Bab 17. Bukan Mahram

1451 Kata
"Radit, kamu di mana? Kok belum pulang? Tadi katanya cuma sebentar," ucap Ratih lewat sambungan telepon dengan perasaan kesal. Dua minggu semenjak pertemuan Ratih dengan Maya, Raditya Zavier Alfansyah, putra tunggalnya yang kini mengambil S3 di London terpaksa pulang karena permintaannya. Mumpung masih tinggal di Yogya untuk beberapa bulan ke depan, Ratih tidak sabar memperkenalkan Radit dengan Husna, putri bungsu Maya. Radit yang belum pernah terlihat dekat dengan wanita manapun di usia yang hampir menginjak tiga puluh tahun membuat Ratih menjadi waspada. Padahal jika dilihat dari fisik, Raditya memiliki wajah yang tampan, tubuh atletis dan memiliki karir yang bagus. Selain itu Radit juga pewaris tunggal perusahaan milik suaminya yang sudah memiliki anak cabang dimana-mana. Terlebih lagi sekarang Putra tunggalnya itu sedang menempuh pendidikan S3 di universitas terbaik di London, seharusnya untuk lelaki seperti Radit tidak akan susah untuk mendapatkan wanita cantik. Ratih yang merupakan sahabat Maya sejak masih di Panti Asuhan itu takut apabila putranya mempunyai kepribadian yang menyimpang, alias penyuka sesama jenis karena selama ini Ratih tidak pernah melihat ketertarikan putranya kepada seorang gadis pun. Radit juga tidak pernah memperkenalkan teman wanita kepadanya. Hal itu membuat Ratih cemas hatinya belum tenang jika Radit belum menemukan seorang wanita yang tepat untuk dijadikan istri. Pilihan Ratih jatuh pada Husna, anak tiri sahabatnya. Ratih sangat yakin kalau Husna adalah wanita yang baik dan cocok menjadi istri putranya. "Iya, Mama. Ini aku perjalanan pulang ke apartemen. Tadi ada sesuatu yang perlu aku kerjakan mumpung lagi di Yogya," jawab Raditya dari seberang telepon sembari menyetir. "Ya sudah kalau begitu. Jangan lama-lama. Mama nggak mau telat ketemuan sama Maya dan putrinya," titah Ratih. "Iya, Ma. Ini aku ngebut," balas Radit. "Eh, jangan ngebut juga! Hati-hati, Dit. Mama nggak mau terjadi apa-apa sama kamu." "Mama ini gimana, sih? Tadi suruh cepet sekarang suruh hati-hati," balas Radit kesal. "Ya sudah, pokoknya cepet tapi hati-hati. Harus selamat sampai rumah, tetapi jangan sampai teman Mama nunggu kamu lama." "Iya, Ma. Iya." Raditya menyudahi panggilan lalu melempar ponselnya ke dashboard mobil. Sebenarnya lelaki itu tidak begitu antusias dengan perjodohan yang ditawarkan oleh mamanya. Namun, apa mungkin dia bisa menolak permintaan wanita yang paling dia sayangi di dunia itu? Ratih adalah satu-satunya wanita yang paling dia sayangi di dunia ini. Jujur Raditya belum pernah menemukan sosok wanita seperti mamanya oleh karena itu sampai saat ini dia belum pernah jatuh cinta kepada seorang gadis. Pernah Radit dekat dengan seorang gadis saat menempuh pendidikan S2 di Singapura. Inara, nama gadis itu. Jujur, Radit belum merasakan cinta terhadap Inara. Mereka dekat karena saling nyaman dan saling butuh. Semenjak kejadian malam naas itu saat Radit khilaf dan akhirnya melakukan hubungan terlarang dengan Inara, Radit merasa sangat bersalah. Namun, untuk menikahi gadis itu Radit masih belum yakin. Kebetulan saat itu ada tawaran beasiswa S3 ke London sehingga bisa menjadi alasan bagi Radit untuk lari dari tanggung jawab. Hingga saat ini, Radit masih dihantui rasa bersalah. Lelaki itu belum punya keberanian untuk menemui Inara. bahkan nomor telepon wanita itu pun dia blokir agar mereka benar-benar sudah putus hubungan. Terakhir kali mereka bertemu, Inara mengatakan akan pulang ke Yogya dan melahirkan anak mereka dengan mencari suami kontrak. Radit juga berjanji akan kembali pada Inara setelah kuliahnya di London selesai, tetapi janji itu hanya terucap di mulut saja karena Radit tidak berniat benar-benar memenuhinya. Seorang gadis menyeberang di depan area kampus UGM saat mobil Ferrari hitam yang dikendarai Radit melaju dengan kecepatan tinggi. Sontak lelaki itu menginjak rem dan menimbulkan bunyi dencitan yang cukup memekakkan telinga. Mobil berhenti setelah sempat menyerempet gadis itu hingga terjatuh. "Ya Tuhan, aku nabrak orang," seru Radit gugup. Lelaki itu melepas selfbelt lalu ke menghampiri gadis yang ia tabrak beberapa orang yang kebetulan lewat di situ mulai berkerumun untuk melihat keadaan korban yang tidak lain adalah Husna. "Ya ampun, Mbak. Mbak nggak apa-apa? Kalau nyebrang hati-hati, dong," ucapnya setelah mendekat pada gadis itu. Radit menatap gadis itu, begitupun sebaliknya. Mereka saling tatap beberapa saat hingga suara orang-orang yang berkerumun di sekitar menyadarkan keduanya. "Mbak nggak apa-apa?" "Ada luka yang serius nggak, Mbak?" "Masnya jangan kabur, ya. Harus tanggung jawab." "Iya, bawa mbaknya ke rumah sakit. Kalau tidak, kami laporkan ke polisi. Kami sudah catat plat nomor masnya." Begitulah kira-kira sahutan-sahutan suara orang-orang yang berkerumun melihat keadaan Husna. "Bapak-bapak dan ibu-ibu tenang saja. Saya pasti akan tanggung," jawab ucap Radit menenangkan massa yang berkerumun. Akhirnya setelah mendengar ucapan Radit, mereka pun membubarkan diri. "Mari, Mbak. Saya bantu. Saya antar ke rumah sakit," ucap Radit sembari mengulurkan tangan ke arah Husna. Namun, gadis itu tidak menyambutnya. Husna berusaha berdiri sendiri tanpa bantuan Radit. "Hati-hati, Mbak. Nanti jatuh," ucap Radit sembari berniat memegang tubuh Husna. Namun, gadis itu segera menghindar. "Maaf, Mas. Jangan sentuh saya, ya!" "T-tapi kenapa?" tanya Radit heran. "Kita bukan mahram." Jawaban Husna membuat Radit tertegun. Baru kali ini dia bertemu dengan seorang wanita yang tidak mau disentuh oleh lelaki setampan dirinya. Radit menatap Husna mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Meskipun sama-sama berjilbab, Husna sangat berbeda dengan Inara. Saat masih tinggal di Singapura, Inara tidak pernah menolak bersentuhan dengannya. Padahal setahunya Inara adalah Putri seorang Kiai. "Maaf, Mbak. Kalau begitu, silakan Mbak naik ke mobil. Saya antar ke rumah sakit," ucap Radit menghormati prinsip Husna. "Nggak usah, Mas. Saya nggak papa, kok. Cuma luka sedikit saja. Nanti bisa saya obati di rumah," tolak Husna. "Tapi, Mbak. Mbak harus diperiksa Dokter, siapa tahu ada luka dalam atau ada tulang yang retak. Saya nggak mau dituntut di kemudian hari," balas Radit kukuh mengajak Husna ke rumah sakit. "Nggak usah. Nggak apa-apa. Kayaknya nggak ada luka serius, kok. Jangan khawatir, saya tidak akan menuntut Mas. Lagian saya juga yang salah. Saya kurang hati-hati waktu mau menyeberang," ucap Husna membuat Radit tertegun. Baru kali ini dia bertemu orang seperti Husna. Pada umumnya orang yang ditabrak pasti akan minta pertanggungjawaban kepada orang yang menabrak paling tidak meminta ganti rugi. Namun, Husna lain. Gadis itu tidak mau menuntut apa-apa, bahkan diantar ke rumah sakit pun tidak mau. "Kalau begitu saya antar Mbak pulang, ya," tawar Radit. Setidaknya dengan mengantar Husna ke rumahnya, Radit akan tahu di mana gadis itu tinggal. "Nggak perlu, Mas. Saya naik taksi saja. Lagian kita hanya berdua. Nggak baik, itu namanya berkhalwat. Kita kan bukan mahram." Lagi-lagi Husna menolak. "Bukannya kalau Mbak naik taksi juga berduaan sama sopirnya, ya?" tanya Radit masih tidak terima. "Itu beda lagi, Mas. Sopir taksi kan sudah profesinya. Sudah profesional. Lagian saya juga duduk di belakang." "Begini saja, Mbak. Saya tetap antar Mbak, tapi Mbak boleh duduk di belakang. Anggap saja saya sopir taksi. Jujur saya nggak tenang kalau Mbak pulang sendiri naik taksi. Please, Mbak. Saya hanya mau bertanggung jawab atas keteledoran saya," mohon Radit. Husna terdiam sejenak kemudian mengangguk. Gadis itu bisa merasakan kalau Radit memang mengkhawatirkan dirinya. Akhirnya Husna setuju untuk diantar lelaki itu. Sepanjang perjalanan, kedua mata Radit tidak lepas dari spion depan yang menampilkan pantulan wajah Husna yang duduk di jok belakang. Kecantikan alami yang dimiliki Husna terlihat begitu teduh dan menenangkan. Entah kenapa hati Radit berdebar, padahal mereka tidak duduk berdekatan. Tidak ada obrolan selama di dalam mobil karena Husna lebih memilih membuang pandangan ke luar lewat kaca mobil. Sedangkan Radit sendiri bingung akan memulai obrolan tentang apa. Akhirnya mereka diselimuti keheningan hingga sampai di depan rumah kontrakan Maya. "Ini rumah kamu?" tanya Radit setelah mematikan mesin mobil. "Iya, Mas. Terima kasih sudah mengantar saya," ucap Husna. Gadis itu memalingkan pandangan saat kedua netra mereka bertemu. Entah kenapa Husna juga merasa gugup. "Apa Mas mau mampir?" tawar Husna basa-basi untuk menghilangkan rasa gugup. Sebenarnya Husna tidak ingin meminta Radit untuk mampir ke rumah, tetapi sungguh sangat tidak sopan jika langsung mengusir lelaki yang telah mengantarkannya itu. Suara dering ponsel Radit di dashboard membuat Radit yang hendak menerima tawaran Husna untuk mampir menjadi urung. Lelaki itu mengambil ponselnya, lalu menggeser tombol hijau ke atas. "Radit, kamu lama sekali. Katamu sudah perjalanan pulang." Suara seorang wanita paruh baya dari seberang telepon membuat Radit teringat akan janjinya untuk segera pulang. "Iya, Ma. Maaf ini Radit segera pulang," jawab Radit kemudian menutup teleponnya. "Aku pulang dulu, ya. Maaf tidak bisa mampir Aku sedang terburu-buru. Oh, ya. Namamu siapa? Namaku Radit. Ini kartu namaku. Kalau kamu ada keluhan, kamu bisa menghubungi aku. Nanti aku antar ke rumah sakit," ucap Radit sembari menyerahkan kartu namanya. "Terima kasih, Mas. Saya Husna. Insya Allah saya nggak apa-apa, kok," balas Husna sembari menerima kartu nama Radit. Gadis itu kemudian turun dari mobil dan berjalan menuju rumahnya. Sementara Radit masih dia mematung menatap punggung gadis itu hingga masuk ke rumah. "Husna ... nama yang bagus, sesuai dengan orangnya. Seandainya Mama belum menjodohkanku dengan anak temannya," gumam Radit pelan. Dia tanpak pasrah tak berdaya. Lelaki tampan itu kemudian menjalankan mobil Ferrari hitamnya meninggalkan rumah Maya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN