Bab 15. Kembali ke Pondok

1145 Kata
"Mengapa ucapan Mbak Rara kepadaku begitu ketus, ya? Apa dia merasa kalau aku menyukai Mas Abid?" batin Khurin saat bersiap mengambil air wudhu untuk mengerjakan salat Isya. Gadis manis putri bungsu Kiai Ammar itu bisa merasakan sikap dingin Inara terhadapnya. Bahkan tanpa sungkan Inara menanyakan kepadanya kapan dirinya akan kembali ke pondok. "Apakah Mbak Rara sudah tidak menghendaki kehadiranku di rumah ini? Mengapa dia menanyakan kapan aku kembali ke pondok?" Kembali Khurin bermonolog. "Mungkin Mbak Rara benar, kalau aku lebih lama tinggal di sini akan bertambah besar mudharatnya. Aku harus segera kembali ke pondok agar rasa cinta yang aku rasakan kepada Mas Abid tidak tumbuh subur. Aku harus melupakannya. Mas Abid adalah kakak iparku dan tidak sepantasnya aku mempunyai perasaan seperti ini padanya." Khurin mengusap wajahnya dengan kasar. Gadis itu kemudian melangkah menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Dalam hati gadis itu bertekad bahwa setelah ini akan berkemas, lalu besok pagi kembali ke Kediri. Pada awalnya, Khurin berencana untuk tinggal selama satu minggu di rumah sang Abah. Namun, karena keadaan yang tidak nyaman ini, akhirnya gadis itu memutuskan untuk segera kembali ke pondok. Selain untuk menjaga perasaan kakaknya, Khurin juga tidak ingin cinta terlarang yang terlanjur tumbuh di hatinya itu akan semakin bersemi dan malah akan semakin menyakitkan baginya. Setelah melaksanakan kewajiban empat rakaat dan melipat mukenanya, Khurin mulai berkemas dengan memasukkan beberapa potong gamis ke dalam koper berukuran kecil. Gadis itu kemudian menghubungi nomor telepon trevel langganannya untuk mengantarnya ke Kediri besok. Namun, saat sedang sibuk berbalas chat dengan biro trevel, gadis itu mendengar suara salam dari arah pintu depan. Sepertinya Kiai Ammar, Umi Hanik dan Abi telah pulang dari Masjid. "Waalaikumsalam." Khurin menjawab salam mereka. Gadis manis putri bungsu Kiai Ammar itu lalu beranjak keluar kamar untuk membukakan pintu. Dua orang lelaki beda generasi dan seorang wanita paruh baya menyembul dari balik pintu setelah Khurin membukakan pintu. Setelah mengucapkan terima kasih kepada Khurin yang telah membukakan pintu, Abi berpamitan kembali ke kamar. Sedangkan Kyai Amar dan Umi Hanik yang sudah tampak kelelahan pun beranjak menuju kamarnya. "Bah, besok saya mau balik ke Pondok." Ucapan Khurin sontak membuat Kiai Ammar dan Umi Hanik menghentikan langkah. Keduanya menoleh dan menatap heran kepada putri bungsunya itu. "Lho, katanya mau nginep seminggu. Ini baru dua hari kok udah mau balik," protes Umi Hanik. "Saya berubah pikiran, Um." "Ada apa, Nduk? Apa ada masalah?" tanya Kiai Ammar yang menangkap gelagat tidak biasa pada putri bungsunya. "Nggak ada apa-apa, Bah. Hanya saja saya tidak mau ketinggalan materi terlalu jauh," balas Khurin beralasan. "Ya sudah kalau begitu. Mau berangkat kapan? Biar besok Abah dan Abi yang antar kamu," ucap Kiai Ammar tanpa menaruh rasa curiga. Kiai Ammar sangat mengenal sifat putri bungsunya. Khurin memang sangat haus akan ilmu agama, sehingga Kiai Ammar tidak berpikir kalau Khurin buru-buru kembali ke pondok karena ingin menghindari Inara dan Abi. "Tidak usah, Bah. Saya sudah pesan trevel. Insya Allah besok berangkat bakda Subuh," tolak Khurin. Gadis itu sudah mengantisipasi hal ini. Khurin tahu, sang Abah pasti akan mengantarnya kembali ke pondok dan kemungkinan besar pasti mengajak Abi. Oleh karenanya, gadis itu sudah terlebih dahulu menghubungi biro trevel langganannya. "Lho, besok pagi? Kok ya mendadak begitu, Nduk. Apa kamu gak pingin beli oleh-oleh dulu untuk teman-temanmu di pondok?" tanya Umi Hanik. Wanita paruh baya itu sepertinya masih berat melepaskan Khurin kembali ke pondok secepat itu. "Iya, Um. Kebetulan trevelnya berangkat habis Subuh. Tapi nanti biasanya singgah di Solo dulu. Saya beli oleh-oleh di Solo saja," jawab Khurin. "Ya sudah