“Ada beberapa pebisnis yang mengajukan perizinan pada kerajaan Monaghan untuk mengeksploitasi kekayaan dasar laut. Aku belum mau mengurus hal-hal seperti itu. Nenekku sempat memintaku untuk membantu dan berkonsentrasi pada hal-hal semacam itu, tapi aku belum mau. Aku belum punya kepentingan di sana.” Wajah Judas tampak serius ketika menjelaskan hal itu kepada Ara.
“Laut tidak boleh dirusak. Keseimbangan alam akan terganggu karena itu. Merusak laut sama saja dengan merusak dunia dan itu sama artinya dengan membahayakan kehidupan manusia,” tegas Ara. Mata gadis itu terlihat berkilat, menunjukkan kemarahan.
Mereka kembali berdiskusi tentang keamanan laut di kerajaan Monaghan. Ara terlihat sangat antusias jika itu tentang laut. Setidaknya, Judas menemukan celah dalam kehidupan gadis itu yang bisa dia masuki.
“Aku akan bicara dengan Nenek tentang hal itu. Biar aku yang urus semua hal yang berkaitan dengan laut Monaghan. Departemen Kelautan akan aku awasi secara langsung,” ucap Judas dengan yakin. Demi bisa terus bertemu dengan Ara, Judas bersedia untuk turut campur urusan kerajaan.
“Tapi, aku punya satu syarat untuk itu,” kata Judas lagi.
“Syarat? Untuk nenekmu?” tanya Ara santai.
“Tidak. Kau. Syarat ini untuk kau, bukan nenekku.”Judas memajukan tubuhnya, meletakkan siku tangan kanan di atas meja. Dia menopang dagu sambil melempar senyum penuh arti ke arah Ara.
“Apa?” Gadis itu mendelik.
Dia heran dengan sikap Judas yang mudah sekali berubah. Kadang dia tampak tegas, berwibawa, dan menyenangkan. Namun, semua itu akan begitu mudah berubah jadi sosok pria m***m, genit, ganjen, dan sangat menjengkelkan. Di kesempatan lain, Judas bisa tiba-tiba bertingkah seperti anak kecil yang sedang merajuk atau sedang mencari perhatian.
Dasar, pria labil! Rutuk Ara di dalam hatinya.
“Kau harus menemaniku ketika bertemu dengan para pebisnis yang mengajukan izin untuk pengelolaan laut. Aku mau ... kau yang mendampingi aku selama rapat itu. Kau juga berhak untuk mengungkapkan pendapatmu. Bagaimana?” Judas mengangkat satu alisnya ke atas.
Mungkin, bagi orang lain, ekspresi wajah Judas yang seperti itu sangat menggemaskan. Namun, tidak bagi Ara. Justru mimik muka seperti itu sangat menyebalkan bagi dia.
“Baik. Aku setuju.” Tak urung, Ara tetap menyetujui permintaan itu. Bukan demi Judas, tetapi demi laut tercintanya. Dan tentu saja, akan jauh lebih mudah kalau dia ikut andil dalam pertemuan itu. Dia bisa lebih yakin pada keputusan yang diambil oleh Judas.
“Baiklah kalau begitu. Aku akan menghubungimu nanti. Sini, berikan ponselmu.” Judas mengulurkan tangan kanan yang tadi menyangga dagunya.
“Untuk apa kamu minta ponselku?” tanya Ara tidak mengerti.
“Kamu harus menyimpan nomor ponselku karena kita sekarang adalah tim. Tim kelautan kerajaan Monaghan. Judara. Judas dan Ara.” Judas terkekeh.
Ara memutar bola matanya dengan malas. Dia lalu serahkan ponsel miliknya setelah lebih dulu membuka kunci layar telepon genggam itu. Judas tampak mengetikkan beberapa nomor di sana. Setelah selesai, dia kembalikan perangkat itu pada sang empunya seraya tersenyum simpul.
Merasa curiga dengan senyuman pria itu, Ara langsung melihat ke arah layar telepon genggamnya. Pangeran Tampan. Itu yang Judas tulis sebagai nama dia di telepon genggam Ara. Gadis itu berdecak melihat kenarsisan pria di hadapannya itu.
“Eh, kenapa kau berdecak? Berdecak kagum, ya? Biasa saja,” ucap Judas penuh percaya diri.
“Terserah.” Hanya itu jawaban singkat yang diberikan oleh Ara. Dia malas berdebat dengan Judas yang lebih sering egois dan kekanak-kanakan dibandingkan bersikap dewasa seperti usianya.
Tiba-tiba, telepon genggam Judas berbunyi. Hanya sedikit orang yang tahu nomor dia. Hampir semua urusan selalu dihandle oleh Josh. Nada yang mengalun itu sudah sangat dia hafal. Itu adalah nada yang khusus dia atur untuk panggilan dari sang nenek.
“Sebentar, ya.” Judas memberi tanda dengan telunjuk tangan kanannya didekatkan ke bibir, meminta Ara untuk tidak bersuara.
Ara hanya mengangguk. Dalam hati, gadis itu berbicara sendiri.
Tanpa kamu bilang, aku juga tidak akan bicara apa-apa. Aku bukan manusia berisik sepertimu, Judas.
“Selamat siang ratu tercinta kerajaan Monaghan,” sapa Judas dengan hangat, tetapi sedikit dibuat-buat untuk menggoda nenek tercinta.
“Selamat siang pangeran paling tampan di kerajaan Monaghan. Kamu ada waktu hari ini untuk bertemu nenekmu yang kesepian ini?” Ratu Moana menjawab dengan tak kalah hangat. Dia memang sangat mencintai cucu satu-satunya itu.
“Boleh. Aku sekalian ada hal penting yang ingin kubicarakan dengan Nenek,” jawab Judas dengan mantap.
“Wah, tumben. Jarang sekali kamu ada sesuatu hal yang dibicarakan dengan Nenek. Bahkan, untuk mengunjungi Nenek saja kamu sulit. Ya, maklum. Konglomerat muda yang selalu sibuk mengurus bisnis-bisnisnya,” sindir Ratu Moana.
“Hahaha. Ya, begitulah, Nek. Aku harus mengurus bisnis dan para wanita yang butuh perhatianku. Kasihan kalau mereka tidak dipedulikan. Bagaimanapun, mereka itu kan rakyat kerajaan kita. Sebagai keluarga kerajaan, kita harus menyayangi mereka, bukan?” Judas terkekeh nakal.
Ara yang mendengarkan pembicaraan antara cucu dengan neneknya itu menggeleng-gelengkan kepala. Dasar orang gila, begitu pikir Ara. Dia heran karena Judas tanpa segan, bahkan seolah bangga dengan kelakuan dia bermain wanita.
“Tentu saja. Tapi, kenapa hanya para wanita yang kamu sayangi, Jud? Kamu harus menyayangi kakek-kakek juga, lho,” goda sang nenek sambil terkekeh juga di seberang sana.
“Wah, kalau kakek-kakek, itu jatah Nenek untuk menyayangi mereka.” Judas tertawa keras. “Tenang, aku tidak akan bersaing denganmu, Nek. Sudah cukup. Aku para wanita saja. Itu pun harus di bawah 30 tahun.”
“Dasar, anak nakal. Datanglah ke sini pukul lima sore. Sekalian kita makan malam bersama, Jud. Nenek rindu sama kamu. Kamu terlalu nakal. Kamu tidak mau pulang, malah keluyuran di luaran sana.” Nada bicara Ratu Moana menunjukkan kesedihan mendalam.
Sejak ibunya meninggal dan dimakamkan, Judas kemudian meminta untuk tinggal di luar istana. Tadinya Ratu Moana berpikir bahwa Judas kecil memang butuh suasana baru untuk sementara waktu agar bisa melupakan semua tragedi yang baru saja terjadi pasca kematian sang ibu, juga ayahnya selang satu hari sesudahnya.
Raja Monaghan waktu itu telah membereskan semua hal dengan baik. Dia juga mengatur tempat tinggal sementara bagi Judas di luar istana. Apartemen mewah yang membuat Judas terlalu nyaman hingga tak mau lagi kembali ke istana. Istana telah menorehkan kenangan pahit dan menyakitkan di hati Judas. Dia sangat benci pada area itu.
Setiap kali dia memasuki istana, bayangan kelam itu pasti akan muncul lagi. Tragedi sakitnya sang ibu sampai dia meninggal, perselingkuhan Max, juga pembunuhan yang dia lakukan pada Max dan wanita pelayan selingkuhannya.
Sejak peristiwa mengerikan itu, Judas yang sebelumnya berperilaku sangat manis dan penurut, berubah menjadi manusia yang keras hati. Siapa pun yang mengusik dia, pasti akan langsung dia hajar. DI sekolah pun, tak lagi ada yang berani untuk mengajak dia bercanda.
Pernah sekali waktu, seorang siswa di kelas melemparkan penghapus ke arah salah satu siswa. Tanpa sengaja, penghapus itu malah terkena mata Judas. Judas langsung menarik anak itu ke toilet dan memasukkan kepalanya ke dalam kloset, lalu menekan tombol penyiraman hingga berkali-kali. Siswa itu sampai muntah-muntah karena merasa jijik.
Judas melakukan itu semua tanpa bicara satu patah kata pun. Dia hanya diam dan bertindak. Sikap itu membuat dia jadi dijauhi oleh teman-temannya. Mereka tidak ingin berurusan dengan Judas.
Pernah juga ketika seseorang tanpa sengaja menginjak sepatunya di kelas. Judas langsung meminta siswa itu untuk menjilati sepatu dia sampai bersih. Tak berhenti sampai di situ, Judas kemudian mengambil sepatu anak itu dan merusak dengan pisau yang selalu dia bawa ke mana-mana.
“Sekali lagi kau injak kakiku, tidak hanya sepatumu yang kuhancurkan, tapi juga kedua kakimu. Kau paham itu?” ancam Judas kecil kala itu.
Tak ada siswa yang berani melapor pada pihak sekolah kala itu. Selain takut akan mendapat hukuman dari Judas, yang bisa saja lebih kejam dari yang mereka terima sekarang, juga karena mereka harus sadar diri. Judas adalah satu-satunya pangeran di kerajaan Monaghan. Laporan mereka tidak akan banyak berpengaruh pada kehidupan Judas. Jaga jarak aman, itu lebih tepat untuk mereka lakukan.
Judas tumbuh menjadi manusia penyendiri. Ketika senior high school atau setingkat dengan SMA, dia mulai membentuk kelompok kecil bersama dua siswa lainnya. Bertiga, mereka menjadi semacam raja di sekolah mereka. Mereka menjadikan siswa-siswa lain sebagai pesuruh.
Senakal dan seburuk apa pun sikap Judas, ada satu hal yang sangat membanggakan. Dia selalu mendapatkan nilai terbaik di sekolahnya. Ya, meski dia penyendiri, kejam, dan bertindak semau sendiri, tetapi dia tidak pernah melupakan belajar. Dia sadar bahwa ilmu sangatlah penting untuk dirinya. Bukan demi nilai, melainkan demi hidup dia sendiri. Tanpa ilmu, dia hanya akan dibodohi, dipecundangi, dimanfaatkan, bahkan mungkin teraniaya.
Judas tumbuh jadi manusia cerdas dan menguasai banyak hal. Di masa akhir SMA, dia yang irit bicara mulai komunikatif. Sejak itu pula, bakat playboy yang ada di dalam dirinya mulai tumbuh subur. Mungkin, sifat Judas yang satu ini menurun dari Max, sang ayah.
Sejak itulah, Judas tidak pernah absen dari yang namanya wanita. Dia bahkan mengencani beberapa gadis sekaligus. Dia kerap berpesta di apartemennya bersama beberapa orang teman. Lebih parah lagi, dia juga sering menyewa para p*****r kelas atas untuk memuaskan dirinya. Hidup Judas tidak pernah jauh dari minuman keras dan wanita. Sesekali dia merokok. Kalau narkotika dan obat-obatan, Judas tidak pernah mau menyentuh itu. Menurut dia, itu akan menurunkan kemampuan, kewarasan, serta kecerdasan pemakainya. Dan dia tidak mau jadi orang bodoh, t***l, apalagi gila. Pria yang sangat logis dan rasional.
“Baik, Nek. Aku akan datang nanti, tepat pukul lima sore. See you soon.” Judas menyetujui undangan Ratu Moana untuk berkunjung ke istana.
“Sampai ketemu nanti, Sayang. Salam untuk gadis di depanmu.” Ratu Moana terkekeh mengakhiri perbincangan mereka.
Judas tahu kalau sang nenek hanya bercanda. Dia sudah sangat paham bahwa cucu tercintanya itu memang tidak bisa jauh dari yang namanya wanita.
“Sori,” kata Judas kepada Ara karena telah membuat gadis itu menunggu.
“Tidak masalah. Jadi, urusan kita sudah selesai. Aku harus pulang.” Ara berniat untuk berdiri.
“Tunggu. Kita masih ada satu urusan lagi,” cegah Judas buru-buru.
“Apa?” Ara kembali duduk di kursinya.