Leher Seksi

1064 Kata
Ara tersenyum tipis mendengar gerutuan Judas. Di mata gadis itu, Judas tidak lebih dari sekadar pria manja yang hidup bergelimangan harta. Dia menilai Judas sebagai manusia yang hidupnya selalu bahagia dan tidak pernah menderita. Judas pasti selalu mendapatkan apa yang dia inginkan. Ya, setidaknya dengan uang dan kekuasaan yang dia miliki saat ini, itu bukanlah hal yang mustahil. Ditambah lagi, paras tampan dengan bentuk tubuh yang ideal, menambah kekuatan pria tersebut untuk mendapatkan apa pun yang dia inginkan dalam hidup ini. “Akhirnya, aku melihatmu tersenyum, Nona.” Judas terkekeh. Ya, meski itu tak bisa disebut dengan senyuman sebetulnya. Hanya pulasan garis tipis yang bahkan hampir tidak terlihat. “Panggil saja, Ara. Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan denganku, Om?” Ara melipat tangan di depan d**a sambil menatap tajam ke arah Judas. “Berhetilah memanggilku om. Aku masih muda!” gerutu Judas lagi. Baru saja dia senang karena bisa melihat gadis itu tersenyum meski sangat tipis. Sekarang, dia sudah cari gara-gara lagi. “Ah, baiklah. Jadi, aku harus memanggilmu apa? Pangeran? Tuan Muda?” Ara masih tetap menyilangkan tangannnya di depan d**a. Terlihat angkuh dengan tubuh ringkihnya. Namun, di mata Judas, dia tetap saja memesona. “Panggil saja aku Judas. Ya, bukankah itu memang namaku?” Judas meneguk air putih di gelas di hadapannya. Satu gelas langsung tandas. Dia merasa wajahnya memanas. Bukan karena marah. Entahlah. Ada perasaan yang tidak bisa dia terjemahkan. Berada dalam jarak sedekat ini, menatap langsung wajah Ara tanpa ada penghalang apa pun, membuat jantungnya kehilangan irama. “Oke, Jud. Jadi, jelaskan padaku sekarang,” kata Ara dengan tegas. Dia tidak mau membuang waktu dengan pria manja di hadapannya itu. Tak ingin membuat gadis itu marah, Judas memulai diskusinya. Dia awali dengan hal-hal ringan seputar isu bisnis yang melibatkan laut. Ara menanggapi semua berita yang Judas kutip itu dengan lancar. Dalam hati, Judas memuji kecerdasan gadis itu. Ara mampu mengimbangi perbincangan Judas tentang bisnis dan laut. Mereka terus berbincang hingga makanan dan minuman mereka datang. Terjeda beberapa saat ketika pelayan datang mengantarkan, lalu lanjut lagi sembari mereka menikmati santap siang mereka. Pantas saja bisnisnya terus berkembang. Pria ini rupanya sangat cerdas dan tangkas. Ara memuji Judas di dalam hatinya. Dia mengakui kepiawaian Judas dalam hal bisnis. Mau tidak mau, gadis itu juga harus mengakui bahwa Judas memang orang yang sangat kompeten dalam hal bisnis, tidak hanya mengandalkan asal-usul serta faktor keturunan belaka. Dia memang layak menjadi pebisnis handal. “Wow, kau tidak hanya cantik, tapi juga cerdas. Aku salut padamu, Ara,” puji Judas dengan tulus sembari menikmati santap siangnya. “Biasa saja.” Ara menjawab dengan singkat. Nada bicaranya tidak seketus sebelumnya. Judas bahagia sekali karena sikap Ara sepertinya sudah melunak. Dia tidak segarang sebelumnya. Jauh di seberang sana, Josh juga bahagia karena menerima pesan dari manajer restoran bahwa Judas sedang berbincang dengan Ara. Setidaknya, dia bisa mengawasi perbaikan di pabrik makanan yang terbakar dengan tenang. Judas tidak akan mengganggunya untuk sementara waktu. “Lalu, kenapa tiba-tiba kamu mengundangku dan ingin membicarakan masalah ini denganku? Maksudku, aku ini bukan siapa-siapa. Kenapa harus aku?” tanya Ara. “Yes!” Tiba-tiba Judas berteriak, lalu tertawa keras. Ara mengernyitkan dahi dan melempar tatapan sebal ke arah Judas. “Akhirnya, kamu bicara denganku lebih dari sepuluh kata.” Pria itu masih tertawa kegirangan. Ara hanya menggeleng-gelengkan kepala. Dia tidak menyangka kalau seorang konglomerat dan putra mahkota kerajaan Monaghan begitu kurang kerjaan, hingga menghitung jumlah kata yang dia ucapkan. “Kurang kerjaan!” celetuk Ara santai. “Bukan kurang kerjaan, tapi aku bahagia. Itu artinya, kau sudah bisa menerimaku sebagai temanmu.” Judas tertawa lagi. Dia benar-benar seperti anak kecil manja yang ingin berbaikan dengan teman bermainnya. “Kita hanya saling kenal. Kamu belum jadi temanku,” jawab Ara dengan ketus. “Ah, jangan begitu, Ara. Ayolah. Apa salahnya jadi temanku? Bahkan, banyak orang yang ingin jadi temanku. Mereka berebut untuk menjilatku.” Judas berucap dengan pongah. “Berteman saja dengan mereka. Aku tidak akan pernah menjilatmu!” Ara menjawab dengan tegas. “Aku tidak berniat untuk memintamu menjilatku, Ara. Bagaimana kalau dibalik? Aku saja yang menjilatmu. Pasti, kamu bakal merem melek keenakan.” Judas malah membalas dengan nada genit. “Sembarangan!” Ara membelalakkan mata. Dia benar-benar sebal ketika Judas bersikap atau berucap m***m seperti itu. Apalagi, ekspresi wajah nakal pria itu benar-benar membuatnya ingin melayangkan tamparan. “Bercanda, Ara. Hidup jangan terlalu serius begitu.” Judas berdeham satu kali. Dia menyurutkan tawanya. Dia tidak mau kalau Ara sampai benar-benar marah, lalu meninggalkan tempat itu. Dia paham, gadis itu tidak akan bisa dicegah kalau sudah memutuskan untuk pergi. Sama seperti malam itu ketika dia menyelamatkan Judas. “Aku ingin berdiskusi denganmu tentang ini karena teringat bahwa kau sangat mencintai laut,” sambung Judas. “Dari mana kamu tahu kalau aku sangat mencintai laut?” tanya Ara sembari memicingkan mata. “Kau bilang, kau menyelamatkan aku bukan demi aku, melainkan demi laut agar tidak sampai tercemar karena bangkaiku. Ya, ucapan itu tentu saja sangat menyinggung perasaanku. Tapi, aku masih ingat jelas akan hal itu.” Judas menjelaskan sambil memasukkan makanan terakhir ke mulutnya. “Oh, karena itu. Lalu, apa yang akan kamu lakukan sekarang terhadap laut Monaghan?” Ara juga memasukkan potongan terakhir makanannya ke dalam mulut, lalu mengunyah perlahan. Judas memandang dengan gemas ke arah leher jenjang itu. Leher putih mulus yang membuat jakunnya naik turun. Ingin rasanya, dia bisa segera menenggelamkan wajahnya ke leher itu, lalu menghujaninya dengan ratusan kecupan di sana. Ah, pasti rasanya nikmat, batin Judas sambil meneguk ludah dengan kasar. “Apa yang kamu lihat?” Ara merasa tidak nyaman dengan tatapan pria itu ke arahnya. Spontan, dia memegangi lehernya sesuai arah tatapan Judas. “Tidak ada. Hanya menikmati leher jenjang yang begitu seksi di depan mataku. Sungguh, pemandangan yang sangat indah.” Judas menjawab tanpa tedeng aling-aling alias tanpa ditutupi sama sekali. Dia memang terbiasa mengungkapkan apa pun dengan sangat terbuka. Dia tak pernah peduli orang yang dia ajak bicara itu akan marah, tersinggung, atau malah tersanjung. Dia hanya mengungkapkan apa yang ada di hati serta pikirannya. “Dasar, kadal tua m***m!” gerutu Ara, sedikit salah tingkah. Dia lalu meraih gelas di hadapannya dan menghabiskan air putih itu, beberapa teguk dalam sekali waktu, tanpa jeda. Dia merasa risih dengan ucapan m***m Judas terhadapnya. “Jawab pertanyaanku tadi,” ucap Ara lagi setelah meletakkan gelas kosong itu di atas meja dengan gerakan yang anggun.     
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN