"Tunggu, Rin!" cegah seseorang membuat Khurin menghentikan langkah. Seandainya sang kakak yang mencegah langkahnya, gadis itu sudah pasti tidak akan memperdulikan. Namun, kali ini bukanlah suara Inara, melainkan Abi. Lelaki bercambang tipis yang sejak tadi hanya diam mematung itu, kini angkat bicara untuk mencegah Khurin membongkar rahasia mereka di depan Kiai Ammar dan Umi Hanik.
Khurin membalikkan badan dan menetap ke arah Abi yang mengikis jarak dengannya. Rasa kagum yang sebelumnya pernah dia rasakan kepada lelaki itu kini berubah menjadi kebencian. Tepatnya rasa kecewa karena ekspektasinya terhadap Abi terlalu tinggi.
"Rin, dengarkan dulu penjelasan kami," ucap Abi saat sudah mengikis jarak dengan Khurin.
"Semua sudah jelas, Mas. Kamu dan Mbak Rara sama saja. Pembohong."
"Beri aku waktu sepuluh menit untuk menjelaskan semua. Kalau dirasa penjelasanku masih belum bisa kamu terima, maka setelahnya kamu boleh membongkar semua di depan Abah."
"Abi, kamu--"
"Sabar, Non. Ijinkan saya bicara dengan Ririn." Abi memotong ucapan Inara. Wanita itu pun terdiam, lalu mengangguk sebagai isyarat mengijinkan sang suami kontrak bicara dengan adiknya.
"Rin, Non Inara memang sudah melakukan dosa besar. Namun, kita tidak berhak menghakiminya. Yang namanya manusia itu ada kalanya khilaf. Non Inara hanya sedang diqodar salah oleh Allah. Bukankah kita manusia harus percaya akan adanya qodar Allah?" Abi menjeda ucapannya. Sementara Khurin diam menyimak tanpa sedikitpun berniat menyela.
"Sebaik-sebaiknya orang yang diqodar bersalah adalah orang yang mau bertaubat. Non Inara tidak ingin menambah dosanya dengan dosa baru. Saat ayah dari bayi dalam kandungannya tidak bisa bertanggungjawab, bahkan memintanya menggugurkan kandungan dengan hanya memberikan uang konpensasi, Non Inara memilih mempertahankan bayi itu karena dia tidak ingin melakukan dosa baru dengan membunuh nyawa yang tidak berdosa. Namun, tentu saja resikonya lebih besar. Bisa saja kedua orang tua Non Inara menanggung malu karena anak perempuannya hamil tanpa suami.
Itulah alasannya Non Inara mencari suami kontrak. Selain menutupi aibnya sendiri, juga menjaga nama baik Abah dan Umi. Beliau berdua adalah pemuka agama yang dihormati dan disegani di kampung ini. Tentu saja Non Inara tidak ingin mencoreng nama baik Abah dan Umi. Sedangkan saya, jujur saya sebelumnya tidak tahu tentang kondisi Non Inara. Saya butuh uang karena ibu saya dikejar rentenir dan bertepatan dengan itu, Non Inara menawari saya untuk menjadi suami kontraknya, lalu saya pun menyanggupinya. Kami punya surat perjanjian hitam diatas putih. Salah satunya adalah antara kami tidak ada kewajiban suami istri.
Aku harap kamu mempertimbangkan imbas dari masalah ini jika kamu membongkar semua di depan Abah dan Umi. Mereka sudah tua, kasihan jika harus ditambahi beban yang berat lagi. Lebih baik biarkan semua berjalan seperti ini. Aku dan Non Inara akan mempertahankan pernikahan ini sampai bayi itu lahir dan setelah itu kami akan bercerai. Tentu saja aku akan membuat sebab perpisahan kami bukanlah sesuatu yang buruk. Kami akan berpisah dengan baik-baik, sehingga masyarakat tidak akan menilai buruk terhadap keluarga Abah.
Sudah sepuluh menit. Aku rasa penjelasanku sudah cukup jelas buatmu. Sekarang terserah kamu, masih mau membongkar semua di depan Abah, atau membiarkan semua terjadi seperti ini. Kamu tentu pernah mendengar dalil yang mengatakan kalau barang siapa yang menutupi aib sesama muslim, maka kelak di akhirat Allah akan menutupinya dari api neraka."
Khurin terdiam mencermati kata demi kata yang diucapkan oleh Abi. Sejenak gadis itu melirik ke arah jam dinding yang ada di kamar Inara. Tepat sepuluh menit tidak kurang dan tidak lebih. Abi menceritakan semua dengan jelas. Putri bungsu Kiai Ammar itu pun mulai berpikir bahwa apa yang dikatakan lelaki itu benar adanya. Tidak semua hal harus di buka. Adakalanya sesuatu itu lebih baik disimpan.
Rasa kecewa yang tadinya sempat hinggap di hati Khurin terhadap Abi kini kembali luntur. Gadis itu malah semakin mengagumi pribadi Abi. Ternyata lelaki yang kini menjadi kakak ipar bohongannya itu memiliki pengetahuan ilmu agama yang cukup luas. Itu artinya, Abi bukan lelaki sembarangan paling tidak dia pernah belajar dan memperdalam ilmu agama.
"Bagaimana, Rin? Apa kamu masih akan menceritakan semua kepada Abah dan Umi?" Pertanyaan Abi membuyarkan lamunan Khurin. Sontak gadis itu mendongak lalu menggelengkan kepalanya.
"Terima kasih, Rin. Aku tahu kamu pasti bisa lebih bijak menyikapi masalah ini," ucap Abi sembari mengurai senyum lega.
"Iya Mas, Mbak. Maafkan saya karena sempat berburuk sangka. Saya titip Abah dan Umi. Besok pagi saya akan kembali ke pondok," balas Khurin.
"Besok pagi?" tanya Inara dan Abidzar hampir bersamaan.
"Iya, insya Allah saya berangkat habis subuh. Saya permisi dulu mau berkemas. Assalamualaikum." Setelah berkata demikian, Khurin mengayunkan langkahnya keluar kamar Inara.
"Waalaikumsalam," balas Abidzar dan Inara, lagi-lagi hampir bersamaan. Inara kembali mengunci pintu kamar setelah adiknya keluar.
"Aku nggak tahu harus ngomong apa sama kamu, Bi. Tapi jujur, malam ini aku berterima kasih sama kamu karena telah berhasil meyakinkan Khurin untuk tidak membongkar rahasia ini. Namun, kamu jangan besar kepala. Aku tahu kalau kamu melakukan semua ini juga untuk menyelamatkan dirimu sendiri, sebab dalam surat perjanjian kita kalau sampai rahasia ini terbongkar kepada Abah dan Umi maka perjanjian kita batal dan kamu harus mengembalikan uang aku. Begitu, kan? Jadi, aku yakin kamu hanya ingin menyelamatkan dirimu sendiri agar tidak mengembalikan uang itu," ucap Inara mengambil kesimpulan.
Abi hanya bisa menghela napas panjang. Bagi Inara memang tidak pernah ada sedikitpun kebaikan dalam dirinya. Bagaimanapun dirinya berusaha berbuat baik, tapi Inara tetap saja tidak akan pernah bisa menghargainya.
"Terserah jika Non mau beranggapan seperti itu. Bukankah saya tidak punya kewajiban menjelaskan isi hati saya kepada Non? Saya harus menganggap semua yang Non katakan adalah benar. Begitu, kan?"
"Nah ... itu kamu tahu. Ya sudah. Aku capek sekali. Aku mau istirahat. Jangan ganggu aku."
"Baik, Non."
***
"Husna, kamu lagi di mana? Sudah pulang kuliah, kan?" tanya Maya lewat sambungan telepon saat Husna baru saja keluar area kampus Universitas Gadjah Mada.
"Iya, Bu. Ini Husna baru keluar kampus. Sekarang lagi di jalan nungguin angkot. Ada apa, sih?" tanya Husna heran. Tidak biasanya sang ibu menelepon saat jam pulang kampus.
"Kamu jangan nungguin angkot. Naik taksi aja, nanti ongkosnya Ibu ganti. Pokoknya kamu harus segera sampai ke rumah," titah sang ibu.
"Memangnya ada apa, Bu?" tanya Husna masih tidak mengerti.
"Nanti kamu juga bakal tahu. Pokoknya Ibu minta kamu naik taksi, biar bisa cepat sampai rumah."
"Iya, Bu. Iya. Aku order taksi online dulu." Husna memang tidak pernah bisa membantah apa yang diperintahkan oleh ibunya. Perintah Maya bagaikan sabda raja yang harus dikerjakan tanpa dibantah. Keduanya mengakhiri panggilan setelah saling mengucapkan salam. Tangan Husna lalu sibuk dengan ponselnya untuk mengorder taksi online. Namun, berkali-kali gadis itu mendengkus kesal karena driver yang berada di sekitar kampus UGM semuanya sibuk.
"Sebaiknya aku berjalan ke seberang jalan aja. Barangkali di sana ada taksi yang mangkal," pikir Husna. Daripada menunggu driver taksi online yang penuh di jam sibuk, Husna memilih mencari taksi offline yang biasa mangkal di seberang jalan.
Gadis itu kemudian memasukkan ponsel ke dalam tas lalu menyeberang jalan. Namun, belum sampai kakinya melangkah meninggalkan tepi jalan, tiba-tiba dari arah selatan sebuah mobil mewah berjenis Ferrari warna hitam melaju kencang. Husna hendak memundurkan langkahnya bersamaan dengan bunyi decit rem beradu dengan aspal. Spontan gadis itu berteriak dan terjatuh karena terserempet mobil Ferrari yang kini telah berhenti.
"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun," ucap Husna sembari menyentuh lutut dan kakinya yang terasa nyeri dan lecet karena terbentur aspal. Sementara pengendara mobil segera turun menghampiri gadis itu.
"Ya ampun, Mbak. Mbak nggak apa-apa? Kalau nyebrang hati-hati, dong," ucap lelaki yang ternyata adalah pengendara mobil itu setelah mengikis jarak dengan Husna. Tanpa sadar keduanya saling tatap dan terjebak dalam keheningan.