Gadis kurus itu menatap Judas dengan tatapan tanda tanya. Entah, apa lagi yang diinginkan oleh pria kekanakan ini, batin Ara sembari menunggu kalimat terucap dari bibir yang dikelilingi oleh bulu-bulu halus berupa kumis dan jenggot yang biasanya selalu dicukur setiap pagi.
“Aku masih punya utang. Kau sudah menyelamatkan hidupku dan aku ingin memberimu sesuatu. Katakan saja, apa yang kau butuhkan. Aku akan memenuhinya. Aku tidak suka punya utang, Ara,” kata Judas tegas.
Menilik dari wajahnya, pria itu sedang tidak main-main kali ini. Tampangnya benar-benar serius. Ya, dia memang tidak suka punya utang pada siapa pun, termasuk utang balas dendam. Siapa pun yang bermasalah dengannya, pasti harus dituntaskan semua urusan.
“Aku tidak butuh apa-apa.” Ara mengedikkan bahu.
“Sebut saja. Tas? Perhiasan? Rumah? Villa? Mobil?” Judas masih terus memaksa. Tidak mungkin bagi seorang manusia untuk tidak punya keinginan sama sekali. Kalaupun bukan kebutuhan, setidaknya keinginan.
“Aku tidak membutuhkan semua itu, Jud. Aku sudah punya.” Ara berdiri dari duduknya, lalu berniat meninggalkan restoran itu.
Judas langsung berdiri menghadang. Tubuh Ara yang mungil dan berbeda jauh dengan pria itu, jelas tidak mungkin melawan. Gadis itu terus melangkah mundur, perlahan, ketika Judas melangkah maju, makin dekat ke arahnya.
Ara tak bisa lagi bergerak mundur. Punggungnya sudah menyentuh dinding. Judas meletakkan kedua tangannya di dinding, tepat di samping kepala gadis itu seolah sedang mengurungnya. Napas Judas makin memburu, ibarat serigala sedang mengurung mangsanya. Gadis itu terlihat lebih cantik dalam jarak sedekat ini. Wajah keduanya hanya berjarak beberapa sentimeter saja. Bahkan, uap panas yang keluar dari hidung Judas, bisa Ara rasakan sedang menyapu kulit wajahnya yang mulus.
“Sebut saja, apa yang kamu inginkan atau aku akan memaksamu menerima hadiah khusus dariku,” ucap Judas sembari melemparkan senyum penuh arti ke arah gadis itu.
“Memangnya, apa hadiah khusus dari kamu itu?” tantang Ara. Meski jelas dia kalah kekuatan, tetap saja gadis itu berani untuk melawan.
Hmmm, gadis ini memang sangat pemberani, batin Judas, terkekeh di dalam hati. Jangankan perempuan, seorang pria saja sudah pasti akan terkencing-kencing kalau berada di posisi seperti Ara sekarang ini. Namun, gadis ini bukannya takut, malah berani menantang dirinya.
“Tidur bersamaku. Satu malam? Satu minggu? Satu bulan? Atau ... kau mau satu tahun denganku? Tidak masalah, Sayang.” Judas menggerakkan telunjuk tangan kanannya, berniat untuk menyentuh pipi gadis itu. Ara langsung menolehkan kepalanya.
“Apel!” Setengah berteriak, gadis itu mengucapkan permintaannya. Daripada terus diganggu oleh Judas yang egois dan selalu memaksakan kehendaknya agar dituruti, Ara mengajukan permintaan sederhana saja, asalkan sesuatu yang dianggap utang oleh pria itu bisa terbayar dan lunas. Tidak ada lagi urusan di antara mereka selain urusan laut seperti yang telah mereka sepakati tadi.
“Apel? Kau ingin apel?” tanya Judas sambil tertawa keheranan. Dia sungguh tidak menyangka kalau gadis itu akan menyebutkan nama buah sebagai permintaan khusus karena telah menyelamatkan dirinya. Apa dia semurah itu? Harga nyawa seorang Judas Ellington hanya setara dengan buah apel?
“Ya, aku ingin apel,” jawab Ara dengan tegas.
“Apa kau pikir nyawaku senilai itu, Ara? Kau sungguh sangat menghinaku.” Judas menatap marah ke arah gadis itu.
Menyadari kalau Judas kesal dengan permintaannya, Ara berusaha untuk berkelit. Dia benar-benar ingin segera terbebas dari pria gila itu. Mau tidak mau, dia harus bersandiwara.
“Apel adalah buah yang penuh kenangan untukku. Buah itu selalu mengingatkan pada kedua orang tuaku yang sudah tiada. Apa aku salah kalau menginginkan buah istimewa itu? Buah yang sudah bertahun-tahun tidak pernah mau kumakan karena aku tidak mau teringat pada mereka.” Tidak sepenuhnya salah. Buah itu memang punya kenangan tersendiri bagi Ara. Namun, selama ini dia masih tetap memakannya. Ini hanya sekadar memuaskan hati Judas saja agar terkesan buah itu sangat istimewa bagi Ara.
Judas tertegun mendengar ucapan Ara. Kenangan tentang orang tua, kehilangan dua manusia yang semestinya ada paling dekat dengan mereka. Itu sangat menyakitkan. Judas tahu rasanya. Dia sangat paham kesedihan yang dirasakan oleh gadis itu.
Sontak, Judas menjauhkan tangannya dari dinding. Dia melepaskan kurungannya terhadap gadis itu. Dia kembali duduk di kursinya. Ara menghela napas lega. Dia sadar bahwa dirinya tidak boleh gegabah menghadapi pria tidak waras satu ini. Pria ini terlalu kuat dan terlalu berkuasa untuk dilawan. Dia harus bisa jaga jarak aman dengan dia.
“Maafkan aku, Ara. Baiklah. Aku akan membawakan apel untukmu. Tunggu saja,” ucap Judas dengan lembut sembari duduk termangu. Dia mengucapkan kalimat itu setengah sadar, seperti orang yang sedang melamun, lalu bergumam untuk diri sendiri.
Ara tidak terlalu peduli dengan hal itu. Yang dia inginkan sekarang adalah meninggalkan tempat itu segera. Dia ingin segera pergi ke laut dan menemui Vaza. Ada seekor duyung yang terluka karena perburuan manusia pada ikan hiu di sebuah area laut. Tanpa sengaja, ketika nelayan-nelayan rakus itu menembakkan tombak dari alat mereka, bukan hiu yang kena, tetapi tubuh seekor putri duyung. Untung saja, bukan sirip kakinya yang kena, melainkan tangan. Jadi, dia masih bisa berenang dengan cepat untuk menghindari serangan selanjutnya. Beruntung pula, bukan bagian vital yang kena tembakan tombak besar dan panjang itu. Bisa bahaya kalau sampai dia mengapung atau ditarik oleh tombak yang terhubung dengan rantai besi itu ke atas.
Dunia manusia pasti akan gempar karena penemuan seekor duyung. Kedamaian laut bawah pasti akan diobrak-abrik. Ribuan atau bahkan jutaan manusia pasti akan berlomba-lomba mencari ke bawah sana. Ara sudah hafal sifat buruk manusia yang tamak dan selalu penasaran. Sama seperti di film-film yang pernah dia tonton sebelumnya. Manusia pasti akan mengurung duyung-duyung yang berhasil mereka tangkap, mempertontonkan mereka, bahkan tak akan segan untuk membunuh duyung-duyung itu demi mendapat kekuatan atau manfaat tertentu bagi tubuh mereka. Awet muda, cantik, sakti, atau alasan-alasan lainnya.
Ara bergidik ngeri. Dia tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Dia punya tanggung jawab penuh atas kekuatan yang telah diwariskan oleh sang ibu kepadanya, meski mereka hanya bertemu sesaat, hingga usianya lima tahun. Setelah itu, sang ibu meninggal, bersamaan dengan sang ayah dalam kecelakaan mobil. Kecelakaan yang diyakini sebagai upaya pembunuhan alias sabotase. Bukan murni sebuah kecelakaan.
“Kau ke mana?” Judas masih saja menahan Ara yang berniat untuk pergi.
“Bukan urusanmu, Jud. Aku mau pergi. Urusan kita sudah selesai, kan? Hubungi aku kalau butuh ditemani. Maksudku ... urusan laut.” Ara buru-buru meralat ucapannya. Jangan sampai pria gila itu berpikiran lain atas ucapannya tadi.
Judas terkekeh pelan. Dia merasa lucu dengan ucapan Ara tadi yang buru-buru diralat. Gadis ini sangat menarik. Dia benar-benar berbeda dengan wanita lain yang pernah dia kenal. Gadis ini tidak punya ambisi terhadap harta dan kekuasaan yang dia miliki. Bahkan, gadis ini benar-benar tidak tertawan oleh wajah tampan serta tubuh indah yang rajin dia pahat setiap hari. Gadis penuh misteri. Teka-teki yang sangat menarik untuk dijelajahi dan ditaklukkan, pikir Judas.
“Aku pasti menghubungimu kalau butuh ... ditemani.” Judas sengaja menggoda Ara.
“Terserah!” Ara mendengkus kesal sambil berlalu meninggalkan Judas yang makin terkekeh melihat amarah gadis itu.
Dasar pria gila! rutuk Ara di dalam hati.