Bab 18. Sekar Kedhaton Restoran

1102 Kata
"Bisa ngebut dikit nggak, Dit? Kita bisa telat nih," ucap Ratih yang duduk di samping kemudi dengan perasaan gelisah. "Sabar, Ma. Aku nggak mau ngebut lagi. Tadi aja aku udah hampir nabrak orang. Kalau memang temen Mama beneran niat jodohin anaknya sama aku, pasti mereka nungguin kok," balas Radit santai. Lelaki tampan yang duduk di balik kemudi mobil Ferrari hitam itu tampak tenang dan tidak sedikitpun merasa terburu-buru. Radit sengaja mengulur waktu agar mereka terlambat sampai di tempat pertemuan yang telah disepakati oleh mamanya. "Tapi, Dit. Ini kamu pelan banget lho bawa mobilnya. Mama nggak enak kalau Maya nungguin kita lama-lama Nanti dikiranya kita nggak serius," protes Ratih yang merasa putranya memang sangat pelan dalam mengendarai mobil sejenis Ferrari. "Ma, berapa kali aku harus bilang, tadi itu aku mau nabrak orang. Jadi, sekarang ini aku masih trauma," bohong Radit. Sebenarnya lelaki itu ingin menolak perjodohan yang direncanakan mamanya, tetapi tentu saja tidak bisa karena lelaki itu tidak ingin mengecewakan sang mama. Lelaki itu memutar otak untuk menggagalkan perjodohannya. Namun, hingga mobil Ferrari hitam yang dikendarainya memasuki area parkir Sekar Kedhaton restoran, Radit belum juga menemukan cara untuk mangkir dari acara pertemuan itu. "Ma, perut aku tiba-tiba mulas. Aku ke toilet dulu, ya," ucap Radit memulai aksinya. "Emangnya kamu tadi makan apa sampai perutmu mulas? Ya sudah jangan lama-lama. Awas kalau kamu kabur," ancam Ratih membuat Radit memutar bola matanya dengan malas karena sang Mama selalu bisa menebak pikirannya. "Iya, Ma. Aku nggak bakal kabur," balas Radit kesal. Keduanya kemudian berjalan ke arah yang berlawanan. Kalau Ratih berjalan masuk ke restoran, Raditya malah bertolak keluar dengan alasan mau ke toilet. Namun, langkah lelaki tampan itu terhenti saat melihat dua orang wanita beda generasi turun dari taksi online. "Apa aku sudah gila, ya?" batin Radit sambil mengucek kedua matanya lelaki tampan itu mempertajam penglihatannya pada gadis yang turun bersama seorang wanita paruh baya dari taksi online dan berjalan masuk ke Sekar Kedhaton restoran. "Itu benar Husna, kan? Ngapain dia ke sini? Bukannya tadi kakinya masih sakit, ya?" tanya Radit dalam hati. Jiwa kepo lelaki tampan itu meronta, hingga dia lupa niatnya untuk menghindar dari perjodohan sang mama. Namun, lagi-lagi langkah Radit terhenti saat melihat sosok wanita berbalut jilbab pashmina warna moka sedang berjalan beriringan dengan seorang lelaki bercambang tipis. Sontak Raditya segera bersembunyi saat tahu dengan jelas siapa wanita itu. "Astaga, bukannya itu Inara? Kenapa dia juga ada di sini? Ah, ternyata dunia ini begitu sempit. Aku nggak boleh ketemu sama dia. Lebih baik aku sembunyi di toilet." Raditya mengurungkan niatnya untuk masuk ke restoran dan kembali berjalan menuju arah toilet. "Tapi bagaimana kalau mama marah?" Raditya membatin sembari mengusap wajahnya dengan kasar. Sebenarnya lelaki itu ingin masuk ke restoran untuk mengikuti Husna dan juga untuk menemui wanita yang akan dijodohkan sang Mama dengan dirinya. Namun, keberadaan Inara akan merusak semuanya. Radit belum siap Bertemu dengan wanita itu. Jadi, untuk saat ini lebih baik dia menghindar terlebih dahulu. Sementara itu di dalam restoran Ratih yang telah membooking tempat sudah memesan beberapa menu makanan. Tak berapa lama kemudian, Maya dan Husna datang lalu duduk berhadapan dengannya. Husna menjabat dan mencium punggung tangan Ratih dengan takzim, membuat wanita paruh baya itu semakin terkagum dengan pribadi putri tiri dari sahabatnya itu. "Maafkan kami kalau terlambat ya, Rat. Tadi Husna masih kuliah dan pulang agak terlambat," ucap Maya karena tidak enak hati telah terlambat datang. "Oh tidak apa-apa, May. Ini aku juga baru datang, kok. Putraku tadi masih ada urusan. Jadi, aku juga belum menunggu lama." "Oh, begitu. Terus sekarang di mana putramu, Rat?" tanya Maya karena tidak menemukan seorang pun yang menemani Ratih. "Oh itu, dia masih di toilet. Nanti juga ke sini. Ayo May, Husna, kita makan dulu sambil menunggu putraku dari toilet," ucap Ratih. Maya dan Husna mengangguk kemudian keduanya mulai menyantap hidangan yang dipesan oleh Ratih. "Kamu tidak mengajak Abi, May. Aku kangen banget loh pengen ketemu sama dia. Pasti sekarang dia sudah dewasa, ya," ucap Ratih sembari mulai menyantap makanannya. Berkali-kali wanita paruh baya itu melirik ke arah Husna membuat putri bungsu Maya itu salah tingkah dan menundukkan pandangan. "Tadi aku sudah meminta Abi untuk ke sini. Mungkin sekarang dia lagi perjalanan ke sini sama istrinya," balas Maya. Husna hanya terdiam menunduk tanpa ikut pembicaraan dua wanita paruh baya itu. "Nah ... itu mereka. Panjang umur, baru juga dibicarain udah muncul," ucap Maya sembari menunjuk ke arah pintu masuk restoran. Sontak Ratih dan Husna menoleh ke arah pintu masuk. Keduanya melihat Inara dan Abi memasuki restoran. Maya pun langsung melambaikan tangan ke arah sepasang suami istri itu. Mereka pun berjalan mendekat. "Ratih, ini Abi dan ini Inara, istrinya," ucap Maya memperkenalkan putra sulung dan juga menantunya. Abi dan Inara pun menjabat dan mencium punggung tangan Ratih lalu keduanya duduk. "Wah, Tante pangling sekali sama kamu, Bi. Kamu masih ingat tante, kan?" tanya Ratih begitu Abi dan Inara duduk. "Tentu saja saya masih ingat, Tante. Dulu Tante sering sekali membelikan saya es krim," balas Abi sembari mengingat sedikit memori masa kecilnya. Lelaki tampan bercambang tipis itu tidak akan pernah lupa karena Ratih lah yang memperkenalkan Maya dengan ayahnya untuk pertama kali. Meski saat itu Abi masih berusia lima tahun, tetapi dia masih mengingat semuanya. "Oh iya, May. Menantu kamu cantik sekali, " puji Ratih sembari menoleh ke arah Inara yang tampak kurang antusias. Inara terpaksa ikut dengan Abi demi memenuhi keinginan Maya untuk berjumpa dengan Ratih. Abi memohon kepada Inara untuk mau ikut menjumpai Ratih sebagai imbalan karena dua minggu yang lalu dirinya telah berhasil meyakinkan Khurin, sehingga gadis itu tidak jadi membongkar rahasia mereka di depan Kiai Ammar. "Terima kasih, Tante Ratih," ucap Inara sembari tersenyum yang sedikit dipaksakan. "Alhamdulillah, Rat. Abi memang beruntung mendapatkan istri yang cantik seperti Inara," tambah Maya mengimbangi. Mereka kemudian menyantap hidangan sembari berbincang menunggu kedatangan Radit yang masih di toilet. Namun, Inara mulai bosan dengan obrolan mereka yang tidak menarik baginya. "Ibu, Tante ... saya ke toilet sebentar, ya," pamit Inara sembari berdiri. Sebenarnya dia tidak beniat buang hajat, hanya saja ingin menghindar dari obrolan dua wanita paruh baya yang menurutnya tidak penting dan tidak menarik. "Mau aku antarkan, Dek?" tawar Abidzar berlagak sok menjadi suami yang baik. Lelaki bercambang tipis itu tahu kalau Inara sudah mulai tidak nyaman ngobrol dengan mereka. "Nggak usah, Mas. Aku sendirian saja. Kamu teruskan saja ngobrolnya sama Tante Ratih, Ibu dan Husna," tolak Inara. Wanita itu hanya ingin menjauh sejenak dari keluarga suami kontraknya. Inara bergegas meninggalkan mereka menuju toilet. Wanita itu memutar otak untuk mencari alasan agar bisa segera pergi dari tempat itu. Namun, kedua matanya membulat saat melihat seorang lelaki yang sangat dia kenal keluar dari toilet pria. "Radit?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN