan kita dan kamu harus mengembalikan uangku saat itu juga. Kamu sudah paham kan Kalau itu juga tertulis dalam surat perjanjian?"
"Maafkan saya Non. Mungkin saya kurang pintar bersandiwara. Saya, saya hanya takut Non mengira saya memanfaatkan situasi."
"Pokoknya aku nggak mau tahu. Kalau depan Abah dan Umi kita harus terlihat mesra. Terlebih lagi kalau di hadapan Ririn. Aku mau kamu bersikap romantis di depan adikku. Kamu boleh menciumku, memelukku, atau apa saja."
"Mengapa harus di depan Khurin, Non? Saya tidak enak hati."
"Kenapa harus tidak enak hati? Apa benar kamu suka sama Ririn? Kamu berharap bisa menikah sama Ririn setelah kita cerai nanti, hmm?"
"Bukan begitu maksud saya, Non. Saya tidak berani mengharapkan hal itu."
"Baguslah kalau kamu sadar diri. Kamu itu nggak pantas buat aku maupun Ririn. Jadi, aku melarang keras kamu jatuh cinta padaku ataupun adikku, mengerti?"
"Iya, Non. Saya mengerti," balas Abi lirih. Remuk redam hatinya mendengar ucapan sang istri. Inara begitu memandang rendah dirinya, sampai-sampai berharap jatuh cinta pun tidak boleh.
"Setelah perjanjian kita berakhir, kamu harus menjauhi keluarga kami. Ingat jangan mencoba mengambil simpati Abah karena yang aku ingin setelah anakku lahir, kamu pergi jauh dari hidupku." Abi tertegun mendengar perkataan Inara. Lelaki bercambang tipis itu hanya bisa bergeming. Bahkan untuk menelan ludahnya sendiri pun seolah dia tidak mampu. Begitu burukkah dirinya di mata Inara?
"Oh, ya. Aku suka melihat kamu setiap pagi mandi keramas. Jadi, biar Abah mengira kita sudah melakukan kewajiban suami istri sehingga saat mereka tahu aku hamil nanti mereka akan yakin kalau ini adalah anakmu."
"Baik, Non. Boleh saya tahu sesuatu?"
"Apa?"
"Setelah kita bercerai nanti, apakah Non akan kembali pada ayah bayi itu?"
"Tentu saja. Radit akan kembali setelah menyelesaikan pendidikan S3 nya dan dia akan menikahiku. Jadi, jangan pernah berharap lebih dengan hubungan kita. Bagiku kamu hanyalah seorang suami kontrak dan selamanya akan tetap seperti itu. Jangan sok berlagak jadi suami yang baik untukku kecuali saat kita berada di hadapan Abah dan Umi. kamu tidak lupa kan dengan perjanjian itu?"
"Iya, Non. Saya ingat."
"Bagus! Sekarang tidurlah," titah Inara. Abi hanya mengangguk dan mulai merebahkan tubuhnya di atas bed cover yang sudah dibentangkan di lantai, begitu pula Inara yang sudah bersiap untuk tidur karena seharian ini dia merasa sangat lelah. Namun, keduanya terkejut saat terdengar suara seperti benda jatuh tepat di depan kamar mereka.
"Siapa?" tanya Inara dengan suara tinggi. Wanita itu segera beringsut dari ranjang menuju pintu kamar dan membukanya. Kedua matanya terbelalak saat melihat siapa yang berada di luar kamarnya.
"Ririn! Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Inara saat melihat sang adik berjongkok sambil memunguti pecahan vas bunga yang terjatuh.
"Kamu mendengarkan pembicaraan kami? Kamu nguping?" tuduh Inara membuat Khurin tampak ketakutan.
"Jawab, Rin! Kamu mendengar obrolan kami?" Inara mengulang pertanyaan sembari menatap tajam ke arah adiknya.
"S-saya--"