kalau begitu. Kamu pamitan dulu gih sama mbakmu sekarang. Kamu tahu sendiri kan kalau mbakmu itu suka bangun siang. Takutnya besok kamu malah gak bisa pamitan sama dia," saran Umi Hanik. "Baik, Um. Saya ke kamar Mbak Rara dulu." Setelah berkata demikian, Khurin beranjak menuju kamar Inara. Sementara Umi Hanik dan Kiai Ammar kembali ke kamar mereka. Khurin menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kamar Inara. Gadis itu mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintu kamar, saat sayup-sayup mendengar pembicaraan Inara dan Abi. Keduanya terdengar sedang berdebat di dalam kamar. "Astaghfirulloh, apakah mereka sedang bertengkar?" tanya Khurin dalam hati. Jiwa kepo gadis itu meronta. Khurin mendekat di pintu dan mempertajam pendengarannya. Khurin tampak syok saat mendengar perdebatan antara Inara dan Abi. Dari yang didengarnya, Khurin jadi tahu kalau Abi sebenarnya hanyalah suami kontrak. Lelaki itu menikah dengan Inara karena dibayar dan harus pura-pura romantis di depan semua orang. Yang lebih membuat Khurin syok adalah dia mendengar bahwa saat ini Inara tengah hamil dan itu bukan anak Abi. "Astaghfirulloh. J-jadi Mbak Rara telah berzina sampai hamil," gumam Khurin lirih sembari menutup mulutnya. Tiba-tiba kedua kakinya terasa lemas seolah tidak mampu menopang berat tubuhnya. Gadis itu sama sekali tidak menyangka kalau kakaknya telah melakukan dosa besar itu. Terlebih sampai hamil. Lalu, kakaknya juga membohongi kedua orang tuanya dengan menghadirkan Abi sebagai suami kontrak untuk menutupi aibnya. Khurin tidak tahu apa alasan Abi bersedia menjadi suami bayaran untuk kakaknya. Khurin mengira Abi bersekongkol dengan Inara. Gadis itu sangat kecewa karena ternyata pemuda itu tidak sebaik yang dia pikirkan. Mereka tega membohongi Abah dan uminya. Khurin mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintu kamar Inara. Gadis itu berbalik dengan tergesa-gesa karena takut Inara mengetahui keberadaannya di sana. Namun, naas. Tanpa sengaja tangan Khurin menyenggol vas bunga yang ada di samping pintu kamar Inara hingga pecah. Spontan, gadis itu jongkok dan membereskan bekas pecahan vas bunga itu. "Ririn! Apa yang kamu lakukan di sini?" Pintu kamar Inara terbuka bersamaan dengan munculnya wanita itu dari balik pintu membuat Khurin yang sedang membereskan pecahan vas bunga pun terkejut. "Kamu mendengarkan pembicaraan kami? Kamu nguping?" tuduh Inara lirih membuat Khurin tampak gugup. "Jawab, Rin! Kamu mendengar obrolan kami?" Inara mengulang pertanyaan sembari menatap tajam ke arah adiknya. "S-saya--" Inara menarik pergelangan tangan Khurin dan membawanya masuk ke kamar, lalu mengunci pintunya. Wanita itu takut pembicaraanya akan di dengar Abah dan uminya. "Jawab, Rin. Kamu dengar obrolan kami?" Kembali Inara mengulang pertanyaannya. Sementara Abi pun terkejut saat Inara tiba-tiba membawa adiknya masuk kamar. Namun, lelaki itu hanya diam mematung tanpa bisa berkata sepatah kata pun. "Iya, Mbak. Saya dengar semua. Saya benar-benar tidak menyangka kalau kalian berdua tega membohongi Abah dan Umi," jawab Khurin tegas. Kedua matanya sesekali melirik ke arah Abi yang hanya diam tanpa memberikan pembelaan. Hati Khurin terasa seperti tersayat belati tajam saat tahu kalau Abidzar ternyata tidak sebaik yang dia kira. Ada penyesalan di hati gadis itu telah jatuh cinta pada lelaki yang dia kira baik, tetapi ternyata penipu. "Aku harap kamu jangan ikut campur urusanku, Rin," ancam Inara sembari mencengkeram lengan Khurin. "Maaf, Mbak. Untuk kali ini saya tidak akan diam saja. Saya akan ceritakan semua pada Abah dan Umi sekarang juga," balas Khurin sembari melepaskan paksa tangan Inara dari lengannya. Gadis manis putri bungsu Kiai Ammar itu kemudian berbalik arah hendak keluar kamar. Tidak ada rasa takut lagi di hati gadis itu untuk membongkar kebenaran di depan Abah dan Uminya. "Tunggu, Rin!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN